Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kelahiran Kailan Elvaro
Tubuh Alena hampir terhuyung ke lantai, sebelum akhirnya pintu itu terbuka. Seorang bidan paruh baya, langsung terkejut melihat kondisi Alena yang sudah pucat pasi dengan pakaian yang basah kuyup.
"Ya Tuhan...," Bidan itu langsung menopang tubuh yang hampir ambruk.
"Cepat masuk!"
Alena bahkan sudah hampir tidak sanggup lagi untuk melangkah kakinya lemas, rasa sakit akibat kontraksi datang bertubi-tubi seolah tidak ada celahnya.
"Ngghh... sakit," ucap Alena sambil meringis kesakitan.
"Tenang Nak, tarik nafas dulu," sahut Bidan itu seolah mengerti.
Bidan itu segera membantu Alena masuk ke ruangan kecil sederhana yang hangat. Bau minyak kayu putih dan obat-obatan langsung memenuhi penciumannya.
Akan tetapi rasa sakit di perutnya jauh mendominasi dari semuanya, Alena menggigit bibir bawahnya cukup keras, tangannya perlahan mencengkeram seprei putih ranjang persalinan itu.
"Tuhan rasanya sakit sekali," gumamnya lirih.
Sementara bidan itu mulai memeriksa bagian intim Alena dengan hati-hati Refleks ibu hamil itu langsung membuka pahanya lebar-lebar.
"Baru pembukaan 8 sudah mendekati pembukaan 9, sabar dulu ya," katanya dengan sabar.
Alena seperti tidak menghiraukan lagi ucapan dari bidan itu, karena rasa sakit yang terus menghantam seolah tidak mengenal ampun, ingin rasanya ia menangis berteriak sekencang mungkin. Namun di sisi lain kesadarannya masih penuh. Ia tahu di sini dia hanya sendiri tidak ada keluarga yang menjabatani, tidak ada suami yang harus menjadi orang nomor satu yang mendampinginya saat ia melahirkan generasi penerusnya.
Alena hanya bisa merasakan rasa sakitnya ini sendirian. Hanya sendirian.
"Aaah ...."
Tubuh Alena mengangguk diatas ranjang persalinan, keringat bercampur air hujan membasahi wajah pucatnya.
"Suami Ibu dimana?" tanya Bidan itu.
Alena terdiam seketika saat nama itu mulai terucap kembali. "Aku gak punya suami Bu."
Jawaban lirih itu membuat bidan terdiam sesaat, wanita paruh baya itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengusap lembut kepala Alena penuh iba.
“Kamu kuat ya, Nak.”
Air mata Alena kembali jatuh, sudah selama ini ia mencoba terlihat kuat di depan semua orang tapi malam ini, ia benar-benar takut. Takut sesuatu terjadi pada bayinya, takut jika ia tidak bisa melewati semua sendirian.
Seketika kontraksi datang, kali ini jauh lebih cepat dan menyakitkan, hingga tanpa terasa teriakannya kembali terdengar memenuhi ruangan.
“AAHHH…!”
Tangannya mencengkeram pegangan ranjang besi itu, begitu kuat sangking dahsyatnya sakit yang ia rasakan.
“Napas… tarik napasnya!” ucap bidan mencoba menenangkan.
“Tolong… sakit sekali…”
Air mata terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit luar biasa itu, bayangan hidupnya bermunculan satu per satu.
Panti asuhan. Malam kelam itu. Penolakan Kael. Kesendiriannya selama ini. Dan entah kenapa… malam ini semua rasa sakit itu terasa bercampur menjadi satu.
“Nak…” tangis Alena pecah. “Jangan tinggalin Mama… tolong…”
Bidan itu menggenggam tangannya erat.
“Tidak akan. Anakmu kuat.”
Jam demi jam berlalu, terasa cukup lama. Hujan di luar masih turun deras seolah menemani perjuangan Alena malam ini. Tubuh perempuan itu mulai melemah. Napasnya tersengal. Tenaganya hampir habis. Namun saat mendengar suara bidan berkata,
“Sedikit lagi…”
Alena kembali menangis sambil mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya.
“AAAHHHH…!”
Hingga beberapa detik kemudian. Tangisan bayi akhirnya pecah memenuhi ruangan kecil itu.
Deg!
Dunia Alena seakan berhenti, air mata jatuh semakin dalam, mendengar tangisan anaknya untuk yang pertama kali.
“Ba…yi laki-laki,” ucap bidan dengan senyum haru.
Tubuh Alena gemetar hebat. Bayi kecil itu perlahan diletakkan di pelukannya. Masih hangat, kecil dan begitu rapuh namun saat tahu bibir mungil itu mulai mencari-cari sumber makanannya tangis Alena semakin pecah.
“Halo…” bisiknya lirih sambil mencium kepala bayinya berkali-kali. “Mama di sini…”
Bayi kecil itu bergerak pelan lalu menggenggam jari Alena dengan tangan mungilnya.
Dan saat itu juga… Semua luka yang selama ini menghancurkan hidup Alena seolah berubah menjadi alasan baru untuk bertahan hidup.
“Nak…” suaranya bergetar penuh tangis. “Mulai hari ini… kita keluarga.”
Ucapannya masih terdengar bergetar, bahkan rasa sakit di area putung karena hisapan sang anak, tidak seberapa dibanding dengan rasa bahagianya malam ini.
"Hisap yang kuat Sayang, selagi Mama bisa, maka Mama akan penuhi setiap asupan gizi yang masuk dari mulutmu," ucapnya penuh dengan haru.
Alena masih mengASIhi bayinya tanpa sadar ia mendongakkan kepalanya keatas merasa bersyukur Tuhan masih menyayanginya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi harinya…
Suara pintu rumah bidan terbuka cukup keras, langkah perempuan itu tergesa seolah tidak sabar ingin menengok ponakan pertamanya hadir di dunia ini.
“Lena!”
Alena yang sedang memeluk bayinya langsung menoleh kaget.
Matanya langsung membesar saat melihat Rina berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata sembab.
“R-Rina…”
Tanpa menunggu lagi, Rina langsung memeluk Alena hati-hati sambil menangis.
“Kamu jahat…” isaknya pecah. “Lahirannya malah nggak bilang…”
Air mata Alena ikut jatuh lagi. “Aku nggak mau merepotkan kamu…”
“Diam!” Rina langsung mengusap air matanya kasar. “Kamu itu sudah berjanji jika bayi itu lahir maka aku orang pertama yang melihatnya."
"Iya-iya aku salah," akui Alena. "Kamu tahu gak saat kontraksi itu datang seketika aku lupa semuanya kecuali dia," tunjuk Alena pada bayi merah itu.
"Tuh kan Sayang, kamu dengar sendiri kan Mama mu itu tega," ucap Rina seolah merajuk pada bayi Alena.
Suasana hangat itu semakin terasa saat Anne dan Senna ikut datang membawa berbagai perlengkapan bayi.
“Aduh akhirnya lahir juga ponakan kita!” seru Senna penuh semangat.
“Ya ampun ganteng banget…” Anne langsung menatap bayi kecil itu gemas.
Alena menatap satu per satu orang di sekelilingnya dadanya terasa hangat. Selama ini ia pikir hidupnya hanya dipenuhi luka.
Namun ternyata… Tuhan tetap mengirimkan orang-orang baik untuk menemani langkahnya. Tangannya perlahan mengusap wajah kecil putranya.
“Kai…” bisiknya pelan.
Rina tersenyum. “Namanya Kai?”
Alena mengangguk sambil menatap bayi itu penuh cinta.
“Iya… Kailan Elvaro."
Bayi kecil itu tertidur hangat di pelukan Alena, merasa anteng seolah tahu jika hidupnya di kelilingi oleh tante-tante cantik dan super baik hati.
"Kai, Sayang... nanti jika ibumu melarangmu memakan coklat, maka datanglah pada Ibu Rina ya," celetuk perempuan itu, Alena hanya bisa mendengus kecil.
"Kai tampan, nanti kalau ibumu gak mau kasih es krim lari saja ke Ibu Anne," timpalnya.
"Eh... tunggu dulu, tentunya aku gak mau kalah dong," sahut Senna. "Nanti kalau ibumu marah karena kamu sibuk main layang-layang, datang ke rumah Ibu Senna ya, sudah pasti Ibu akan temani kamu bermain sampai puas."
Seketika tawa itu memenuhi ruangan kecil, Alena melihat sendiri antusias ketiga sahabatnya. Mungkin anaknya itu lahir tanpa pengakuan dari seorang ayah, tapi Tuhan menggantikannya dengan hadirnya tiga ibu angkat untuk sang anak sekaligus.
Bersambung.