NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

POV: RIANI

Senin pagi, Riani duduk di kelas Manajemen Strategi dengan pikiran yang masih melayang ke kejadian Minggu kemarin. Dosen—Pak Budi, seorang pria paruh baya dengan suara monoton—sedang menjelaskan tentang analisis SWOT, tapi Riani sama sekali tidak fokus.

Otaknya terus memutar ulang tatapan Wahyu di minimarket.

"Kamu... berhenti mengikutiku."

Kalimat itu menusuk.

Bukan karena kata-katanya kasar—Wahyu bahkan tidak berteriak atau marah—tapi karena ada... kelelahan di balik kalimat itu. Seperti Wahyu sudah terlalu lelah untuk marah, terlalu lelah untuk peduli.

Dan itu yang membuat Riani sedih.

"Riani."

Riani tersentak. Dia mengangkat kepala—ternyata Pak Budi sudah berdiri tepat di depan mejanya, menatapnya dengan alis terangkat.

"Iya, Pak?" jawab Riani gugup.

"Saya tanya, apa contoh kekuatan internal dari perusahaan retail seperti Indomaret?"

Riani membeku. Dia sama sekali tidak dengar pertanyaannya tadi.

"Ehm... sumber daya manusia yang terlatih, Pak?" jawab Riani asal, berharap itu benar.

Pak Budi menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Benar. Tapi lain kali, tolong fokus di kelas, bukan di tempat lain."

"Maaf, Pak."

Pak Budi kembali ke depan kelas. Beberapa teman sekelas Riani melirik dengan tatapan geli atau simpati.

Riani menghela napas dalam-dalam. Fokus, Ri. Fokus.

Tapi sejujurnya, sulit untuk fokus ketika pikirannya penuh dengan seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkan kehadirannya.

Setelah kelas selesai, Riani berjalan ke kantin kampus bersama dua teman sekelasnya—Amel dan Sari.

"Ri, kamu aneh banget hari ini," komentar Amel sambil menyeruput es teh manisnya. "Biasanya kamu paling aktif di kelas, sekarang malah melamun."

"Lagi ada masalah?" tanya Sari dengan nada khawatir.

Riani mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa selera. "Nggak. Cuma... capek aja."

"Capek atau... thinking about someone?" Amel menyeringai.

Riani menatap Amel dengan tatapan tajam. "Nggak."

"Bohong. Lu pasti lagi mikirin cowok."

"Amel, please."

Sari tertawa kecil. "Sudahlah, Mel. Biarkan Riani punya privacy."

Amel mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Gue nggak akan maksain."

Mereka melanjutkan makan dalam diam yang cukup nyaman. Tapi pikiran Riani tetap melayang.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Wahyu sudah jelas bilang untuk berhenti. Berarti... dia harus berhenti, kan?

Tapi...

Riani mengingat tatapan mata Wahyu. Kelelahan. Kesepian. Ketakutan.

Dia butuh bantuan.

Meskipun dia sendiri tidak menyadarinya.

Atau mungkin dia menyadari, tapi terlalu takut untuk menerimanya.

"Ri."

Riani mengangkat kepala. Karin berjalan menghampiri meja mereka, membawa nampan berisi sepiring nasi dan sayur.

"Boleh gabung?" tanya Karin.

"Tentu." Riani menggeser kursinya sedikit, memberi ruang untuk Karin.

Karin duduk, lalu menatap Riani dengan tatapan yang... tahu. "Kamu masih mikirin Wahyu?"

Riani menghela napas. "Iya."

"Riani lagi naksir?" Amel langsung tertarik.

"Bukan naksir," Riani cepat-cepat membantah. "Cuma... peduli."

"Peduli sama siapa?" Sari ikut penasaran.

Karin menjawab dengan hati-hati. "Teman SMA kami dulu. Cowok yang... agak tertutup."

"Ohhh, si Wahyu itu?" Amel langsung nyambung—dia sudah dengar cerita kemarin dari Dinda.

"Iya."

Sari mengerutkan kening. "Emang kenapa sama dia? Dia jahat sama kamu, Ri?"

"Nggak jahat," jawab Riani pelan. "Dia cuma... nggak mau saya deket-deket sama dia."

"Kenapa?"

Riani tidak bisa menjawab. Karena dia tidak bisa cerita tentang masa lalu Wahyu tanpa izinnya.

Karin membantu. "Dia punya alasan sendiri. Dan kami respect itu."

Amel dan Sari saling pandang, tapi mereka tidak bertanya lebih jauh.

"Anyway," Karin mengubah topik sambil membuka ponselnya. "Ri, kamu lihat email dari dosen Pak Harto belum?"

Riani mengerutkan kening. "Belum. Kenapa?"

"Coba buka sekarang."

Riani mengeluarkan ponselnya, membuka email kampus. Ada satu email baru dari Pak Harto—dosen mata kuliah Kewirausahaan.

Subject: Pengumuman: Penugasan Kelompok Lintas Fakultas

Riani membuka email itu.

Kepada seluruh mahasiswa peserta mata kuliah Kewirausahaan Sosial,

Sebagai bagian dari program universitas untuk meningkatkan kolaborasi lintas fakultas, kami mengadakan project kelompok yang akan melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Tugas: Membuat proposal bisnis sosial yang berkelanjutan (sustainable social business).

Durasi: 4 minggu.

Presentasi final: Minggu keempat November.

Kelompok: Sudah ditentukan secara acak oleh sistem. Silakan cek daftar kelompok di lampiran.

Mohon segera menghubungi anggota kelompok Anda dan mengatur jadwal pertemuan pertama.

Terima kasih.

Pak Harto

Riani scroll ke lampiran—file Excel berisi daftar nama dan kelompok.

Dia mencari namanya.

Kelompok 7:

Riani Putri Anjani - Fakultas Ekonomi, Manajemen

Dinda Saraswati - Fakultas Ekonomi, Akuntansi

Arman Hidayat - Fakultas Teknik, Teknik Industri

Wahyu Aditama Setiawan - Fakultas Hukum, Ilmu Hukum

Riani berhenti bernapas.

Wahyu.

Wahyu ada di kelompoknya.

"Oh. My. God." Amel yang mengintip dari samping langsung berteriak kecil. "Ri, ini... jodoh!"

Riani tidak bisa bereaksi. Otaknya masih proses informasi ini.

Wahyu. Satu kelompok. Empat minggu.

Karin menatap Riani dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ri... ini... kesempatan. Atau bencana."

"Atau keduanya," gumam Riani.

Sari tertawa. "Kalian ini lebay banget sih. Emang kenapa kalau satu kelompok? Kan cuma tugas biasa."

"Kamu nggak ngerti, Sar," Amel menggeleng. "Ini complicated."

Riani menatap layar ponselnya. Nama Wahyu tertulis jelas di sana.

Forced proximity.

Mereka akan dipaksa untuk berinteraksi. Untuk bekerja sama. Untuk... berkomunikasi.

Apakah ini kesempatan yang Riani tunggu?

Atau ini akan membuat Wahyu semakin membencinya?

"Ri," Karin bersuara lembut. "Kamu... oke?"

Riani menarik napas panjang. "Aku... nggak tahu."

Sore harinya, Riani duduk di kamar kost sambil menatap laptop. Email dari Dinda masuk sepuluh menit lalu:

Dinda: "RI!!! GUE SATU KELOMPOK SAMA LO DAN WAHYU!!! INI GILA BANGET!!!"

Riani: "Iya, aku tahu..."

Dinda: "Kita harus bikin grup WA buat koordinasi. Lu yang bikin ya? Soalnya gue takut Wahyu langsung left grup kalau gue yang bikin wkwk."

Riani menatap layar laptop dengan perasaan campur aduk.

Membuat grup WhatsApp berarti... dia harus menghubungi Wahyu lagi.

Padahal Wahyu baru saja bilang untuk berhenti mengikutinya.

Tapi ini bukan Riani yang stalking—ini tugas kuliah. Resmi. Tidak bisa dihindari.

Riani menarik napas panjang.

Oke. Lakukan saja.

Dia membuka WhatsApp, membuat grup baru. Nama grup: Kelompok 7 - Kewirausahaan Sosial.

Tambahkan anggota:

Dinda Saraswati ✓

Arman Hidayat ✓

Wahyu Aditama Setiawan...

Riani terdiam di nama terakhir.

Nomor Wahyu.

Dia tidak punya.

"Sial," gumam Riani.

Dia chat Karin: "Kar, lu punya nomor Wahyu nggak?"

Karin: "Nggak, Ri. Dia nggak pernah kasih."

Riani: "Gimana dong? Gue harus bikin grup tugas, tapi nggak bisa kontak dia."

Karin: "Coba tanya ke BEM? Rangga kan kenal sama dia."

Riani mengetuk-ngetuk jari di meja.

Tanya Rangga.

Oke.

Dia chat Dinda lagi: "Din, bisa minta tolong Rangga cari nomor Wahyu? Dia kan satu BEM."

Dinda: "Oke tunggu."

Lima menit kemudian, Dinda reply:

Dinda: "Ini nomornya. Tapi Rangga bilang, Wahyu jarang bales chat. Jadi jangan expect quick response."

Dinda: 081234567XXX

Riani menyimpan nomor itu.

Lalu menatapnya cukup lama.

Haruskah dia langsung tambahkan Wahyu ke grup?

Atau... chat personal dulu untuk memberi tahu?

Riani memutuskan: personal dulu. Lebih sopan.

Dia membuka chat baru, mengetik:

Riani: "Halo, Wahyu. Ini Riani. Aku dapat nomormu dari Rangga (teman BEM). Maaf mengganggu, tapi kita satu kelompok untuk tugas Kewirausahaan Sosial. Aku mau tambahkan kamu ke grup kelompok. Boleh?"

Send.

Riani menatap layar.

Centang satu.

Centang dua.

Pesan terkirim.

Tapi tidak ada balasan.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Tidak ada balasan.

Riani mulai cemas. "Apa dia marah? Apa dia langsung block nomorku?"

Tapi statusnya masih centang dua, bukan centang satu. Berarti tidak di-block.

Berarti... dia baca, tapi tidak balas.

Riani menghela napas. Ya sudah. Dia tunggu saja.

Tapi satu jam kemudian, masih tidak ada balasan.

Dinda chat: "Ri, kapan bikin grupnya? Arman udah nanya."

Riani: "Tunggu. Wahyu belum bales."

Dinda: "Ya udah bikin aja dulu, tambahin dia sekalian. Paling dia silent reader."

Riani ragu. Tapi tidak ada pilihan lain.

Dia buat grup, tambahkan semua anggota termasuk Wahyu.

Lalu mengetik pesan pembuka:

Riani: "Halo semuanya! Ini grup untuk tugas Kewirausahaan Sosial kelompok 7. Kenalan dulu yuk:

Riani - Manajemen, semester 3

Dinda - Akuntansi, semester 3

Arman - Teknik Industri, semester 5

Wahyu - Hukum, semester 1

Kapan kita bisa meet up untuk diskusi pertama?"

Send.

Dinda langsung reply: "Halooo! Gue available Rabu sore atau Kamis sore."

Arman: "Saya bisa Rabu sore. Lokasi di mana?"

Riani: "Cafe Kopi Kita dekat kampus 1 gimana? Netral buat semua fakultas."

Arman: "Oke, setuju."

Dinda: "Setuju!"

Semua mata sekarang tertuju pada satu nama yang belum menjawab.

Wahyu.

Status: online.

Berarti dia baca.

Tapi tidak ada balasan.

Riani mengetik lagi: "Wahyu, kamu bisa Rabu sore?"

Tidak ada jawaban.

Lima menit berlalu.

Lalu tiba-tiba, Wahyu mengetik.

Tiga titik muncul.

Riani menahan napas.

Wahyu: "Rabu sore ada meeting BEM. Kamis sore bisa. Jam berapa?"**

Singkat. Langsung ke poin. Tidak ada basa-basi.

Tapi setidaknya... dia jawab.

Riani mengetik dengan hati-hati: "Kamis jam 4 sore oke?"

Wahyu: "Oke."**

Satu kata.

Tapi itu sudah cukup.

Riani tersenyum tipis.

Memaksa mendekat.

Mau tidak mau, Wahyu harus berinteraksi dengannya sekarang.

Dan Riani... akan memastikan dia tidak membuang kesempatan ini.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!