Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urusan Mendesak
Dengan langkah tertatih dan tubuh yang terus gemetar, Pak Bejo datang menghadap Pak Selamet. Wajah pria tua gempal itu tampak sedikit memar seolah baru saja menerima pukulan keras.
Pak Selamet duduk santai di kursi rotan yang selalu ia gunakan untuk menyambut tamu. Ia menatap Pak Bejo dengan tatapan tajam yang menusuk, tangan kanannya menepuk-nepuk bagian lengan kursi secara perlahan.
"Saya sudah mendengar desas desus yang sedang hangat diperbincangkan dari desa Cempaka beberapa hari ini. Jangan sampai perilakumu yang hina ini mencoreng nama baik keluarga dan perusahaan kami, Pak Bejo," ujar Pak Selamet dengan nada marah yang tetap terkendali. Suaranya rendah namun penuh tekanan.
Pak Bejo semakin menggigil, pundaknya membungkuk dan ia tidak sanggup menatap mata atasannya. "Maaf, Juragan... saya khilaf. Saya terbawa emosi dan kesombongan diri sendiri."
"Saya sudah sering mendengar kabar tentang bagaimana kamu memperlakukan penduduk desa. Arogan, seolah kamu adalah yang paling berkuasa. Padahal semua hak dan wewenang yang kamu miliki hanyalah titipan dari saya. Saya menugaskanmu mengurus ladang bukan untuk kamu jadikan alat untuk menindas mereka yang lebih lemah darimu!" Pak Selamet mengangkat suaranya sedikit, matanya membara dengan kemarahan.
"Sekali lagi saya minta maaf, Juragan! Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Saya akan berubah dan memperlakukan semua orang dengan hormat," ucap Pak Bejo sambil menekuk badan lebih rendah.
"Saya sendiri sudah bersedia memaafkanmu. Tapi sepertinya anak saya tidak bisa begitu saja melupakan apa yang kamu lakukan. Gadis muda yang kamu coba paksa untuk dinikahi itu – Rara – adalah gadis yang selama ini Aksara idamkan dan jaga dari jauh. Dengan entengnya kamu malah mengganggunya dan mencoba mengambilnya dengan paksaan."
Mendengar nama gadis itu beserta hubungan dengan Aksara, Pak Bejo tampak terkejut. Wajahnya memerah campur takut dan menyesal. "Saya benar-benar tidak tahu akan hal itu, Juragan. Kecantikan dan kesederhanaannya membuat saya lupa diri sepenuhnya. Saya berjanji, tidak akan pernah lagi mengganggu gadis itu dan seluruh keluarganya!"
"Baiklah, mungkin dengan janjimu itu, Aksara akan mempertimbangkannya," ucap Pak Selamet sambil menghela napas panjang, seolah mencoba menenangkan diri.
"Tapi Juragan... saya mohon ampun. Jangan pecat saya dari pekerjaan. Apa kata orang-orang jika saya tiba-tiba kehilangan semua yang saya miliki? Keluarga saya juga akan terdampak," Pak Bejo semakin terjatuh, akhirnya bersimpuh di kaki Pak Selamet sambil menangis meraung.
"Itu bukan urusan saya lagi. Mulai sekarang, nasibmu sepenuhnya tergantung pada keputusan Aksara. Saya tidak akan campur tangan lagi," jawab Pak Selamet dengan nada tegas, kemudian mengangguk kepada dua orang berpakaian serba hitam yang berdiri di pojok ruangan.
"Ampun, Juragan!!! Saya berjanji akan menjadi orang yang lebih baik, sungguh!" teriakan Pak Bejo sambil meraih ujung celana Pak Selamet, sebelum akhirnya ditarik perlahan tapi pasti keluar dari ruangan oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu. Suara jeritannya perlahan menghilang seiring dengan menutupnya pintu besar ruangan.
—————
Sementara jauh di sana, di dalam ruangan yang sangat tenang. Cahaya matahari lembut menerobos celah tirai kaca, menerangi rak buku kayu yang memenuhi dinding. Aksara duduk bersila di sofa sembari membaca buku. Jari-jarinya yang panjang meluncur perlahan di atas halaman, hingga suara langkah kaki yang ringan namun pasti terdengar memasuki ruangannya. Seperti biasa, Brian datang. Wajahnya selalu kalem dan penuh tanggung jawab setiap kali memasuki ruang majikannya.
"Semuanya sudah diurus, Tuan. Pertemuan Ayah Anda dan Pak Karim berjalan lancar. Beliau menyetujui pernikahan ini. Juga, saya sudah mengurus Pak Bejo dan memberikan teguran yang jelas agar ia tidak berani mengganggu lagi."
"Baguslah. Kapan pernikahannya bisa dilaksanakan?" Aksara menutup bukunya perlahan, matanya menunjukkan rasa lega namun juga sedikit khawatir.
"Dua hari lagi, Tuan. Karena ada beberapa berkas yang harus diurus terlebih dahulu agar prosesnya sah secara hukum."
"Baiklah. Pastikan semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala sedikit pun."
Aksara menghela napas panjang, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Brian memang selalu dapat dipercaya dan diandalkan. Ia selalu mengurus segala urusan dengan cermat.
"Tapi sebelum itu, ada baiknya Anda bertemu langsung dengan Pak Karim, Tuan. Bukankah lebih baik jika meminta izin secara langsung? Itu pasti akan menambah kepercayaannya pada Tuan untuk mengantar putrinya dalam kehidupan baru."
"Atur jadwalnya. Kita akan segera kesana. Tapi pastikan Rara tidak melihatku. Aku tidak ingin ia membenciku karena harus melakukan pernikahan ini dalam waktu yang sesingkat ini."
"Aman, Tuan. Nona Rara sudah dikirimkan Pak Karim ke desa sebelah—ke rumah pamannya, Pak Dayat. Saya sudah memeriksa suasana kediaman Pak Dayat, lingkungannya tenang dan aman. Tidak ada hal yang berpotensi membahayakan untuk Nona Rara."
Aksara mengangguk perlahan, matanya menatap jauh ke arah jendela seolah sedang memikirkan sesuatu. "Baiklah."
———
Pagi selanjutnya,
Aksara berdecak kesal dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Ekspresinya tampak murung dan dengan raut wajah yang kusut. Rencana untuk pergi ke Desa Cempaka yang sudah disusun dengan cermat harus gagal karena kesalahan sistem di kantor cabang Italia.
Tanpa berlama-lama, ia berjalan cepat melewati halaman kediaman yang terawat rapi dan masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam yang sudah siap menunggu. Ia duduk di sebelah kiri Brian, yang dengan tenang memegang kemudi dan langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Brian dengan nada khawatir.
"Ke bandara sekarang. Segera atur keberangkatan tercepat ke Italia. Ada masalah mendesak di cabang sana yang harus saya urus langsung sebelum terlambat."
"Baik, Tuan." Brian segera menyalakan mesin dan memutar kemudi dengan hati-hati, mobil mulai melaju pelan kemudian semakin cepat di atas jalan raya yang sepi.
"Aku akan pergi beberapa hari. Tolong kelola segala urusan di sini dengan baik, terutama soal persiapan pernikahan. Pastikan tidak ada satu pun hal yang terganggu karena kepergianku."
"Siap, Tuan. Saya akan memastikan semua berjalan sesuai rencana, dan akan menghubungi Anda segera jika ada yang perlu diketahui."
Mobil meluncur dengan lancar di bawah sinar matahari yang mulai merunduk, meninggalkan kediaman megah Aksara dan terus melaju menuju bandara Internasional yang terletak lima puluh kilometer lebih jauh.