NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

BIP BIP BIP

“Apa itu nomornya? Dia menghubungimu?”

Alin terdiam hingga panggilan dari Rei ia lewatkan begitu saja.

“Dia mengirimkan pesan singkat sejak pagi dan kau tidak membalasnya?! Panggilan darinya berkali-kali kau abaikan?” Heran Mei, “Kau keterlaluan Alin.”

“Ya aku harus bagaimana. Seperti kau bilang, aku tidak terlalu mengenalnya. Lagi pula kita sejak tadi juga disibukkan dengan presentasi.” Alin tak ingin disalahkan, “Untuk apa aku meladeninya. Aku tidak ada waktu untuk bermain.” Kesalnya.

“Kau sungguh keterlaluan, kau yang lebih dulu bersikap peduli padanya. Dan saat dia…”

“Sejak kapan? Aku hanya bertugas merawatnya sebagai dokter. Aku tidak tahu setelah itu dia tiba-tiba datang menemuiku.”

“Dia memang keterlaluan bukan?!” Suara Rei menggema menembus ulu hati wanita itu. Terdengar datar namun tajam dan dingin.

“Selamat sore tuan Rei.” Sapa Mei, tanpa menunggu balasan salam dari Rei. Ia segera mengambil kunci mobilnya dari tangan Alin dan berlalu, “Akhiri jika kau tidak ingin melanjutkan.” Tegas bisik Mei pada Alin.

Kembali Alin menghadapi rasa canggung di hadapan pria itu. Pria itu selalu berada di posisi untuk melihat dan mendengarkan perbuatan Alin yang tidak mengenakan untuknya.

“Kau sudah selesai?” Tanya Rei.

“Ya. Kenapa kau bisa ada disini?”

“Aku sudah katakan untuk menjemputmu.”

“Rei, aku…”

“Kita bisa berangkat sekarang?” Tanyanya kembali

Alin memilih mengalah saat itu. Ia berharap bisa memperjelas semua dalam perjalanan pulangnya. Sayangnya bahkan sepanjang perjalanan itu Rei disibukkan dengan menerima panggilan masuk, entah mungkin pekerjaan atau hal lainnya. Alin tidak mengerti karena bahasa yang dipergunakan asing baginya.

“Apa besok kau sudah mulai masuk kerja?” Tanya Rei saat sudah tiba lagi diwisma.

“Ya.”

“Alin, saat ku minta kau untuk tidak mengabaikan ku tadi pagi…”

“Tuan Rei… aku rasa kita perlu meluruskan…” Sela Alin.

“Tuan?” Suara Rei mulai terdengar kesal.

“Sudah seharusnya aku memanggilmu seperti itu.” Tegas Alin, “Aku tidak tahu alasan mu mendekati ku secara terang-terangan. Aku bahkan tidak mengenalmu terlalu jauh. Aku tidak ingin tahu juga. Jadi kumohon, apapun itu niatmu. Bisa tolong hentikan, aku tidak ada waktu meladeni permainan mu. Aku sudah…”

“Sudah kuduga kau akan seperti ini. Aku terlalu cepat mengungkapkannya, hanya karena aku khawatir pada sekumpulan pria yang mencoba mendekatimu.” Kesal Rei, bahkan ia sempat melihat di gedung pertemuan sudah ada satu pria memaksa Alin untuk pulang bersamanya.

“Aku sudah katakan bahwa aku tidak pernah mendengar kalimat penolakan. Atas sikap ku hari ini, maafkan aku. Tapi bisakah aku memulainya dengan perlahan untuk bersama mu?”

Terlihat Alin menghela nafasnya.

“Tuan Rei… kembalilah. Ini sudah malam. Jika kau butuh sesuatu, kau dapat langsung menemui ku. Dirumah sakit.” Tegas Alin kembali dan berlalu meninggalkan Rei begitu saja seorang diri.

Rei sendiri tidak mengejarnya. Percuma jika hanya berdebat atas sesuatu yang tidak di inginkan wanita itu, setidaknya Rei tidak akan menyerah. 

Jam berganti hari, hari berganti minggu. Selama itu juga Alin mengabaikan Rei. Segala bentuk pesan singkat yang dikirimkan oleh Rei begitu juga telepon darinya. Di abaikan oleh Alin. Terparahnya wanita itu telah memblokir kontak nama Rei.

“Dokter ada kiriman makanan untuk mu.” Sahut seorang perawat pada Alin yang baru tiba.

“Rajin sekali dia mengirimkan sarapan dan makan siang untuk mu.” Ujar Mei.

“Orang yang sama?” Tanya Han, “Jika ini sudah mengganggu mu laporlah ke kantor polisi.”

“Aku rasa tidak perlu. Dia juga tidak lagi menemuiku. Hanya sebatas lewat handphone dan itu sudah aku blokir.

“Ah ya… kalian tahu kabar tentang tuan Lu?!” Mei mulai membuka kabar panas dari rumah sakit pusat, “Dia dipindah tugaskan, dewan direksi membuka rumah sakit cabang di beberapa wilayah konflik. Dia dipindahkan ke daerah sana.”

“SUNGGUH?” Ucap Han dan Alin bersamaan.

“Ya, sudah begitu, segala bentuk aset pribadinya disita. Tim audit menemukan aliran dana pembangunan rumah sakit yang dia salah gunakan. Jabatannya dirumah sakit cabang bahkan diturunkan. Dia melakukan penanganan pasien kembali. Mulai dari Nol.” Semangat Mei menceritakan era kejatuhan direkturnya.

“Hahahaha karma instan bahkan aku belum melakukan pembalasan.” Puas Alin.

“Apa mungkin karena itu serikat rumah sakit dunia meminta raja kita untuk membangun tiga rumah sakit diwilayah Linggu?” Pikir Han.

“Bisa jadi. Kemarin peresmian rumah sakit kedua. Sedangkan yang terakhir sedang tahap renovasi.” 

“Pantas saja sejak kemarin terasa sepi.”

“ALIIIN.” Kesal mereka serempak.

“Kenapa kau sebut mantra itu.” Keluh Han.

“Kau ini apa mulut mu tidak sekolah juga, ash…” kesal Mei.

CODE BLUE, CODE BLUE, CODE BLUE

“AH MULUT KU INI. KENAPA SIH.” Kesal Alin dan bergegas lari menuju panggilan itu.

BIP BIP BIP

WUU…OW WUU…OW

Disaat bersamaan pesan darurat masuk ke seluruh tenaga medis diiring deru suara ambulance. Telah terjadi tabrakan beruntun di jalan utama.

...****************...

“Yang mulia…” Sebut Rei tertunduk salam hormat pada putra mahkota, sang kakak. Pangeran Lie, Xue Lieyan.

“Yan…” Sapanya kembali menyebut nama panggilan pangeran kedua, “Sudah lama aku tidak sarapan bersama mu. Kemarilah.” 

Pangeran Lie terlihat dingin dengan wajah tajam, ia hampir tak pernah tersenyum. Namun begitu hatinya sangat lembut terlebih pada adiknya. Tahun ini pangeran pertama akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang wanita bangsawan, meski ia tak memiliki perasaan namun pernikahan tersebut tetap harus dilakukan karena keterikatan perjanjian dari sang buyut.

“Aku dengar kau jarang kembali ke istana dan lebih sering tinggal di kediaman pribadi mu. Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak. Aku hanya ingin menyegarkan pikiran ku ditengah pekerjaan yang menumpuk.”

“Bersama wanita itu?”

Rei terdiam. Ia merasa tak pernah sekalipun membawa wanita manapun kedalam kediaman nya.

“Sebenarnya saat festival balon udara. Aku sempat melihat mu bersama seorang wanita. Dan setelah itu aku berkunjung untuk menemui mu, tapi Yuchen mengatakan kau tidak ditempat dia kebingungan. Saat ku katakan bahwa kau sedang bersama seorang wanita, dia seakan mengenalnya juga dan langsung lari membawa mobilnya.”

Akhirnya Rei menyadari alasan Yuchen cemas dan terburu-buru saat ia mengunjungi wisma Alin setelah festival musim gugur.

“Siapa dia Yan?” Tanya hangat sang kakak menuang secangkir teh pada adiknya.

Rei masih terdiam menatap cangkir tersebut. Dia bingung menjelaskan disaat Alin saat ini benar-benar menjauhinya bahkan memblokir kontak namanya. Seorang pangeran diperlakukan seperti itu, jika diketahui orang lain bisa jatuh citra harga dirinya.

“Dari sikapmu, kau memiliki perasaan padanya, kenapa? Apa kau ingin menyembunyikannya? Atau dia tidak membalas perasaan mu? Kau dibuang?”

“Aku tidak dibuang.” Ucap Yan langsung.

“Hahaha ternyata benar kau dicampakkan. Astaga, siapa namanya? Apa dia tidak tahu siapa kau?”

“Zhang Yi Lin. Dia tidak tahu siapa aku.” Tunduk Rei, ia tak mungkin mengelak dan berdiam saja saat hujan pertanyaan sang kakak tertuju padanya.

“Zhang… Zhang… Zhang… Aku seperti pernah mendengar namanya.” Pikir pangeran Lie.

“Dia seorang dokter, pernah mendapat undangan jamuan dari istana.”

“Ah ya kau benar. Benar. Dia juga pernah datang berkunjung bersama tim medisnya ke istana. Apa kau bertemu denganya?”

“Dia datang ke istana?” Shock Rei.

“Dari ucapanmu aku yakin kau tidak bertemu dengannya.” Pangeran Lie menenggak tehnya untuk menetralkan rasa ketawanya, “Ya, staf istana melakukan pemeriksaan rutin dan bekerja sama dengan rumah sakit Orinthal. Aku berpikir sistem monarki ini sedikit kaku, jadi aku meminta rumah sakit kerajaan untuk bekerja sama merekrut rumah sakit luar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!