NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan tak terduga

Happy Reading ❤️

Sudah beberapa hari ini, Lily tidak lagi pergi ke sekolahnya. Itu dikarenakan kejadian kemarin-kemarin yang menimpanya. Papanya hanya memberi izin Lily untuk belajar home schooling saja. Bahkan untuk sekedar pergi keluar pun tidak diperbolehkan. Diluar sana penjagaan rumah Lily diperketat, tentu saja hal itu mempersulit sang gadis untuk kabur walaupun hanya untuk ke halaman rumahnya. Itu semua katanya demi keselamatan dirinya.

Sebenarnya Lily merasa bosan karena seharian belajar dirumah. Ia merasa seperti sedang daring pada tahun covid-19 tahun-tahun lalu di dunianya. Apalagi ia hanya bertemu dengan guru-guru privatenya yang sangat membosankan. Tak ada teman, Membuat Lily semakin malas untuk belajar.

"Dari mengerjakan latihan soal kamu sudah bagus, hanya tinggal konsentrasi dan fokusnya saja. Ini merupakan kemajuan dari tahap sebelumnya. Semangat ya!" Guru privatnya mencoba memberinya semangat. Tapi Lily sudah kepalang bosan dan mengantuk. Jadi ia tidak menanggapinya, hanya terdiam dengan wajah kusut menatap wajah sang guru.

"Baiklah, materi hari ini cukup sampai disini saja. Sampai jumpa besok ya cantik!" Guru privat itu pun membereskan semua alat-alatnya kedalam koper coklat miliknya.

"Besok belajar fisika lagi Bu?" Tanya Lily dengan malas. Ia memainkan pulpen dan mencoret-coretkannya pada buku materi.

"Kalo besok jadwalku, bye!" Ia pun keluar dari kamarnya. Entah ini sebuah keajaiban atau memang sudah menjadi tabi'at pelajar. Tiba-tiba saja Lily merasa bersemangat ketika guru privat itu pulang. Kenapa ya ngantuknya jadi hilang? Namun karena tidak bisa kemana-mana, ia pun menuju ranjangnya.

"Bosen banget!" Kesalnya sembari merebahkan tubuhnya dikasur empuk miliknya. Ia memejamkan matanya perlahan, lalu tak lama kemudian, ia pun tertidur pulas.

-★★★-

Saat itu, disebuah ruangan gelap. Terlihat seorang gadis yang badannya sedang diikat rantai disebuah kursi. Kenapa harus dirinya yang diculik seperti ini?!

Mata gadis itu juga ditutupi sebuah kain hitam. Ia tak bisa melepaskan tali rantai kokoh yang mengikat seluruh tubuhnya itu. Berteriak pun tak bisa, karena mulutnya disumpel kain-kain.

"Sekarang katakan, apa maksud lo ngasih Lily kado berbahaya untuk nyawanya itu?!" Tanya seorang pemuda yang muncul dari sudut gelap ruangan. Gadis itu hanya menggerang. Oh pemuda bodoh itu lupa kalo mulut si gadis sedang disumpel kain.

"Oh gue lupa..." Pemuda itu pun berinisiatif membuka sumpelan dari mulut gadis yang tak berdosa itu. Bibirnya kering dan bergetar hebat karena takut.

"Aku minta maaf! Aku benar-benar tidak berniat untuk mencelakai Lily! Aku hanya dititipi barang oleh seseorang! Dia kakak kelas di sekolah!" Jelasnya dengan isakan tangis takut. Tanganya gemetaran hebat ketika dengan jelas telinganya mendengar orang itu mengeluarkan sebuah benda tajam.

"Lo tau, berbohong itu... tidak baik. Jadi katakan yang sebenarnya!" Ucapnya dengan menodongkan pisau kecil pada leher gadis itu. 

"Ti-tidak! Ku mohon! Aku sudah berkata sejujurnya!" Gadis semakin gelagapan seakan tidak bisa berkata apapun lagi.

"Ehmm... Beritahu gue, siapa orang brengsek yang telah menitipkan kado untuk Lily" Ucap pemuda itu dengan dingin dibarengi pisau kecilnya yang ia jauhkan dari leher sang gadis. Gadis itu pun mengangguk cepat.

"Jangan mengangguk bodoh! Katakan siapa nama bedebah itu!" Bentak pemuda itu tidak sabaran.

"Anu- Dia.... Sarah, tapi... A-aku tau wajahnya" Ucapnya takut-takut.

"Bilang saja penghalang matamu ingin dilepas, semua perempuan sama saja, sukanya ngasih kode_-" Kesalnya sembari melepaskan kain penghalang matanya.

"Hm... Tapi apa yang mau lo liat? Gue gak punya poto-poto perempuan"

"Aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu membuka penghalang mata tadi-" Gadis itu terdiam heran.

"Nah kan! Lo melihat pun gak ada gunanya! Jadi tutup lagi aja mata lo itu!" Pemuda itu hendak menutup kembali matanya.

"Tunggu! Kenapa juga kau harus menutup mataku?"

"Biar lo gak tau siapa gue"

"Kau kan pakai topeng, lagian... Aku juga tidak mengenalmu"

"Hm... Kenapa lo tau gue pake topeng? Percakapan bodoh apakah ini!!!!!"

"Kau merasa bodoh?"

"Tidak, gue pintar!"

"Hm... Aku sedikit meragukannya"

"Diam! Gue gak butuh pengakuan dari lo! Akh berengsek!" Pemuda itu pun akhirnya pergi meninggalkan sang gadis yang nampak keheranan. Ada apa dengan orang itu?

•••••

Disebuah tempat jauh dari bangunan kota, nampaklah seorang lelaki tengah memukul-mukul tembok dengan tangannya. Ia sudah tak peduli lagi dengan rasa sakit yang terasa pada tangannya itu. Bahkan darah pun tak membuatnya meringis perih. Ia malah terus memukuli tembok itu hingga retak-retak.

"Sampai kapan lo terus melakukan hal itu?" Tanya seseorang yang lain yang tak jauh dari tempatnya. Ia meneguk segelas minuman haram dengan santuy. Namun lelaki itu tak menghiraukannya sama sekali seolah tak ada orang yang mengajaknya bicara.

"Berhentilah, jika lo gagal, usaha lagi" Sebuah kata bijak yang selalu orang-orang katakan kepada mereka yang putus asa dalam hidupnya.

"Jangan sok sok an ngajarin gue! Atau lo mau bernasib sama kayak tembok yang sedang gue pukul ini?" Ketusnya melayangkan tatapan tak suka.

"Oh gue lupa, mengajari suhu dengan bahasa merendahkan" Orang itu tertawa pelan.

Duk!

Satu pukulan keras hingga membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa nyalinya menciut.

"Diamlah. Atau pergi saja dari sini!"

Orang itu terdiam. Sebenarnya ia kasihan dengan kondisi temannya ini. Sudah dipastikan ia mati rasa. Itu jelas terlihat dari tangannya yang kini terlihat remuk. Atau ini karena temboknya yang sudah lapuk?

"Gue cuman khawatir sama lo, jangan tersinggung" Orang itu berusaha mendekatinya. Mencoba menghentikan perbuatan self harm darinya. Sebutan bagi orang-orang yang senang menyakiti diri sendirinya ketika terpuruk.

Pemuda itu hanya bergeming, ia nampak berfikir keras. Misinya tak boleh gagal. Apapun itu resikonya.

"Rey, ku butuh bantuan lo lagi!"

★★★

Kedua mata indah itu kini mencoba terbuka meski rasanya begitu berat. Perlahan ia mendudukan posisi tubuh yang tadinya terlentang nyaman. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ah kenapa rasa ngantuknya tidak hilang?

Beberapa kali ia menguap dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal. Lalu ia beranjak menuju kamar mandi.

Disana, ia mencuci wajahnya agar sedikit lebih fresh. Dan benar saja, kini matanya bisa terbuka lebar. Ia menatap sebuah cermin bulat yang berada didepannya. Ah dia lupa kalo dirinya masih berada didunia lain. Dengan perasaan bosan ia pun menghubungi seseorang yang konon katanya ayah dari gadis itu.

"Oh hai putriku! Kau butuh sesuatu?"

Ya, sesuai dugaannya seseorang itu langsung menjawabnya. Benar-benar dimanjakan.

"Papa! Lily pengen main keluar rumah! Bosen papa!" Keluhnya pada sang ayah. Terdengar suara helaan nafas dari balik ponsel sana.

"Lily, papa..."

"Pokoknya Lily gak mau tau! Pengen main pa! Papa mau Lily setres dikurung mulu?" Bujuknya lagi. Bukan mudah membujuk orang yang satu ini, pikir Lily. Sudah beberapa kali ia memohon dengan keras meminta sang ayah untuk mewujudkan permintaan kecilnya ini, tapi ia selalu beralasan sibuk.

"Baiklah baiklah... Hanya untuk hari ini, oke!"

"YES!!! SAAAYANG PAPA!!! Buruan ya pa! Dadaaah!" Gadis itu pun langsung menutup sambungan ponselnya. Dengan girang ia memilih baju untuk healing. Namun tiba-tiba sebuah baju mengingatkannya pada seseorang yang sudah tidak ia jumpai beberapa hari ini, kak Zevan kemana? Pikiranya heran saat tak mendapati orang itu. Terakhir kali ia mendapati kakaknya bersikap aneh lagi, kan?

•~•~•~•~•

Saat itu, Lily dan Lucky, papanya sudah jalan-jalan ke taman kota. Sepulang dari sana, mereka menjemput Zevan sekalian yang sudah lama tak pulang ke rumahnya.

"Pa, emang kak Zevan udah kerja ya? Bukanya cuman kuliah doang?" Tanya Lily sembari menatap keluar jendela mobil melihat gedung-gedung pencakar langit.

"Papa punya beberapa perusahaan, jadi kakakmu itu mengurusnya sebagian. Untuk saat ini, perusahaan papa sedang ada sedikit problem, dan itu membuat papa sama kak Zevan harus stay di kantor" Jelasnya membuat Lily sedikit mengerti dengan kesibukannya.

"Tuh kak Zevan!" Tunjuk Lucky saat ia telah sampai di depan sebuah gedung tinggi. Ia mengarahkan wajahnya pada seorang pemuda yang sedang diluar gedung. Ia terlihat sedang menghubungi seseorang. Lily pun akhirnya segera keluar dari mobil dan teriak memanggil nama Zevan.

"KAK ZEVAN!" Teriaknya yang langsung membuat sang empu menoleh. Ia terkejut saat mendapati sang gadis tengah berjalan menuju kearahnya.

Clak! Clek!

Langkahnya terhenti ketika cairan sesuatu menciprat ketangannya. Ia tiba-tiba terdiam dan melihat sekelilingnya yang banyak berceceran cairan berwarna merah segar. Ia bingung dari mana asal cairan merah itu. Perlahan ia menoleh keatas.

Bruak!

Bersamaan dengan itu, seonggok mayat jatuh tepat didepan wajahnya. Seketika ia ambruk, tubuhnya terasa lemas untuk berdiri. Melihat manusia tak bernyawa didepannya membuat perut si gadis merasa mual bukan main. Kondisinya sangat tragis dengan tangan kiri yang terpisah dari tempatnya. Juga terlihat bekas sayatan di lehernya. Bahkan matanya menonjol seperti hendak keluar. Kepalanya pecah dan darahnya bersimbah membasahi area tubuhnya.

"LILY!"

Ia tidak bisa mendengar suara dengan jelas ketika orang-orang mulai mengerumuni mayat itu dan menutupnya dengan plastik hitam. Beberapa bahkan terlihat menenangkan Lily yang terlihat syok atas kejadian tragis yang terjadi didepan matanya sendiri.

"Lily liat gue!"

Samar-samar ia mendengar suara Zevan yang hawatir. Namun ia seakan bungkam dan kesadarannya tidak kunjung kembali. Ia seperti orang yang kehilangan akses pada tubuhnya.

"Liat gue!"

Zevan mencoba terus menyadarkan Lily yang mulai linglung. Entahlah, kenapa Lily terlihat syok dengan hanya kejadian itu. Bukankah ia dulu pernah melihat hal yang lebih dari ini? Heran Zevan.

"Jangan liat lagi!" Zevan tak punya cara lain lagi, ia pun memeluknya erat dan menyembunyikan wajah sang gadis terbenam didada bidangnya. Sekilas ia menatap keatas gedung. Disana terlihat seseorang yang sepertinya sengaja melakukan semua ini. Dan orang yang dijatuhkannya itu ternyata orang yang sangat penting bagi Zevan, sekertarisnya_pak Hans.

'Gue bakal membalasnya!'

Batin Zevan geram. Ia mengerti betul bahwa semua yang terjadi ini adalah ancaman untuknya.

"Zevan! Antarkan Lily pulang! Biar papa urus semua kekacauan ini!" Lucky bergerak cepat dan langsung menangani semuanya dengan rapih.

"Ayok kita pulang" Zevan mencoba melepaskan pelukannya. Namun tak disangka, sang gadis telah tak sadarkan diri.

"Kenapa lo jadi selemah ini, Lily? Apa sebenarnya ada dipikiran lo?" Gumam Zevan pelan seraya membopong tubuh gadis itu.

Saat tiba didalam mobil, tiba-tiba ponselnya bergetar. Menandakan bahwa ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Lantas ia pun membukanya.

435678764****

Bagaimana? Atraksiku hebat bukan? Adikmu saja sampai terpukau hebat melihatnya HAHAHA

Rahangnya mengeras setelah membaca pesan itu.

"SIALAN! Jangan harap ia bisa menyentuh gadis ku!" Sedetik kemudian ia tersadar dengan ucapannya barusan. Gadisnya? Sejak kapan ia mempunyai reaksi perasaan terhadap orang lain? Terutama perasaan tak wajar pada adiknya ini.

"Gue harap lo pergi aja, walaupun gue tau, gue gak akan sanggup mengakui hal itu jika benar-benar terjadi" Ucapnya seraya menatap wajah Lily yang tidak sadarkan diri di jok belakang mobilnya.

• • • • • • •

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!