Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suasana di dapur semakin panas oleh uap minyak, namun hati Humairah jauh lebih menggigil.
Setelah menelan beberapa potong tulang dan kepala ayam dalam kesunyian yang menyakitkan, ia menyeka air matanya dengan ujung cadar yang mulai lembap.
Perutnya memang sudah terisi, tapi batinnya merasa semakin kosong.
Tanpa membuang waktu, Humairah kembali berdiri di depan wajan besar.
Tangannya yang lelah kembali bergerak lincah menggoreng sisa pastel yang masih mengantre.
Ia memastikan apinya tidak terlalu besar agar kulitnya matang dengan cantik—tetap berusaha memberikan yang terbaik, meski ia tahu dirinya tak dianggap.
Setelah tumpukan pastel terakhir tertata rapi di atas nampan perak yang mewah, Humairah merapikan cadar dan pakaiannya.
Dengan langkah perlahan dan kepala tertunduk, ia membawa nampan itu menuju ruang tengah di mana para tamu dan pengurus yayasan sudah berkumpul.
Aroma gurih pastel buatannya seketika memenuhi ruangan, memancing perhatian beberapa tamu yang sedang berbincang.
"Wah, ini dia camilannya. Baunya sangat menggoda," ucap salah seorang istri pengurus yayasan yang duduk tak jauh dari Kyai Umar.
Humairah meletakkan nampan itu di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat halus.
Saat ia hendak berbalik untuk kembali ke dapur, wanita tadi menatap Humairah dengan dahi berkerut, mengamati penampilan Humairah yang tertutup rapat dari kepala hingga kaki dengan kain hitam.
"Nyai Latifah," panggil wanita itu sambil menoleh ke arah sang tuan rumah.
"Ini pembantu baru di kediaman Kyai? Kok pakai cadar segala? Apa dia santriwati yang dipekerjakan?"
Pertanyaan itu membuat suasana ruangan mendadak sunyi sesaat.
Kyai Umar yang sedang berbincang di sudut lain tidak mendengar karena suara riuh tamu lainnya, namun Fathan yang duduk tepat di seberang meja mendengar setiap kata dengan jelas.
Nyai Latifah menyesap tehnya dengan tenang, lalu menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang merendahkan.
"Iya, ini pembantu baru. Masih dalam masa percobaan," jawab Nyai Latifah ringan, seolah baru saja mengenalkan perabotan rumah tangga yang baru dibeli.
"Dia memang agak tertutup, tapi kerjanya lumayan rajin di dapur."
Lidah Humairah terasa kelu. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat mendengar pengakuan ibu mertuanya di depan banyak orang.
Pembantu baru? Statusnya sebagai istri sah, sebagai menantu, dihapus begitu saja hanya demi menjaga martabat semu Nyai Latifah yang malu memiliki menantu seperti dirinya.
Humairah tidak berani mendongak, namun matanya melirik ke arah Fathan.
Suaminya itu sedang memegang cangkir kopi, berada dalam lingkaran obrolan dengan beberapa ustadz muda.
Fathan jelas mendengar jawaban ibunya. Ia bahkan sempat melihat ke arah Humairah sesaat sebelum kembali menyesap kopinya. Namun, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir pria itu.
Fathan tidak mengoreksi ucapan ibunya, tidak menegaskan bahwa wanita yang berdiri di sana adalah istrinya.
Ia hanya kembali melanjutkan obrolannya, seolah Humairah memang benar-benar hanyalah seorang pelayan yang sedang menjalankan tugas.
"Oh, pantesan masakannya enak. Semoga betah ya, Mbak," tambah tamu itu lagi tanpa dosa.
Humairah mengepalkan tangannya di balik gamisnya yang longgar.
Rasa sesak di dadanya kini menjalar hingga ke tenggorokan.
Bukan karena ia malu menjadi pembantu, tetapi ia hancur karena suaminya sendiri membiarkan dirinya dihina sedalam itu.
Tanpa berkata apa-apa, Humairah membungkuk hormat layaknya seorang pelayan, lalu membalikkan badan dengan langkah yang terasa sangat berat.
Setiap langkah menjauh dari ruangan itu terasa seperti duri yang menusuk telapak kakinya.
Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tawa ringan Fathan dan pujian tamu-tamu itu atas masakan yang mereka sebut sebagai "buatan pembantu baru".
Sesampainya di dapur, Humairah menyandarkan tubuhnya ke dinding yang dingin.
Di bawah cadar hitam itu, ia menangis tanpa suara, membiarkan luka hatinya mengalir bersama air mata yang tak henti-hentinya jatuh.
Di rumah ini, ia bukan hanya kehilangan cinta, tapi ia baru saja kehilangan identitasnya.
Suasana di ruang tamu masih riuh dengan suara obrolan dan denting sendok yang beradu. Namun di dapur, atmosfer mendadak menjadi sedingin es saat Nyai Latifah melangkah masuk dengan wajah yang kaku.
Beliau menatap Humairah yang masih berdiri di dekat meja dapur dengan pandangan tajam, seolah keberadaan Humairah di sana adalah sebuah ancaman bagi citra keluarganya.
"Sudah selesai tugasmu, kan?" tanya Nyai Latifah dengan nada rendah yang menekan.
"Sekarang, masuk ke kamarmu di lantai atas. Jangan keluar-keluar lagi. Aku tidak mau ada tamu yang bertanya macam-macam atau melihatmu berkeliaran. Jangan buat malu keluarga ini dengan penampilanmu yang seperti itu."
Humairah hanya bisa menunduk dalam. Setiap kata yang keluar dari bibir ibu mertuanya terasa seperti sembilu yang menyayat sisa-sisa harga dirinya.
"Baik, Umi. Humairah permisi," jawabnya lirih.
Ia melangkah menaiki tangga kayu menuju lantai atas dengan tubuh yang terasa sangat lemas.
Sesampainya di dalam kamar pribadi Fathan—ruangan yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya—Humairah segera menutup pintu dan menguncinya.
Begitu punggungnya menyentuh daun pintu, pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Humairah merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin.
Ia memeluk lututnya sendiri, dan detik itu juga, tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah.
Ia menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suaranya tidak terdengar sampai ke bawah, ke telinga suami yang bahkan tidak menganggapnya ada.
"Abi... Umi..." isaknya tertahan, memanggil kedua orang tuanya dalam kehampaan.
Bayangan wajah hangat Abi Sasongko dan pelukan lembut Umi Mamik berkelebat di ingatannya.
Di rumahnya dulu, ia adalah permata yang dijaga dengan penuh cinta.
Ia tidak pernah dibiarkan kelaparan, apalagi dihina dan dianggap sebagai pelayan.
"Humairah rindu, Humairah ingin pulang," rintihnya dengan suara parau.
Ia teringat betapa Abinya sangat membanggakan dirinya, betapa Uminya selalu menyiapkan makanan terbaik untuknya. Namun kini, di sini, ia harus memakan sisa tulang ayam di pojok dapur dan dicap sebagai "pembantu baru" oleh keluarga suaminya sendiri.
Luka di hatinya terasa begitu dalam. Bukan hanya karena perlakuan Nyai Latifah, tapi karena sikap diam Fathan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian mana pun.
Di saat semua orang merendahkannya, pria yang memegang kunci surga atas dirinya itu justru membiarkannya tenggelam dalam kehinaan.
Dalam isak tangisnya yang menyesakkan, Humairah merayap menuju sajadah yang masih tergelar di sudut kamar.
Ia bersujud sangat lama, membiarkan kain sajadah itu basah oleh air matanya.
"Ya Allah, kuatkan hamba-Mu yang lemah ini. Jika ini jalan menuju ridha-Mu, maka buatlah hati hamba ikhlas. Tapi jika ini adalah ujian, tolong jangan biarkan hamba menyerah pada rasa sakit ini..."
Malam semakin larut, suara tamu di bawah perlahan mulai menghilang, berganti dengan kesunyian malam yang mencekam.
Di dalam kamar yang gelap, Humairah masih mendekap kerinduannya pada rumah, menyadari bahwa fajar esok mungkin akan membawa luka yang baru lagi.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭