NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Gelar yang Berdarah

Sisa asap dari pos penjagaan yang terbakar masih menggantung di udara pagi, bercampur dengan aroma mawar yang hangus. Arkan Xavier berdiri di tengah puing, tangannya yang hitam karena jelaga menggenggam erat botol obat B-Pharm yang menjadi kunci konspirasi baru ini.

Di sampingnya, Bimo—pria yang kemarin ingin membunuhnya—kini berdiri sebagai sekutu yang terluka, menatap sisa-sisa api dengan kemarahan yang kini terarah pada sasaran yang tepat.

Pukul sembilan pagi, sebuah iring-iringan mobil hitam berpelat instansi pemerintah memasuki halaman panti asuhan yang porak-poranda. Jaksa Hendra turun bersama perwakilan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Mereka tidak datang untuk memborgol Arkan, melainkan untuk memberikan sebuah map merah dengan stempel emas.

"Arkan Xavier," suara Jaksa Hendra berat namun penuh wibawa. "Aksimu menyelamatkan puluhan nyawa anak yatim semalam, di tengah statusmu sebagai warga binaan bebas bersyarat, telah dipantau. Negara memberikanmu gelar 'Warga Binaan Teladan'. Ini bukan sekadar kertas; ini adalah jaminan rehabilitasi mutlak yang memperkuat status hukummu di mana pun kau berada."

Arkan menerima map itu tanpa ekspresi kemenangan. Baginya, gelar itu terasa berat karena dibayar dengan trauma anak-anak panti. "Terima kasih, Pak Jaksa. Tapi gelar ini tidak akan memadamkan api yang mereka sulut semalam."

"Gelar ini adalah perisaimu, Arkan," bisik Hendra sambil mendekat. "Gunakan ini saat kau kembali ke kampus hari ini. Profesor Darmono sedang ditekan habis-habisan untuk mengeluarkanmu."

Di Fakultas Kedokteran, suasana mencekam.

Sebuah surat kaleng yang dikirimkan ke senat universitas mengancam akan mencabut seluruh akreditasi internasional fakultas jika "seorang narapidana berbahaya" tetap diizinkan menyentuh pisau bedah. Profesor Darmono duduk di ruang kerjanya, menatap surat itu dengan tangan gemetar.

Saat Arkan masuk ke ruangan, Darmono tidak langsung marah. Ia tampak lelah. "Kau membawa badai ke gedung ini, Arkan. Aku baru saja menerima telepon dari dewan penyantun. Mereka bilang keberadaanmu mencoreng nama baik almamater."

Arkan meletakkan map merah dari Jaksa Hendra di meja Darmono. "Negara menganggap saya teladan, Prof. Apakah universitas ini lebih tinggi dari hukum negara?"

Darmono terdiam melihat gelar tersebut. Namun, sebelum ia sempat menjawab, pintu ruangan terbuka kasar. Bimo masuk, masih dengan perban di kepalanya.

"Profesor, saya yang menyerang Arkan kemarin. Saya diprovokasi oleh pihak luar yang ingin menghancurkan reputasi Arkan," ucap Bimo tegas. "Jika Anda mengeluarkan Arkan, Anda juga harus mengeluarkan saya. Karena sayalah yang membawa kekerasan ke laboratorium Anda, bukan dia."

Darmono menatap kedua mahasiswa itu—sang putra polisi dan sang putra mafia—yang kini berdiri berdampingan. Keangkuhan akademisnya luruh. "Baiklah. Gelar teladan ini menyelamatkanmu, Arkan. Tapi ingat, musuhmu tidak akan berhenti di sini. Mereka akan menyerang lewat jalur yang tidak bisa kulindungi."

Sementara Arkan berjuang di kampus, Aisyah kembali ke sisi ayahnya, Rahman Malik. Pria tua itu tampak lebih tenang setelah insiden semalam, namun matanya menyimpan urgensi yang aneh.

"Aisyah... ambilkan kotak kayu di bawah ubin ketiga di samping tempat tidur Ayah," suara Rahman parau.

Aisyah melakukan apa yang diminta. Di bawah ubin yang disamarkan dengan sangat rapi, terdapat sebuah kotak kayu jati tua yang terkunci rapat. Rahman memberikan sebuah kalung perak dengan gantungan berbentuk kunci silinder yang unik.

"Dulu, ayahmu bukan hanya seorang hakim yang jujur, tapi juga pemegang kunci 'Arsip Kebenaran' milik klan Malik. Xavier senior memberiku satu kunci, dan dia menyimpan satu kunci lainnya," Rahman terbatuk. "Kunci yang kau miliki dari Arkan adalah pasangan dari kunci ini. Jika digabungkan, mereka akan membuka brankas di lantai bawah tanah Perpustakaan Nasional—sebuah tempat yang tidak pernah dicurigai oleh siapa pun."

Aisyah menggenggam kunci itu. "Apa isinya, Ayah?"

"Daftar seluruh penerima suap 'Baskara-Xavier' selama tiga puluh tahun terakhir. Termasuk... nama orang yang sekarang sedang menekan Profesor Darmono di kampus," bisik Rahman.

Malam harinya, Arkan dan Aisyah bertemu di ruang kerja panti yang remang-remang. Mereka meletakkan kedua kunci itu di meja. Desainnya sangat rumit; ketika disatukan, mereka membentuk pola bintang segi delapan yang presisi.

"Ayah bilang ini akan membuka brankas di Perpustakaan Nasional," ucap Aisyah.

"Perpustakaan itu dijaga ketat oleh sistem keamanan dari perusahaan keamanan milik Adrian Baskara," Arkan mengerutkan kening. "Ini adalah jebakan sekaligus kesempatan."

Tiba-tiba, Leo masuk dengan wajah pucat.

"Arkan, aku baru saja menyadap frekuensi 'The Ghost'. Mereka tidak lagi mengejarmu karena dendam. Mereka bergerak karena perintah 'The Architect'."

"Siapa dia?" tanya Arkan.

"Pria yang memproduksi Neuro-Strychnine. Dia adalah saudara tiri Adrian Baskara yang selama ini disembunyikan di luar negeri. Namanya Julian Baskara. Dia bukan hanya seorang pengusaha, dia adalah seorang ahli biokimia yang ingin menggunakan narapidana sebagai kelinci percobaan obat tempurnya."

Arkan bangkit, ia mengenakan jaket taktisnya kembali. "Aisyah, tetap di sini bersama Leo dan Bimo. Aku akan ke Perpustakaan Nasional malam ini."

"Tidak sendiri, Arkan," Aisyah berdiri, memegang tas medisnya. "Kau butuh seseorang yang bisa menembus sistem biometrik jika ada sensor kesehatan di sana. Dan aku tahu cara melewati sensor suhu tubuh dengan bahan kimia tertentu."

Gedung Perpustakaan Nasional yang megah berdiri kokoh di tengah sunyinya Jakarta pukul dua pagi. Arkan dan Aisyah bergerak seperti bayangan, melewati sensor laser dengan bantuan perangkat pengacak sinyal yang diberikan Leo.

Mereka sampai di lantai bawah tanah terdalam, di sebuah ruangan yang hanya berisi rak-rak buku kuno yang berdebu. Di balik sebuah rak bertuliskan 'Sejarah Hukum Nusantara', terdapat sebuah lubang kunci ganda.

Arkan memasukkan kunci miliknya, dan Aisyah memasukkan milik ayahnya.

KLIK.

Dinding rak berputar, menampakkan sebuah brankas baja tahan ledakan. Namun, saat Arkan hendak membukanya, lampu ruangan tiba-tiba menyala terang.

"Selamat malam, Saudara Xavier. Senang melihatmu membawa kunci lengkapnya ke sini," sebuah suara dingin terdengar dari pengeras suara.

Di balkon atas ruangan tersebut, berdiri seorang pria muda dengan jas putih laboratorium yang sangat rapi. Wajahnya mirip dengan Adrian, namun matanya lebih dingin dan tajam. Julian Baskara. Di belakangnya, berdiri empat orang anggota 'The Ghost' dengan senjata terarah pada Arkan dan Aisyah.

"Julian," Arkan menatapnya dengan tajam.

"Gelar 'Warga Binaan Teladan'-mu sangat mengesankan, Arkan. Tapi di sini, di bawah tanah ini, kau hanyalah tikus yang masuk ke perangkapku," Julian tersenyum tipis. "Berikan kuncinya, dan aku akan membiarkan Dokter Aisyah hidup untuk melihatmu membusuk di penjara lagi atas tuduhan pencurian aset negara."

Arkan menarik Aisyah ke belakang punggungnya. Ia melirik ke arah sensor kebakaran di langit-langit. "Kau tahu, Julian... di penjara aku belajar satu hal tentang sistem keamanan: semakin canggih sistemnya, semakin mudah ia dikelabui oleh hal yang paling primitif."

Arkan melemparkan sebuah botol kecil berisi campuran alkohol dan fosfor yang ia siapkan dari lab panti ke arah sensor suhu. Dalam hitungan detik, alarm meraung dan sistem pemadam api berupa gas halon menyembur keluar, memenuhi ruangan dengan kabut tebal yang menghilangkan jarak pandang.

"Sekarang!" bisik Arkan.

Dalam kekacauan itu, Arkan tidak hanya mencoba melarikan diri. Ia justru menarik tuas brankas dan mengambil satu-satunya dokumen fisik di dalamnya, lalu menarik Aisyah menuju saluran udara yang sudah dipetakan Leo.

Tembakan membabi buta terdengar di belakang mereka, mengenai rak-rak buku kuno. Arkan dan Aisyah berhasil keluar ke area parkir belakang tepat saat mobil Leo meluncur mendekat.

Di dalam mobil yang melaju kencang, Arkan membuka dokumen tersebut. Matanya membelalak saat melihat nama pertama di daftar penerima suap terbesar.

"Siapa, Arkan?" tanya Aisyah, mengatur napasnya.

Arkan menunjukkan nama itu. Menteri Hukum dan HAM. Pria yang baru saja memberikan Arkan gelar 'Warga Binaan Teladan'.

"Gelar itu bukan penghargaan, Aisyah," suara Arkan dingin. "Gelar itu adalah umpan agar aku tetap tenang dan mudah diawasi sementara mereka mencari kunci ini. Kita tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang. Bahkan sistem yang memberikan kita kebebasan."

Arkan menatap kunci di tangannya. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi hanya bertarung melawan mafia atau dokter jahat. Ia sedang bertarung melawan pilar-pilar kekuasaan negara yang telah membusuk hingga ke akarnya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!