Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pernikahan
Tiga minggu berlalu seperti sapuan badai yang merobohkan seluruh tatanan hidup Maya. Tidak ada waktu untuk bernapas, apalagi untuk protes.
Baskoro, sang ayah, benar-benar menjalankan rencananya dengan efisiensi tingkat tinggi yang biasanya ia gunakan untuk menutup kontrak bisnis bernilai miliaran rupiah. Segala persiapan—mulai dari gedung, katering, hingga undangan—selesai dalam waktu yang tidak masuk akal.
Bagi Maya, setiap detik dalam tiga minggu itu terasa seperti adegan dalam film horor yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat. Ia merasa seperti robot. Ia pergi ke butik untuk mencoba kebaya pengantin, berdiri tegak saat jarum-jarum penjahit menusuk kain brokat mahal di tubuhnya, namun pikirannya kosong. Ia menghadiri rapat keluarga, namun suaranya terkunci di tenggorokan.
Setiap kali ia mencoba bicara, tatapan peringatan dari Baskoro selalu membungkamnya. Ingat posisimu di perusahaan, Maya, seolah itulah kalimat yang menggantung di udara setiap kali mereka bertatapan.
Dan Arka? Pemuda itu benar-benar menghilang setelah telepon malam itu. Tidak ada pesan singkat, tidak ada panggilan. Ia seolah membiarkan Maya tenggelam dalam kepanikan sendirian, hanya untuk muncul kembali di hari yang paling tidak diinginkan Maya: hari pernikahan mereka.
Sabtu pagi yang cerah di sebuah hotel mewah di Jakarta Pusat. Kamar presidential suite itu dipenuhi aroma melati yang pekat dan semprotan parfum rambut. Di depan cermin besar, Maya duduk diam sementara jemari lihai seorang penata rias ternama menari-nari di wajahnya.
Wajah Maya tampak sempurna. Riasan bold dengan lipstik merah tua membuatnya tampak seperti ratu yang tak tersentuh. Kebaya putih tulang dengan ekor panjang yang menjuntai memberikan kesan megah. Namun, siapa pun yang menatap matanya akan merasakan kedinginan yang luar biasa. Tidak ada binar bahagia, tidak ada rona malu. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang membeku.
"Mbak Maya, senyum sedikit dong. Ini kan hari bahagianya," goda sang penata rias dengan hati-hati.
Maya hanya menatap bayangannya di cermin. "Aku sedang tidak sedang syuting iklan, Mas. Rias saja yang benar."
Jawaban ketus itu membungkam seisi ruangan. Santi, yang sejak tadi menemani di sudut kamar, menghela napas panjang. Ia menghampiri Maya dan meletakkan tangan di bahu sahabatnya.
"May, ini benar-benar terjadi. Kamu tidak bisa terus-terusan memasang wajah seperti mau melayat begini. Di luar sana banyak wartawan dan kolega ayahmu."
"Biarkan saja mereka melihat," bisik Maya dingin.
"Biarkan mereka tahu kalau aku menikah karena terpaksa. Biarkan mereka tahu kalau aku sedang menyerahkan hidupku pada seorang anak kecil."
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Baskoro masuk dengan setelan beskap lengkap. Wajahnya berseri, tampak jauh lebih sehat daripada beberapa minggu lalu. Seolah-olah beban di pundaknya telah terangkat seluruhnya.
"Sudah siap, Putri Papa?" tanya Baskoro lembut.
Maya berdiri, memaksakan berat kebaya dan berat hatinya untuk bangkit. Ia tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati ayahnya menuju pintu keluar. Baginya, setiap langkah menuju ruang akad adalah langkah menuju tiang gantungan.
Ruang utama hotel itu telah disulap menjadi taman dalam ruangan yang sangat asri. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit bisnis duduk dengan rapi. Di ujung lorong, di atas pelaminan kecil yang dihias bunga-bunga putih segar, seorang pria telah duduk menghadap meja akad.
Arka.
Maya menarik napas pendek saat melihat punggung pria itu. Arka mengenakan beskap putih dengan blangkon yang senada. Dari belakang, ia tampak begitu tegap. Tidak ada lagi kesan "brondong" yang mengenakan jaket varsity atau kemeja santai. Bahunya tampak lebar, posturnya sangat lurus.
Maya berjalan perlahan di samping ayahnya. Saat ia sampai di samping Arka dan duduk di kursi pengantin, Arka menoleh sedikit. Pemuda itu tidak tersenyum mengejek seperti biasanya. Ia menatap Maya dengan intensitas yang berbeda—sebuah tatapan yang tenang, dalam, dan penuh kesungguhan.
Maya tetap menatap lurus ke depan, dagunya terangkat tinggi. Ia memasang topeng kedinginan paling tebal yang ia miliki.
"Bisa kita mulai?" suara penghulu memecah keheningan yang tegang.
Baskoro menjabat tangan Arka. Suasana mendadak menjadi sangat sakral. Maya merasa jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut orang di sampingnya bisa mendengarnya. Ia bersiap untuk mendengar suara Arka yang mungkin akan gemetar, atau terbata-bata karena usia mudanya yang belum berpengalaman. Ia sudah siap untuk merasa kasihan sekaligus benci.
"Saudara Arka Pradipta bin Haryo Pradipta, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Maya Clarissa binti Baskoro..."
Kalimat wali nikah itu selesai. Arka menarik napas satu kali, sangat tenang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maya Clarissa binti Baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara itu.
Maya terkesiap secara internal. Suara Arka tidak gemetar sama sekali. Suaranya rendah, bariton, dan meledak dengan ketegasan yang luar biasa. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda. Kalimat itu meluncur dengan wibawa yang seolah-olah memerintah seluruh ruangan untuk patuh.
"Sah?"
"Sah!"
Saat saksi dan tamu meneriakkan kata itu, sebuah getaran aneh yang belum pernah Maya rasakan seumur hidupnya menjalar dari ujung kakinya hingga ke dadanya. Itu bukan rasa takut, bukan juga kemarahan. Itu adalah getaran pengakuan—seolah seluruh sel di tubuhnya baru saja dipaksa menyadari bahwa pria di sampingnya ini kini memiliki hak atas dirinya.
Arka menoleh ke arah Maya. Kali ini, ia memberikan senyum tipis—bukan cengiran nakal, tapi senyum yang mengandung janji.
Maya segera membuang muka, mengepalkan tangannya di balik kain kebaya. Tidak. Ini hanya hormon. Ini hanya stres, batinnya menepis perasaan itu sekuat tenaga.
Prosesi berlanjut ke acara sungkeman dan tukar cincin. Saat Arka meraih tangan Maya untuk menyematkan cincin, Maya berusaha menarik tangannya, namun Arka memegang jemarinya dengan erat namun lembut. Kulit mereka bersentuhan, dan getaran itu kembali lagi, kali ini lebih kuat seperti aliran listrik kecil.
Lalu tibalah momen saat Maya harus mencium tangan Arka sebagai tanda hormat pertama sebagai istri. Maya membeku. Ia menatap tangan Arka yang terulur. Tangan yang kokoh, bersih, dan tampak sangat maskulin.
Dengan gengsi yang setinggi langit, Maya merunduk. Ia menyentuhkan keningnya ke punggung tangan Arka sesingkat mungkin. Namun, tepat saat itu, ia merasakan tangan Arka yang satunya mengusap puncak kepalanya dengan gerakan yang sangat protektif.
Maya tersentak kecil dan langsung menegakkan tubuhnya, menatap Arka dengan tatapan menusuk.
"Jangan berlebihan," bisik Maya, sangat pelan hingga hanya Arka yang dengar.
Arka justru mendekatkan wajahnya, memberikan aroma parfumnya yang memabukkan menyapu wajah Maya. "Wajah dinginmu itu tidak mempan lagi, Kak. Sekarang, kamu istriku. Dan aku bukan lagi adik tingkat yang bisa kamu hukum berdiri di lapangan."
Maya merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia ingin memaki, ingin lari, tapi ribuan pasang mata menatap mereka dengan haru. Arka kemudian mengecup kening Maya. Ciuman itu lama, hangat, dan seolah sengaja dilakukan untuk memamerkan kepemilikannya di depan semua orang.
Sepanjang acara resepsi, Maya berdiri seperti patung es yang cantik di samping Arka. Ia menerima ucapan selamat dengan senyum palsu yang paling sempurna.
Bersambung.....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡