NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan

"Kau sudah menyiapkan semua berkasnya?" Tanya Luca kepada Ruby yang berdiri di belakang mereka.

"Sudah, Tuan." Hana berusaha melepaskan cengkraman tangan Luca di pergelangannya.

"Tuan, sakit." Luca tak melepaskan, ia hanya melonggarkan cengkramannya.

Mereka keluar dari lift yang berada di lantai dasar. Beberapa pasang mata melihat Hana yang terlihat di seret oleh Luca.

Tatapan pria itu dingin, dengan langkah lebar dan mantap. Tubuhnya yang tinggi dengan bahu lebar membuatnya terlihat dominan.

Karyawan yang tak menyukai Hana terlihat tertawa mengejek mengira Hana mendapat hukuman dari bos mereka.

"Masuk!" Luca mendorong sedikit kasar ketika pintu mobil dibuka oleh sopir.

Hana terpaksa masuk lalu diikuti oleh Luca. Ruby duduk di sisi sopir.

Mobil melaju meninggalkan gedung pencakar langit itu.

"Tuan, saya menolak tawaran itu!"

"Kau tuli? Aku tak suka penolakan." Pandangan Luca menatap lurus ke depan.

"Saya tidak mau menjadi istri, Tuan!" Hana berteriak frustasi.

Kini ia sudah lelah, mengapa semua orang memaksakan kehendak mereka pada Hana? Apa salahnya selama ini?

"Kau tak bisa menolaknya, semua hutangmu sudah aku lunasi. Dan rumah ibumu sudah kutebus." Hana ternganga mendengar ucapan Luca yang dingin.

Kedua matanya sudah basah oleh air mata. Ia menggigit bibirnya dengan kuat.

"Anda terlalu ikut campur urusan pribadi saya."

"Aku sedang berbaik hati." Sahut Luca dengan santai.

"Saya tidak mengharapkan itu dari anda, Tuan Luca." Hana geram pada pria ini yang sesuka hati ikut campur urusannya.

"Tuhan menunjukku untuk membantumu, harusnya kau berterimakasih padaku, Hana." Luca gemas pada perempuan yang keras kepala ini.

Dirinya sudah menawarkan opsi yang mudah, akan tetapi terlalu rumit.

"Saya akan membayar hutang tersebut pada anda, Tuan."

"Kau tidak sanggup membayarnya walaupun bekerja padaku selama 20tahun."

"Hutang saya tidak selama itu untuk lunas."

"Kau mau tahu berapa semua hutang beserta rumah yang kutebus?" Hana diam menatap Luca dengan mata basah.

"Dua milyar." Hana membulatkan matanya mendengar nominal yang fantastis

"Tidak mungkin sebanyak itu!"

"Kau lupa, ayahmu berhutang dengan siapa?" Luca tersenyum sinis.

Hana terdiam menyadari jika hutang tersebut berbunga, namun tak mempercayai begitu saja saat mendengar semua total hutangnya.

"Anda pasti mengambil keuntungan."

Luca mengedikkan bahu asal.

Hana memijit keningnya, kenapa semakin rumit? Padahal dirinya sudah susah payah mencicil hutang-hutang sang ayah. Ia merasa perjuangannya beberapa tahun terbuang percuma.

Dengan hembusan napas kasar, ia menatap tajam Luca yang menunggu responnya.

"Baik, saya akan bekerja selama itu." Ucap Hana tegas.

Luca tak percaya dengan sikap keras kepala gadis yang bersamanya ini. Namun, Luca punya cara lain untuk menjerat gadis ini.

"Coba saja, tapi kau harus membayarnya setiap bulan sebanyak 20 juta." Hana semakin terkejut mendengar nominal yang diminta Luca.

Pria itu menambahkan bunga yang cukup besar setiap bulannya. Dia dan rentenir di kampungnya tak ada bedanya.

"Kau sanggup?" Hana terdiam. Luca merasa memegang kendali atas gadis itu.

"Saya akan membayarnya." Hana menatap Luca dengan mantap.

"Kau tak menyesal?" Luca merasa tak yakin dengan kemampuan Hana.

"Tidak. Dari pada harus menjadi istri, tuan." Jawab Hana spontan.

Luca cukup tersinggung dengan perkataan Hana.

"Apa maksudmu?" Sebelah alisnya terangkat.

"Tidak ada."

Luca mencengkram rahang Hana. Gadis itu meringis kesakitan.

"Kau menghinaku, hm?"

"Seharusnya kau bersyukur aku bersedia membantumu dari jeratan hutang yang mungkin tak pernah lunas itu." Luca melepaskan cengkramannya dengan kasar. Kepala gadis itu tertoleh ke kiri.

Rahangnya terasa perih akibat cengkraman Luca.

"Saya tidak pernah meminta bantuan anda, Tuan Luca." Hana menatap tajam Luca yang berang.

"Seharusnya kujadikan budak saja hingga kau mati dari pada menjadikan istriku dengan posisi yang terhormat."

"Kalau begitu, kenapa tak langsung anda bunuh saja? Saya sudah lelah dengan kalian semua!" Hana berteriak histeris. Ia menangis keras, batinnya sudah lelah. Ia merasa tak mempunyai hak atas dirinya sendiri.

"Kenapa kau berisik sekali." Luca mengorek telinga kirinya seolah gatal.

Hana tak menyahut. Ia menghapus kasar air mata yang masih mengalir deras.

Bibirnya terasa kaku, ia memilih menyandarkan kepalanya ke kaca menatap bangunan yang mereka lewati di balik jendela.

"Turunkan dia di depan." Sopir mengangguk menuruti perintah majikannya.

Hana yang sibuk dengan pikirannya tak mendengar ucapan Luca kepada sopir.

Mobil berhenti, Hana menoleh ke arah sopir.

"Kau bisa turun di sini." Hana yang tak mengerti hanya menampakkan raut bingung.

"Kau tuli?"

"Kenapa? Kita belum sampai."

Luca menampilkan smirknya.

"Batal. Sesuai dengan keinginanmu. Aku sudah seperti pengemis lalu kau masih ingin mendaftarkan pernikahan denganku? Turun."

Hana mengepalkan tangannya di atas lutut.

"Jangan lupa mencicilnya mulai bulan depan." Suara Luca terdengar kecewa sebelum Hana menutup pintu mobil.

Hana keluar dengan hati yang berat. Begitu malu ia diturunkan di tengah jalan seperti ini.

Ia berdiri di tepi jalan menatap mobil yang ditumpangi Luca melaju meninggalkannya seorang diri.

Hana menjalani hari-harinya dengan sibuk bekerja. Kini, ia bekerja satu minggu penuh di perusahaan B pada siang hari, lalu ia akan bekerja di bar pada malam harinya.

"Hana, kemarilah." Perempuan bernetra coklat bening itu mendekat ke arah Louis yang sedang berdiri di depan meja.

"Ya, Kak?" Louis berdehem pelan.

"Panggil aku Louis tanpa tambahan."

Ia terdiam ragu karena tak terbiasa memanggil orang yang lebih tua darinya hanya dengan nama.

"Baik, Lou..is." pria itu tersenyum kecil.

"Duduklah." Hana menurut.

Suasana bar yang kebetulan sepi membuat dirinya sedikit bernapas.

"Begini, aku menawarkan gaji yang lebih tinggi, apa kau tertarik?"

"Tentu. Tidak ada yang tak tertarik dengan gaji tinggi."

"Hmm.. Aku ragu kau mau melakukan pekerjaan ini."

"Jika bukan menjual tubuhku, aku mau." Louis mengerjap menatap Hana yang tanpa keraguan.

"Tidak. Aku tahu kau sangat menjaga dirimu. Hanya menemani seseorang melakukan perjalanan."

Hana menatap Louis dengan lekat.

"Ke mana?"

"Ke luar negeri."

"Apa dia tak punya asisten?"

"Itu bukan suatu pekerjaan. Dia akan berlibur."

"Hm? Aku tak mengerti, Louis."

"Menemani seseorang berlibur."

"Oh. Apa kau sudah merekomendasikan aku padanya?"

"Tentu. Dia tertarik padamu dan menanyakan tentangmu, Hana."

"Dia tahu tentangku?" Hana menunjuk dirinya sendiri.

Louis mengangguk.

"Dia pernah kemari dan melihatmu."

"Siapa dia?"

"Seorang pengusaha muda."

Hana terdiam sejenak.

"Aku belum pengalaman tentang hal ini."

Louis tersenyum, ia tahu Hana tak berpengalaman tentang hal ini. Kenalannya itu cukup gila memilih Hana sebagai partner liburannya kali ini.

"Ini mudah."

"Apa yang harus ku lakukan?"

"Kau hanya menemaninya berlibur selayaknya pasangan."

Kening Hana berkerut dalam.

"Tidur bersama?"

Louis mengangkat bahu asal.

"Jika kau mau."

"Aku tidak mau."

"Kau bisa membicarakan ini padanya."

"Aku ingin bertemu dengannya terlebih dahulu."

"Ya, akan kukatakan padanya."

"Aku kembali bekerja."

"Ya, lakukanlah."

Sudah beberapa pekan Luca tak mengusik Hana, tetapi tanpa gadis itu sadari, Ruby tetap mengawasinya dari jauh.

Asisten pribadi Luca tersebut diperintahkan untuk melaporkan kegiatan Hana sehari-hari pada Luca.

Pria itu sudah tiga hari bertolak ke negara asalnya untuk mengurus suatu pekerjaan ditemani oleh sang sekretaris.

Sekretaris pribadinya mencoba mengambil kesempatan di segala waktu senggang bosnya, mencoba menarik pria sexy itu ke atas ranjang.

Namun, Luca seperti tak tergoda olehnya. Pria tersebut memilih untuk menyewa wanita yang ada di klub malam untuk menemaninya minum.

Luca tidak berniat untuk melakukan sex bebas dengan sembarang wanita. Dirinya belum menemukan wanita yang mampu membuatnya bergairah.

Louis sudah mengatur pertemuan Hana dengan tamu yang tertarik pada karyawannya itu. Mereka akan bertemu di salah satu restoran yang berada di pinggiran kota.

Hana menuju tempat tersebut dengan berjalan kaki, tak terlalu jauh dari kost-nya.

Restoran yang cukup elit mengingat orang yang akan ditemuinya adalah seorang pengusaha kaya.

Langkahnya memasuki restoran yang berdekorasi mewah, seorang pelayan mengantarkannya ke sebuah ruangan yang lebih privasi.

Di sana terdapat seorang pria yang ia duga seumuran dengan Louis.

Pria itu memberi senyuman manis ketika Hana berdiri di pintu ruangan.

"Hai, Hana. Masuklah." Gadis itu sedikit tertegun ketika pria tampan ini mengingat dirinya.

Hana melangkah masuk dan menutup pintu. Ia duduk di hadapan pria yang mengenakan pakaian bermerk tersebut.

"Aku tak percaya kau tertarik pada rencanaku."

"Aku harus memastikannya terlebih dahulu."

Pria itu manggut-manggut. Ia sedikit terkesan pada Hana yang bersikap datar padanya. Tidak seperti perempuan lain yang sering ia temui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!