Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Mobil hitam yang dikendarai Mohan akhirnya berhenti tepat di depan rumah megah keluarga Anderson. Mohan turun lebih dulu, lalu berjalan ke pintu belakang dan membukanya. Sementara itu, Arabelle masih duduk diam di dalam mobil. Tatapannya menatap rumah besar di depannya. Bahkan, setelah beberapa menit berlalu, gadis itu masih terlihat bengong.
"Nona Ara?" Panggil Mohan.
Ara berkedip beberapa kali. "Hah?"
"Kita sudah sampai."
"Oh." Ara turun perlahan.
Lalu mendongak menatap bangunan besar yang menjulang di depannya.
Mulutnya sedikit terbuka. "Rumah ini seriusan buat ditinggali?"
Mohan tersenyum tipis. "Ya."
"Ini rumah atau pusat perbelanjaan?"
"Rumah."
Ara menggeleng pelan. Orang kaya memang suka berlebihan termasuk keluarganya. Sementara itu Mohan mulai menurunkan koper-koper milik Ara dari bagasi. Termasuk sepeda listrik kesayangannya.
Ara langsung menghampiri. "Hati-hati, Pak Mohan."
"Saya tahu."
"Kalau lecet saya sedih."
Mohan hanya bisa menggelengkan kepala.
Di rumah semegah ini, yang paling dikhawatirkan justru sepeda listrik.
Di dalam rumah. Elang berdiri di dekat jendela. Begitu melihat sosok yang turun dari mobil, matanya langsung menyipit.
Lalu membulat. "Astaga..."
"Kenapa?" tanya Theo.
"Dasar udik."
Theo bahkan tidak menoleh.
Fokusnya hanya pada ember air yang berada di atas pintu utama. Sedangkan, Alya berdiri di sampingnya sambil menggenggam kantong plastik berisi tepung. Jantung gadis itu berdegup kencang.
"Siap?" bisik Theo.
"Siap!"
"Kalau kena air, langsung lempar."
"Tenang ..."
Beberapa pelayan yang melihat ulah mereka hanya bisa menghela napas.
"Nona Alya..."
"Tuan Theo..."
"Jangan lakukan ini."
"Diam!" teriak keduanya, pelayan itu langsung terdiam.
Di luar rumah. Mohan menarik koper Ara menuju pintu utama. Anehnya, tidak satu pun pelayan keluar menyambut. Kening Mohan langsung berkerut. Biasanya rumah ini penuh pelayan, lalu ia menghela napas berpikir kalau ini pasti ulah tiga anak itu. Mereka pasti melarang semua pelayan menyambut ibu tiri mereka.
"Silakan masuk, Nona Ara."
Ara mengangguk. "Terima kasih, Pak Mohan sudah mengantar saya."
"Sama-sama." Mohan tersenyum lalu meraih gagang pintu besar.
Di dalam rumah, Theo langsung menelan ludah. Alya menggenggam erat kantong tepungnya. Elang ikut menahan napas. Entah kenapa jantung mereka bertiga berdebar-debar.
Pintu terbuka.
Namun, tepat saat itu tatapan Arabelle langsung tertuju ke atas. Sebuah ember besar, bertengger di atas kusen pintu setinggi lebih dari tiga meter.
Mata Ara membelalak. "Pak Mohan, awas!" Ara langsung menarik lengan Mohan. Tubuh Mohan terseret menjauh. Pada saat yang sama ember itu jatuh. Tetapi, sebelum mengenai siapa pun Ara menendangnya.
Ember itu langsung terbang ke dalam rumah. Theo yang masih berdiri tepat di bawahnya membelalak.
"Eh?!" Air satu ember penuh mengguyur tubuhnya dari kepala sampai kaki. Theo langsung membeku. Rambutnya menempel di wajah, seragamnya basah kuyup. Sepatunya bahkan mengeluarkan suara kecipak.
Semua orang membeku tetapi Alya sudah lebih dulu menjalankan rencananya.
"Lempar!" Plastik tepung melayang ke arah Ara. Namun, lagi-lagi refleks Ara bergerak lebih cepat. Ara menendang plastik itu di udara. Plastik tersebut langsung berbalik arah menuju Alya.
"Hah?!" Kaget Alya dan plastik itu pecah tepat di wajah Alya. Tepung putih langsung meledak ke mana-mana.
Rambut Alya putih, wajah Alya putih baju Alya putih. Bahkan, bulu matanya ikut putih. Semua pelayan menutup mulut.
"Aaah!" Theo berteriak sekeras mungkin bersama dengan Alya ikut berteriak. Suara mereka menggema ke seluruh rumah. Theo karena basah kuyup. Alya karena berubah menjadi manusia tepung. Sementara Elang, masih berdiri diam. Tatapannya tidak lepas dari Arabelle.
Wanita itu, wanita yang pernah membuat Theo kehilangan uang kas geng motornya. Wanita yang pernah ia lihat melawan preman. Dan wanita yang kini berdiri di depan rumah mereka, sebagai ibu tiri mereka.
Sementara, Ara sendiri masih memandangi tiga orang di hadapannya. Yang satu basah seperti habis tercebur kolam. Yang satu putih seperti hantu tepung. Dan yang satu lagi hanya berdiri mematung, Ara berkedip pelan.
Lalu menunjuk Theo. "Kamu..." Kemudian menunjuk Alya. "Kamu juga..." Dan lalu menoleh pada Elang. "Dan kamu juga?!"
Beberapa detik hening. Sampai akhirnya Ara menghela napas panjang.
"Oh ... biang masalah!" Ara memijat pelipisnya. "Jadi ini tiga anak yang katanya sudah dewasa?"
Lalu Ara menatap Mohan. "Pak Mohan."
"Iya?"
"Boleh aku kembali ke warung saja?"
Mohan langsung menutup mata dan menggelengkan kepalanya pelan.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣