"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Ketegangan di bawah pohon peneduh itu masih menyisakan getaran hebat di ulu hati Aira. Meski Dewa berhasil berkelit, dengan bantuan akting luar biasa dari Bara yang tiba-tiba muncul menyamar sebagai tukang loak yang menjual jam tangan KW, kecurigaan Aira tidak sepenuhnya padam.
Namun, sebelum kecurigaan itu sempat tumbuh menjadi konfrontasi, sebuah getaran di ponsel tua Aira mengalihkan dunianya.
Satu pesan masuk dari nomor yang ia beri nama -
'Ayah'.
"Besok sore ada syukuran besar di rumah. Siska dan suaminya, Arvin, baru saja memenangkan tender proyek miliaran dari perusahaan besar. Kamu dan kuli itu wajib datang. Jangan bikin malu dengan alasan tidak punya ongkos. Ini perintah !"
Aira meremas ponselnya. Kalimat itu bukan undangan, melainkan surat perintah eksekusi untuk harga dirinya. Ia tahu benar apa maksud di balik syukuran itu. Itu adalah panggung untuk memuja Siska dan menghinanya. Sebuah acara untuk menunjukkan bahwa pilihan Ayahnya selalu benar, dan pilihan Aira adalah sebuah bencana.
Malam di Kontrakan
Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menerangi wajah Aira yang muram. Ia sedang menyetrika satu-satunya kemeja batik Dewa yang warnanya sudah mulai pudar. Di sudut ruangan, Dewa sedang duduk di lantai, pura-pura sibuk membetulkan rantai motor tuanya yang menghitam karena oli.
"Mas..." panggil Aira lirih.
Dewa menoleh, wajahnya yang terkena coretan oli justru membuatnya terlihat maskulin. "Iya, Sayang?"
"Ayah mengundang kita besok sore. Ada acara syukuran untuk Siska," Aira menggigit bibir bawahnya. "Tapi... kalau Mas merasa tidak nyaman, kita bisa bilang kalau Mas sedang lembur. Aku tidak mau Mas dihina lagi di sana."
Dewa meletakkan tangnya yang penuh oli, lalu berdiri dan mendekati Aira. Ia bisa melihat ketakutan yang nyata di mata istrinya. Aira bukan takut miskin, Aira takut suaminya disakiti oleh kata-kata tajam keluarganya.
"Aira, lihat aku," Dewa memegang kedua bahu Aira. "Kenapa kita harus sembunyi? Kita tidak mencuri, kita tidak berbuat jahat. Kita hanya hidup sederhana."
"Tapi Mas tidak tahu bagaimana mulut Siska dan Arvin... mereka akan menginjak-injak harga diri Mas hanya karena Mas dianggap tidak punya apa-apa."
Dewa tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rahasia besar. Di dalam benaknya, Dewa sudah tahu tentang tender miliaran yang didapatkan Arvin.
Ia sendiri yang menandatangani pembatalan kontrak itu tadi siang melalui Bara, namun ia sengaja membiarkan Arvin merayakannya sedikit lebih lama sebelum berita pahit itu sampai ke telinga pria sombong itu.
"Kita akan datang, Aira," ucap Dewa mantap.
"Tapi Mas, baju kita... motor kita yang mogok itu..."
"Baju pudar ini tidak akan mengurangi martabatku sebagai suamimu. Dan motor itu? Dia saksi perjuangan kita," Dewa mengusap air mata yang hampir jatuh di pipi Aira. "Aku berjanji padamu, besok kita akan datang dengan kepala tegak. Tidak akan ada satu pun kata-kata mereka yang bisa membuatmu menunduk."
~~
Hari Syukuran
Rumah keluarga Surya sudah berubah menjadi istana kecil. Tenda kain sutra berwarna champagne menutupi seluruh halaman.
Karpet merah digelar dari gerbang hingga pintu utama. Deretan karangan bunga ucapan selamat berjajar di sepanjang pagar, sebagian besar dari rekan bisnis Arvin yang berharap kecipratan proyek besar tersebut.
Pak Surya berdiri di depan pintu dengan jas rapi, menyalami tamu-tamu terpandang di desa itu. Siska tampak sangat glamor dengan gaun rancangan desainer lokal dan perhiasan berlian yang sengaja ia pamerkan setiap kali bersalaman.
"Mana kakakmu, Siska? Belum datang?" tanya Pak Surya sambil melirik jam tangan emasnya.
"Mungkin masih mendorong motor bututnya di pinggir jalan, Yah," jawab Siska sambil tertawa kecil, disambut tawa Arvin yang berdiri di sampingnya. "Atau mungkin mereka malu karena baju mereka baunya asap knalpot."
Tepat saat tawa mereka mereda, suara brem... pret... pret... yang sangat familiar terdengar dari ujung jalan. Sebuah motor bebek tua yang mengeluarkan asap tipis berhenti tepat di depan karpet merah.
Dewa turun dengan tenang, lalu membantu Aira turun. Aira mengenakan gamis sederhana yang ia setrika sangat rapi, sementara Dewa mengenakan batik pudar yang bersih. Di tengah kerumunan tamu yang berpakaian mewah, kehadiran mereka seperti bercak debu di atas berlian.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.
"Itu Aira? Kasihan ya, beda jauh sama adiknya."
"Suaminya beneran kuli ya? Berani banget datang ke acara begini pakai motor mogok."
Aira merasa kakinya lemas, namun Dewa segera menggandeng tangannya dengan sangat erat. Genggaman tangan Dewa terasa sangat hangat dan kuat, seolah memberikan aliran energi yang luar biasa.
"Tegakkan kepalamu, Aira," bisik Dewa tepat di telinganya. "Ingat, kamu adalah istriku. Kamu adalah ratu yang sebenarnya."
Aira menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Mereka melangkah di atas karpet merah itu. Setiap langkah terasa berat, namun tatapan mata Dewa yang tajam dan tenang membuat Aira merasa seolah-olah ia sedang dikawal oleh seorang raja, bukan seorang kuli.
Begitu sampai di depan Pak Surya, suasananya mendadak beku.
"Datang juga kalian," ucap Pak Surya tanpa sedikit pun nada ramah. "Silakan masuk. Makan di meja paling belakang saja, jangan sampai mengganggu tamu-tamu VIP Arvin."
Siska mendekat, menatap Aira dengan pandangan menghina. "Duh, Mbak... batik Mas Dewa sudah tipis banget ya? Apa perlu aku kasih uang buat beli baju baru? Kasihan, di sini banyak pengusaha sukses, nanti mereka kira Mas Dewa itu tukang parkir."
Arvin tertawa sombong sambil menepuk bahu Dewa dengan kasar. "Sabar ya, Dewa. Beginilah kalau orang tidak punya koneksi. Kerja keras saja tidak cukup, kamu butuh otak dan modal seperti aku. Lihat rumah ini, semua ini dari keringatku sebagai direktur muda."
Dewa tidak membalas hinaan itu dengan amarah. Ia justru menatap Arvin dengan tatapan kasihan. "Selamat atas proyeknya, Arvin. Semoga kamu bisa mempertahankannya dengan baik."
"Tentu saja! Proyek dari Pradipta Group itu sudah pasti di tanganku. Tidak ada yang bisa membatalkannya," sombong Arvin.
Acara berlanjut dengan pamer kemewahan. Pak Surya memberikan sambutan panjang tentang betapa bangganya ia memiliki menantu seperti Arvin, dan secara tidak langsung menyindir anak yang salah memilih jalan hidup.
Aira menunduk, memegang sendoknya dengan tangan gemetar. Ia merasa ingin segera pulang. Namun, Dewa tetap duduk tegak. Ia sedang menunggu satu hal.
Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering keras di tengah-tengah acara. Arvin melihat layarnya dan wajahnya langsung cerah. "Lihat! Orang dari Pradipta Group menelepon! Pasti mau membicarakan kontrak final!"
Arvin sengaja mengeraskan suara loudspeaker ponselnya agar semua tamu mendengar betapa pentingnya dia.
"Halo, selamat sore Pak. Saya Arvin, siap menandatangani kontrak..."
"Maaf, Saudara Arvin," suara di seberang telepon terdengar dingin dan sangat profesional. Itu adalah suara Bara. "Kami menelepon untuk memberitahukan bahwa seluruh rencana kerjasama dengan perusahaan Anda dibatalkan secara permanen per detik ini."
Seketika, suasana syukuran yang meriah itu berubah menjadi sunyi senyap. Wajah Arvin berubah pucat pasi, seperti mayat.
"Ta-tapi kenapa Pak? Kemarin sudah disetujui!" gagap Arvin.
"Perintah langsung dari CEO kami. Alasannya singkat - Perusahaan kami tidak bekerja sama dengan pria yang tidak tahu cara menghormati keluarga. Selamat sore."
Klik.
Telepon diputus.
Pak Surya terpaku. Siska menjatuhkan gelas minumannya hingga pecah. Para tamu mulai berbisik dengan nada sinis. Arvin terduduk lemas di kursinya, seluruh dunianya runtuh dalam sekejap.
Di tengah kekacauan itu, Dewa berdiri dengan sangat tenang. Ia merapikan kemeja batiknya yang pudar, lalu menatap Pak Surya yang masih syok.
"Sepertinya acaranya sudah selesai, Pak," ucap Dewa dengan suara bariton yang sangat berwibawa. "Aira, ayo kita pulang."
Aira menatap Dewa dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin pembatalan itu terjadi tepat saat Dewa berada di sini?
Saat mereka berjalan keluar menuju motor tua mereka, Dewa sempat berhenti di samping Arvin yang masih mematung. Dewa membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Arvin.
"Harta bisa hilang dalam sekejap, Arvin. Tapi harga diri yang kamu injak-injak tadi... itu yang akan menghancurkanmu selamanya."
...----------------...
To Be Continue ....