NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter tiga puluh satu

Selina pulang ke rumah setelah mengantarkan Seina ke kamp sekitar jam dua siang. Dia membawa empat kantong belanjaan besar dari hasil belanja dadakan selama perjalanan pulang, yang dia hempaskan begitu saja di lantai ruang tamu.

"Aku menemukan sebuah toko kecil yang sangat lucu." Katanya kepadaku. "Aku benar-benar tidak bisa menahan diri!"

"Itu bagus." Kataku dengan antusiasme yang dipaksakan.

Pipi Selina tampak memerah, ada noda keringat di bawah ketiaknya, dan rambut pirangnya tampak kusut. Dia masih belum merawat akar rambutnya, dan maskara di mata kanannya menggumpal di sudut mata. Saat aku memperhatikannya dari atas sampai bawah, aku benar-benar tidak bisa memahami apa yang dilihat Jeffran dari dirinya.

"Tolong bawakan kantong-kantong itu ke lantai atas untukku, ya, Laily?"

Dia menjatuhkan diri ke sofa kulit dan mengeluarkan ponselnya. "Terima kasih banyak."

Aku mengambil salah satu kantong dan, astaga, ini berat sekali. Toko macam apa yang dia datangi? Toko barbel? Ini harus dibawa dalam dua kali jalan—aku tidak punya otot lengan yang besar seperti Nicho.

"Agak berat ya." Komentarku.

"Benarkah?" Dia tertawa. "Aku kira tidak begitu. Mungkin sudah waktunya kau mulai pergi ke gym, Laily. Tubuhmu mulai agak lembek."

Pipiku terasa panas. Aku lembek? Selina sama sekali tidak terlihat memiliki otot di tubuhnya. Dia tidak pernah berolahraga, sepanjang yang kutahu. Aku bahkan belum pernah melihatnya mengenakan sepatu kets.

Saat aku berjalan perlahan dan dengan susah payah menuju tangga sambil membawa dua kantong belanjaan, Selina memanggilku lagi, "Oh, omong-omong, Laily?"

Aku menggertakkan gigi. "Ya?"

Selina memutar tubuhnya di sofa untuk menengadah menatapku. "Aku menelepon telepon rumah tadi malam. Kenapa tidak ada yang mengangkat?"

Aku membeku. Lenganku gemetar di bawah beban kantong belanjaan yang berat. "Apa?"

"Aku memutar nomor telepon rumah tadi malam." Katanya kali ini dengan lebih lambat. "Sekitar jam sebelas malam. Mengangkat telepon rumah adalah salah satu tanggung jawabmu. Tapi kau dan Jeffran sama-sama tidak mengangkatnya."

"Um...." Aku menurunkan kantong belanjaan untuk sesaat dan mengusap daguku, berpura-pura seolah sedang mengingat-ingatnya.

"Saya mungkin sudah tertidur jam segitu, dan suara teleponnya tidak cukup keras untuk membangunkan saya di kamar atas. Mungkin Tuan Jeffran sedang keluar?"

Dia mengangkat sebelah alisnya. "Jeffran keluar jam sebelas malam pada hari Minggu? Dengan siapa?"

Aku mengangkat bahu. "Saya tidak tahu. Apakah Anda sudah mencoba menelepon ponselnya?"

Aku tahu dia tidak melakukannya. Aku sedang bersama Jeffran jam sebelas malam itu. Kami sedang berada di tempat tidur bersama.

"Aku tidak meneleponnya." Katanya, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Aku mendeham. "Baiklah, seperti yang saya katakan, saya sudah berada di kamar saya pada jam tersebut. Saya tidak tahu apa yang sedang beliau lakukan."

"Hmm." Mata coklat pucatnya menggelap saat dia menatapku dari seberang ruang tamu.

"Mungkin kau benar. Aku harus bertanya kepadanya nanti."

Aku mengangguk, merasa lega karena dia tidak menginterogasiku lebih jauh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak tahu bahwa kami pergi ke pusat kota bersama, menonton pertunjukan yang seharusnya dia tonton bersama suaminya, lalu menghabiskan malam bersama di hotel. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dia lakukan kepadaku jika dia sampai tahu.

Namun dia tidak tahu.

Aku menyambar kantong belanjaan dan mengangkut sisa barang itu naik ke anak tangga. Aku meletakkannya di kamar tidur utama, lalu mengusap lenganku yang terasa mati rasa selama perjalanan naik tadi. Mataku tertuju pada kamar mandi utama yang sudah kubersihkan pagi ini—meskipun karena Selina sedang berada di luar kota, kamar mandi itu sebenarnya sudah sangat bersih. Aku menyelinap masuk ke dalam ruangan tersebut. Kamar mandi ini hampir sama luasnya dengan kamarku di loteng, lengkap dengan bak mandi porselen ukuran penuh. Bak mandi itu posisinya lebih tinggi daripada sebagian besar bak mandi pada umumnya, pinggirannya setinggi lututku.

Aku mengernyitkan dahi menatap ke arah bak mandi, membayangkan apa yang pasti telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Seina kecil, sedang mandi di bak itu, saat air perlahan-lahan memenuhi bak mandi. Kemudian Selina mencengkeram putrinya, memaksanya masuk ke dalam air, menyaksikannya tersengal-sengal mencari udara...

Aku memejamkan mata dan memalingkan wajah dari bak mandi itu. Aku tidak boleh memikirkan hal ini. Namun aku tidak akan pernah bisa melupakan betapa rapuhnya kondisi emosional Selina. Dia tidak boleh tahu apa yang terjadi antara aku dan Jeffran tadi malam. Hal itu akan menghancurkannya. Dan kemudian dia akan menghancurkanku.

Jadi aku merogoh saku dan mengeluarkan ponselku. Aku mengetik sebuah pesan ke nomor ponsel Jeffran:

Hanya sebuah peringatan: Selina menelepon ke rumah tadi malam.

Dia pasti akan tahu apa yang harus dilakukan. Dia selalu tahu.

.

.

.

.

.

.

To be continue....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!