NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Kejutan yang Menghapus Trauma

Tiga bulan berlalu sejak badai di ruang rapat pemegang saham mereda. Hidup akhirnya memberikan ketenangan yang selama ini Andini dambakan. Tante Sofia memutuskan untuk angkat kaki kembali ke London setelah namanya jatuh di mata rekan bisnis Jakarta, sementara Karina dikabarkan harus banting setir ke bidang lain lantaran reputasinya sebagai konsultan independen sudah hancur total.

Sore itu, suasana di kediaman Farhan dan Andini terasa amat teduh. Nadir kecil yang kini genap berusia enam bulan sedang asyik-asyiknya tengkurap dan berceloteh di atas matras bermain. Andini duduk di sampingnya, memandangi setiap gerak-gerik sang putra dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ibu.

"Nadir... anak pintar, ayo coba ambil mainannya," ucap Andini lembut sembari menyodorkan mainan edukasi berwarna-warni.

Farhan yang baru saja pulang kantor melangkah masuk ke ruang keluarga tanpa suara. Setelah melepas jas dan melonggarkan dasi, ia langsung berlutut di dekat istri dan anaknya. Pria itu mendaratkan kecupan hangat di pipi gembil Nadir, lalu beralih mengecup kening Andini dengan tulus.

"Assalamualaikum, Sayang. Bagaimana hari ini? Nadir tidak rewel, kan?" tanya Farhan sambil memangku putranya yang langsung tertawa riang melihat sang ayah.

"Waalaikumsalam, Mas. Alhamdulillah, Nadir pintar sekali hari ini. Makan MPASI-nya juga lahap," jawab Andini dengan senyuman manis. "Mas sendiri tampak lelah sekali. Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"

Farhan menggeleng pelan. Matanya menatap Andini dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sebuah rencana besar yang ia sembunyikan di balik senyum misteriusnya.

"Ndin, besok malam kosongkan jadwalmu, ya? Aku sudah meminta Citra dan Sarah untuk memegang kendali Nadir Label selama dua hari ke depan," ujar Farhan tenang.

Andini mengernyit heran. "Lho, ada acara apa, Mas? Kok tiba-tiba sekali?"

"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Anggap saja ini perjalanan kecil untuk kita berdua. Ibu Maryam juga sudah bersedia menjaga Nadir di rumah Menteng selama kita pergi," jawab Farhan sembari mengedipkan sebelah mata, membuat rasa penasaran Andini semakin memuncak.

Malam berikutnya, sebuah mobil mewah membawa mereka membelah jalanan Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu kota. Andini tampil sangat anggun mengenakan gaun kasual premium berwarna soft rose yang dipadukan dengan hijab senada. Sepanjang perjalanan, Farhan sengaja bungkam dan tidak memberikan petunjuk sedikit pun mengenai tujuan mereka.

Hingga akhirnya, mobil berhenti di sebuah kawasan perbukitan eksklusif di pinggiran kota yang dikenal dengan udara sejuk dan pemandangan alamnya yang asri. Mereka melintasi gerbang kayu besar yang artistik, lalu berhenti di pelataran sebuah bangunan yang dikelilingi taman bunga luas dengan pendar lampu gantung yang temaram.

Saat Andini turun dari mobil dan membaca papan nama kayu di depan bangunan tersebut, jantungnya mendadak berdesir hebat. Di sana tertulis ukiran indah: Andini’s Sanctuary: Creative and Wellness Center.

"Mas... ini apa?" Andini menoleh ke arah Farhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Farhan mendekat, meraih jemari Andini, lalu menuntunnya masuk ke dalam bangunan utama. Ruangan itu didesain dengan konsep open-space yang menenangkan, memadukan studio desain fashion, galeri untuk para pelaku UMKM, serta area meditasi dan taman bacaan yang ramah bagi perempuan dan anak-anak.

"Dulu, di pernikahan pertamamu, kamu pernah dihancurkan. Kamu dianggap tidak berharga dan dipaksa mengubur semua mimpi serta kreativitasmu di dalam rumah yang penuh makian," ujar Farhan. Suaranya terdengar begitu dalam dan tulus di tengah keheningan malam.

Farhan menangkup wajah Andini, menyeka setitik air mata yang mulai jatuh di pipi istrinya. "Malam ini, di tempat ini, aku ingin menghapus seluruh sisa trauma masa lalumu, Ndin. Tempat ini milikmu sepenuhnya. Aku membangunnya atas namamu, sebagai ruang bagi wanita-wanita di luar sana yang pernah patah agar mereka bisa bangkit, belajar mandiri, dan berkarya kembali seperti yang kamu lakukan."

Andini terpaku. Dadanya sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Jika dulu Reno merampas seluruh harga dirinya dan membuangnya begitu saja, kini Tuhan mengirimkan Farhan—pria saleh yang tidak hanya mencintainya, tetapi juga memuliakan namanya, mengangkat derajatnya, dan mendukung mimpinya untuk menjadi manfaat bagi sesama.

Andini langsung menghambur ke pelukan Farhan, menangis tersedu-sedu di dada suaminya. Itu bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan pelepasan atas segala luka masa lalu yang kini telah sembuh tanpa sisa.

"Terima kasih, Mas... Terima kasih banyak. Aku tidak tahu kebaikan apa yang pernah kulakukan sampai Allah mengirimkan suami sepertimu," bisik Andini di sela tangis bahagianya.

Farhan mempererat pelukannya, mengusap punggung Andini dengan penuh kehangatan di bawah langit malam yang bertabur bintang. "Sama-sama, Sayang. Tugas mulia seorang suami adalah menjadi jembatan bagi istrinya menuju surga-Nya, dan melihatmu bahagia adalah pencapaian terbesar dalam hidupku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!