NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Menara Kaca dan Pertaruhan Terakhir

​​New York di ambang musim panas terasa seperti oven raksasa yang membakar aspal Manhattan. Arkan baru saja mendarat di JFK, namun kali ini tidak ada penyambutan hangat. Pikirannya kalut. Kata-kata Elena di London tentang "editor muda" yang terus menempel pada Ziva terus berdenging seperti parasit di telinganya. Ditambah lagi, ayahnya, Pak Wijaya, mendadak mengirimkan sebuah dokumen audit firma tempat Arkan magang yang menunjukkan ada keterlibatan Julian dalam sebuah skema pendanaan media yang mencurigakan.

​Arkan melangkah keluar dari taksi kuning di depan apartemen Ziva di Brooklyn. Ia tidak memberi tahu Ziva jam pastinya. Ia ingin memberikan kejutan, atau mungkin, ia hanya ingin memastikan kecurigaannya salah.

​Tamu yang Tak Diundang

​Di dalam studio kecilnya, Ziva sedang sibuk membereskan alat rekamannya. Julian berdiri di dekat jendela, menyesap kopi hitam dengan gaya santai yang selalu membuat Ziva merasa sedikit tertekan secara intelektual.

​"Ziva, tawaran magang di The New York Times itu bukan datang tiap hari. Dan aku yang merekomendasikanmu. Kenapa kamu harus ragu hanya karena suamimu mau datang?" Julian meletakkan cangkirnya, melangkah mendekat.

​"Ini bukan soal ragu, Julian. Ini soal prioritas. Arkan sudah berkorban banyak buat ke sini," jawab Ziva tegas, namun ia tidak bisa menampik bahwa kariernya sedang dipertaruhkan.

​"Suamimu itu... dia hanya mengikatmu pada masa lalu SMA yang sempit. Kamu butuh dunia yang lebih luas," Julian mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu Ziva.

​Brak!

​Pintu apartemen terbuka. Arkan berdiri di sana, masih memegang kunci cadangan yang Ziva berikan. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah tangan Julian yang hampir menyentuh istrinya.

​"Dunia yang luas tidak butuh pengkhianat seperti kamu, Julian," suara Arkan rendah, namun penuh otoritas yang membekukan ruangan.

​Konfrontasi: Angka Melawan Kata

​Julian tertawa kecil, tidak tampak takut. "Ah, Sang Ketua OSIS yang legendaris. Selamat datang di New York, Arkan. Kamu tampak... lelah."

​Arkan melangkah maju, melempar sebuah map cokelat ke atas meja belajar Ziva. "Aku menghabiskan sisa waktu magangku di London bukan cuma buat belajar saham, tapi buat melacak aliran dana firma hukum yang mendanai proyek mediamu, Julian. Kamu bukan editor yang tulus.

Kamu cuma alat untuk mencuci uang dari beberapa politisi di Jakarta yang kebetulan musuh bisnis ayahku."

​Ziva terbelalak. Ia menatap Arkan, lalu menatap Julian.

"Julian? Apa ini bener?"

​Wajah Julian berubah. Ketangguhannya mulai retak. "Itu cuma tuduhan tanpa bukti, Arkan. Kamu cuma cemburu karena istrimu lebih nyaman bicara denganku."

​"Bukti ada di halaman empat," potong Arkan dingin. "Dan aku sudah mengirim salinannya ke dewan etik kampus Columbia pagi ini. Kamu akan kehilangan lisensimu, Julian. Jangan pernah mendekati istriku lagi dengan dalih 'karier'."

​Julian mendengus, menyambar tasnya, dan keluar dari apartemen dengan langkah kasar. Saat melewati Arkan, ia membisikkan sesuatu: "Kamu mungkin menang kali ini, tapi New York bakal menelan istrimu bulat-bulat tanpa bantuan siapa pun."

​Pecahnya Pertahanan

​Setelah pintu tertutup, keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Arkan berdiri kaku di tengah ruangan, sementara Ziva terduduk lemas di sofa.

​"Ar... lo beneran selidikin dia?" suara Ziva bergetar.

​"Aku harus, Ziv. Elena di London terus-terusan manas-manasin aku soal kalian. Aku nggak percaya dia, tapi aku juga nggak bisa diem aja liat kamu dalam bahaya," Arkan mendekat, namun ia berhenti dua langkah di depan Ziva.

​"Bahaya? Gue hampir dapet pekerjaan impian gue, Ar! Dan sekarang lo hancurin itu lewat cara... cara bokap lo!" Ziva berdiri, air mata mulai jatuh. "Lo bilang lo mau mandiri, tapi lo tetep pakai koneksi audit dan intelijen bokap lo buat nyelesain masalah pribadi kita!"

​Arkan tertegun. Ia menyadari bahwa demi melindungi Ziva, ia secara tidak sadar telah berubah menjadi sosok yang paling ia benci: Pak Wijaya.

​"Aku cuma takut kehilangan kamu, Ziva!" bentak Arkan, emosi yang ia tahan selama di London akhirnya meledak. "Di sana aku sendirian, dikejar-kejar Elena, dikejar-kejar target magang, sementara di sini kamu kelihatan bahagia banget sama orang lain!"

​Ziva terdiam. Ia melihat kerapuhan di mata Arkan—sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Arkan sang robot kaku ternyata bisa hancur juga karena jarak.

​Janji di Atas Atap Brooklyn

​Malam itu, mereka duduk di rooftop gedung apartemen, menatap lampu-lampu Manhattan yang berkelap-kelip seperti berlian yang tumpah. Angin musim panas bertiup pelan, membawa aroma laut dan polusi kota.

​Ziva menggenggam tangan Arkan. "Maaf ya, Ar. Gue terlalu egois ngejar ambisi gue sampai nggak sadar lo lagi berjuang sendirian di sana."

​Arkan menyandarkan kepalanya di bahu Ziva. "Aku juga minta maaf. Aku janji nggak akan pakai cara Papa lagi. Aku bakal belajar percaya sama kamu, bukan sama laporan intelijen."

​"Ar," panggil Ziva pelan.

​"Ya?"

​"Empat tahun ini... bakal berat banget ya?"

​Arkan menoleh, menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam, lalu mengecup keningnya. "Berat. Tapi kalau kita bisa lewati hari ini, kita bisa lewati sisa tiga tahun lagi. Setelah ini, nggak ada lagi rahasia. Nggak ada lagi Julian atau Elena. Cuma kita."

​Di bawah langit New York, mereka menyadari bahwa pernikahan bukan cuma soal cinta, tapi soal bertahan di tengah badai ego masing-masing. Mereka mungkin masih muda, tapi luka-luka ini membuat mereka lebih kuat dari pasangan mana pun di SMA Garuda dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!