NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Preman Kecil di Gerbang Pesantren

Angin sore Pasuruan terasa lebih panas dari biasanya, atau mungkin hanya Raina yang merasa begitu.

Mobil Avanza hitam yang dikendarai sopir orang tuanya baru saja berhenti di depan gerbang besar Pesantren Salafiyah Al-Hidayah.

Papan kayu besar bertuliskan nama pesantren itu berdiri tegak, seolah mengejek Raina yang sedang menatapnya dengan mata penuh amarah.

“Turun, Rain,” suara ibunya terdengar lelah dari kursi depan.

Raina tidak bergerak. Tangannya mencengkeram erat tali ransel hitam yang dia bawa.

Di dalam ransel itu hanya ada beberapa baju hitam kesukaannya, celana jeans robek, dan satu jaket kulit tipis yang biasa dia pakai saat balap motor malam di Surabaya. Rok? Dia bahkan tidak punya rok panjang yang pantas untuk tempat seperti ini.

“Aku nggak mau,” jawab Raina pendek, suaranya keras dan bandel seperti biasa.

“Kalian mau masukin aku ke penjara berbaju santri?”

Ayahnya menghela napas panjang dari kursi kemudi.

“Kamu sudah keterlaluan, Raina. Berkelahi lagi, kabur malam, bikin malu keluarga. Ini terakhir. Kalau di sini kamu masih bandel, Papa nggak tahu lagi harus gimana.”

Raina mendengus.

“Bandel? Aku cuma nggak mau didikte orang. Kalian yang selalu suruh aku jadi anak baik, padahal kalian sendiri sibuk kerja sampe lupa punya anak.”

Ia membuka pintu mobil dengan kasar, turun, dan membantingnya keras.

Suara benturan itu menggema di halaman depan pesantren yang sepi karena jam istirahat sore.

Beberapa santri yang lewat menoleh, ada yang berbisik-bisik melihat gadis berambut pendek acak-acakan, memakai kemeja hitam ketat yang dipadukan dengan rok hitam pendek di atas lutut, dan sepatu sneakers usang.

Raina berdiri tegak, dagunya terangkat tinggi.

Itu cara dia agar disegani. Preman kecil, begitu teman-temannya di Surabaya memanggilnya. Bukan preman sungguhan yang bawa senjata, tapi cukup galak dan keras kepala agar orang tidak berani mengganggunya.

Seorang ustadz muda mendekat dari arah masjid.

Pria itu tinggi, kulitnya sawo matang bersih, memakai koko putih rapi dan sarung plaid hitam. Peci hitamnya pas di kepala.

Wajahnya tampan dengan rahang tegas tapi sorot matanya lembut, seperti air yang tenang.

“Assalamualaikum,” sapanya dengan suara tenang dan rendah.

“Kamu Raina Azzahra?”

Raina menatapnya dari atas ke bawah.

“Waalaikumsalam. Iya, kenapa?”

Ustadz itu tersenyum tipis, senyum yang tidak memaksa tapi hangat.

“Saya Haris Zainuddin. Kamu akan mondok di sini. Mari saya antar ke kamar asrama dulu.”

Raina mendengus pelan.

“Nggak usah sok ramah. Aku tahu ini jebakan orang tua aku. Masukin ke pesantren biar ‘dibersihkan’. Lucu banget.”

Gus Haris tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan.

“Kalau begitu, ikut saya. Barang kamu bawa sendiri atau dibantu santri lain?”

“Aku bawa sendiri,” jawab Raina ketus sambil mengangkat ranselnya tinggi-tinggi, seolah menunjukkan bahwa dia tidak butuh bantuan siapa pun.

Perjalanan menuju asrama perempuan terasa panjang bagi Raina.

Jalan setapak berbatu di antara pepohonan rindang, suara burung dan daun bergesekan, serta aroma tanah basah setelah hujan sore tadi.

Semuanya terasa asing. Di Surabaya, ia biasa mendengar klakson motor, teriakan teman geng, dan suara musik dari warung kopi pinggir jalan. Di sini? Hanya suara ayam berkokok jauh dan adzan yang belum berkumandang.

Saat melewati halaman utama, Raina melihat sekelompok santriwati sedang duduk melingkar sambil menghafal.

Mereka memakai gamis panjang dan kerudung rapi. Raina merasa seperti alien di antara mereka.

“Lo liat tuh,” bisik salah satu santriwati sambil menutup mulut.

“Gadis baru? Kok pakaiannya… begitu?”

Raina berhenti melangkah. Ia menoleh tajam ke arah kelompok itu.

“Ada apa? Mau bilang sesuatu? Langsung aja, jangan bisik-bisik kayak pengecut.”

Suasana langsung hening.

Gus Haris yang berjalan di depan berbalik pelan.

“Raina, mereka hanya kaget. Di sini biasanya semua pakai pakaian yang lebih tertutup.”

“Terus? Aku harus ikut aturan kalian sejak detik ini juga?” Raina menatap Gus Haris dengan mata besarnya yang biru cerah.

Mata itu sekarang penuh tantangan. “Aku di sini karena dipaksa, bukan karena mau jadi santri baik-baik.”

Gus Haris menatapnya tenang. Tidak ada amarah di matanya. Hanya kesabaran yang anehnya membuat Raina semakin kesal.

“Kamu boleh pelan-pelan menyesuaikan diri. Tidak perlu langsung berubah hari ini.”

Raina terdiam sebentar. Jawaban itu tidak sesuai dengan yang ia harapkan.

Ia mengira akan dimarahi, dihukum, atau setidaknya diberi ceramah panjang. Tapi pria di depannya ini hanya tersenyum lembut dan melanjutkan berjalan.

Sesampainya di asrama perempuan, kamar yang disiapkan untuk Raina kecil dan sederhana.

Hanya ada kasur lipat, meja belajar kayu, lemari kecil, dan satu jendela menghadap ke kebun belakang pesantren.

“Ini kamar kamu untuk sementara,” kata Gus Haris.

“Kalau ada yang kurang, bilang saja ke Bu Nyai nanti malam.”

Raina melempar ranselnya ke kasur dengan kasar.

“Sementara? Berapa lama ‘sementara’ ini? Satu bulan? Dua bulan? Sampai aku gila di sini?”

Gus Haris berdiri di ambang pintu, tangannya bersedekap santai.

“Orang tua kamu bilang kamu akan tinggal di sini lebih lama. Mungkin sampai kamu merasa nyaman.”

“Nyaman?” Raina tertawa sinis.

“Di tempat ini? Dengan aturan ngaji pagi-pagi buta, tidur jam sembilan, dan dilarang keluar malam? Mimpi.”

Ia duduk di tepi kasur, lututnya ditekuk ke dada.

Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, bahunya sedikit merosot. Amarahnya masih ada, tapi di balik itu ada rasa lelah dan takut yang ia coba sembunyikan dengan sikap galak.

Gus Haris tidak langsung pergi. Ia diam sejenak, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut,

“Raina, saya tahu ini berat buat kamu. Tapi di sini bukan penjara. Ini rumah. Kalau kamu butuh teman bicara, saya selalu ada.”

Raina mendongak. Mata birunya bertemu dengan mata Gus Haris yang hangat.

Ada sesuatu di tatapan itu yang membuat dada Raina terasa aneh — bukan amarah, bukan juga takut. Hanya… kebingungan.

“Lo siapa sih sebenarnya?” tanya Raina tiba-tiba, suaranya masih kasar tapi sudah tidak sekeras tadi.

“Kenapa sok baik banget? Biasanya orang kayak lo langsung marah kalau ada yang bandel kayak aku.”

Gus Haris tersenyum tipis lagi. Senyum yang membuat garis halus di sudut matanya terlihat.

“Saya putra kyai di pesantren ini. Namanya Gus Haris. Tugas saya mengajar dan membantu santri baru menyesuaikan diri.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan,

“Dan… saya juga calon suami kamu.”

Raina membeku.

“Apa?”

Gus Haris mengangguk pelan.

“Orang tua kita sudah merencanakan perjodohan ini sejak kamu kecil. Pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi.”

Dunia Raina seolah berputar. Amarah yang tadi sudah mulai reda meledak lagi dengan dua kali lipat.

“Lo gila?!” Raina berdiri tiba-tiba, suaranya meninggi.

“Nikah? Dengan lo? Aku bahkan baru kenal lo lima menit! Kalian semua gila! Aku nggak mau! Aku mau pulang!”

Ia mendorong dada Gus Haris dengan kedua tangan, tapi pria itu hanya mundur selangkah tanpa melawan.

Wajah Raina memerah karena marah dan malu. Air mata mulai menggenang di mata birunya yang besar, tapi ia cepat-cepat mengusapnya dengan kasar.

Gus Haris tetap tenang. Ia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh bahu Raina, tapi kemudian menariknya kembali karena melihat Raina mundur.

“Saya tahu kamu marah,” katanya pelan.

“Kamu boleh marah sepuasnya. Tapi saya harap suatu hari kamu bisa melihat ini bukan sebagai hukuman, melainkan… takdir yang mungkin baik untuk kita berdua.”

Raina tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, menghadap jendela, dan memeluk dirinya sendiri.

Bahunya bergetar kecil.

Gus Haris diam sejenak di belakangnya.

Suaranya terdengar lagi, lembut seperti angin sore.

“Istirahat dulu, Raina. Maghrib nanti saya jemput untuk makan malam bersama keluarga kyai.”

Langkah kakinya menjauh. Pintu kamar ditutup pelan.

Raina tetap berdiri di depan jendela.

Angin sore masuk membawa aroma bunga melati dari kebun pesantren. Di kejauhan, suara santri mulai berkumandang pelan.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa sakit.

“Brengsek…” gumamnya pelan, suaranya pecah.

“Ini bukan hidup aku. Aku nggak mau jadi istri siapa pun… apalagi ustadz lemah lembut kayak gitu.”

Tapi di dalam hati yang paling dalam, ada suara kecil yang baru muncul hari ini — suara yang membuat Raina takut sendiri.

Kenapa tatapan mata Gus Haris tadi terasa begitu… hangat?

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!