Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Almamater yang Terasing
Cahaya matahari pertama sebagai seorang suami menyapa Arkan bukan di hotel mewah berbintang lima, melainkan di sebuah kamar sederhana dengan aroma kayu jati dan sisa wangi melati dari akad semalam. Arkan terbangun lebih awal, sebuah kebiasaan penjara yang sulit hilang, namun kali ini tidak ada suara teriakan sipir atau denting jeruji besi. Yang ada hanyalah deru napas teratur Aisyah yang tertidur di sampingnya, masih mengenakan mukena putih pasca-salat Tahajud dan Subuh berjamaah yang mereka lalui dengan tangis haru.
Arkan bangkit perlahan, berusaha tidak mengusik ketenangan istrinya. Ia melangkah ke dapur kecil rumah mereka, menyalakan kompor, dan mulai menjerang air. Di atas meja makan kayu yang masih baru, terletak map cokelat berisi dokumen pendaftaran ulang Universitas Indonesia.
"Kau yakin dengan ini, Arkan?"
Aisyah muncul di ambang pintu dapur, rambutnya yang hitam legam tergerai bebas—sebuah pemandangan yang masih membuat jantung Arkan berdesir hebat. Aisyah mendekat, mengambil alih teko air dan mulai menyeduh teh hijau kegemaran Arkan.
"Aku harus, Aisyah," jawab Arkan tegas sambil menatap map tersebut. "Gelar sarjana kedokteranku yang tertunda sepuluh tahun lalu adalah utang pada diriku sendiri. Dan untuk menjadi asistenmu di ruang operasi, aku tidak bisa hanya mengandalkan insting 'tukang jagal' masa laluku. Aku butuh legalitas."
"Tapi kau tahu risikonya. Kampus adalah tempat yang sangat vokal. Berita tentang 'Putra Mahkota Xavier' yang masuk kembali ke fakultas kedokteran akan menjadi konsumsi publik dalam hitungan jam," Aisyah meletakkan cangkir teh di depan Arkan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus.
Arkan menggenggam tangan Aisyah. "Biarkan mereka bicara. Aku sudah melewati Nusakambangan, Aisyah. Nyinyiran mahasiswa atau tatapan sinis dosen tidak akan lebih tajam daripada kawat berduri di sana."
Dua jam kemudian, Arkan berdiri di depan gedung Dekanat Fakultas Kedokteran. Ia mengenakan kemeja flanel sederhana dan celana jins gelap. Tidak ada pengawal, tidak ada mobil antipeluru. Ia datang sebagai warga negara biasa yang ingin menuntut hak pendidikannya kembali.
Saat ia melangkah masuk ke ruang administrasi, suasana mendadak senyap. Beberapa staf administrasi yang sedang mengobrol langsung terdiam, mata mereka terpaku pada sosok pria tegap dengan luka parut tipis di pelipisnya itu. Wajah Arkan terlalu sering muncul di televisi selama setahun terakhir untuk bisa dilupakan begitu saja.
"Saya Arkan Xavier. Saya ingin mengaktifkan kembali status kemahasiswaan saya yang sempat dibekukan pada tahun 2016," ucap Arkan tenang, meletakkan surat keterangan dari Kementerian Hukum dan HAM serta surat rekomendasi dari Jaksa Hendra di atas meja.
Petugas administrasi itu menelan ludah, tangannya sedikit gemetar saat menerima berkas tersebut. "T-tunggu sebentar, Pak. Saya harus melapor ke Dekan terlebih dahulu."
Arkan menunggu di kursi kayu di koridor. Di sana, ia menjadi tontonan. Mahasiswa-mahasiswa muda yang mungkin baru berusia dua puluh tahun berbisik-bisik sambil mengarahkan kamera ponsel secara sembunyi-sembunyi ke arahnya.
"Itu dia, kan? Sang Serigala Xavier?"
"Kenapa pembunuh diizinkan kuliah di sini?"
"Apa dia mau belajar cara membedah orang secara legal?"
Bisikan itu sampai ke telinga Arkan. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya. Sabar, Arkan. Ini adalah bagian dari penebusanmu, batinnya.
Arkan dipanggil masuk ke ruangan Profesor Darmono, Dekan Fakultas Kedokteran yang dikenal sangat konservatif dan disiplin. Pria tua itu menatap Arkan dari balik kacamatanya dengan pandangan yang sangat dingin.
"Saudara Arkan," Profesor Darmono meletakkan berkas Arkan dengan kasar. "Secara hukum, Anda memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan karena status Anda adalah Warga Binaan yang sudah bebas bersyarat dan mendapatkan rehabilitasi. Namun, secara etika kedokteran, kami memiliki standar moral yang sangat tinggi.
Bagaimana saya bisa menjamin bahwa tangan yang dulu digunakan untuk memegang senjata tidak akan gemetar saat memegang pisau bedah untuk menyelamatkan nyawa?"
Arkan menatap mata Profesor Darmono tanpa rasa takut, namun dengan penuh rasa hormat.
"Profesor, saya tidak bisa menjamin apa pun selain kerja keras saya. Saya sudah menghabiskan lima tahun di penjara untuk merenungi setiap kesalahan saya. Di sana, saya belajar anatomi bukan dari buku, tapi dari luka-luka yang saya obati secara darurat saat kerusuhan terjadi. Saya ingin belajar menyembuhkan karena saya tahu persis bagaimana rasanya menghancurkan."
Darmono terdiam cukup lama. "Ada satu syarat. Anda akan berada di bawah pengawasan ketat. Jika ada satu saja keluhan dari mahasiswa lain atau tindakan Anda yang mencerminkan masa lalu Anda, saya sendiri yang akan menandatangani surat drop-out Anda. Tanpa ampun."
"Saya terima syarat itu, Prof," jawab Arkan mantap.
Setelah keluar dari gedung Dekanat, Arkan menuju parkiran motor. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di depannya.
Pintu belakang terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah amplop putih yang diletakkan di jok kulit.
Seorang pria dengan setelan safari—yang Arkan kenali sebagai salah satu mantan orang kepercayaan pamannya, Gideon—mengangguk hormat dari balik kemudi sebelum segera melesat pergi.
Arkan mengambil amplop itu dengan perasaan waswas. Di dalamnya terdapat sebuah kunci brankas kuno dan sebuah koordinat lokasi di Singapura. Ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
"Hadiah pernikahan untukmu, Arkan. Di brankas ini tersimpan data 'The Ghost'—unit rahasia klan kita yang tidak pernah tersentuh hukum. Gunakan untuk melindungimu, atau gunakan untuk menghancurkan mereka. Pilihan ada di tanganmu. – G"
Arkan meremas kertas itu. Paman Gideon tidak benar-benar menghilang. Ia sedang bermain catur dari kejauhan, mencoba menyeret Arkan kembali ke pusaran kekuasaan yang baru saja ia tinggalkan. 'The Ghost' adalah legenda di dunia bawah tanah; sekumpulan pembunuh bayaran dan peretas yang dulu digunakan ayah Arkan untuk melakukan tugas-tugas paling kotor. Jika Arkan memiliki data mereka, ia memegang bom waktu yang bisa meledakkan tatanan keamanan nasional.
Arkan pulang ke rumah saat senja mulai jingga. Ia menemukan Aisyah sedang menyiram bunga mawar di taman belakang. Saat melihat Arkan, Aisyah segera meletakkan selangnya dan menghampiri suaminya.
"Bagaimana di kampus?" tanya Aisyah, sambil membantu Arkan melepas jaketnya.
Arkan menceritakan semuanya—tentang tatapan sinis mahasiswa, ancaman Profesor Darmono, dan amplop dari pamannya. Aisyah mendengarkan dengan saksama, wajahnya menunjukkan ketenangan yang luar biasa.
"Arkan," Aisyah menggenggam tangan suaminya yang masih memegang kunci brankas kuno itu.
"Pamanmu ingin kau takut. Dia ingin kau merasa bahwa kau selalu membutuhkan kekuatan gelap Xavier untuk bertahan hidup. Tapi ingat apa yang kita sepakati semalam: kita akan hidup di bawah cahaya."
"Lalu apa yang harus kulakukan dengan ini, Aisyah? Jika aku menyerahkannya pada polisi, 'The Ghost' akan memburu kita. Jika kusimpan, aku tetaplah seorang kriminal yang menyembunyikan bukti," ucap Arkan bimbang.
Aisyah mengambil kunci itu dari tangan Arkan.
"Jangan serahkan sekarang. Simpan sebagai asuransi jiwa kita, tapi jangan pernah gunakan.
Biarkan kunci ini menjadi saksi bahwa kau memiliki kekuatan untuk menghancurkan, tapi kau memilih untuk tidak menggunakannya."
Malam itu, mereka duduk di beranda, menatap bintang-bintang. Arkan merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. Esok adalah hari pertamanya masuk kelas praktikum anatomi. Ia tahu ia akan menjadi "mahasiswa paling dibenci", tapi ia juga tahu bahwa di rumah ini, ada seseorang yang selalu percaya pada kemanusiaannya.
Namun, di kegelapan luar pagar panti asuhan, sepasang mata merah dari lensa binokular infra-merah sedang mengawasi mereka. 'The Ghost' ternyata sudah tiba lebih awal dari yang diperkirakan, dan mereka tidak senang dengan rencana Arkan untuk menjadi "orang baik".