Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyamar Menjadi Pasangan Pengantin
Jakarta menyambut Aiden Volkov dengan hawa panas yang seolah sanggup melelehkan aspal dan kemacetan yang jauh lebih mematikan daripada barikade polisi di Italia. Sang Naga Hitam, yang terbiasa membelah jalanan Milan dengan iring-iringan Maserati, kini terduduk kaku di dalam taksi biru yang berbau pengharum jeruk murahan. Di sampingnya, Ziva sedang sibuk memulas gincu merah menyala, sesekali mengomeli sopir taksi yang terjebak di antara busway dan gerobak ketoprak.
"Bang, lu jangan tegang gitu mukanya. Lu itu buronan internasional, bukan patung selamat datang Bundaran HI," bisik Ziva sambil merapikan kerah kemeja batik Aiden yang tampak kekecilan di bahu bidangnya.
Aiden menghela napas berat. "Ziva, aku baru saja keluar dari penjara militer dengan rencana pelarian paling absurd dalam sejarah intelijen. Dan sekarang kau bilang cara terbaik untuk menghilang dari radar pengejar Lorenzo di Jakarta adalah dengan masuk ke sebuah pesta pernikahan massal?"
"Bukan sembarang pesta, Bang! Ini kondangan akbar di kampung gue. Ada seribu orang, prasmanannya gratis, dan yang paling penting... semua orang bakal fokus sama pengantinnya, bukan sama bule nyasar kayak lu. Kita bakal nyamar jadi pasangan pengantin cadangan kalau perlu!"
Aiden memijat pelipisnya. "Aku tidak suka rencana ini."
"Ssst! Musuh udah di mana-mana, Bang. Marco bilang intel Lorenzo udah nyampe di pelabuhan Tanjung Priok. Kalau kita ke hotel mewah, kita mati. Kalau kita ke rumah gue, kita dikepung. Satu-satunya tempat yang nggak bakal mereka sangka adalah tenda biru di gang sempit yang bau sate ayam."
Dua jam kemudian, di sebuah rumah petak milik bibi Ziva, Aiden berdiri di depan cermin pecah dengan perasaan hancur yang melebihi saat ia ditusuk Lorenzo. Ia tidak lagi mengenakan kemeja hitam atau seragam oranye. Ia mengenakan beskap hitam beludru lengkap dengan keris yang terselip di pinggang belakangnya, dan kain jarik yang membuatnya sulit melangkah.
"Ziva... kenapa aku harus memakai konde kecil di belakang kepalaku?" tanya Aiden, menunjuk blangkon yang terpasang di kepalanya.
"Itu blangkon, Bang! Biar lu kelihatan kayak menantu idaman para emak-emak," jawab Ziva yang kini tampak luar biasa cantik mengenakan kebaya kutubaru berwarna merah senada dengan gaun pesta mautnya di Sisilia, namun versi lebih "merakyat".
Ziva mendekat, merapikan ronce melati yang menggantung di leher Aiden. Wangi melati itu seketika menggantikan aroma mesiu dan selokan penjara yang sempat melekat pada Aiden.
"Denger ya, Bang. Rencananya simpel. Kita masuk ke tenda nikahan temen gue, Siti. Kita duduk di barisan tamu belakang, makan rendang, terus pas suasana makin rame, kita kabur lewat pintu belakang menuju dermaga kecil di Kali Ciliwung. Marco udah nunggu di sana pake perahu getek."
Aiden menatap Ziva. Di tengah absurdnya situasi ini, ia menyadari bahwa Ziva adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya memakai blangkon tanpa merasa kehilangan harga diri. "Baiklah. Tapi jika ada yang memintaku untuk bernyanyi dangdut, aku akan mulai menembak."
Mereka tiba di lokasi pernikahan yang terletak di gang sempit daerah Tebet. Suara musik organ tunggal menggelegar, menyanyikan lagu "Kandas" dengan volume yang sanggup meruntuhkan mental. Aiden berjalan kaku, tangan Ziva menggandeng lengannya erat.
"Senyum, Bang! Lu kayak mau eksekusi mati, bukan mau kondangan!" bisik Ziva sambil tersenyum lebar pada tetangganya.
"Ziva, sepatu ini... ini bukan sandal jepit. Ini terlalu sempit," keluh Aiden, mencoba menyeimbangkan diri di atas aspal yang tidak rata.
"Sabar, Bang! Demi keselamatan!"
Masalah dimulai saat mereka melewati barisan penerima tamu. Seorang ibu-ibu dengan sanggul setinggi menara Pisa tiba-tiba mencegat mereka. "Lho, Ziva! Ini siapa? Ganteng banget! Bule dari mana ini? Kok pake beskap pantes banget!"
Ziva tertawa gugup. "Eh, ini... ini mas pacar, Bu. Namanya... Bambang. Iya, Bambang Volkov. Dia mualaf dari Rusia, suka banget sama kerupuk kaleng."
Aiden hanya bisa mengangguk kaku. "Halo. Saya... Bambang. Saya suka... rendang."
Ibu-ibu itu histeris kegirangan dan menyeret mereka menuju pelaminan untuk berfoto dengan pengantin asli. Aiden panik. Matanya memindai kerumunan. Di sudut tenda, ia melihat dua pria berpakaian safari hitam dengan kacamata hitam—bukan gaya tamu kondangan biasa.
Wraith, batin Aiden. Anak buah Lorenzo sudah sampai di sini.
"Ziva, jam dua. Musuh masuk lewat jalur prasmanan krupuk," bisik Aiden pelan sambil tetap tersenyum palsu ke arah kamera fotografer kondangan.
Ziva menoleh sedikit. "Aduh mampus! Bang, kita harus membaur! Ayo ke tengah, mereka lagi joget!"
Aiden ditarik menuju area dance floor darurat di depan panggung. Lagu "Terlena" mulai dimainkan. Para tamu mulai berjoget jempol. Aiden, sang raja mafia yang ditakuti, kini harus melakukan gerakan jempol di depan ratusan orang untuk menghindari tatapan tajam para pembunuh bayaran.
"Ikutin gue, Bang! Jempolnya digoyang!" Ziva tertawa, meski matanya waspada.
Aiden mengikuti gerakan Ziva dengan sangat terpaksa. Gerakannya kaku seperti robot, namun justru karena kekakuannya itu, para agen Wraith yang mencarinya melewati mereka begitu saja. Mereka mencari pria dingin berwajah kejam, bukan pria bule yang sedang kebingungan melakukan joget jempol sambil memegang piring berisi sate ayam.
Namun, keberuntungan mereka tidak bertahan lama. Salah satu agen menyadari ada yang aneh dengan tinggi badan "Bambang". Ia mengeluarkan ponsel, membandingkan foto Aiden dengan pria berblangkon di depannya.
"Target teridentifikasi! Sektor panggung!" teriak agen itu.
Suara tembakan pertama merobek suara musik dangdut. Para tamu berteriak histeris. Meja-meja prasmanan terbalik. Aiden langsung menarik Ziva ke balik speaker besar.
"Blangkonku jatuh!" seru Aiden, entah kenapa ia merasa kesal benda itu hilang.
"Lupain blangkonnya, Bang! Tembak mereka!"
Aiden mengeluarkan pistol kecil yang ia sembunyikan di balik stagen jariknya. Ia melepaskan tembakan akurat ke arah kaki para agen musuh agar tidak menimbulkan korban jiwa dari warga sipil. Suasana kondangan berubah menjadi medan perang.
Ziva tidak tinggal diam. Ia melihat sekeranjang kerupuk kaleng berukuran raksasa di dekatnya. Dengan tenaga ekstra, ia melemparkan kerupuk-kerupuk itu ke arah musuh seperti shuriken plastik.
"Makan nih kerupuk putih!" teriak Ziva.
Aiden memanfaatkan kekacauan itu untuk menyeret Ziva menuju pintu belakang rumah pengantin. Mereka berlari menembus dapur yang penuh dengan panci-panci besar berisi soto. Aiden sempat menyambar sebuah pisau dapur besar saat seorang musuh menghadangnya di pintu keluar.
"Jangan pernah mengganggu kondangan temanku!" Aiden menghantamkan gagang pisau itu ke pelipis musuh hingga pingsan.
Mereka sampai di pinggir Kali Ciliwung yang airnya berwarna cokelat pekat. Marco sudah menunggu di atas perahu getek—perahu kayu kecil yang digerakkan dengan bambu panjang. Marco sendiri mengenakan caping agar tidak dikenali.
"Tuan! Nona! Cepat naik!" seru Marco.
Aiden dan Ziva melompat ke atas perahu. Beskap Aiden sudah sobek di bagian ketiak, dan kebaya Ziva terkena noda sambal rendang. Saat perahu mulai bergerak menjauh, beberapa agen musuh muncul di tepi sungai dan melepaskan tembakan.
Aiden membalas tembakan sambil menyeimbangkan diri di atas getek yang goyang. "Ziva, tundukkan kepalamu!"
"Bang, perahunya pelan banget! Kenapa nggak pake jet ski aja sih?!" protes Ziva sambil memegangi konde rambutnya yang mulai miring.
"Jet ski akan memancing perhatian polisi air, Ziva! Nikmati saja aromanya!" terah Aiden sambil terus menembak.
Di tengah desingan peluru dan bau sungai yang khas, Ziva tiba-tiba tertawa. Tawa yang renyah dan menular. Aiden menoleh, heran. "Kenapa kau tertawa di saat kita hampir tenggelam di air limbah?"
"Habisnya lucu, Bang! Lu pake baju pengantin Jawa, naik getek di Ciliwung, sambil nembakin mafia. Kalau emak gue liat, lu pasti langsung disuruh akad nikah beneran!"
Aiden terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang penuh jelaga. "Mungkin itu ide yang bagus. Tapi setelah aku mandi dengan tujuh jenis bunga untuk menghilangkan bau sungai ini."
Perahu getek itu membawa mereka ke sebuah gudang tua di daerah Manggarai yang sudah disiapkan Marco. Di sana, sebuah mobil mewah yang sudah dimodifikasi menunggu. Mereka akhirnya bisa bernapas lega.
Aiden melepas keris di punggungnya dan melemparkannya ke atas meja. "Ziva, jangan pernah minta aku menyamar jadi pengantin lagi. Aku lebih suka menyerbu pangkalan militer daripada harus berfoto dengan seribu orang yang memanggilku Bambang."
Ziva mendekati Aiden, melepas ronce melati yang sudah layu di leher pria itu. "Tapi lu ganteng banget tadi, Bang. Kayak ksatria yang kesasar di Tebet."
Ziva kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sepasang sandal jepit Swallow biru yang baru. "Nih, sesuai pesanan lu di pesawat. Lu nggak bisa lari pake selop nikahan itu terus."
Aiden menerima sandal itu dengan perasaan haru yang aneh. Ia langsung memakainya, merasakan kenyamanan karet yang sudah menjadi simbol kebebasannya. "Biru ternyata memang lebih baik daripada hijau."
Malam itu, saat mereka duduk di atap gudang sambil melihat lampu-lampu Jakarta yang macet, Aiden merangkul bahu Ziva. Penyamaran mereka mungkin absurd dan penuh kekacauan, namun itu membuktikan satu hal: di mana pun mereka berada, baik di istana Sisilia atau di tenda biru Tebet, mereka adalah tim yang tak terkalahkan.
"Bang," panggil Ziva.
"Hmm?"
"Abis ini kita beneran bakal aman?"
Aiden menatap langit Jakarta yang tanpa bintang karena polusi. "Lorenzo sudah kehilangan semua kakinya. Di Jakarta ini, dia tidak punya kekuasaan. Ini wilayahmu, Ziva. Dan aku... aku hanya pengawal pribadimu yang paling setia."
Ziva tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Aiden. "Makasih ya, Bang Bambang."
"Berhenti memanggilku dengan nama itu, atau aku akan membuang sandal birumu ke sungai," ancam Aiden, meski nadanya penuh kasih sayang.
Di bawah sana, suara sirene polisi terdengar di kejauhan, namun bagi Sang Naga dan Bunga Mataharinya, malam ini adalah awal dari sebuah hidup yang baru—hidup yang mungkin tetap berbahaya, namun setidaknya mereka menjalaninya dengan sepasang sandal jepit dan tawa yang tak akan pernah padam.
Aiden mencium kening Ziva, menyadari bahwa pelarian paling absurd ini adalah perjalanan paling indah yang pernah ia tempuh. Dari jeruji besi menuju pelaminan pura-pura, ia akhirnya menemukan tempat di mana ia benar-benar bisa bernapas: di samping gadis yang membuatnya belajar cara joget jempol di tengah hujan peluru.