NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuat Junior Terbangun

Pukul 19.30.

Kemana perginya mas Ar padahal cuman titip beli obat tapi pria itu belum balik juga kerumah, sudah hampir tiga jam mas Ar pergi. Tapi untungnya jamu yang diberikan mbak Asih cukup membantu meredakan keram diperutku.

Aku berjalan dengan perlahan, badanku lengket dan gerah jika tidak mandi nanti tidurnya pasti gabakal nyenyak, aku siapkan dulu pakaian yang aku pakai. Piyama berbahan kain satin halus berwarna pink. Tidak lupa membawa handuk.

Tidak lama hanya membuang keringat saja sama keramas rambut. Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar dikepalaku, melihat sekeliling rungan kamar, masih tidak ada keberadaan mas Ar. Aku melanjutkan langkah dan mulai mengeringkan rambut. Keram diperutku kembali datang, memang jika belum minum obat itu keram diperutku sulit sembuh.

Hampir pukul sembilan malam, aku mencoba mengalihkan rasa sakit diperut dengan membaca buku, namun kukuh sakitnya tidak teralihkan. Mencoba memejamkan mata dan menarik selimut.

Klek…

Suara pintu kamar terbuka, mas Ar muncul dengan beberapa kantung belanjaan ditangannya. Pria itu melepaskan jaket tebal berwarna navy dan meletakan pada sofa.

Aku masih meringkukkan badan, dengan tubuh dilapisi oleh selimut tebal. Mas Ar berjalan kearahku.

“Nih maaf nunggu lama, tadi ada sedikit urusan mendadak.” Ucapnya dengan sorot mata redup, tidak setajam biasanya.

Aku mencoba untuk menyandarkan punggung pada sandaran kasur. Membenarkan rambutku yang masih sedikit basah.

“Gapapa mas, maaf sudah bikin repot.” Ucapku pelan. Dengan tangan menerima paper bag dari mas Ar. “Makasih ya mas.”

Pria itu mengangguk tanpa banyak kata, seperti sedang memikirkan sesuatu. mas Ar berjalan kearah pintu lemari, kemudian mengambil beberapa pakaian santai.

“Masih sakit?” Pria itu mengganti bajunya didepanku,

Aku mengangguk pelan, sorot matanya masih tertuju padaku, pandangannya terasa menusuk. Aku mengalihkan pandangan, pasalnya pria itu kini hanya memakai celana dalam boxer hitam yang hanya menutupi perkututnya saja, berani banget dia.

“Kenapa?”

Aku menggeleng tanpa melihat kearahnya.

“Kamu sudah pernah melihatnya juga kan, kenapa kamu mengalihkan pandanganmu dariku?, bahkan kamu sudah pernah merasakannya.” Ucapnya sambil memkai kaos berwarna hitam.

“Ekhem, mas gak mandi dulu?” Aku mencoba mengalikan obrolan.

Pria itu tidak menjawab, tapi pergi begitu saja masuk kedalam kamar mandi.

Aku mengecek paper bag yang tadi mas Ar berikan, tidak hanya pesananku saja yang dia belikan. Namun, pria itu berinisiatif membelikanku sebatang coklat, jus buah dan beberapa snack yang bisa bikin mood membaik. Tidak terasa senyuman tersungging diwajahku.

Mas Ar memang tidak mencintaiku, tapi setidaknya aku bisa bertahan dengan pernikahan ini dengan alasan rasa nyaman dan perhatian kecil yang dia berikan.

Rasa hangat menelusup kedalam dada.

Setelah meminum obat aku kembali merebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata.

Mas Ar keluar dari pintu kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar, pria bertubuh tinggi tegap itu mengambil laptop dan ponselnya kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Gelombang gerakannya sangat terasa. Pria itu mulai menyandarkan punghunya pada kepala kasur. Aku menolehkan wajah dan menatap langit-langit kamar, sudah mencoba untuk memejamkan mata tapi tidak bisa, rupanya obat yang aku minum belum bereaksi baik, perutku masih terasa melilit.

Terdengar suara ketikan keyboard dari laptop mas Ar, mungkin pria itu mulai disibukan kembali dengan kerjaan dikantornya, setelah beberapa hari harus istirahat.

***

Perlahan aku membuka mata, ternyata tidak terasa aku bisa tidur juga.

Ets, apa ini?. Kok kasurnya terasa keras sekali?, kok kasur bisa kembang kempis begini?

Aku mencoba untuk membuka mata lebih lebar.

Deg,

Aku memeluknya, aduh sejak kapan aku memeluk tubuh mas Ar, kok bisa kasur seluas kenapa bisa tubuhku menggeser ke posisi mas Ar. Dengan perlahan aku menggeser posisi tubuh, berharap kalau mas Ar tidak sadar kalau aku sudah berani memeluknya, jangan bangun dulu ya mas!. Bisa malu nanti kalau ketahuan aku sudah memeluknya, tidak… jangan sampai. Mau ditaruh dimana nanti wajahku.

Perlahan dan penuh kehati-hatian seolah tubuh mas Ar tidak boleh terusik walau sedikitpun. Posisi tubuhku sangat menempel dengan tubuhnya.

“Ekhem.” Suara deheman seraknya.

Deg.

Jantungku terasa mau copot. Dengan perlahan aku mendongak keatas. Posisi kepala mas Ar tepat didepan wajahku. Mata elang nya menatapku dengan jarak yang sangat dekat.

Aku memaksakan untuk menyunggingkan senyum, berharap kalau mas Ar tidak akan marah.

“Pagi mas.” Ucapku pelan.

Mas Ar masih menatapku tajam.

“Bangun.” Dia berkata dengan nada datar dan suaranya sedikit serak.

“Emh i-iya mas ini mau bangun.”

Aku mulai berusaha untuk bangun, namun tangan kiriku terasa kebas, akibat tertindih oleh badanku sendiri.

“Kaki mu, bikin juniorku bangun.” Ucapnya lagi, tangannya kini memegang bahuku yang berusaha untuk bangun.

“Hah apa si mas?” Aku yang sedang berusaha untuk mengibas-ngibaskan tangan yang masih terasa kebas.

“Kaki mu, menekan argh…” matanya menunjukan sesuatu yang masih tertutup selimut. Refleks aku menyingkapnya.

Deg. Kakiku dengan nyaman bertengger disana, tepat dibagian atas miliknya. Jujur malu yang kini aku rasakan, rasanya ingin menghilang saja dari sini. Aku mengangkat kakiku, loh kok ada yang menyembul dibalik celana nya, sontak mas Ar langsung menutupinya dan menyembunyikannya, ia langsung bangkit seolah tidak terjadi apa-apa.

“Hal yang normal bagi seorang laki-laki.” Ucapnya lagi sambil mengambil handuk dan menutup bagian yang masih menyembul dibalik celanaya.

Mas Ar langsung pergi ke kamar mandi. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, masih sangat terbayang sekali benjolan yang menyembul itu. Apa karena kakiku yang menekannya. Jika begitu berarti….?

Aku berjalan kearah pintu kamar mandi, mencoba mendengar apa yang sedang mas Ar lakukan disana. Apa dia bermain lagi dengan tangannya sendiri, jika terus terusan seperti itu… kan tidak baik. Dosa juga kan?

Jadi aku harus bagaimana?

Dengan posisi sebagai istrinya tapi belum siap jika disentuh olehnya.

Apa aku berdosa ya Allah?, dan kini memang ada suatu udzur yang mendukung untuk kami tidak melakukan hubungan suami istri.

Aku makin mendekatkan kuping didepan pintu kamar mandi. Hening, hanya ada suara gemericik air dari keran shower. Apa mas Ar mencoba untuk tidak bersuara?.

Argh.. pusing banget.

Klek..

Jedar… tanpa aba-aba pintu terbuka, aku kehilangan keseimbangan kepalaku terhuyung kedepan dan menabrak dada bidang milik mas Ar, dada yang masih basah serta tidak terhalang oleh kain pakaian. Otomatis kulitku dan kulit mas Ar besentuhan secara langsung, dengan posisi hidungku juga ikut menyentuh dadanya. Wangi sabun mewah menguar pada hidungku.

Aku memejamkan mata, kenapa wangi ini sangat menenagkan sekali.

Telunjuk mas Ar berusaha mendorong kepalaku.

“Kamu benar-benar mengujiku pagi ini Ayleen.” Ucapnya sambil melangkah, menjauh dariku.

*

*

Wkwkw ada ada ajah ih si Ayleen. Bikin mas Ar kelimpungan kan jadinya. Mending mas Ar bisa nahan nya leen Ayleen.

1
Aniza
lanjut thooor
Aniza: oke thooooor👍👍👍
total 2 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!