NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.

" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.

" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"

" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.

" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 ( Kesadaran Langit.

"Tok... Tok...!"

"Assalamualaikum Nek... Ini Langit pulang, tolong buka pintunya ya!"

Setelah berpisah dengan Teh Intan, Langit langsung berjalan cepat pulang ke rumah Nenek Wati. Pikirannya masih penuh dengan bayangan kue-kue enak yang dijanjikan Teh Intan, ia sudah memutuskan untuk menunggu di kamarnya dan tidak akan mengunci jendelanya seperti yang disuruh.

"Dret...!"

Pintu terbuka perlahan, sosok Nenek Wati mengenakan mukena putih masih terlihat segar walau sudah larut malam. Ia tersenyum lembut ke arah cucunya.

"Habis dari mana ya Nak? Kok sampai sekarang baru pulang? Udah hampir jam sebelas nih..."

Langit melangkah masuk dengan langkah rileks, lalu menjepit kedua lututnya sambil duduk di kursi kayu yang selalu menjadi tempatnya:

"Tadi Langit duduk duduk di bawah pohon randu, melihat Sang Raja Malam dan Dewi Bulan seolah sedang berbicara lho Nek... Tiba-tiba Teh Intan datang, kita ngobrol panjang lebar sampai akhirnya dia ajak ke rumahnya mau kasih cicipi kue yang baru dia beli dari kota. Tapi..."

Ia berhenti sejenak, wajahnya menunjukkan rasa kecewa yang jelas.

"Suaminya Teh Intan tiba-tiba pulang dari ibukota, Nek tahu kan tuh sifat nya kalau ada cowok di rumahnya dia suka marah besar. Jadi gagal deh mau makan kue enaknya..."

Nenek Wati hanya mengangguk perlahan, tapi matanya sudah mulai melamun. "Mirisnya cucuku ini cuma mau makan kue aja sudah merasa sangat kecewa..." pikirnya dalam hati. "Padahal aku lagi bingung dengan rencana pinjam uang ke bank, kalau uang pensiunan jadi jaminan, kita bakal kesusahan buat makan sehari-hari selama sebulan..."

"Nek... kenapa kok diam aja? Ada apa ya Nek?" tanya Langit dengan suara khawatir, melihat wajah neneknya yang tampak terpikir-pikir.

Wanita paruh baya itu menarik napas dalam, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Langit. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan—meskipun ia tahu ini mungkin akan membuat cucunya merasa bersalah:

"Cucuku yang baik hati... Nenek ada sesuatu yang mau bilang dan juga mau minta saran dari kamu..."

"Hal apa itu Nek? Langit siap dengar dan bantu jika bisa!" jawab Langit dengan nada serius, tubuhnya langsung tegak lurus.

"Nenek mau pinjam uang ke bank, pakai jaminan gaji pensiunan dari kakek kamu yang sudah tiada," ucap Nenek Wati dengan suara pelan.

"Uangnya mau aku gunain buat memperbaiki rumah yang sudah mulai rusak, dan juga modal buat buka warung jajanan anak-anak di kampung. Gimana menurut kamu? Apakah itu ide yang baik?"

Begitu kata-kata itu keluar, wajah Langit langsung berubah warna. Rasa sakit menusuk hatinya—seolah ada batu besar yang menekannya ke dalam tanah. "Harusnya aku yang harusnya bekerja untuk menyukupi nenek... bukan malah membuatnya harus meminjam uang..." pikirnya dengan hati yang sangat berat.

Wajahnya tertunduk, pipinya mulai merah karena rasa malu yang luar biasa. Ia adalah seorang lelaki yang sudah berusia 19 tahun, badannya kekar dan ototnya terlihat jelas, tapi apa gunanya jika ia tidak bisa memberikan apa-apa bagi orang yang telah merawatnya dari bayi?

"Nek... maaf..." ucap Langit dengan suara yang hampir tak terdengar, air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya.

Nenek Wati hanya tersenyum lembut, lalu mengusap rambut Langit dengan tangan yang lembut namun penuh kasih sayang. Ia tidak menyangka bahwa obrolan ini bisa membuat cucunya merasa begitu bersalah:

"Sudah ya Nak... nenek tidak marah atau apa-apa..."

Tapi kata-kata itu hanya membuat Langit semakin terpuruk. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan kemudian bersimpuh di hadapan Nenek Wati—badan yang kuat itu kini tampak begitu lemah.

"Langit malu banget Nek... Langit seperti orang yang tidak berguna... Langit seharusnya yang memberikan kehidupan buat nenek di masa tua, bukan malah nenek yang masih harus bekerja keras buat kita berdua... Langit sungguh tidak pantas hidup dengan nenek..."

Air mata mulai menetes deras dari wajahnya. Semua rasa bersalah dan kegagalan yang telah ia pendam selama ini akhirnya keluar dengan deras:

"Langit pecundang... Langit tidak punya rasa belas kasih sama nenek... Kalau bukan karena nenek, mungkin Langit sudah tidak ada di dunia ini... tapi Langit tidak bisa memberikan apa-apa..."

"Bangunlah cucuku..." ucap Nenek Wati dengan suara yang sedikit bergetar, tangannya mulai mengangkat dagu Langit agar bisa melihat matanya. "Nenek tidak memperdulikan semua itu. Cukup dengan kamu ada di sini, berdampingan dengan nenek, sudah membuat nenek sangat bahagia. Apalagi kamu tumbuh jadi anak yang sehat dan baik hati—itu sudah lebih dari cukup buat nenek."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan:

"Mungkin kamu juga sudah tahu bahwa kamu bukan cucu kandung nenek... bukan darah daging nenek... Tapi kamu tidak pernah bertanya dari mana kamu berasal, tidak pernah mencari jati diri kamu... itu sudah membuktikan bahwa kamu menganggap nenek sebagai keluarga kamu yang sesungguhnya..."

Nenek Wati menghela napas panjang, matanya mulai menatap jauh ke arah pojok rumah seolah sedang melihat masa lalu yang sudah lama terkubur.

"Saat itu hujan sedang turun deras... nenek baru saja selesai membersihkan pekarangan rumah, lalu mendengar suara tangisan bayi dari arah pohon randu..."

Langit mengangkat wajahnya, mata yang masih berkaca-kaca penuh dengan rasa ingin tahu:

"Nek... bolehkah Langit tahu cerita lengkapnya? Dari mana asalnya Langit sampai ditemukan di bawah pohon itu?"

Wanita tua itu tersenyum lembut lalu mengangguk perlahan.

"Apakah kamu yakin, Nak? Ceritanya mungkin tidak akan membuat kamu senang..."

"Sangat yakin Nek! Langit punya hak untuk tahu dari mana aku berasal!" jawab Langit dengan suara yang penuh keyakinan.

"Baiklah... kamu tunggu sebentar ya," ucap Nenek Wati sambil beranjak dari kursinya. Ia melangkah ke kamar belakang dengan langkah pelan, tak lama kemudian kembali membawa sebuah kotak kayu berwarna coklat tua yang terlihat sangat usang—permukaannya sudah mengelupas dan ada beberapa pola ukiran yang sulit dikenali.

Ia menempatkan kotak itu di atas meja kayu yang sudah lapuk, lalu menatap Langit dengan mata yang penuh makna.

"Segala sesuatu tentang kamu... asal-usul kamu yang sebenarnya... semua ada di dalam kotak ini..."

WUSSSSS...!!!

Tiba-tiba angin di luar bertiup kencang, menerpa dedaunan hingga berisik. Bulan sabit yang tadinya bersinar terang kini perlahan tertutup oleh awan hitam pekat. Suasana mendadak menjadi hening dan mencekam, seolah alam pun ikut mendengarkan rahasia besar yang akan segera terungkap.

 

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS TEA.

Bersambung.

1
Neng
🤭🤭🤭🤭🤭
Neng
lumayan
Neng
👍👍👍👍
Tuyul
🤣🤣🤣🤣
Tuyul
😍😍😍😍
sitanggang
muter2 kek gangsing 🙄😵😵‍💫
RAJA CHAN
sangat bagus
Tuyul
menarik
Tuyul
👍👍👍
Aden
ayam dasar lemah
Aden
lumayan menarik
Robet
🤭🤭🤭🤭🤭 lumpur Lapindo
Aris Nugraha
🤣🤣🤣
Aris Nugraha
keren kak
Robet
🤣🤣🤣
Robet
keren
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!