Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 二
Malam di desa itu terasa seperti keabadian yang membeku. Angin malam yang nakal menyelinap masuk melalui celah-celah dinding bambu, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan yang membuat tubuh kurus Lin Xiaoxi menggigil hebat. Di sampingnya, Lin Chen atau A-Chen tertidur dengan napas yang berat. Tangan kecil anak itu mencengkeram erat ujung baju lusuh Yue'er, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, kakak satu-satunya akan terbang terbawa angin dan meninggalkannya sendirian di dunia yang kejam ini.
Yue'er, yang kini terjebak dalam raga Xiaoxi, menatap langit, atap yang hitam pekat dengan tatapan kosong. Perutnya melilit, rasa lapar itu bukan lagi sekadar rasa ingin makan, melainkan rasa sakit yang menusuk-nusuk lambungnya, seolah organ di dalamnya sedang saling memangsa karena tidak ada asupan yang masuk. Sebagai Putri Chu Yue dari Kerajaan Ling-Yue, ia terbiasa dengan santapan mewah sup burung walet, daging rusa yang lembut, dan teh melati terbaik. Namun sekarang? Menelan ludahnya sendiri pun terasa pahit.
Ia mencoba menggerakkan lengannya yang kaku untuk menyeka debu yang menempel di kulitnya. Kain kumal yang ia gunakan terasa kasar, namun saat kain itu mengusap bagian pergelangan tangan kanannya, gerakannya tiba-tiba terhenti. Jantungnya berdegup kencang.
Di sana, tepat di atas nadi yang berdenyut lemah, terdapat sebuah tanda lahir berwarna merah pudar. Bentuknya sangat spesifik, setengah bagian dari sebuah hati.
Mata Yue'er membelalak lebar dalam kegelapan. "Tanda ini... bagaimana mungkin?" bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Di kehidupannya yang dulu, ia memiliki tanda yang persis sama. Ia selalu menganggapnya sebagai tanda kecantikan unik atau tanda keberuntungan seorang putri tabib. Namun, melihat tanda yang sama persis di tubuh Lin Xiaoxi yang kurus kering ini membuatnya merinding. Apakah ini sebuah kebetulan yang mustahil? Ataukah Lin Xiaoxi sebenarnya adalah cerminan dirinya di dimensi yang berbeda?
Karena rasa penasaran yang membuncah, Yue'er mencoba mengusap tanda itu lebih dalam. Ia mengira itu hanya noda tanah yang membandel. Namun, begitu kulit jarinya bersentuhan langsung dengan tanda itu, sebuah sensasi hangat tiba-tiba menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Detik berikutnya, tanda itu berpendar, mengeluarkan cahaya keemasan tipis yang menyilaukan mata.
Wuuusss!
Dunia di sekitarnya seolah terbalik. Suara jangkrik di luar gubuk menghilang, digantikan oleh kesunyian yang agung. Bau apek dari kayu lapuk berganti menjadi aroma harum bunga teratai dan kesegaran tanah yang baru saja disiram air surga.
Yue'er terhuyung sejenak, menyeimbangkan tubuhnya yang lemah. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di gubuk pengap itu. Ia berdiri di atas hamparan rumput hijau yang lembut seperti permadani sutra. Di hadapannya terbentang sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti cahaya senja abadi. Di tengah lembah itu, terdapat sebuah mata air kristal yang memancarkan cahaya biru safir, airnya terus mengalir tenang menuju kolam yang dipenuhi bunga teratai bercahaya.
"Tempat apa ini? Apa aku bermimpi?" gumamnya takjub. Langkahnya yang gontai membawanya mendekati sebuah bangunan gubuk kayu yang terlihat jauh lebih kokoh dan indah daripada rumahnya di desa.
Tiba-tiba, sepoi angin berembus melewati telinganya, membawa suara yang terdengar begitu jenaka namun memiliki tekanan kekuatan yang luar biasa.
"Hai, Yue'er... apa kau menyukai kehidupan barumu yang sekarang?"
Yue'er tersentak. Ia segera memutar tubuhnya, menoleh ke segala arah dengan sikap waspada seorang putri yang merasa terancam. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Ia segera menyadari siapa pemilik suara menyebalkan itu. Bibirnya mengerucut, dan rasa kesal yang tertahan sejak ia terbangun di gubuk tadi langsung meledak ke permukaan.
"Suka kau bilang?! Dewa yang menyebalkan!" teriak Yue'er, melupakan segala tata krama kerajaan yang biasanya ia jaga. "Kau menarik jiwaku dari kursi kebesaran, membuangku ke tubuh gadis yang bahkan tidak punya tenaga untuk bicara, dan menempatkanku di sebuah gubuk yang lebih buruk dari gudang penyimpanan arang di istanaku! Di mana letak keadilanmu?!"
Hening sejenak, hanya suara gemericik air yang terdengar. Lalu, suara tawa yang menggelegar pecah di udara. Tawa itu terdengar sangat puas, seolah kemarahan Yue'er adalah pertunjukan komedi paling lucu yang pernah Dewa saksikan.
"Hahaha! Kau tetap saja putri yang pembangkang, Chu Yue." suara itu kembali terdengar setelah tawa redup. "Aku memang memindahkanmu ke tubuh gadis desa yang miskin itu karena takdirnya telah habis. Tapi, apa kau pikir aku akan membiarkan tabib jenius sepertimu mati kelaparan? Aku membekalimu dengan Ruang Dimensi ini sebagai harta karun untuk hidup barumu."
Yue'er terdiam, matanya mulai menelusuri lembah itu dengan lebih saksama. Ia berjalan masuk ke dalam gubuk kayu di hadapannya. Di dalamnya, ia menemukan rak-rak yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
"Lihatlah sekelilingmu." lanjut sang Dewa. "Di sini ada berbagai jenis obat-obatan langka yang sudah punah di duniamu dulu. Ada alat-alat kesehatan modern yang bahkan dalam mimpi terliarmu pun tidak akan bisa kau bayangkan bentuknya. Ada pakaian, bahan makanan yang tak akan pernah basi, dan tanah di sini mengandung energi kehidupan murni. Jika kau menanam herbal yang kau temukan di dunia luar ke sini, hasilnya akan berlipat-lipat lebih berkhasiat."
Yue'er terpaku di depan sebuah rak yang berisi alat-alat aneh. Ada tabung kaca bening, alat-alat dari logam yang sangat tajam dan berkilau, hingga benda-benda elektronik yang mengeluarkan bunyi bip pelan. Ia mencoba menyentuh sebuah alat tensimeter modern, namun ia segera menarik tangannya karena takut benda itu meledak.
"Benda-benda aneh apa ini? Apa ini alat penyiksaan?" tanyanya curiga.
Namun, perhatiannya segera teralih pada sekantong beras putih yang sangat bersih di sudut ruangan dan deretan bumbu dapur yang aromanya menggugah selera. Ia mendekati mata air di luar dan mencelupkan tangannya. Rasa segar yang luar biasa langsung menjalar, seolah-olah energi baru disuntikkan ke dalam nadinya.
Lumayan juga batinnya, mencoba menyembunyikan rasa puasnya. Setidaknya Dewa ini tidak sepenuhnya tidak tahu malu.
Namun, kebingungan baru segera muncul. Ia melihat tumpukan bahan makanan itu, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang kurus.
"Tunggu dulu!" teriaknya lagi ke langit. "Lalu bagaimana cara membawa barang-barang di sini ke dunia nyata? Aku tidak mungkin memakan beras ini di sini sementara adikku kelaparan di luar sana! Dan bagaimana cara aku masuk dan keluar dari tempat ini dengan cepat?!"
Hening lagi. Kemudian, tawa sang Dewa kembali pecah, kali ini terdengar lebih terbahak-bahak hingga seolah membuat lembah itu bergetar.
"Hahaha! Luar biasa! Aku tidak menyangka Tuan Putri yang diagung-agungkan sebagai tabib jenius paling cerdas di Kerajaan Ling-Yue bisa menjadi sebodoh ini setelah berganti tubuh! Apa jiwamu tertinggal di masa lalu?!"
Wajah Yue'er seketika memerah padam hingga ke telinga. Gengsinya sebagai seorang ahli medis terinjak-injak. "Apa kau bilang?! Bodoh?! Beraninya kau menghinaku, Dewa Tua yang menyebalkan! Aku bisa meracik seribu jenis racun tanpa kau sadari!"
"Katakan padaku caranya! Jangan hanya tertawa atau aku akan membakar seluruh tanaman di dimensi ini agar kau tidak punya tempat untuk bersantai lagi!" amuk Yue'er sambil menghentakkan kakinya ke rumput.
Dewa itu terbatuk-batuk kecil, mencoba meredakan tawanya. "Tenanglah, Tuan Putri yang pemarah. Caranya sangat mudah, bahkan seekor monyet pun bisa mempelajarinya dalam sedetik. Kau hanya perlu memusatkan pikiranmu pada tanda lahir di lenganmu itu. Jika kau ingin membawa barang keluar, pegang barang itu dengan niat yang kuat dan bayangkan ia muncul di tanganmu di dunia nyata. Jika kau ingin masuk atau keluar, cukup sentuh tanda itu dan panggil nama dimensimu 'Ling-Yue'. Sederhana, bukan? Hanya orang 'jenius' yang kesulitan memahaminya."
Yue'er mendengus keras, mencoba menjaga martabatnya meski ia merasa sangat malu karena tidak terpikirkan hal sesederhana itu. "Tentu saja aku tahu! Aku hanya sedang mengetesmu apakah kau masih ingat atau sudah pikun karena terlalu lama hidup di langit!"
"Tentu saja, tentu saja... tabib 'jenius' yang hobi mengetes Dewa." suara itu mengejek sebelum akhirnya menghilang perlahan bersama embusan angin senja yang damai.
Yue'er menggerutu panjang pendek, menyumpahi Dewa itu di dalam hatinya agar jenggotnya rontok. Namun, ia tidak membuang waktu. Ia segera mengambil sekantong kecil beras, beberapa butir telur yang ia temukan di lemari, dan beberapa tangkai tanaman herbal penguat tubuh.
Ia memejamkan mata, menyentuh tanda lahir setengah hati di lengannya, dan berbisik pelan dengan penuh wibawa, "Ling-Yue... aku kembali."
Wuuusss!
Dalam sekejap, aroma tanah basah dan hawa dingin gubuk kembali menyergapnya. Yue'er kembali duduk di atas tikar pandan yang keras. Namun kali ini, di dekapannya, ada sekantong beras yang terasa nyata, dingin, dan sangat berat bagi tubuh lemahnya.
Ia menatap A-Chen yang masih menggigil dalam tidurnya, lalu tersenyum tipis dengan penuh arti. "Besok, kau akan makan dengan kenyang, A-Chen. Kakakmu ini bukan lagi gadis desa yang bisa ditindas dengan kelaparan."
Sambil menahan rasa perih di perutnya, Yue'er mulai menyusun rencana. Dengan bantuan ruang dimensi ini, ia tidak hanya akan kenyang, ia akan menaklukkan dunia ini, satu per satu.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/