NovelToon NovelToon
Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elena Prasetyo

Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.

Pergilah kau, pergi dari hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Berubah

Kenapa Arya baru menyadarinya sekarang?

Luna, istrinya sudah berubah. Sangat berubah dibanding tiga tahun lalu. Luna yang dulu selalu menatapnya dengan penuh kasih. Menunjukkan rasa cinta tanpa diminta. Dan memiliki suara melengking ketika marah.

Tiga tahun kemudian?

Luna menjadi begitu tenang. Tidak berapi-api. Suaranya sangat dalam dan tidak pernah melengking lagi meski dalam keadaan marah. Namun, sorot matanya kosong. Tidak ada rasa hangat di setiap gerakannya. Istrinya itu bahkan tak membalas ciumannya yang menuntut. Memang dengan berubahnya, Luna tampak sangat cantik sekarang. Tapi Arya mulai takut, akan kehilangan istri yang dia cintai sejak masih kuliah dulu.

Seperti sekarang, Luna menghadapinya dengan sangat tenang bahkan hampir tanpa perasaan sama sekali. Membuatnya sangat takut.

"Sayang kau membuatku takut" katanya terus terang.

"Tuan Arya Mahendra, kita sudah bercerai. Cerita kita sudah selesai. Aku tidak mau terlibat dalam hidupmu lagi. Begitu juga sebaliknya, aku tidak mau kau ada dalam hidupku lagi"

Arya menatap wajah istrinya.

Tiga tahun. Kenapa dia meremehkan waktu selama tiga tahun yang berlalu begitu cepat? Dia pikir, cinta dalam yang dia dan istrinya miliki akan bertahan meski terpisah selama tiga tahun. Nyatanya ... Sepertinya Arya terlalu berharap banyak.

"Luna, berilah aku kesempatan memperbaiki semuanya" pintanya.

"Kau tahu berapa kali aku mencuci bibirku tadi?"

"Apa?"

"Aku mencuci bibirku sampai sepuluh kali karena aku merasa ... " Luna berhenti sejenak lalu melanjutkan.

"Aku masih ingat betapa kau menikmati berciuman dengan Marina. Bahkan tak segan untuk menyesap harum tubuhnya dengan seluruh indera penciumanmu. Kalian juga bermesraan di atas ranjang yang kita gunakan bersama. Membayangkan kulitmu dan kulit Marina saling bersentuhan dan bergesekan. Kemudian mendengar semua desahan Marina karena apa yang kalian lakukan. Semuanya membuatku mual."

"Sayang ... "

"Lalu saat aku tidak mau membebaskanmu dari pernikahan kita. Semua ejekan, cercaan, makian yang kau lakukan karena tubuhku yang berubah bentuk. Kau pikir aku hanya diam karena menerimanya? Aku sakit hati karena pria yang kupikir mencintaiku ternyata merasa tidak puas dengan tubuhku"

Arya terdiam. Dia tidak bisa menyangkal semuanya. Karena apa yang dikatakan oleh Luna semuanya adalah benar.

"Sayang aku ... "

"Semua ingatan itu susah payah aku lupakan. Kenapa kau terus muncul untuk menggali semua ingatan menyakitkan itu??!" pekik Luna lalu menangis.

Arya merasa sangat buruk. Walau untuk alasan apapun, dia tidak seharusnya menggunakan cara seburuk itu untuk bisa melakukan kewajibannya pada keluarga. Dia sadar telah mengambil cara yang salah dan sekarang menuai hasilnya.

"Maaf"

Luna menghentikan tangis dan menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"Apa?"

Bahkan untuk mendengar kata maaf darinya, rasanya Luna tidak mau.

"Jangan. Jangan meminta maaf. Permintaan maafmu tak berarti apa-apa bagiku. Kita hanya bisa menjalani hidup masing-masing sekarang. Tak lagi memiliki garis yang saling memotong atau bersinggungan lagi"

Arya tahu, begitu Luna memutuskan tidak akan ada jalan memutar untuk kembali. Tapi dia terlalu mencintai Luna. Dia tidak bisa melepaskan wanita yang paling dia cintai itu. Bagaimana caranya mendapatkan Luna kembali sekarang? Apalagi mengatakan bahwa perceraian mereka sebenarnya tidak sah secara hukum. Sebenarnya mereka masih sah menjadi suami istri.

Tidak.

Dia tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Luna akan menghilang jika dia semakin menekan.

"Aku akan pergi sekarang. Tenangkan dirimu!" katanya lalu keluar dari apartemen istrinya.

Diluar pintu dia masih bertahan untuk beberapa menit sebelum kembali ke apartemennya sendiri. Yang berada di lantai teratas gedung apartemen itu.

Suasana kota yang sepi malam itu semakin menambah kekalutan perasaan Arya.

Tidak ada terbesit dalam pikirannya menyakiti Luna tiga tahun lalu. Yang dia lakukan hanya mencari cara tercepat agar dia bisa pulang ke keluarganya. Tanpa dia sadari telah menorehkan luka sedalam itu di hati wanita yang paling dia cintai.

"Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.

Apa artinya dia menang menghadapi begitu banyak serigala berdarah dingin di kampung halamannya kalau istrinya sendiri tak bisa Arya selamatkan. Sungguh bodoh.

Tapi tiga tahun lalu, itu pilihan termudah yang bisa dia ambil. Tidak ada jalan mundur dan menyesal lagi. Dia hanya bisa melangkah maju untuk mendapatkan Luna kembali. Setelah itu dia akan berusaha untuk jujur pada istrinya. Tentang semuanya.

Ponselnya berbunyi dan pandangan mata Arya berubah setelah melihat siapa yang menghubungi.

"Kak, ada apa?"

Kakak pertama Arya. Orang yang secara otomatis menjadi penerus perusahaan ketika ayah mereka melepas kekuasaannya. Tapi sifat kakak pertama Arya ini terlalu pendiam. Banyak orang akhirnya memiliki pemikiran buruk atas apa yang akan dilakukan kakak pertamanya pada perusahaan.

"Kau sudah dengar dari pengacara Herman?"

"Iya"

"Adik kedua bekerja sama dengan paman ketiga untuk melengserkan aku. Kau harus membantuku!"

Arya meregangkan tangan dan kakinya yang panjang.

"Aku sudah melepas saham" kata Arya yang sengaja melepas saham agar tidak terseret dalam pertikaian perebutan kekuasaan perusahaan.

"Tapi kekuatanmu masih bisa memaksa para pemegang saham itu menurut"

Arya mendengus kesal. Dia memiliki masalah yang lebih penting daripada perebutan kekuasaan di perusahaan keluarga Santoso.

"Aku akan mencari cara bicara dengan mereka"

"Bagus. Aku mengandalkan mu!"

"Tapi ... "

Belum selesai Arya bicara, kakak pertamanya menutup telepon. Membuatnya bertambah kesal saja.

Tak lama dia menghubungi kakak keduanya.

"Kak"

"Arya!!! Kau menghubungiku. Kenapa? Apa kakak pertama yang menyuruhmu"

Kakak kedua Arya berbanding terbalik dengan kakak pertama. Begitu mudah masuk dalam lingkungan apapun. Hanya saja terlalu mudah untuk dikendalikan orang lain. Tak sesuai untuk memimpin sebuah perusahaan yang memegang tanggung jawab hidup orang banyak.

"Paman ketiga mengajakmu kerja sama?" tanya Arya segera.

"Kau jauh dari rumah tapi bisa mendengar hal itu? Pengacara Herman yang memberitahu?"

"Kak, kau tahu bagaimana sifat paman ketiga!"

"Arya!! Kau tidak percaya padaku? Kakak keduamu ini akan melakukan ekspansi perusahaan. Kakak pertama terlalu kaku dan tidak mau menerima perubahan"

Ekspansi atau apapun itu, kakak kedua tidak akan mampu melakukannya. Itu hanyalah akal-akalan paman ketiga agar bisa menguasai perusahaan keluarga yang sudah berdiri selama 4 generasi.

"Baiklah. Aku tidak akan bicara lagi" kata Arya merasa percuma bicara dengan kakak keduanya.

"Bagus! Kalau begitu kau mendukungku!"

"Apa? Bukan begitu ... Aku ... "

Belum selesai bicara, lagi-lagi telepon Arya diputus begitu saja. Kini dia harus mencari tahu siapa yang sebenarnya berada di belakang paman ketiganya.

Arya mulai sibuk di belakang meja. Mengurus kepentingan keluarganya. Untuk sementara menepiskan masalah pribadinya.

Pagi hari, pengacara Herman datang untuk menyerahkan berkas yang dia minta semalam.

"Paman ketiga Anda mengajak Tuan muda kedua untuk melakukan ekspansi dalam bidang tekstil. Tapi kami yakin perusahaan itu hanya kedok semata untuk kembali melakukan pengiriman barang berbahaya. Kalau sampai Tuan muda kedua terlibat, keluarga Santoso akan terkena imbasnya"

Arya mendesah pelan. Padahal dia pikir masalah keluarganya telah usai setelah ayahnya sehat kembali. Ternyata menjadi lebih rumit dari yang dia bayangkan.

"Kita harus pergi kesana sekarang juga!" kata Arya meyakini kakak keduanya akan terjerat sesuatu yang berbahaya baik dirinya sendiri maupun keluarga Santoso.

"Baik, saya akan menyiapkan segalanya"

Keduanya keluar dari apartemen tepat jam 8. 30 pagi. Naik ke dalam lift yang ternyata berhenti di lantai 5. Ketika pintu lift terbuka, Luna berdiri disana. Keduanya saling bertatapan sebelum Luna membuang muka.

1
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
heran aku dengan arya...thor jangan bagi mereka berbaik kembali... dia dah celup orang lain tu...
tahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!