NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan

Hap!

Hap!

Suara Puluhan langkah kaki yang berhenti terdengar bersamaan di sebuah dataran luas dengan rumput hijau sepanjang mata kaki

Di permukaan daratan itu berdiri dua pasukan dalam satu negara yang sama namun kini dalam perselisihan.

Niskala menatap pria gondorong di depannya yang tidak lain adalah Wirata.

"Wirata, sudah aku duga ini semua adalah perbuatanmu. Katakan padaku untuk apa kau berhianat, sebelum aku membunuhmu." Ucap Niskala ia mulai mengikat rambut panjangnya, wajah cantiknya yang bak dewi teterpa sinar matahari.

Sring!

Wirata mencabut kapak besar di punggungnya dan ia todongkan ke arah Niskala.

"Aku kagum dengan kepercayaan dirimu Niskala, namun apakah kau tidak melihat betapa banyak pasukan Hierarki yang aku bawa." Ucap Wirata.

"Hanya segini? Aku sendirian bahkan mampu menghabisi kalian semua, apa kau sudah lupa Wirata aku dan pasukan Hierarki di bawahku jauh lebih baik dari pada dirimu dan pasukanmu."

"Itulah yang menjadi salah satu alasanku melakukan ini Niskala. Kau selalu berada di atasku, aku sangat membencinya, baginda Raja Kala Dewangga selalu memujimu padahal aku juga turut ikut serta menjaga Negara Garuda."

"Salah satu? Itu artinya kau masih memiliki alasan lain, katakan."

"Karena kau sebentar lagi akan mati, aku rasa tidak ada salahnya aku memberitahumu. Kau ingat tentang tragedi di jembatan Ne? Waktu itu Negara Harimau menyerang. kau, aku, para penyihir elite dan pasukan Hierarki terus bertahan hingga tidak ada korban jiwa namun Raja justru terlalu memuji dirimu, saat itulah aku merasa di kucilkan dan seolah aku hanya di jadikan robot pelindung yang ketika rusak dapat di buang kapanpun. Bukan manusia yang memiliki perasaan dan haus pujian.

Berbeda dengan Raja Kala Dewangga, Permaisuri Senja justru memuji kinerjaku, hingga di malam itu Permaisuri Senja mengungkapkan semua keinginannya kepadaku. Untuk menghabisi Pangeran Samudra dan para pengawalnya termasuk dirimu. Itu semua agar Pangeran Arya menjadi satu satunya pewaris kerajaan Nirlata setelah Raja Kala Dewangga pensiun."

"Keparat! Aku sudah menduganya, wanita ular itu. Terimakasih Wirata, kau sudah memberitahu semuanya, dengan ini aku tak perlu menahan diri untuk melawanmu dan setelah ini akan aku adukan kebusukanmu dan Permaisuri Senja kepada Raja Kala Dewangga." Ucap Niskala seraya mencabut pedangnya.

Csssssstttttt!!!!

Siluet kedua mata Niskala bercahaya putih bak petir tak hana itu pedang yang ia pegang juga teraliri petir yang sangat bercahaya.

"Silahkan saja, Orang mati tidak akan bisa berbicara!" Ucap Wirata.

Blar!

Api merah membara menyelimuti kapak besar Wirata.

Tampak para pasukan Hierarki di bawah pimpinan Wirata mundur karena waspada.

"Elemen petir aliran seribu burung petir!"

Slash!

Niskala menebaskan pedangnya ke udara. Rentetakan burung burung petir terbang melesat dan menyerang mereka semua secara random.

"Menghindar!" Teriak Wirata.

Duargh! Duargh! Duargh!

Arrgghh!! Arrrghhh!! Arrrghhh!!

Ledakan demi ledakan hebat terjadi, satu persatu bawahan Wirata tumbang terkena serangan random tersebut.

Wirata menggertakan giginya dengan geram, "keparat! Seraangg....!!!"

Wus...

Wus...

Wus...

Pertarungan besar pun terjadi...

Dentang!

Pedang petir milik Niskala beradu dengan kapak besar Wirata yang kini menyala dengan api..

Kedua tangan Wirata memegang bilah Kapak untuk menehan tekanan dari pedang Niskala.

Dentang!

Dentang!

Dentang!

Adu senjata jarak dekat antara dua komandan terjadi.

Tiba tiba Wirata melihat gerakan tangan Niskala, matanya terbelalak terkejut, itu karena Niskala membuat segel tangan sihir hanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang gagang pedang.

"Rasakan ini!"

Cahaya putih di mata Niskala tampak semakin terang dan detik berikutnya tembakan laser petir keluar dari kedua matanya.

Wus....

Blaas...!!!

Tembakan petir tersebut menghantam dada Wirata dan membuat Wirata terpental jauh.

Debu membumbung tinggi dari ledakan itu, semua bawahan Wirata menatap kepulan debu dengan jantung berdebar.

"Uhuk... uhuk... kau hampir saja membunuhku keparat!" Ucap Wirata yang terduduk dengan dada gosong dan mulut mengeluarkan darah.

"Masih belum cukup ya? Bagaimana dengan ini." Niskala memejamkan matanya, ia menempelkan pedangnya di kening kemudian mengangkatnya ke atas.

Seketika itu juga awan hitam terlihat di langit, rentetan petir terlihat menyambar secara bersamaan dari atas dan langsung menyelimuti bilah pedang Niskala..

"Gawat!! Sihir ini! Gempa Elektro! Komandan Niskala berniat membunuh kita sekaligus!" Ucap salah satu bawahan Wirata.

"Sialan! Aku tidak menyangka Komandan Niskala mampu menggunakan sihir petir skala luas seperti ini dan berniat untuk membunuh kita."

"Hahaha... matilah kalian, apakah kalian sudah lupa bagaimana berbakatnya komandan Niskala. Sihir Gempa Elektro ini akan menghancurkan jantung kalian semua." Ucap salah satu bawahan Niskala.

"Kalian pasti sudah sangat mengenali sihir ini bukan? Sihir Gempa Elektro, sihir mengalirkan petir dari langit ke bawah tanah dengan pedangku sebagai perantaranya. Dan aliran sihir ini dapat aku kendalikan untuk menghancurkan jantung kalian semuanya sekaligus." Ucap Niskala.

"Uhuk! Uhuk! Keparat... Niskala, aku tidak menyangka dia mampu menguasai sihir serumit ini." Ucap Wirata.

"Matilah kalian semua." Teriak Niskala dan hendak menancapkan pedangnya ke permukaan tanah.

Wus....

Sebuah bola hitam kecil, sekecil kelereng melesat sangat cepat ke arah Niskala.

Jleb!

Bola tersebut menembus dada Niskala begitu saja.

"Uhuk..." Niskala terhuyung-huyung kebelakang, memuntahkan darah dan tumbang begitu saja.

Niskala menjatuhkan pedangnya, aliran petir di pedangnya seketika menghilang, langit yang awalnya gelap kini berubah cerah dalam hitungan detik pertanda sihir Gempa Elektro itu gagal.

Niskala tergeletak begitu saja di tanah, dengan darah merah yang keluar dari mulutnya.

"A.. a... apa yang terjadi..." batinnya bingung.

Ia melihat dadanya yang berlubang kecil dan terus mengeluarkan darah.

"Oh sial! Tidak kena titik vitalnya." Ucap Permaisuri Senja yang terbang di kejauhan. Ya ia yang menembakan bola hitam kecil itu dalam jarak 9 kilometer.

Walaupun jaraknya sangat jauh namun kemampuan Permaisuri Senja dalam melepaskan tembakan sihirnya sangat presisi hingga mampu melukai Niskala, dan membuat Niskala sekarat dalam satu tembakan walaupun ia gagal mengebai titik vital Niskala.

"Namun tidak masalah sihir Atra Vanenum atau bola hitam kecil itu, mengandung racun yang sangat mematikan. Niskala akan tewas begitu saja. Sisanya aku serahkan padamu, Wirata, Kerta Sena." Ucap Permaisuri Senja melalui telepatinya.

"Baik Baginda Ratu." Jawab Wirata dan Kerta Sena.

Di medan pertempuran tampak beberapa bawahan Niskala langsung menghampiri Niskala.

"Gawat, serangan apa tadi? Siapa yang menyerang?" Ucap Salah satu dari mereka dengan penuh kebingungan.

Melihat Niskala yang sekarat membuat fokus mereka terbagi, hal itu di manfaatkan oleh Wirata dan bawahannya untuk menghabisi bawahan Niskala.

"Uhuk! Sihir yang barusan mengenaiku, adalah Atra Vanenum sihir kegelapan. Siapa... siapa yang mampu menguasai sihir kegelapan?" Batin Niskala.

"Tuan Kerta Sena, kenapa? Dia membantu pasukan Wirata? Keparat! Jadi... jadi.. dia juga berhianat, Permaisuri Dyah maafkan aku... aku gagal melindungi anakmu." Ucap Niskala yang secara perlahan menutup matanya, pemandangan terakhir yang ia lihat adalah seluruh pasukan bawahannya di bantai habis oleh Kerta Sena, Wirata dan bawahannya.

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!