NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Batas Wilayah

Adrian tidak mundur meski pena itu bisa merobek lehernya kapan saja.

Iris mata pria itu justru membesar, menelan cahaya lampu redup kamar bayi. Napasnya yang tenang beradu dengan embusan napas Sabrina yang memburu, panas, dan beraroma besi. Adrian tidak melihat maut di ujung pena itu. Ia melihat otoritas baru. Ia melihat alasan kenapa empat eksekutor pilihan Kania berakhir di kantong mayat.

"Kau bergetar," bisik Adrian, suaranya parau namun stabil. Matanya turun sejenak ke arah pergelangan tangan Sabrina yang terbungkus perban basah. "Bukan karena takut, tapi karena tubuhmu sudah mencapai batasnya. Kau kehilangan terlalu banyak darah untuk bermain hakim sendiri."

Sabrina menekan ujung pena baja itu sedikit lebih dalam. Setitik darah merah segar muncul dari pori-pori leher Adrian, kontras dengan kerah kemeja putihnya yang kaku. "Kematianku tidak akan datang semudah itu. Tapi kematianmu bisa kupastikan terjadi sebelum jantungmu berdetak satu kali lagi."

Adrian tertawa kecil. Getaran di dadanya merambat ke telapak tangan Sabrina yang masih menindihnya. "Lakukan kalau begitu. Bunuh aku, dan lihat berapa menit Sebastian bisa bertahan hidup tanpa sistem pendukung Halim Group. Kania akan masuk ke ruangan ini lima menit setelah mayatku ditemukan, dan dia tidak akan membiarkan anak itu melihat matahari besok pagi."

Sabrina mengunci rahangnya kuat-kuat. Rasa ngilu yang luar biasa menusuk dari pangkal panggulnya, menyebar seperti ribuan jarum panas yang merobek saraf. Jahitannya terasa basah.

Ia tahu dia sedang mengalami pendarahan lagi. Kelelahan fisik mulai menarik kesadarannya ke dasar jurang, tapi Sebastian adalah pusat gravitasinya.

Ia melirik sekilas ke arah boks kayu di sudut ruangan.

Sebastian bergerak kecil dalam tidurnya. Napas bayi itu terdengar halus, sebuah irama surgawi di tengah atmosfer neraka yang mereka ciptakan.

Hawa hangat yang memancar dari tubuh mungil itu adalah satu-satunya alasan kenapa Sabrina tidak segera memutar pena itu untuk menghancurkan tenggorokan Adrian.

"Kita butuh transparansi, Sabrina," ucap Adrian, memanfaatkan keraguan yang melintas di mata istrinya. "Istriku yang asli tidak tahu cara memegang sendok dengan benar jika tidak dibantu pelayan. Kau, kau tahu persis di mana letak arteri karotis tanpa perlu meraba. Siapa yang melatihmu? Kelompok mana yang mengirimmu masuk ke dalam cangkang Sabrina Tanjung?"

Sabrina tersenyum miring, sebuah seringai yang memancarkan kegelapan purba. "Kau terlalu banyak membaca novel konspirasi, Adrian. Aku sudah bilang, Sabrina yang lama sudah mati di gudang itu. Aku adalah apa yang tersisa saat kau membiarkan seekor kelinci dikepung serigala. Aku adalah insting yang kau remehkan."

"Insting tidak mengajarimu teknik lilitan kawat," bantah Adrian tajam. Ia memberanikan diri menggeser bahunya, memposisikan dirinya sedikit lebih tegak meski ujung pena masih mengancam nadinya. "Aku ingin kebenaran. Malam ini."

"Kebenaran itu mahal, dan kau belum membayarnya." Sabrina perlahan mengendurkan tekanannya, namun tidak menarik senjatanya. "Jika kau menginginkan transparansi, mari kita mulai dengan otoritas. Mansion ini adalah sarang ular. Pelayanmu, pengawalmu, bahkan udara di sini berpihak pada Kania."

Adrian menatapnya lekat. "Aku sudah mengganti penjagaan di depan pintu ini."

"Tidak cukup," potong Sabrina cepat. "Aku menuntut otoritas absolut atas setiap inci keamanan di sayap barat ini. Tidak ada satu pun staf, dokter, atau bahkan kau, yang boleh masuk tanpa izin dariku. Aku ingin daftar riwayat hidup setiap orang yang menyentuh makanan atau pakaian Sebastian."

"Kau meminta kunci kerajaanku?"

"Aku meminta jaminan agar anakku tidak diracuni oleh anjing-anjing yang kau sebut pelayan." Sabrina menarik napas panjang, menelan rasa perih di perutnya.

"Kontrak yang kita tanda tangani tadi hanyalah sampah di mataku. Aku akan tetap memberimu hak suara direksi, aku akan tetap berperan sebagai istri pajanganmu di depan media. Tapi di dalam tembok ini, wilayah Sebastian adalah wilayahku. Langgar batas itu, dan aku akan memastikan Halim Group kehilangan pemimpinnya."

Adrian terdiam cukup lama. Ia merasakan dinginnya logam pena itu menjauh dari kulit lehernya. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada pilar ranjang sambil merapikan kerah kemejanya yang kini ternoda setitik darah.

Rasa saling menghormati yang beracun mulai tumbuh di antara mereka. Adrian menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengendalikan Sabrina dengan ancaman finansial atau intimidasi fisik.

Wanita di depannya ini adalah predator yang setara dengannya. Bahkan mungkin lebih berbahaya, karena Sabrina memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Adrian: naluri keibuan yang bersedia menghanguskan dunia.

"Satu syarat," ucap Adrian akhirnya. Ia menatap telapak tangan Sabrina yang gemetar parah. "Kau harus tetap hidup. Aku tidak butuh mayat pahlawan di rumahku. Biarkan Tirta memeriksa jahitanmu sekarang. Jika kau mati karena infeksi pendarahan, semua otoritas ini tidak ada gunanya."

Sabrina membuang muka, menyembunyikan keringat dingin yang membanjiri dahinya. "Panggil doktermu. Tapi dia harus bekerja di bawah pengawasanku. Dan kau, keluar dari sini."

Adrian bangkit berdiri. Posturnya kembali angkuh, dominan, namun ada perubahan halus pada sorot matanya saat menatap Sabrina. Bukan lagi tatapan merendahkan pada aset yang rusak, melainkan ketertarikan gelap pada lawan yang layak.

"Jangan berpikir kau sudah menang, Sabrina," bisik Adrian di ambang pintu. "Gencatan senjata ini hanya berlaku selama Sebastian aman. Jika kau gagal menjaganya dengan segala otoritas yang kau tuntut, aku sendiri yang akan menyeretmu kembali ke neraka."

"Aku sudah pernah ke sana, Adrian," sahut Sabrina tanpa menoleh. "Rasanya tidak seburuk tinggal bersamamu."

Pintu kamar tertutup rapat.

Sabrina segera merosot jatuh ke lantai karpet. Ia tidak lagi peduli pada martabatnya di depan boks bayi. Tubuhnya gemetar hebat seiring dengan adrenalin yang mulai surut, meninggalkan rasa sakit yang menghantam seperti ombak besar. Ia mencengkeram perut bawahnya, merasakan cairan hangat merembes deras di sela jarinya.

Ia menyeret tubuhnya mendekati boks Sebastian. Menggunakan sisa tenaganya, ia menjulurkan jari tangannya yang bersih masuk ke sela kayu. Sebastian terbangun kecil, jemari mungil bayi itu secara refleks menggenggam ujung telunjuk Sabrina.

Sentuhan itu seperti sengatan listrik kehidupan. Rasa sakit di panggulnya mendadak terasa jauh, tidak penting dibandingkan kehangatan kulit bayinya.

"Ibu tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Sayang," bisik Sabrina dengan suara yang nyaris hilang. "Bahkan ayahmu harus membayar harga untuk mendekatimu."

Di luar sana, langkah kaki pengawal baru Adrian terdengar berderap di koridor, mengambil posisi siaga. Sangkar emas itu kini memiliki sipir baru yang jauh lebih kejam. Namun di dalam kamar, sang singa betina telah menandai teritorinya dengan darah.

Kontrak lama yang ditandatangani di atas kertas medis itu kini hanyalah formalitas kosong. Perjanjian yang sebenarnya baru saja tertulis di leher Adrian dengan ujung pena baja.

Pena itu dijatuhkan. Batas wilayah ditarik. Mulai malam ini, mereka bermain di papan catur yang sama.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!