NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabel Tembaga dan Sarkofagus Batu

00:14:59.

Beep.

Suara detik digital itu terdengar sangat pelan, namun di dalam keheningan gua bawah tanah, bunyinya bergema seperti palu godam yang menghantam tengkorak. Cahaya merah LED dari layar peledak berkedip konstan, memantul di kacamata Lyra yang sudah kotor oleh debu dan cipratan lumpur.

“Kolonel, ini bukan peledak rakitan biasa,” Letnan Jati berlutut di sisi altar, mengarahkan senter merahnya ke susunan sirkuit di bawah tumpukan C4. “Ini C4 ganda dengan anti-tamper switch (sakelar antimanipulasi). Ada pemicu merkuri di bawahnya. Jika kita menggeser bom ini sejauh satu sentimeter saja dari atas peti VOC itu, pemicunya akan bergerak dan—boom.”

Rayyan menatap susunan kabel tembaga merah, biru, dan kuning yang saling melilit seperti sarang laba-laba mematikan. Wajahnya yang biasa sedingin es kini memancarkan ketegangan absolut.

“Radius ledakannya?” Tanya Rayyan datar.

“Cukup untuk menghancurkan seluruh altar ini dan memecahkan setiap tabung kaca biokimia di dalamnya,” jawab Jati dengan rahang mengeras. “Gasnya akan naik melalui lubang ventilasi yang mereka bor di atap gua. Dalam hitungan jam, udara di permukaan akan terkontaminasi radius sepuluh kilometer.”

00.12.30.

Lyra masih terduduk lemas di tepi altar batu. Napasnya pendek-pendek. Otaknya yang terbiasa menganalisis benda mati dari masa lalu kini dipaksa menghadapi benda mati yang akan membunuh mereka di masa kini.

“Potong kabel pemicu utamanya,” perintah Rayyan, tangannya masih memegang pisau taktis Ka-Bar.

“Itu masalahnya, Kolonel. Sindikat ini pintar. Mereka menggunakan kabel palsu paralel. Jika Anda memotong kabel biru dan ternyata itu grounding (kabel arde), sirkuitnya akan langsung memicu detonator sekunder,” Jati menelan ludah. “Kita punya peluang lima puluh persen.”

Rayyan terdiam. Lima puluh persen bukanlah statistik yang bisa ia terima jika taruhannya adalah nyawa pasukannya, jutaan warga sipil di atas sana, dan nyawa gadis mungil yang kini gemetar di sudut matanya.

“Lyra,” Rayyan menoleh, menatap gadis itu. “Ada jalan keluar lain dari ruangan ini selain menyeberangi danau asam itu kembali?”

Lyra menggeleng lemah. “Kuil ini dirancang sebagai jalan buntu, Kolonel. Sebuah makam tidak memiliki pintu belakang.”

00.09.45.

Waktu menyusut tanpa ampun. Keringat dingin membasahi dahi Rayyan. Rasa sakit dari perutnya yang robek mulai menjalar ke dada, membuat napasnya terasa dangkal, namun ia mengabaikannya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke atas bom, pisau taktisnya mengambang di atas kabel merah.

Jika aku salah potong, ini akan berakhir dalam sekejap, pikir Rayyan. Ia menoleh sekali lagi ke arah Lyra. Jika ia harus mati di sini, setidaknya ia telah memastikan gadis itu tidak mati di tangan peluru musuh di luar sana.

Tepat saat ujung pisau Rayyan menyentuh lapisan kabel merah, suara Lyra membelah ketenangan.

“Tunggu!”

Rayyan menghentikan gerakannya seketika, bilah pisaunya hanya berjarak satu milimeter dari tembaga. Ia menatap Lyra yang tiba-tiba merangkak mendekat ke arah tumpukan peti. Kacamata gadis itu sudah ia dorong ke atas kepala, matanya yang cokelat menyipit tajam, menatap ke arah permukaan altar batu tempat peti-peti itu diletakkan.

“Dokter, jangan mendekat,” peringat Dito, senapannya tersandang lemas di bahunya.

Lyra mengabaikannya. Ia tidak menatap bomnya. Ia menatap altar batu bundar itu. Tangannya yang gemetar meraba ukiran di tepian meja batu purba tersebut, mengabaikan debu tebal berabad-abad. Ia membersihkan sebagian lumut kering dengan ujung kemejanya.

“VOC abad ke-18… mereka datang ke sini untuk menyembunyikan senjata biologis rahasia mereka karena mereka tahu tempat ini tidak tersentuh,” Lyra bergumam cepat, otaknya kembali bekerja dalam mode overdrive. “Tapi kenapa mereka meletakkannya begitu saja di atas altar? Mereka adalah pedagang dan penjajah yang paranoid. Mereka tidak akan meninggalkan senjata paling berharga mereka tanpa pelindung.”

“Lyra, apa poinmu? Kita punya waktu kurang dari delapan menit!” Geram Jati.

“Poinnya adalah, ini bukan sekedar meja persembahan!” Lyra mendongak, matanya berkilat-kilat oleh adrenalin dan penemuan sejarah. Ia menunjuk ke arah celah tipis yang membelah tepat di tengah-tengah altar melingkar tersebut, yang nyaris tidak terlihat karena tertutup peti dan debu.

“Ini sarkofagus! Sebuah brankas vulkanik raksasa,” Lyra berdiri dengan susah payah, berlari ke sisi berlawanan dari altar. “VOC menyusun peti-peti ini di atas altar karena mereka tahu altar ini bisa terbuka dan menelan benda di atasnya ke dalam perut bumi sebagai pelindung. Mereka hanya… tidak tahu cara menutupnya kembali, atau mereka mati sebelum sempat melakukannya!”

Rayyan menurunkan pisaunya, memusatkan perhatian penuh pada Lyra. “Jelaskan!”

00.06.15.

“Kuil ini dibangun dari batu andesit vulkanik padat setebal empat meter. Di bawah altar ini ada ruang hampa berlapis timah purba dan batu,” Lyra menunjuk ke arah tempat pilar kecil di setiap sudut altar. “Jika kita bisa membuka altar ini, sarkofagusnya akan terbuka ke bawah. Peti-peti itu dan bomnya—akan jatuh ke dalam. Saat altar ini menutup kembali, batu andesit setebal empat meter akan meredam ledakan C4 sepenuhnya dan mengubur gas biokimia itu selamanya!”

Keheningan sesaat memeluk mereka, hanya disela oleh detak bom yang mematikan.

“Berapa ketebalan pastinya?” Tanya Rayyan cepat. Otak militernya langsung mengalkulasi. “C4 seberat ini setidaknya butuh dua meter beton bertulang untuk ditahan!”

“Ini andesit murni dari letusan gunung purba, Kolonel. Empat meter andesit jauh lebih padat dari beton modern mana pun. Sarkofagus ini di desain untuk menahan gempa bumi,” Lyra meyakinkannya.

“Bagaimana cara membukanya?” tanya Rayyan, tidak membuang waktu satu detik pun untuk meragukan analisis gadis itu.

Lyra berlutut di tepi altar. “Ada tuas pemutar batu di dasar pilar ini. Tapi ukurannya masif. Sistem roda giginya pasti sudah berkarat atau terhalang sedimen. Saya butuh tenaga yang sangat besar.”

“Dito, Jati, ke posisi tuas!” Teriak Rayyan.

Kedua prajurit itu segera berlari ke sisi yang ditunjuk Lyra. Di dasar altar, memang terdapat roda batu yang menonjol keluar. Jati dan Dito mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk mendorong roda tersebut. Urat-urat di leher mereka menonjol.

Roda batu itu menderit mengerikan, suara gesekan batu melawan batu memekikkan telinga. Perlahan, retakan di tengah altar mulai membesar.

Krrkk… krrkk…

“Terbuka!” Teriak Dito.

Retakan itu melebar menjadi lubang mengangga yang gelap gulita sedalam lima meter. Tumpukan peti logam VOC beserta bom C4 yang berkedip-kedip diatasnya mulai merosot ke bawah, tertelan ke dalam perut sarkofagus.

Braaakk! Peti-peti itu menghantam dasar ruang hampa dengan suara keras. Bom C4 itu terlempar sedikit dari atas peti, namun tidak meledak.

00.03.00.

“Sekarang! Kita harus menutupnya! Putar balik rodanya!” Seru Lyra panik, debu berterbangan di wajahnya.

Jati dan Dito segera memindahkan pijakan mereka, berusaha mendorong roda batu ke arah sebaliknya untuk menutup sarkofagus. Namun roda itu macet.

“Sial! Sistem hidroliknya tersangkut karena jatuhnya peti tadi!” Raung Jati, sepatunya tergelincir di lantai batu yang berlumut saat ia berusaha mendorong roda seberat ratusan kilogram tersebut. “Tidak mau bergerak, Kolonel!”

00.02.15.

Detik di layar digital yang kini berada di bawah tanah terus berkedip merah, memancarkan aura kematian dari dasar sarkofagus.

Rayyan tidak ragu sedetik pun. Ia menyarungkan pisaunya, melangkah cepat menghampiri Jati dan Dito. “Minggir.”

Rayyan mengambil alih posisi Dito. Ia menempelkan kedua telapak tangannya yang besar ke permukaan roda batu berukir itu. Memosisikan kakinya, mengambil napas dalam-dalam, dan mengerahkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya.

“Uurgghh!” Geraman rendah keluar dari tenggorokan Rayyan.

Otot-otot di bahu dan lengannya menegang ekstrem hingga kemeja taktisnya nyaris robek. Pria itu mempertaruhkan segalanya. Namun, luka di perutnya adalah kelemahan terbesarnya. Setiap sentimeter ia mendorong, darah baru merembes membasahi perban cokelat di pinggangnya. Rasa sakit yang menyilaukan menghantam sarafnya, membuat pandangannya sejenak berkunang-kunang. Roda batu itu hanya bergeser sedikit.

“Kolonel, luka Anda!” Pekik Lyra ngeri, melihat rembesan merah gelap menyebar di seragam pria itu.

“Jangan… pikirkan… lukaku!” Geram Rayyan dengan gigi terkatup keras, napasnya memburu. “Dorong, Jati! Dorong!”

00.01.00.

Mereka butuh lebih banyak tenaga. Jati dan Rayyan mengerahkan segalanya, tetapi gesekan batu berusia ratusan tahun itu terlalu berat.

Lyra tidak bisa hanya berdiri dan menonton. Mengabaikan ketakutannya akan kekuatan fisiknya yang nol besar, Lyra berlari mendekat. Ia menyelipkan tubuh mungilnya di antara Rayyan dan Jati, meletakkan kedua tangannya yang rapuh ke atas roda batu yang kasar, menyejajarkan posisinya dengan lengan besar Rayyan.

Rayyan menoleh sekejap, matanya membelalak melihat Lyra ikut mendorong. “Lyra, minggir! Tulangmu bisa patah!”

“Saya bagian dari tim ini, Kolonel!” Balas Lyra dengan suara nyaring, wajahnya memerah karena mengejan. “Satu… dua… dorong!”

Lyra memang tidak memiliki kekuatan fisik seorang prajurit. Namun, tambahan sepuluh kilogram dorongan dari tubuh kecilnya, dipadukan dengan keputusasaan absolut dari mereka berempat, menciptakan momentum krusial.

KRAK!

Sesuatu di dalam sistem roda gigi batu purba itu patah, melepaskan tekanan yang menyangkut. Roda batu raksasa itu akhirnya berputar cepat dengan suara gemuruh yang dahsyat.

Kedua sisi sarkofagus batu di atas altar bergerak menutup seperti rahang raksasa.

00.00.15.

“Cepat! Sedikit lagi!” Teriak Jati.

00.00.05.

BRAAAKKK!

Lempengan batu andesit setebal empat meter itu bertabrakan di tengah, menutup rapat dengan presisi yang mengerikan, menyegel tumpukan peti dan peledak mematikan itu jauh di dalam perut bumi.

Rayyan melepaskan roda batu itu. Tenanganya terkuras habis. Ia terhuyung ke belakang, menyandarkan punggungnya ke pilar batu dengan napas terengah-engah hebat, memegangi perutnya yang berdenyut menyiksa.

Lyra merosot jatuh ke lantai batu dalam posisi duduk, dadanya naik-turun gila-gilaan, telapak tangannya lecet dan berdarah karena kasar batu andesit.

00.00.01.

00.00.00.

Hening sebentar. Waktu seolah berhenti berdetak.

Lalu… sebuah getaran masif merambat dari kedalaman bumi, menembus sol sepatu mereka.

BOOOMMM!

Suara ledakan itu teredam luar biasa, terdengar seperti deheman raksasa di bawah air. Lantai batu di bawah mereka bergetar hebat hingga membuat gigi bergemeletuk. Serpihan debu berjatuhan dari langit-langit gua. Namun, tidak ada api. Tidak ada gas mematikan. Dinding andesit sarkofagus itu terbukti tidak tertembus. Senyawa biokimia itu hancur dan terkubur selamanya bersama ledakan tersebut di kedalaman hampa udara.

Mereka selamat.

Gema ledakan mereda, meninggalkan keheningan gua yang kini terasa menenangkan, bukan lagi mengancam.

Jati dan Dito jatuh terduduk, tertawa hambar melepaskan sisa adrenalin. “Astaga… kita hidup,” gumam Jati, mengusap wajahnya yang kotor.

Di sisi lain altar, Lyra masih duduk mematung. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membersihkan sebagian lumpur di pipinya. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat. Itu bukan tangis kesedihan, melainkan pelepasan emosi dari seorang akademisi biasa yang baru saja bertahan dari neraka militer.

Terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dan terseret mendekat ke arahnya.

Bayangan Rayyan menutupi cahaya senter. Pria itu berlutut di depan Lyra dengan satu kaki, mengabaikan rasa perih di perutnya. Wajahnya yang garang kini dipenuhi keringat dan debu, namun mata obsidian itu menatap Lyra dengan intensitas yang meluluhkan segala pertahanan.

Rayyan mengangkat satu tangannya. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tidak terduga, pria yang dijuluki mesin pembunuh berdarah dingin itu menggunakan ibu jarinya yang kasar untuk mengusap air mata di pipi Lyra.

Sentuhan itu membakar kulit Lyra, menghentikan isak tangisnya seketika. Lyra mendongak, matanya yang basah terkunci dengan mata Rayyan.

“Berhenti menangis, Lyra,” bisik Rayyan parau, suaranya sangat rendah dan serak, menyapu telinga gadis itu seperti beludru. “Kau luar biasa malam ini. Kau menyelamatkan nyawa kita semua.”

Rayyan tidak menarik tangannya. Ibu jarinya masih berada di pipi Lyra, sementara jari-jarinya yang lain menangkup rahang gadis itu dengan protektif. Di antara debu reruntuhan, bau belerang, dan sisa darah, percikan yang sejak tadi terbangun diantara komandan kaku dan arkeolog ceroboh ini akhirnya meledak melampaui batas profesionalisme.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!