NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pos komando / 17:00

*Bab 8*

Beberapa saat kemudian, langkah Nayla terhenti.

Di sana terlihat berdiri sebuah pos komando. Kokoh, sederhana, dengan beberapa prajurit yang bergerak keluar masuk di sekitarnya.

Nayla mempercepat langkahnya, menyusul Raditya yang sudah selangkah lebih maju seperti biasa.

"Pak—permisi." ucap Nayla

Raditya tidak berhenti. Tapi kepalanya sedikit miring—tanda ia mendengar.

Nayla celingukan melihat ke kiri ke kanan

"Ada apa" balas Raditya

Nayla menoleh

" maap pak Saya dikirim ke sini untuk menambah tenaga medis yang katanya kurang" ujar nayla

" terus"

"terus,

bapak bilang terus" Nayla mengulang ucapan Raditya

" emang Apa" tanya Raditya

"pak, Suaranya terdengar lelah saya mau istirahat pak, capek".

"Oh" balas Raditya lalu ia melangka berjalan

"Pak," ulang Nayla.

"hmm"

Nayla menghela napas pendek—lalu tiba-tiba berlari kecil ke depan, mendahului Raditya, dan berbalik. Kedua tangannya terentang menghalangi jalan.

Raditya terpaksa berhenti.

Satu detik ia menatap Nayla—perempuan dengan tangan terentang di depannya, seperti orang yang mencoba menghentikan truk dengan telapak tangan kosong.

"Pak—" denger ya"

Nayla menurunkan tangannya, menarik napas.

"Saya ditugaskan ke sini karena katanya di sini kekurangan tenaga medis. Bukan untuk ikut kegiatan militer". Jadi saya mau istirahat."

Ia melirik ke kiri dan kanan, mencari tanda tenda atau barak. "Di mana tempat penginapan saya, Pak? Saya tidak tertarik melihat kegiatan prajurit."

Matanya melirik sebentar ke arah pos komando, lalu kembali ke Raditya.

Raditya tidak menjawab.

Ia melangkah, memutar tubuhnya sedikit untuk menghindari Nayla, dan terus berjalan seolah tidak ada hambatan apa pun barusan.

Nayla menghela napas lagi.

Menatap punggung Raditya.

"Pak."

Tidak ada respons.

"PAK!" suaranya sedikit meninggi

Raditya berhenti. Menoleh pelan

"apa"

"Saya mau istirahat!"

Raditya tidak menanggapi ia melangkah berjalan

"Ya Allah" frustasi Nayla

tubuhnya melemas

"ayok"

katanya singkat. Lalu berbalik dan melangkah lagi kedepan.

Nayla membuka mulut.

Menutupnya lagi. Giginya bergemeretak.

Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menarik napas, lalu mengembuskannya pelan.

_Sabar, sabar._

Lalu—dengan langkah yang lebih keras dari sebelumnya—ia mengikuti.

Sersan Dimas dan Letkol Aldi yang berada tak jauh di belakang menyaksikan semuanya.

Nayla yang berlari kecil ke depan. Tangan terentang. Raditya yang menghindarinya tanpa ekspresi. Nayla yang berteriak.

Dimas menggelengkan kepala pelan, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.

"Nah—nah," katanya sambil mencolek lengan Aldi. "Lihat kan? Bener kan tembakanku?"

Letkol Aldi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum—senyum orang yang sudah menduga ini akan terjadi, tapi tetap menikmati tontonannya.

"Belum lima menit juga," gumam Dimas, kali ini lebih ke dirinya sendiri. "Rekor baru tuh."

"Ya sudah, ayo. Hari juga sudah mulai gelap," balas Letkol Aldi.

Beberapa menit kemudian, Nayla berdiri di depan pagar, tangannya bersedekab di dada terlihat dia seperti masih marah

Raditya sedang di dalam, untuk melapor.

Lalu tiba-tiba, suara Raditya memecah diam: "Ayo, Dok saya antar".

Raditya hendak mengangkat tas dan koper nya

"Enggak usah pak biar aku aja Ia mengambil tas, mengangkat kopernya, lalu berjalan masuk. Raditya yang melihat itu mengernyit heran 'Kok itu bisa" herannya, lalu mengikuti dari belakang.

Area di dalam kecil tapi penuh.

Di samping tenda komando, tenda medis putih kusam berdiri di atas tanah berlumpur. Bukaan depannya digulung rapi.

Dari dalam terdengar bisik perawat dan desah pasien.

Meja darurat penuh obat dan alat. Lampu portabel menggantung, menelanjangi setiap sudut gelap.

Nayla berhenti di depan pintu tenda

_

POV Nayla

Kalau ada satu hal yang tidak pernah aku bayangkan hari ini, itu adalah dia.

Bukan Karang Wilis-nya. Bukan perjalanan panjangnya. Bukan tas yang hampir membuat bahuku copot di parkiran rumah sakit tadi.

Tapi dia.

Aku masih ingat betul.

Aku sedang duduk di bangku kayu depan rumah sakit — map di tangan, pikiran masih setengah di Jakarta, setengah di entah mana — ketika suara itu terdengar.

Grumm. Grumm.

Kendaraan hijau tua. Besar. Kokoh. Berhenti tepat di depanku seperti sudah tahu dari tadi di mana harus berhenti.

Pintu terbuka.

Sepatu hitam mengkilat menyentuh aspal. Celana hijau loreng dengan lipatan yang terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Lalu sosok itu berdiri penuh — dan aku, tanpa sadar, menahan napas sedetik.

Raditya AD. Tercetak rapi di dadanya. Tiga bunga melati emas di bahu.

Letnan, gumamku dalam hati.

Rahang tegas. Mata tajam. Tubuh besar dan kekar dengan aura yang terasa menekan bahkan dari jarak satu meter. Dan kemudian ia bicara.

"Dokter Nayla."

Dua kata. Datar. Dingin. Seperti membaca absen.

Aku menjawab — mungkin terlalu cepat, mungkin terlalu banyak bicara untuk perkenalan pertama. Lalu ia bilang "Jam 07.50. Berangkat sekarang" dan berbalik pergi begitu saja.

Aku masih berdiri di sana. Tas di tangan. Mulut sedikit terbuka.

Gak ada kenalan dulu gitu?

Di dalam kendaraan tidak lebih baik.

Aku sudah mencoba. Sungguh.

"Bapak asli mana?" — tidak dijawab.

"Bapak suka makan apa?" — tidak dijawab.

"Bapak punya kucing?" — tidak dijawab.

"Bapak kalau tidur dengkur nggak?"

Nah, yang itu dapat respons. Satu tatapan datar yang cukup membuatku merosot pelan di jok dan berdoa dalam hati.

Dua bulan. Dua bulan aku harus bertahan dengan orang ini.

Ya Allah, kuatkan.

Lalu kami tiba di Karang Wilis.

Gapura desanya sederhana. Catnya pudar, tapi namanya masih terbaca jelas dari balik jendela. Aku menatapnya sebentar.

Ini dia.

Dan begitu kakiku menyentuh tanah Karang Wilis, masalah baru langsung datang.

Raditya jalan. Terus jalan. Dengan langkah panjang yang tidak peduli apakah orang di sebelahnya bisa mengikuti atau tidak.

Aku sudah coba ngomong baik-baik. Sudah coba memanggil. Sudah bahkan — dan ini titik terendah hidupku hari ini — berlari kecil ke depan dan membentangkan kedua tangan menghalangi jalannya.

Seperti mencoba menghentikan truk dengan telapak tangan kosong.

Hasilnya? Dia memutar tubuh, menghindariku dengan mudah, dan terus jalan. Tanpa ekspresi. Tanpa komentar. Tanpa rasa bersalah sama sekali.

BAPAK NGERTI NGGAK SIH.

Mungkin itu bukan saat terbaikku. Mungkin ada prajurit yang mendengar. Mungkin aku akan menyesal nanti.

Tapi saat itu rasanya perlu.

Dan dia? Cuma bilang "ikut" lalu jalan lagi.

Sekarang aku berdiri di depan pagar pos komando. Tangan bersedekap. Menunggu.

Angin lewat tipis, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tidak bisa aku beri nama.

Aku menatap langit sebentar.

Dua bulan, batinku untuk kesekian kalinya hari ini.

Dua bulan sama orang itu.

Aku menghela napas panjang — panjang sekali, sampai bahuku turun.

Lalu dari dalam terdengar langkah.

"Ayo, Dok."

Aku tidak menjawab. Aku meraih tasku, menarik koperku, dan melangkah masuk — mendahuluinya untuk pertama kalinya hari ini.

Kecil.

Tapi cukup memuaskan

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!