"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 31
“Aku kayaknya... beneran harus pergi, Din.” Kalimat itu langsung membuat senyum di wajah Dinda perlahan menghilang.
Sedangkan Glenka, masih sibuk bermain dengan tali tas miliknya tanpa mengerti apa pun.
“Apa maksud kamu?” tanya Dinda pelan.
Raka terdiam beberapa saat. Tatapannya tampak ragu. Seolah sedang memikirkan apakah dirinya harus jujur sekarang atau tidak.
Namun sebelum pria itu menjawab, Bu Indri lebih dulu keluar dari ruang kerjanya sambil membawa beberapa map revisi.
“Din, desain klien yang kemarin—” Ucapan wanita itu langsung terpotong begitu melihat Glenka yang tertawa kecil di pelukan Dinda.
“Aduh, si gemoy datang lagi,” godanya gemas. Seketika suasana sedikit mencair.
Namun, Dinda tetap bisa melihat jelas, bagaimana raut wajah Raka, yang masih terlihat tegang sejak tadi. Dan itu membuat hatinya ikut tidak tenang.
Setelah jam kerjaannya selesai, Dinda akhirnya memutuskan pulang lebih cepat. Sedangkan Raka menawarkan diri mengantar dirinya dan Glenka sekaligus.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa cukup sunyi. Glenka sudah tertidur pulas di baby seat sambil memeluk boneka kecilnya.
Sedangkan Dinda, diam-diam terus memperhatikan Raka dari samping. Pria itu terlihat jauh lebih pendiam dibanding biasanya.
Bahkan beberapa kali terlihat menghela napas panjang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Kamu bikin aku penasaran.” Ucapan Dinda akhirnya membuat Raka menoleh singkat.
“Hm?” Raka menoleh singkat.
“Tadi itu..." Dinda berusaha mengingatkan.
“Yang mana?” Raka kembali bertanya.
“Soal kamu harus pergi.”
Jemari Raka mengetuk setir pelan. Matanya kembali menatap Dinda, kemudian menatap spion tengah—memperhatikan wajah putrinya. Tatapannya kembali lurus ke jalan.
“Aku belum bisa cerita sekarang.”
“Kenapa?” Dinda benar-benar penasaran kali ini. Entah kenapa, ia merasakan hatinya tak tenang.
Karena kalau gue cerita sekarang... lo bakal ikut kepikiran, Din.
Kalimat itu hampir keluar dari bibir Raka. Namun pria itu menahannya.
Sebaliknya, ia hanya tersenyum kecil. “Belum waktunya aja.”
Jawaban itu justru membuat dada Dinda terasa tidak nyaman. Entah kenapa,
ia mulai takut kehilangan lagi.
Padahal hubungan mereka belum sejauh itu.
Namun kehadiran Raka dan Glenka beberapa waktu terakhir memang perlahan mengisi ruang kosong dalam hidupnya. Dan tanpa sadar—Dinda mulai terbiasa dengan mereka.
“Tiga tahun itu lama,” gumam wanita itu pelan.
Deg.
Raka langsung menggenggam setir lebih erat.
Jadi dia benar-benar denger ya waktu gue ngomong kemarin.
Pria itu tertawa kecil hambar. “Belum tentu sampai tiga tahun.” Raka mengelus rambut wanita itu.
“Kamu pergi kemana memangnya?”
Hening. Cukup lama. Sampai akhirnya Raka berkata lirih—“Ke luar negeri.”
Dinda langsung mengernyit, “Kerja?”
“Semacam itu.” Jawaban menggantung itu semakin membuat Dinda bingung.
Namun melihat ekspresi Raka yang tampak enggan membahas lebih jauh, akhirnya wanita tersebut memilih diam. Sampai beberapa menit kemudian—
“Kalau aku nitip Glenka sama kamu...” suara Raka terdengar sangat pelan. “Kamu keberatan nggak?”
Deg.
Jantung Dinda langsung berdetak aneh. “Kenapa kamu ngomong gitu?"
“Aku serius.” Pria itu akhirnya menoleh singkat. Tatapannya tidak main-main sedikit pun. “Aku nggak bakal nitipin dia kalau bukan karena keadaan.”
Dinda langsung terdiam. Sedangkan Raka kembali bicara dengan nada rendah—“Aku nggak punya banyak orang yang bisa aku percaya.”
Dan entah kenapa—kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat.
*****
Malam harinya, Dinda tidak bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi percakapan tadi sore. Tentang Raka, tentang kepergiannya. Dan tentang Glenka.
Semenjak perceraiannya dengan Ervin, Dinda kembali menempati rumah yang ia bangun dengan mantan suaminya. Sesuai ketetapan hakim, rumah itu sepenuhnya menjadi milik Dinda.
Kini, wanita itu duduk sendirian di ruang tengah sambil memeluk lututnya. Rumah sudah sangat sepi. Bahkan terlalu sepi.
Perceraiannya dengan Ervin membuat banyak hal berubah drastis dalam hidupnya.
Dan kini, satu-satunya hal yang selalu berhasil membuat harinya terasa lebih hangat hanyalah Glenka. Bayi kecil itu seperti obat untuk semua luka yang belum sembuh dalam dirinya.
“Kenapa aku jadi kepikiran terus...” gumamnya pelan. Namun lamunannya buyar ketika ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama Ervin muncul di layar.
Deg.
Untuk beberapa detik, Dinda hanya diam memandang layar tersebut. Ragu untuk mengangkat.
Namun pada akhirnya,
ia tetap menekan tombol hijau.
“Halo?”
Sunyi sesaat, membuat Dinda pun turut terdiam. Sampai akhirnya, suara serak Ervin terdengar dari seberang sana.
“Aku ganggu ya?”
Dinda langsung menunduk pelan. Karena hanya mendengar suara pria itu saja,
hatinya masih terasa nyeri.
“Enggak.”
“Kamu udah tidur?”
“Belum.”
Hening lagi.
Dan seperti biasa, keheningan di antara mereka selalu terasa penuh oleh banyak hal yang tidak bisa diucapkan.
“Aku tadi lewat depan rumah,” ujar Ervin pelan. “Lampunya masih nyala.”
Deg.
Dinda langsung menggigit bibir bawahnya. “Kamu... ke sini?”
“Iya.”
“Ngapain?” pertanyaan Dinda membuat pria itu tertawa kecil hambar.
“Nggak tahu.” Jawaban jujur itu justru membuat dada Dinda terasa sesak.
Karena ia bisa membayangkan Ervin duduk sendirian di dalam mobil, memandang rumah yang dulu mereka tinggali bersama. Rumah yang sekarang tak lagi menjadi milik pria itu lagi.
“Aku kangen rumah,” bisik Ervin lirih.
Dan lagi-lagi, air mata Dinda hampir jatuh. Karena ia tahu, yang dirindukan Ervin bukan sekadar bangunan itu. Melainkan dirinya.
“Aku juga masih sering kebangun nyari kamu,” lanjut pria itu dengan suara serak.
“Terus baru inget kalau sekarang semuanya udah beda.” Tangis Dinda akhirnya pecah tanpa suara.
Sedangkan Ervin langsung terdiam mendengar isakan kecil dari seberang sana.
“Din...” panggil pria itu.
“Kenapa harus jadi kayak gini sih, Mas...” suara wanita itu bergetar hebat. Kalimat itu sukses membuat dada Ervin terasa dihantam keras.
Karena dirinya pun mempertanyakan hal yang sama setiap hari.
“Kalau aja aku bisa muter waktu...” bisik pria itu penuh penyesalan. “Aku nggak bakal nyakitin kamu.”
Namun waktu tidak pernah bisa diputar ulang. Dan penyesalan selalu datang paling akhir.
“Aku cuma pengen denger suara kamu bentar,” ujar Ervin lirih setelah cukup lama terdiam. “Abis itu aku nggak ganggu lagi.”
Tangisan Dinda semakin menjadi.
Karena sampai sekarang, mereka masih saling mencintai sebesar itu. Namun justru tidak bisa kembali bersama. Dan itu terasa sangat menyiksa.
*****
Di sisi lain kota, Raka berdiri sendirian di balkon apartemennya sambil menatap layar ponsel dengan wajah serius.
Panggilan video di depannya masih berlangsung.
“Lo harus berangkat maksimal bulan depan.”
Suara pria asing di layar terdengar tegas. Raka mengusap wajahnya lelah. “Aku tahu.”
“Dan anak lo?”
Tatapan Raka langsung berubah samar. Pikirannya langsung dipenuhi wajah kecil Glenka yang tertawa di pelukan Dinda tadi siang.
Untuk sesaat, pria itu memejamkan mata. Lalu berkata sangat pelan—“Aku udah nemuin orang yang bakal jagain dia.”
Namun anehnya—justru itu yang membuat hatinya semakin berat untuk pergi.