NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 8: Dimensi Tanpa Ruang

Penjara Sukma

"Raka menghantam gerbang menara dengan satu tendangan bermuatan energi matahari. Baja setebal satu meter itu terlempar ke dalam, hancur berkeping-keping.

Raka berlari menaiki tangga melingkar. Ratusan prajurit berbaju zirah hitam muncul dari kegelapan. Mereka bukan lagi manusia, mata mereka kosong dan hanya mengeluarkan asap hitam.

Sring!

Raka tidak menggunakan pedangnya. Ia ingin melepaskan amarah yang selama ini terpendam. Ia bergerak seperti kilat emas. Setiap pukulan tangannya menghasilkan ledakan kecil.

Bugh! Duar!

Kepala prajurit pertama hancur. Raka memutar tubuhnya, melepaskan tendangan sabit yang memenggal tiga prajurit sekaligus.

"Minggir!" teriak Raka.

Ia memusatkan energi di dadanya. Tanda naga itu bersinar hingga menembus pakaiannya.

Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, muncul sepasang sayap cahaya emas. Raka melesat terbang lurus ke atas, menembus lantai demi lantai menara.

Duel Para Penguasa

Di puncak menara, sebuah aula terbuka lebar menghadap ke seluruh kota. Di tengah ruangan, duduk seorang pria raksasa di atas takhta tulang. Ia mengenakan zirah emas yang dipenuhi goresan perang. Di sampingnya, sebuah gada raksasa bersinar dengan aura ungu pekat.

Itulah Jenderal Karsa.

"Akhirnya, Benih Sang Hyang Jagat sampai di sini," Karsa berdiri. Suaranya berat, membuat kaca-kaca di aula itu retak.

"Kau pikir dengan empat matahari kau bisa mengalahkanku? Aku telah membunuh ribuan dewa sebelum kau lahir!" Karsa tidak basa-basi mengayunkan gadanya.

Wusss!

Gelombang gravitasi yang sangat berat menghantam Raka, memaksanya berlutut. Tanah di bawah Raka retak sedalam setengah meter.

"Berlututlah di hadapan Dewa Perang yang baru!" teriak Karsa.

Raka mengerang, otot-otot lehernya menonjol. Darah mulai keluar dari sela-sela giginya. Namun, di tengah tekanan yang luar biasa itu, Raka teringat sentuhan Sekar, pengorbanan orang tuanya, dan kehangatan Laksmi.

"Kekuatan sejati bukan berasal dari penindasan, Raka... tapi dari perlindungan." Suara misterius sang ayah bergema sangat jernih kali ini.

Zinggg!

Matahari Kelima meledak di dahi Raka. Matahari Penghakiman. Cahayanya berwarna biru keputihan, sangat dingin namun mematikan. Tekanan gravitasi Karsa seketika lenyap, hancur oleh aura baru Raka.

Raka berdiri perlahan. Seluruh ruangan kini diselimuti oleh api biru yang tidak membakar benda mati, namun membakar sukma yang jahat.

"Kau bukan dewa," ucap Raka dingin. "Kau hanya seekor anjing yang menggonggong di bawah kaki Barata."

Booms!

Raka melesat. Kecepatannya melampaui suara.

Clanggg!

Tinju Raka menghantam gada Karsa. Gada yang katanya tak terpatahkan itu retak seketika. Raka tidak berhenti. Ia melepaskan serangkaian pukulan bertubi-tubi.

Bugh! Bugh! Bugh!

Setiap pukulan meninggalkan bekas terbakar biru di zirah emas Karsa.

"Aaaaaakhhh!"

Karsa mencoba menyerang balik, namun Raka menangkap kepalan tangannya dan mematahkannya.

Krakkk!

Raka mencengkeram leher Karsa, mengangkat dewa perang itu ke udara. Dari tangan Raka, keluar rantai cahaya biru yang melilit tubuh Karsa.

"Di mana Kuncinya?" desis Raka.

Karsa terbatuk darah. Ia tertawa gila. "Kunci itu... ada di dalam darahku!"

Raka tidak ragu. Ia menghujamkan telapak tangannya ke dada Karsa.

Cahaya biru menyusup ke dalam jantung Karsa, menarik keluar sebuah kristal berbentuk belati yang bersinar dengan kode-kode kuno.

Begitu Kunci itu keluar, tubuh Karsa seketika berubah menjadi abu dan tertiup angin.

Gerbang Dimensi Terbuka

Begitu Raka memegang Kunci Langit, seluruh Menara Hitam bergetar hebat.

Di tengah aula, sebuah pusaran energi berwarna perak muncul, perlahan terbuka membentuk lubang dimensi.

Dari dalam lubang itu, Raka bisa mendengar suara rantai yang berat dan isak tangis seorang pria yang sangat berwibawa namun menderita.

"Raka... Anakku... benarkah itu kau?"

Raka melangkah mendekati gerbang itu dengan air mata yang mulai mengalir. Ki Ageng Selo dan Dara berlari masuk ke aula, terengah-engah.

"Raka! Jangan masuk sekarang! Energinya terlalu tidak stabil!" teriak Ki Ageng.

Namun Raka tidak peduli. Ia menatap ke dalam dimensi itu dan melihat sosok pria yang sangat mirip dengannya, dirantai di tengah kehampaan bintang. Di belakang pria itu, sebuah bayangan raksasa dengan mata merah menyala mulai muncul," Dewa Barata."

"Ayah..." bisik Raka.

Tanpa menoleh lagi, Raka melompat masuk ke dalam gerbang dimensi tersebut.

Syuuuuutttt!

Cahaya perak menelan tubuhnya, dan Menara Hitam seketika meledak, menyisakan puing-puing yang membara di tengah kota.

Raka kini telah meninggalkan dunia manusia dan dewa terbuang. Ia menuju pusat kegelapan, di mana takdir sesungguhnya telah menanti.

Perang keluarga yang akan menentukan nasib seluruh alam semesta."

Rasa mual yang hebat menghantam perut Raka saat tubuhnya seolah ditarik ke dalam lubang jarum yang sangat kecil sebelum akhirnya dilemparkan ke sebuah hamparan kehampaan yang tak berujung."

Raka mendarat di atas permukaan yang terasa seperti kaca, namun gelap gulita. Tidak ada langit, tidak ada bumi. Hanya ada ribuan fragmen ingatan yang melayang-layang seperti debu di angkasa.

Huuufff..

Raka mencoba berdiri. Napasnya terasa berat, seolah udara di tempat ini terbuat dari cairan timah. Empat matahari di punggungnya berkedip-kedip tidak stabil, sementara Matahari Kelima di dahinya meredup.

"Tempat ini... menghisap energiku," gumam Raka. Setiap detik ia berada di sini, kekuatan saktinya terkuras oleh kegelapan yang lapar.

Dari kejauhan, ia melihat sosok ayahnya, Sang Hyang Jagat.

Pria itu tampak sangat besar, namun tubuhnya transparan, dirantai oleh tujuh rantai raksasa yang terhubung ke lubang hitam di atasnya. Di bawah kaki ayahnya, ribuan makhluk kerdil berkulit pucat tampak sedang menggerogoti aura sang penguasa yang sekarat.

Suara gigi-gigi kecil yang beradu dengan energi suci terdengar memuakkan.

"Ayah!" teriak Raka. Ia mencoba melesat terbang, namun tubuhnya terasa sangat berat.

"Jangan bergerak gegabah, Pendekar Kecil. Di sini, keinginanmu adalah musuhmu sendiri."

Raka berbalik dengan cepat.

Sring!...

Sebuah bayangan tipis muncul dari balik fragmen memori. Sosok itu perlahan memadat menjadi seorang wanita dengan kecantikan yang pucat dan dingin. Rambutnya berwarna perak panjang hingga ke tumit, dan ia hanya mengenakan balutan kain hitam yang melilit tubuhnya secara acak, menyisakan banyak kulit yang terekspos.

Matanya berwarna ungu kelam, tanpa pupil. "Namaku Nisala."

Aku adalah mantan panglima perang yang dibuang ke sini sebelum ayahmu dikurung," ucapnya dengan suara yang bergema di dalam kepala Raka.

Nisala mendekat. Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara. Saat ia berdiri di depan Raka, ia jauh lebih tinggi dari wanita-wanita yang pernah ditemui Raka.

Jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh dada Raka, tepat di atas tanda naga yang kini tampak kebiruan karena kedinginan.

"Tubuhmu sangat panas... sangat murni," bisik Nisala. "Tapi kau akan mati dalam hitungan jam jika tidak menyelaraskan dirimu dengan frekuensi kehampaan ini."

Penyatuan Sukma yang Dingin.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!