NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jerat Hukum Sang Triliuner

Alana menatap telapak tangan besar Xander yang terulur di hadapannya. Kilau cincin platinum polos di jari manis pria itu seolah mengejek akal sehatnya. Di luar mobil, puluhan pelayan berseragam hitam-putih dan barisan pria tegap berjas hitam masih menunduk khidmat, menunggu sang penguasa turun bersama wanita yang baru saja diumumkannya sebagai istri.

​Dengan tarikan napas panjang yang sarat akan kepasrahan, Alana akhirnya meletakkan telapak tangannya di atas tangan Xander. Begitu jemari mereka bertautan, Xander langsung menggenggamnya dengan erat, menuntun Alana keluar dari kabin mobil SUV yang mewah.

​Begitu kedua kaki Alana berpijak di atas lantai pualam tangga utama, suara koor yang kompak dan menggema langsung menyambut mereka.

​"Selamat datang di Kediaman Utama, Nyonya Besar Leonidas!"

​Alana tersentak pelan, refleks mengeratkan genggaman tangannya pada Xander. Suasana ini terlalu megah, terlalu formal, dan terasa sangat asing bagi seorang gadis yang terbiasa hidup mandiri di flat sempit pinggiran kota. Ia melirik Xander dari samping. Pria itu berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak. Setiap langkah kakinya terdengar begitu tegas, seolah menegaskan bahwa seluruh tempat ini berada di bawah kendalinya.

​Seorang wanita paruh baya berambut sanggul rapi dengan pakaian pelayan kelas atas melangkah maju, menunduk hormat di depan mereka. "Saya Martha, kepala rumah tangga di sini, Tuan Besar. Kamar utama dan seluruh kebutuhan Nyonya Muda sudah dipersiapkan sesuai perintah Anda semalam."

​"Bagus, Martha. Siapkan makan siang terbaik untuk istriku. Dia belum makan dengan benar sejak pagi," perintah Xander dengan nada dingin namun sarat perhatian yang tak terbantahkan.

​Xander kemudian menuntun Alana melewati pintu ganda emas yang raksasa, masuk ke dalam lobi utama istana tersebut. Alana lagi-lagi dibuat terpaku. Langit-langit ruangan itu menjulang setinggi belasan meter, dihiasi lampu gantung kristal raksasa yang berkilauan memantulkan cahaya matahari. Sebuah tangga melingkar kembar dengan pegangan berlapis emas murni membentang megah menuju lantai atas.

​Setelah berjalan melewati beberapa koridor yang dihiasi lukisan-lukisan klasik bernilai seni tinggi, Xander membawa Alana masuk ke dalam sebuah ruangan besar di lantai dua. Begitu pintu terbuka, Alana menyadari bahwa ini adalah kamar tidur utama. Luasnya bahkan lima kali lebih besar dari seluruh luas apartemen lamanya. Sebuah ranjang king size dengan kelambu sutra putih mendominasi tengah ruangan, menghadap langsung ke arah balkon besar yang menyajikan pemandangan kolam renang lanskap dan taman mawar.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, Alana langsung menarik tangannya dari genggaman Xander. Ia berbalik, menatap pria itu dengan tatapan menuntut yang tajam.

​"Permainan ini sudah keterlaluan, Xander—maksudku, Tuan Rex Leonidas!" ucap Alana dengan nada suara yang tertahan, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dadanya. "Aku menyewamu hanya untuk berpura-pura di depan ibu tiriku dan Juragan Bahar! Tapi kau justru membawaku ke istanamu, mengumumkan pada seluruh karyawanku bahwa aku istrimu, dan sekarang membuat seluruh pelayanmu memanggilku Nyonya Besar! Kapan semua kegilaan ini akan berakhir?!"

​Xander berjalan dengan santai menuju sofa beludru di sudut kamar. Ia melepas jas arang mahalnya, menyampirkannya di lengan sofa, lalu melonggarkan dasinya dengan gerakan yang sangat memikat. Ia mendudukkan tubuh tegapnya, lalu menumpukan satu kakinya di atas kaki yang lain, menatap Alana dengan ketenangan seorang penguasa.

​"Kegilaan ini tidak akan berakhir, Alana," sahut Xander, suaranya terdengar berat dan sangat tenang. "Karena ini bukan lagi sekadar permainan sandiwara."

​"Apa maksudmu?!" Alana melangkah mendekat, sepasang matanya membelalak lebar.

​Xander tidak langsung menjawab. Ia merosotkan tangannya ke dalam saku celana, mengeluarkan sebuah dokumen bermahar resmi dengan sampul beludru merah yang sangat elegan, lalu meletakkannya di atas meja kaca di depannya.

​"Buka dan bacalah," titah Xander datar.

​Dengan jantung yang berdebar tidak karuan, Alana mendekati meja tersebut. Tangannya yang gemetar meraih dokumen itu dan membukanya perlahan. Detik berikutnya, seluruh pasokan udara di paru-paru Alana seolah tersedot habis. Matanya terpaku pada selembar kertas putih berlogo lambang negara resmi dengan tanda tangan dan cap basah dari lembaga hukum tertinggi.

​Itu adalah Akta Pernikahan Resmi.

​Di sana tertulis dengan sangat jelas dan sah namanya, Alana Krystal, telah resmi menikah secara hukum negara dan hukum global dengan Rexander Leonidas. Tanggal yang tertera di sana adalah tanggal hari ini.

​"I-ini... bagaimana mungkin?!" Alana berteriak histeris, menjatuhkan dokumen itu ke atas meja seolah benda itu baru saja membakar jarinya. "Aku tidak pernah datang ke kantor sipil! Aku tidak pernah menandatangani berkas pernikahan apa pun! Ini pemalsuan! Ini tidak sah secara hukum!"

​Xander mengeluarkan sebuah senyuman tipis, senyuman miring yang memperlihatkan dominasi absolutnya. "Bagi pria dengan kekuasaan sepertiku, Alana, menghadirkan pejabat sipil tertinggi ke kantorku tadi subuh untuk melegalkan dokumen bukanlah hal yang sulit. Dan soal tanda tangan..." Xander menjeda kalimatnya, matanya berkilat jenaka. "Kau melupakan kontrak kertas yang kau tandatangani di kedai ramen semalam? Di lembar ketiga yang tidak kau baca dengan teliti, terdapat klausul pelepasan hak kuasa penuh atas status sipilmu kepadaku sebagai pihak kedua."

​Alana membeku seketika. Kepalanya berputar mengingat kejadian semalam di bawah guyuran hujan. Saat itu ia begitu panik dan terburu-buru, sehingga ia langsung menandatangani kertas yang disodorkan Xander tanpa membaca lembar-lembar berikutnya secara detail.

​"Kau... kau menjebakku sejak awal!" air mata amarah akhirnya lolos membasahi pipi mulus Alana. "Kenapa kau melakukan ini padaku?! Apa salahku kepadamu?!"

​Xander bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang panjang memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Ia berdiri tepat di depan Alana, membuat tubuh mungil gadis itu sepenuhnya tenggelam di bawah bayangan tubuh tegapnya. Xander mengulurkan tangannya, mencengkeram lembut dagu Alana, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya yang sehitam malam.

​"Ini bukan jebakan, Alana. Ini adalah perlindungan mutlak," ucap Xander, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan penuh intensitas. "Ibu tirimu dan sisa-sisa sekutu Juragan Bahar tidak akan pernah berhenti memburumu jika kau hanya seorang gadis biasa. Tapi sekarang? Kau adalah istri sah dari Rexander Leonidas. Siapa pun yang berani menyentuhmu, artinya mereka sedang menantang seluruh dinasti Leonidas untuk berperang."

​Xander mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya menerpa kulit wajah Alana yang sensitif. "Mulai detik ini, dunia lamamu sudah mati. Kau adalah ratu di istana ini, dan tempatmu adalah di sisiku, baik kau menyukainya atau tidak."

​Tepat ketika Alana hendak memprotes kembali, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Suara Dante terdengar dari luar, memecah ketegangan intim di antara kedua pasangan baru itu.

​"Tuan Besar, maaf mengganggu. Ada perkembangan darurat. Melinda, ibu tiri Nyonya Muda, baru saja tertangkap basah mencoba melarikan diri ke luar negeri dengan membawa sisa uang tebusan dari Juragan Bahar. Anak buah kita telah menahannya di dermaga barat. Apa perintah Anda selanjutnya?"

​Mendengar nama ibu tirinya disebut, Alana langsung menahan napasnya, menatap Xander dengan perpaduan rasa syok dan cemas yang baru.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!