NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik ma'had yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harapan baru telah di buka

Di sebuah sudut kantor yang beraroma campuran antara kopi hitam, kain linen baru, dan kertas-kertas naskah, aku duduk menatap layar laptop yang masih berkedip. Sudah delapan bulan statusku adalah penulis yang "sedang hibernasi." Di dunia maya, para pembaca setia masih sering meninggalkan komentar, menanyakan kapan aku akan kembali menelurkan karya. Namun, bagi mereka yang mengenalku secara personal, mereka tahu bahwa masa hiatusku bukan berarti aku sedang berdiam diri.

​Di atas meja kerjaku, tumpukan draf novel comeback yang direncanakan rilis tahun depan berserakan, bersinggungan dengan sketsa desain busana untuk koleksi terbaru lini pakaianku. Menjadi penulis dan pebisnis busana adalah dua sisi koin yang membentuk identitas pribadiku. Namun, setahun belakangan, ada satu ambisi lain yang menyita seluruh waktu tidurku: sebuah proyek kemanusiaan yang lahir dari rasa iba yang mengakar menjadi tekad.

​Semua bermula dari sebuah kenyataan pahit di lapangan. Aku melihat bagaimana kemiskinan bukan hanya soal perut yang lapar, tapi tentang masa depan yang terpenggal sebelum waktunya. Aku melihat anak-anak perempuan yang seharusnya masih memegang pena, justru harus menggendong bayi karena pernikahan dini yang dipaksakan oleh keadaan dan ketidaktahuan orang tua. Dari situlah, ide tentang "Sekolah Harapan" muncul. Bukan dariku justru aku mendengarnya dari pak Agus ketua diknas pendidikan, seorang pejabat yang tidak hanya menjabat namun juga melek akan realita.

​Membangun Sekolah Harapan bukanlah perkara mudah. Selama berbulan-bulan, aku terjebak dalam ribuan jam rapat yang melelahkan. Aku ingat betul bagaimana wajah Pak Agus, Ketua Dinas Pendidikan, saat pertama kali aku mempresentasikan konsep ini di rapat pertama dengan bupati. Beliau adalah orang pertama yang mempercayai keluh kesahku hingga mewakafkan sebidang lahan luas untuk bangunan sekolah ini.

​Namun, kejutan sesungguhnya datang ketika tim dari Bapak Bupati melakukan verifikasi data di lapangan. Hasilnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Ada 176 anak di bawah umur di wilayah ini yang putus sekolah karena faktor ekonomi yang akut. Yang lebih memilukan, ada 23 anak perempuan—masih belia, dengan mata yang menyimpan sisa-sisa trauma—sudah menimang bayi di pelukan mereka.

​Angka itu fantastis, dalam artian yang mengerikan.

​"Bagaimana mereka bisa belajar kalau bayinya menangis?" tanya salah satu anggota tim bupati dalam sebuah rapat yang sangat alot.

​Aku menjawab dengan tegas, "Kita tidak hanya membangun kelas. Kita membangun ekosistem."

​Itulah mengapa Sekolah Harapan didesain berbeda. Kami menyediakan ruangan khusus bayi yang kedap suara namun tetap terpantau. Di sana, para ibu muda ini bisa menitipkan anak mereka selama jam pelajaran berlangsung. Kami ingin mereka belajar tanpa rasa bersalah, tanpa gangguan, dan dengan harapan bahwa mereka masih punya kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

​Sekolah Harapan bukan hanya tempat belajar bagi siswa, tapi juga oase bagi para pencari kerja. Aku bersikeras bahwa sekolah ini harus digerakkan oleh energi muda dan kasih sayang seorang ibu. Kami membuka lowongan bagi para fresh graduate dari jurusan pendidikan yang memiliki idealisme tinggi. Mereka yang baru lulus kuliah dan penuh semangat diterima di sini untuk menjadi tenaga pendidik.

​Selain itu, kami merekrut ibu-ibu rumah tangga terpilih di lingkungan sekitar untuk dilatih menjadi pengasuh bayi profesional (babysitter). Dengan begitu, Sekolah Harapan juga memutar roda ekonomi lokal. Kami memberikan martabat baru bagi mereka: ibu rumah tangga yang kini memiliki peran strategis dalam menyelamatkan generasi.

​Namun, idealisme selalu berbenturan dengan realitas finansial. "Dari mana kita menggaji mereka jika sekolah ini gratis?" Kalimat itu bergema di ruang rapat selama berminggu-minggu. Kami sempat buntu. Dana pribadiku dari bisnis busana dan royalti buku tentu punya batas.

​Keajaiban itu datang ketika narasi tentang perjuangan kami terdengar hingga ke telinga orang nomor satu di Indonesia. Beliau terketuk dan memberikan bantuan untuk biaya operasional sekolah. Kabar ini menjadi angin segar, namun aku mengingatkan timku: "Kita tidak boleh bersandar selamanya pada bantuan pusat. Kita harus mandiri."

​Hari peresmian tiba. Bau cat baru dan aroma tanah basah setelah hujan pagi itu menyatu dalam suasana haru. Aku berdiri di depan bangunan sekolah yang minimalis namun kokoh. Pak Agus dan perwakilan bupati hadir dengan wajah bangga. Namun, mataku hanya tertuju pada 23 anak perempuan yang datang membawa bayi-bayi mereka.

​Salah satu dari mereka, sebut saja Melati, usianya baru 15 tahun. Ia memeluk bayinya erat-erat sambil menatap papan nama sekolah. Aku menghampirinya.

​"Kamu siap belajar lagi?" tanyaku lembut.

​Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Saya pikir hidup saya sudah selesai, Mbak. Saya pikir saya hanya akan jadi beban."

​"Tidak," kataku sambil menggenggam tangannya. "Hari ini, beban itu kita pikul bersama."

​Saat bel pertama berbunyi, para pengasuh bayi dengan sigap mengambil alih bayi-bayi itu, membawa mereka ke ruangan khusus yang penuh dengan mainan edukatif dan tempat tidur yang nyaman. Para ibu muda itu masuk ke kelas dengan canggung, memegang buku tulis seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.

​Melihat pemandangan itu, aku merasa naskah novelku yang sedang kukumpulkan mendapatkan nyawanya. Karakter-karakter dalam ceritaku bukan lagi sekadar imajinasi, tapi refleksi dari ketangguhan yang aku saksikan di depan mata.

​Aku tahu, setelah euforia peresmian ini, akan ada rapat-rapat alot lainnya. Kami harus memikirkan bagaimana menjaga bangunan ini tetap berjalan dalam jangka panjang—puluhan tahun ke depan—sampai tidak ada lagi anak-anak yang harus mengubur mimpinya karena kemiskinan atau pernikahan dini.

​Aku berencana menyisihkan sebagian keuntungan dari koleksi busana terbaruku secara permanen untuk dana abadi sekolah ini. Selain itu, aku juga akan melibatkan para siswa di sini untuk belajar keterampilan menjahit dan desain, memberikan mereka bekal nyata agar setelah lulus dari Sekolah Harapan, mereka tidak kembali ke lingkaran kemiskinan yang sama.

​Malamnya, aku kembali ke meja kerjaku. Hiatusku secara teknis belum berakhir di mata publik, namun di dalam jiwaku, aku sudah menulis bab paling penting dalam hidupku. Aku membuka buku catatanku, menulis satu paragraf di halaman yang kosong, dan mengisinya dengan kalimat baru yang terinspirasi dari hari ini:

​"Harapan bukanlah sesuatu yang kita tunggu, melainkan sesuatu yang kita bangun dengan tangan yang lecet dan hati yang tidak pernah menyerah pada keadaan."

​Tahun depan, ketika aku kembali sebagai penulis, aku tidak hanya membawa cerita cinta fiksi. Aku akan membawa sebuah manifesto tentang perubahan. Tentang bagaimana seorang wanita, dengan sepotong pena dan beberapa helai kain, bisa membantu mengubah garis takdir anak-anak bangsanya.

​Sekolah Harapan baru saja dimulai, dan perjalananku untuk memastikan tidak ada lagi bayi yang menangis di dalam kelas, melainkan tertidur pulas dalam jaminan masa depan ibunya, adalah janji yang akan kujaga seumur hidup. Sampai suatu hari nanti, bangunan ini tetap berdiri tegak, meski aku sudah tidak lagi ada untuk menuliskan ceritanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!