"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kemarahan Varian Ataupun Zaviar
Pintu ganda berbahan jati tebal milik ruang kerja CEO Calista Group tertutup rapat dengan dentuman halus yang seolah memutus seluruh aliran udara dari luar. Gavin Pradipta telah melarikan diri dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping, meninggalkan keheningan yang begitu pekat dan mencekik di dalam ruangan eksekutif lantai 45 tersebut. Dua baris pengawal elite berbakaian hitam kustom milik Ravindra Holdings masih berdiri tegak di dekat pintu, bagai patung-patung bernyawa yang siap mengeksekusi perintah kematian kapan saja.
Atmosfer di dalam ruangan benar-benar sarat akan ketegangan emosional. Sisa-sisa robekan kertas dokumen bernilai enam ratus miliar rupiah berserakan di atas lantai karpet beludru abu-abu, menjadi bukti nyata dari kegilaan seorang Zaviar Ravindra—atau lebih tepatnya, sisi alter ego gelapnya yang bernama Varian.
Arumi masih berdiri mematung di tempatnya. Namun, rasa terkejutnya dengan cepat digantikan oleh letupan amarah yang membakar dada. Sebagai mantan pelatih silat jalanan yang memiliki harga diri setinggi langit, ia menolak keras diintimidasi, bahkan oleh suaminya sendiri di wilayah kekuasaannya. Tangan kekar Zaviar yang masih berada di tengkuknya, menyingkap syal sutra emasnya secara paksa demi memamerkan jejak kepemilikan semalam, menjadi sumbu pendek yang meledakkan emosinya.
"Zaviar! Lu apa-apaan sih, maen masuk kagak ketuk pintu, terus robek kertas orang?!" bentak Arumi langsung berdiri dari kursi kebesaran CEO.
Dengan satu gerakan tegas khas pesilat, Arumi menepis tangan Zaviar dari tengkuknya. Ia berkacak pinggang, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata obsidian suaminya yang masih berkilat gelap berkat sisa-sisa racun cemburu buta. "Ini kantor gue! Razetha Group punya gue! Lu maen bawa pasukan kayak mau ngegrebek bandar narkoba, terus nyari ribut sama orang lain! Lu bikin malu gue di depan Sherly sama Leo tahu kagak, tripleks kaku?!"
Zaviar tidak mundur selangkah pun. Alih-alih merasa terintimidasi oleh bentakan Arumi, pria itu justru maju satu langkah besar. Ukuran tubuhnya yang tegap, atletis, dan jauh lebih tinggi membuat bayangannya sepenuhnya mengurung tubuh Arumi di balik meja kerja. Aura dominasi yang dipancarkan Zaviar begitu pekat, sarat akan gairah hewani yang tertahan yang biasanya hanya muncul di dalam kamar tidur utama mereka.
"Kau mengkhawatirkan harga diri pecundang dari London itu, Sayang? Atau kau marah karena aku menghancurkan kesempatannya untuk kembali mendekatimu, hm?" desis Zaviar. Suara baritonnya turun beberapa oktav, terdengar sangat rendah, parau, dan berbahaya. Itu adalah suara Varian yang masih memegang kendali atas pita suaranya.
"Bukan masalah pecundang atau kagak, kaku!" balas Arumi ceplas-ceplos, wajahnya memerah bukan karena takut, melainkan karena menahan kekesalan sekaligus debaran aneh yang mendadak menyerang perut bawahnya akibat jarak mereka yang terlalu intim. "Gue tadi udah mau nendang dia sendiri dari lantai 45 ini! Tapi lu malah dateng sok jadi pahlawan kesiangan, maen robek dokumen bisnis murni! Ini masalah profesionalitas korporat, tripleks!"
"Profesionalitas?" Zaviar terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar mengerikan sekaligus luar biasa seksi di telinga Arumi.
Zaviar mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu kedua tangannya di atas meja jati di sisi kiri dan kanan tubuh Arumi, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. "Satu menit yang lalu, satu triliun rupiah sudah masuk ke rekening utama perusahaanmu. Dana itu tidak terbatas, Sayang. Jika kau butuh sepuluh triliun lagi untuk membangun sepuluh menara baru, aku akan memberikannya detik ini juga. Kau tidak membutuhkan sepeser pun uang dari tangan pria lain. Terutama dari pria yang menatapmu seolah-olah dia berhak memilikimu."
Arumi mendengus kasar, mencoba mengabaikan aroma parfum maskulin bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh Zaviar yang mendominasi indra penciumannya. "Duit lu emang banyak, gue tahu! Tapi kelakuan lu yang posesif ekstrem begini yang bikin gue pusing! Ngapain juga lu pake acara buka-buka syal gue di depan umum?! Lu sengaja mau pamer tanda kepemilikan lu yang kayak cap lunas itu ke temen dan sekretaris gue?!"
Mendengar perdebatan yang sangat blak-blakan dan sarat akan bumbu domestik tersebut, Sherly yang sejak tadi berdiri membeku di sudut ruangan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Sebagai sahabat karib yang tahu persis bagaimana rapuhnya Arumi yang dulu, melihat Arumi yang sekarang berani membentak-bentak seorang Zaviar Ravindra seperti menghadapi tukang parkir membuat jiwanya bergetar hebat antara kagum dan takut mati.
Sherly berdehem keras, mencoba memutus medan magnet sensual yang semakin pekat di antara suami istri eksentrik tersebut sebelum ruang CEO ini berubah fungsi menjadi tempat yang tidak-tidak.
"Ehem! O-oke... Ru, Pak Zaviar... maaf banget nih saya harus memotong momen... er, diskusi rumah tangga kalian," potong Sherly dengan senyum canggung yang dipaksakan hingga sudut bibirnya berkedut. Ia melirik Sekretaris Leo yang sudah pucat pasi di sampingnya. "Tapi karena dana segar senilai satu triliun rupiah udah beneran masuk ke sistem—yang jujur aja bikin lambung gue mendadak mules karena kebanyakan nol-nya—kayaknya kendala pendanaan Razetha Tower udah kelar total, deh. Masalah selesai, kan?"
Arumi menoleh ke arah Sherly dengan wajah cemberut. "Sher, lu jangan belain si kaku ini—"
"Kagak belain, Ru! Gue cuma mau menyelamatkan nyawa gue sendiri!" potong Sherly cepat dengan bisikan panik yang cukup keras. Ia kemudian memberikan isyarat mata kepada Sekretaris Leo. "Leo, mending kita keluar sekarang bawa berkas-berkas ini. Kita urus pembukuan di kubikel luar aja, yuk. Daripada kita didepak dari lantai 45 atau kena serangan jantung karena aura bapak CEO Ravindra Holdings yang terhormat ini."
Sekretaris Leo langsung mengangguk cepat bagai robot yang diberi perintah darurat dari pusat. Dengan gerakan kilat, ia menyambar beberapa map dokumen tebal di atas meja tanpa berani melirik wajah Zaviar sedikit pun, lalu mengekor di belakang Sherly.
Sherly berjalan mundur perlahan menuju pintu ganda, melambaikan tangannya ke arah Arumi dengan senyum penuh arti. "Nikmati waktu kalian, Nyonya Ravindra! Jangan lupa kunci pintunya!" goda Sherly sebelum akhirnya melesat keluar bersama Leo dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu pintu ganda itu tertutup, Zaviar memberikan isyarat tangan kecil kepada barisan pengawal elite-nya. Tanpa suara, para pria berbadan tegap itu langsung berbalik dan melangkah keluar ruangan, memastikan koridor lantai 45 steril dari siapa pun. Salah satu pengawal mengunci pintu dari luar sesuai dengan instruksi tak tertulis yang sudah sangat mereka pahami.
Kini, di dalam ruang kerja CEO seluas seratus meter persegi itu, hanya tersisa Zaviar dan Arumi. Keheningan kembali merayap, namun kali ini intensitasnya jauh lebih berbahaya.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.