NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Labirin Rahasia dan Luka yang Bersemi

Pagi itu, Pesantren Al-Ikhlas terasa lebih mencekam daripada biasanya. Meskipun sinar matahari berusaha menembus celah-celah ventilasi kayu di ndalem, hawa dingin tetap terasa menusuk hingga ke tulang. Arini duduk di meja kecilnya, menatap secarik kertas misterius yang ia temukan kemarin. Kalimat “Ada rahasia yang sengaja dikubur oleh Kyai Ahmad” terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Zikri baru saja kembali dari masjid setelah memimpin pengajian fajar. Ia tampak lebih lelah dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan tentang malam-malam tanpa tidur yang diisi oleh mimpi buruk tentang ibunya.

"Zik," panggil Arini pelan. Ia menyembunyikan kertas itu di balik buku catatannya saat Zikri mendekat.

Zikri hanya bergumam, melempar pecinya ke atas kasur dan merebahkan diri dengan posisi tangan menutupi mata. "Said mengikutiku lagi sampai ke pintu kamar, Rin. Dia bahkan berdiri di sana selama lima menit sebelum akhirnya pergi. Abah benar-benar sudah tidak percaya padaku."

Arini berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dan mulai memijat pelipis Zikri dengan lembut.

"Kita harus bermain lebih cantik, Zik. Kalau mereka ingin kamu menjadi Gus yang sempurna, berikan mereka pertunjukan itu. Tapi di balik layar, kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Zikri membuka matanya, menatap Arini dengan tatapan yang dalam. "Apa maksudmu?"

Arini ragu sejenak, namun ia tahu ia tidak bisa menyimpan ini sendiri. Ia mengeluarkan kertas itu. "Aku menemukan ini semalam. Seseorang ingin kita ke perpustakaan tua di gedung belakang. Ada sesuatu tentang Ummi Fatimah."

Rahang Zikri mengeras seketika. Ia langsung terduduk tegak, menyambar kertas itu dari tangan Arini. Matanya membelalak saat membaca baris demi baris. "Perpustakaan tua?

Itu area yang sudah dilarang untuk dimasuki sejak Ummi meninggal. Abah bilang atapnya rapuh, tapi aku tahu itu cuma alasan."

"Kita pergi besok malam, seperti instruksi ini?" tanya Arini.

Zikri terdiam lama. "Ini bisa jadi jebakan Said. Tapi kalau ini benar... kalau ada sesuatu yang disembunyikan Abi soal kematian Ummi, aku harus tahu."

Siang harinya, Arini dan Zikri mulai menjalankan rencana "perubahan citra". Mereka muncul bersama di kantin pesantren, sebuah hal yang jarang terjadi. Zikri yang biasanya bersikap acuh tak acuh, kini mulai menyapa para santri junior. Ia bahkan duduk bersama mereka, mendengarkan keluhan tentang hafalan yang sulit.

"Gus Zikri ternyata orangnya asyik ya, Mbak," bisik salah seorang santriwati pada Arini saat mereka sedang mencuci piring di dapur umum.

Arini tersenyum tipis. "Gus Zikri memang punya cara sendiri untuk peduli."

Namun, di balik senyuman itu, mata Arini terus memantau pergerakan Kang Said. Pria itu tampak berdiri di kejauhan, memegang HT dan sesekali berbicara dengan nada rendah.

Pengintaian ini bukan lagi sekadar prosedur keamanan; ini terasa seperti perburuan.

Ketegangan mencapai puncaknya saat makan malam keluarga. Kyai Ahmad tampak memperhatikan cara Zikri berbicara dan bersikap.

"Abah senang melihatmu mulai aktif, Zikri," ujar Kyai Ahmad dengan nada datar namun penuh selidik. "Tapi ingat, perubahan yang mendadak seringkali hanyalah topeng. Abah harap ini bukan bagian dari rencana lainmu untuk kabur dari tanggung jawab."

Zikri mengepalkan tangannya di bawah meja, namun Arini segera menyentuh lututnya, memberi tanda untuk tetap tenang.

"Bukan plans untuk kabur, Bah," jawab Zikri dengan suara yang ia usahakan tetap rendah hati. "Hanya menyadari bahwa Arini benar—bahwa lari tidak akan menyelesaikan masalah."

Kyai Ahmad hanya mengangguk, namun tatapannya tetap tidak melembut. Bagi sang Kyai, Zikri adalah sebuah proyek kegagalan yang sedang ia coba perbaiki dengan tangan besi.

Malam yang dijanjikan tiba. Jam menunjukkan pukul 23:30. Seluruh pesantren sudah sunyi, hanya suara jangkrik yang saling bersahutan. Zikri dan Arini keluar dari kamar melalui jendela yang sudah mereka beri pelumas agar tidak berdecit.

Mereka bergerak seperti bayangan, menghindari lampu-lampu taman yang dijaga oleh santri piket. Perpustakaan tua itu terletak di ujung paling belakang kompleks, sebuah bangunan kayu yang sudah menghitam dimakan usia dan tertutup tanaman merambat.

Zikri mengeluarkan kunci duplikat yang ia buat bertahun-tahun lalu. Dengan tangan gemetar, ia membuka gembok yang sudah berkarat itu.

Kriek...

pintu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma kertas lembap dan debu yang menyesakkan.

Di dalam, ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak tinggi yang bukunya sudah mulai hancur. Zikri menyalakan senter kecil, mengarahkannya ke sudut-sudut ruangan.

"Cari kotak atau laci yang tampak paling bersih," bisik Arini.

Setelah hampir setengah jam mencari di tengah kegelapan, Arini menemukan sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kitab-kitab tua. Lemari itu tidak terkunci. Di dalamnya, terdapat sebuah map plastik berwarna biru.

Zikri membukanya dengan napas tertahan. Isinya adalah rekam medis asli dari rumah sakit kota, bertanggal sepuluh tahun yang lalu.

"Ini... ini catatan medis Ummi," suara Zikri bergetar.

Ia membaca lembar demi lembar dengan teliti. Tiba-tiba, ia jatuh terduduk di lantai yang berdebu. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar senter.

"Ada apa, Zik?" Arini berlutut di sampingnya.

"Abi berbohong," bisik Zikri dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Dia bilang Ummi meninggal karena sakit mendadak yang tidak bisa diprediksi. Tapi di sini tertulis... Ummi didiagnosa depresi berat yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh drastis sebelum kankernya menyebar. Dan yang lebih gila lagi..."

Zikri menunjukkan sebuah surat rujukan dari psikiater yang sengaja tidak pernah ditandatangani oleh Kyai Ahmad. Surat itu berisi rekomendasi agar Ummi Fatimah dibawa keluar dari lingkungan pesantren untuk menjalani perawatan intensif di lingkungan yang berbeda agar jiwanya pulih.

"Abi menolak rujukan ini," desis Zikri, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dia tidak mau nama baik pesantren tercoreng karena punya istri yang 'sakit jiwa'. Dia lebih memilih membiarkan Ummi membusuk di dalam kamar ndalem daripada membiarkan dunia tahu kalau pesantrennya tidak bisa memberikan ketenangan bagi istrinya sendiri."

Arini menutup mulutnya dengan tangan, merasa mual. Jadi, alasan Kyai Ahmad melarang Zikri pulang saat itu bukan hanya soal hafalan, tapi karena beliau sedang menyembunyikan kondisi Ummi yang sedang hancur di tangan egonya sendiri.

"Zikri, kita harus keluar dari sini sekarang," bisik Arini cemas. Ia mendengar suara langkah kaki dari luar bangunan.

Namun, saat mereka berbalik menuju pintu, cahaya lampu senter yang lebih besar menyinari mereka dari arah pintu masuk.

"Sudah saya duga kalian akan ke sini," suara berat Kang Said menggema di ruangan yang sunyi itu.

Said berdiri di sana dengan tiga orang anak buahnya. Ia tidak tampak marah, melainkan puas.

"Kyai Ahmad sudah menunggu di kantornya. Dan Gus, Anda baru saja membuktikan bahwa Anda memang tidak pernah layak memakai gelar itu."

Zikri berdiri, menyembunyikan map biru itu di balik bajunya. Ia menarik Arini ke belakang tubuhnya. "Gelar itu tidak pernah ada artinya bagiku, Said. Tapi kebenaran... kebenaran akan menghancurkan sistem busuk yang kalian jaga."

Mereka digiring menuju kantor Kyai Ahmad. Suasana di sana sangat tegang. Kyai Ahmad duduk di kursi kebesarannya, menatap mereka dengan tatapan dingin yang paling menakutkan yang pernah Arini lihat.

"Berikan apa yang kalian temukan di perpustakaan," perintah Kyai Ahmad.

Zikri tidak bergeming. "Kenapa, Bah? Takut kalau semua orang tahu bahwa Abah-lah yang sebenarnya membunuh Ummi?"

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zikri. Kyai Ahmad berdiri dengan wajah memerah karena marah. Arini berteriak kecil, mencoba menahan Zikri.

"Jangan pernah kamu sebut nama ibumu untuk menutupi kesalahanmu!" teriak Kyai Ahmad. "Apa yang Abah lakukan adalah demi kemaslahatan umat! Kamu tidak akan mengerti beban yang Abah pikul!"

"Umat tidak butuh pemimpin yang mengorbankan keluarganya sendiri untuk sebuah citra, Bah!" balas Zikri, mengabaikan rasa perih di pipinya.

Kyai Ahmad menatap Arini. "Dan kamu, Arini... Abah mengira kamu adalah penyelamat bagi anak ini. Ternyata kamu justru menjadi racun yang membantunya menggali lubang kuburnya sendiri."

Arini menatap balik Kyai Ahmad dengan keberanian yang belum pernah ia miliki sebelumnya. "Jika mencari kebenaran disebut racun, maka saya bangga menjadi racun itu, Bah. Zikri berhak tahu."

Kyai Ahmad kembali duduk, napasnya memburu. "Said, bawa mereka kembali ke kamar. Kunci dari luar. Dan mulai besok, tidak ada lagi akses bagi mereka untuk keluar dari ndalem. Zikri, kamu akan dikirim ke pesantren mitra di pelosok minggu depan. Tanpa Arini."

Hukuman itu jatuh seperti vonis mati. Dipisahkan?

Malam itu, di dalam kamar yang terkunci, Zikri dan Arini duduk bersandar di pintu yang tertutup rapat dari luar. Hubungan mereka yang baru saja mekar kini harus menghadapi badai yang paling dahsyat.

Zikri meraih tangan Arini, menggenggamnya begitu erat seolah-olah jika ia melepasnya sedikit saja, Arini akan hilang selamanya. "Rin... aku tidak akan membiarkan mereka membawaku pergi tanpamu."

"Kita akan lari, Zik?" tanya Arini ragu.

"Bukan lari," Zikri menatap Arini dengan tatapan tajam yang penuh tekad. "Kita akan melawan. Aku punya bukti sekarang. Aku punya kamu. Dan aku punya motor di gudang yang belum mereka temukan kuncinya."

Arini menyandarkan kepalanya di bahu Zikri. Ketakutan itu masih ada, namun di tengah kegelapan, cinta mereka justru terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Mereka tahu, besok akan menjadi hari yang menentukan. Apakah mereka akan hancur oleh tembok-tembok pesantren, ataukah mereka akan berhasil meruntuhkannya demi kebebasan mereka?

Di kejauhan, petir menyambar, menandakan hujan besar akan segera turun. Sebuah pertanda bahwa darah dan air mata akan segera membasahi tanah Al-Ikhlas.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!