Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Hadiah Penatua Tie
Trang! Trang! Wusss!
Palu godam spiritual berayun secepat kilat, menghantam pedang yang berpendar merah di atas landasan tempa. Percikan bunga api menyembur ke segala arah bagai kembang api. Di bawah tiupan Bellow Api Bumi yang ditarik secara stabil oleh Lin Chen sendirian, suhu di ruangan itu mencapai titik ekstrem, mengubah logam yang retak menjadi cair dalam sekejap sebelum disatukan kembali secara sempurna.
"Selesai!" teriak sang Master Pandai Besi, Penatua Tie. Ia mencelupkan pedang itu ke dalam tong berisi air spiritual murni. Kepulan uap putih memenuhi ruangan beriringan dengan suara desisan keras.
Saat uap memudar, sebilah pedang panjang dengan bilah berwarna perak kebiruan terangkat. Tidak ada lagi retakan. Pedang itu bahkan memancarkan aura ketajaman yang lebih pekat dari sebelumnya.
Penatua Tie menghela napas panjang, wajahnya yang penuh kerutan tampak puas. Ia menoleh ke arah Lin Chen yang perlahan melepaskan tuas Bellow. Lin Chen menjatuhkan diri dengan satu lutut, mengatur napasnya agar terlihat benar-benar kehabisan tenaga, meski nyatanya detak jantungnya kembali normal dalam tiga tarikan napas.
"Bagus... sangat bagus!" Penatua Tie tertawa serak, berjalan menghampiri Lin Chen. "Kekuatan fisik murni memang fenomena langka. Nak, jika kau melepaskan tuas itu sedetik saja lebih awal, pedang ini akan hancur menjadi abu. Siapa namamu?"
"Lin Chen, Tetua," jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Lin Chen..." Penatua Tie mengangguk-angguk. Ia kemudian melemparkan pedang itu kepada Zhao Ming yang sejak tadi berdiri kaku. "Ini pedangmu, Zhao Ming. Lebih kuat dari sebelumnya."
Zhao Ming menangkap pedangnya. Matanya berbinar puas merasakan aliran Qi di dalam senjata gaibnya, namun kepuasannya ternoda oleh rasa malu. Sebagai seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi lapisan kedelapan, ego-nya terluka karena proses perbaikan senjatanya justru diselamatkan oleh seorang pelayan tanpa budidaya.
Ia melirik Lin Chen dengan tatapan dingin yang menyembunyikan niat membunuh tipis. "Keberuntungan yang bagus untuk seekor semut pengangkut bijih. Namun, jangan terlalu bangga. Kekuatan fisik semata hanya akan membuatmu menjadi keledai penarik beban yang sedikit lebih baik. Di hadapan teknik kultivasi sejati, kau bukanlah apa-apa."
Zhao Ming mendengus, melempar sekantong kecil batu roh tingkat rendah ke meja Penatua Tie sebagai bayaran, lalu berbalik meninggalkan ruang tempa. Jubah hijaunya berkibar angkuh.
Lin Chen tetap diam. Kata-kata Zhao Ming bahkan tidak menimbulkan riak kecil pun di hatinya. "Seekor naga sejati tidak akan melolong pada anjing yang menggonggong," pikirnya tenang.
"Jangan dengarkan bocah sombong itu," gerutu Penatua Tie sambil mengantongi batu roh. Matanya yang tajam menatap lengan Lin Chen yang kotor oleh jelaga. "Kultivator dengan Akar Roh memang dianakemaskan, tapi sekte ini juga tidak bisa berjalan tanpa fondasi yang kuat di bawahnya."
Penatua Tie beralih menatap Pengawas Xiong yang masih ternganga di sudut ruangan. "Xiong Tua! Mulai hari ini, bebas-tugaskan anak ini dari mengangkut bijih!"
Pengawas Xiong terkejut, namun segera menunduk hormat. "Siap, Penatua Tie! Apakah saya harus memindahkannya ke area pembersihan?"
"Tidak. Dia akan menjadi Penjaga Api untuk Tungku Utama Nomor Satu," potong Penatua Tie tegas.
Mendengar itu, mata Pengawas Xiong melebar. Penjaga Api adalah posisi tertinggi bagi seorang Murid Pelayan. Tugasnya sangat berat dan berbahaya, yakni memantau dan menstabilkan urat nadi Api Bumi di bawah tungku utama setiap malam. Namun, kompensasinya luar biasa: jatah bulanan batu roh tingkat rendah, dan yang paling penting... sebuah kamar batu pribadi tepat di bawah tungku utama!
"Tapi Penatua," Pengawas Xiong ragu-ragu, "tubuhnya belum teruji oleh racun belerang tingkat tinggi dari urat api bumi..."
"Jika dia bisa menarik Bellow Api Putih sendirian, fisiknya tidak akan hancur hanya karena hawa belerang," Penatua Tie mendengus. Ia menatap Lin Chen. "Nak, pekerjaan ini bisa membakar paru-parumu jika kau ceroboh. Tapi, kau akan mendapat privasi dan ruanganmu sendiri. Sangat jarang bagi seorang pelayan untuk memiliki kamar sendiri. Kau berani menerimanya?"
Lin Chen mengangkat wajahnya, menutupi binar kegembiraan di matanya dengan ekspresi hormat yang kaku. "Lin Chen berterima kasih atas anugerah Penatua. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Malam itu, Lin Chen tidak kembali ke gubuk reyot yang sesak. Dipandu oleh pelayan senior, ia turun ke lorong bawah tanah di perut Puncak Pandai Besi.
Kamar barunya adalah sebuah ruangan batu melingkar yang pengap, terletak hanya beberapa belas zhang dari inti urat Api Bumi. Udara di sini sangat panas, cukup untuk membuat kulit manusia biasa melepuh dalam hitungan jam. Di tengah ruangan, terdapat sebuah lubang ventilasi yang terhubung langsung dengan magma di bawahnya.
Begitu pelayan senior pergi dan pintu batu berderit tertutup rapat, senyum Lin Chen akhirnya mengembang.
"Keberuntungan ada di pihak kita, Guru."
Cahaya keemasan berkedip dari dadanya, dan proyeksi transparan Lin Tian muncul, melayang di atas lubang ventilasi yang menyemburkan hawa panas kemerahan. Sang Kaisar Kekosongan menghirup udara belerang itu dengan ekspresi puas.
"Bukan keberuntungan murni, Lin Chen. Kekuatan selalu menarik peluang," ujar Lin Tian. Sang Guru melayang mengitari ruangan kecil itu. "Sembilan Titik Bintang pertamamu berasal dari ampas tempaan. Itu cukup untuk tahap awal, namun untuk membuka titik kesepuluh dan seterusnya di punggungmu, energi dari sampah tidak lagi cukup. Kau membutuhkan sumber yang lebih murni."
Lin Tian menunjuk ke arah lubang ventilasi magma yang mendidih di bawah sana. "Urat Api Bumi tingkat rendah ini mungkin dianggap mematikan bagi Dantian biasa, tapi bagi cangkang mu, ini adalah mata air yang menyegarkan. Tidak ada yang akan mengawasimu di sini. Suhu ruangan dan formasi penahan panas akan mengisolasi fluktuasi energi bintangmu."
Lin Chen mengangguk mengerti. Ia menanggalkan kemeja abu-abunya yang kotor, memperlihatkan otot-otot yang kini jauh lebih padat dan dihiasi bekas luka. Di atas kulitnya, rasi bintang kecil yang terbentuk dari sembilan titik samar-samar memancarkan pendar perak.
"Guru, jika saya menyerap esensi Api Bumi secara langsung... bukankah hal itu akan menarik perhatian para tetua karena api di tungku utama akan meredup?" tanya Lin Chen analitis. Ini adalah sekte hierarkis; ia belum siap jika harus menghadapi tetua Inti Emas.
Lin Tian tertawa kecil, menatap muridnya dengan bangga. "Pikiran yang tajam. Ya, menyerap secara asal akan memicu nya. Karena itu, malam ini aku tidak akan mengajarkanmu cara menyerap, melainkan cara memanipulasi formasi alami."
Mata Lin Tian berkilat keemasan. "Aku akan mengajarimu bagian kedua dari Seni Kekosongan Bintang: Jaring Bintang Penelan Langit. Kau tidak akan menyedot inti apinya, melainkan menyaring 'Qi Sisa' yang menguap dari urat api ini ke seluruh gunung. Dengan cara ini, tidak akan ada perubahan suhu yang tercatat oleh sekte, tapi tubuhmu akan melahap energi ratusan kali lebih murni daripada ampas tempaan."
Lin Chen duduk bersila di atas ranjang batu yang panas. Ia menutup mata, membiarkan pikirannya kembali ditarik ke dalam hamparan galaksi di mana ribuan simbol kuno dari ajaran Jaring Bintang mulai menari-nari menunggunya untuk diurai.