NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menginginkanmu

Gadis masih terpaku, matanya berkaca-kaca melihat ratusan orang yang membungkuk hormat padanya. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa malu, kagum, dan bahagia yang luar biasa.

Langit tersenyum melihat wajah tak percaya gadis itu. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala Gadis, lalu menggenggam tangan kecil itu erat-erat.

"Ayo, Ratu-ku... kita masuk," bisik Langit lembut di telinga Gadis.

Keduanya berjalan beriringan memasuki ruang tamu utama yang begitu luas dan mewah. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan cahaya lampu kristal yang bergantung megah di langit-langit.

"Bella," panggil Langit tanpa menoleh.

"Siap, Tuan?" sahut kepala pelayan itu sigap.

"Siapkan kamar utama yang paling besar untuk nyonya. Dan pastikan semua kebutuhan Nyonya Ratu tersedia lengkap. Pakaian, perhiasan, apapun yang dia butuhkan, harus ada dalam sekejap mata," perintah Langit tegas.

"Baik, Tuan. Segera saya kerjakan," jawab Bella lalu segera undur diri bersama staf lainnya untuk menjalankan tugas.

Kini tinggalah mereka berdua di ruangan yang luas itu. Gadis menatap sekeliling dengan takjub, lalu menunduk sedikit memainkan ujung jari tangannya.

"Om..." panggilnya pelan. "Aku... aku benar-benar nggak nyangka. Kemarin aku masih hidup susah, makan seadanya, terus tiba-tiba jadi Ratu begini. Rasanya kayak mimpi."

Langit tertawa kecil, lalu menarik pinggang Gadis hingga tubuh mereka menempel. Ia menatap manik mata gadis itu dalam-dalam.

"Itu karena kamu pantas mendapatkannya, Sayang," ucap Langit lembut. "Mulai sekarang, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi kelaparan, dan tidak ada yang berani menyakitimu. Di sini, kamu adalah ratu, dan aku adalah pengawal setiamu."

Gadis tersenyum lebar, menampakkan gigi gingsulnya. Ia memeluk erat pinggang pria itu, membenamkan wajahnya di dada bidang yang hangat, merasa aman dan terlindungi sepenuhnya.

Malam itu menjadi awal baru bagi hidupnya. Dari gadis yang tak berdaya, kini ia menjadi wanita paling beruntung di dunia yang dimiliki oleh seorang raja.

Tanpa menunggu lagi, Langit mendekatkan wajahnya dan menyatukan kedua bibir mereka.

Ciuman kali ini berbeda. Tidak ada paksaan, tidak ada rasa takut, hanya ada rasa cinta dan kerinduan yang mendalam. Mereka berciuman dengan sangat mesra, seolah dunia di sekitar mereka berhenti berputar.

Para pelayan yang sibuk berlalu-lalang membawa barang bawaan, mengatur dekorasi, atau bersiap melayani... hanyalah seperti angin lewat bagi mereka.

Mata mereka tertutup rapat, tenggelam dalam kehangatan satu sama lain, tak peduli siapa yang melihat atau apa yang terjadi di sekeliling. Di detik itu, di mata mereka berdua, hanya ada satu sama lain.

Memang bener ya, bagi yang jatuh cinta dunia serasa milik berdua yang lain mah ngontrak. Wkwkkw...

Ciuman itu semakin dalam, membawa mereka terhanyut dalam suasana romantis yang begitu pekat. Langit mengangkat tubuh mungil Gadis dengan mudah, membawanya berjalan menuju tangga utama tanpa melepaskan tautan bibir mereka sejenak pun.

Bella dan para pelayan lain hanya bisa saling pandang sambil menyunggingkan senyum tipis. Mereka paham betul, malam ini adalah malam milik Tuan dan Nyonya baru mereka. Dengan sigap mereka memberi jalan, membiarkan sang Raja dan Ratu menikmati malam pertama mereka dengan tenang.

Sampai di depan kamar utama yang begitu luas dan mewah, Langit menurunkan kaki Gadis perlahan. Ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, jari-jarinya mengusap lembut pipi yang merona.

"Mulai sekarang, ini rumahmu. Kamu aman, kamu bahagia," bisik Langit lembut.

Gadis mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca namun penuh binar bahagia. "Makasih ya, Om... udah mau jadi pahlawan buat aku."

Di tengah keheningan malam yang hanya diisi oleh desahan napas, Langit menatap manik mata gadis di hadapannya dalam-dalam. Suaranya terdengar berat dan parau, penuh dengan hasrat yang meledak-ledak namun tetap penuh rasa hormat.

"Aku menginginkanmu..." bisiknya lembut, meminta izin dengan nada yang membuat seluruh dunia Gadis seakan jungkir balik.

Jantung Gadis berdegup kencang bak genderang perang. Wajahnya memerah sempurna, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa cinta dan kepercayaan yang begitu besar. Ia tidak menarik diri, justru kedua tangannya perlahan melingkar memeluk leher pria itu, mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka saling bersentuhan.

Dengan suara lembut namun tegas, ia memberikan jawaban yang dinanti Langit.

"Ambil aku seluruhnya, Om... Aku milik Om sepenuhnya."

Langit kembali menyatukan bibir mereka dengan dahsyat, menuntut rasa dengan penuh cinta. Tangannya yang besar dan hangat bergerak perlahan, melepaskan satu per satu kain yang masih menyelimuti tubuh mulus gadis di hadapannya.

Di benak Langit, ingatan tentang malam pertama mereka berputar jelas. Ia tak pernah menyangka, takdir begitu lucu mempertemukan mereka kembali. Wanita yang kini berada di pelukannya, yang kesuciannya sedang ia nikmati sepenuhnya, adalah wanita yang sama yang pernah hadir mengisi malamnya dulu.

Desahan halus yang tertahan dari bibir Gadis justru menjadi bahan bakar yang membuat hasrat Langit semakin membara tak tertahan.

"Lepaskan sayang... jangan ditahan," bisik Langit parau di sela ciuman mereka. "Panggil namaku... biarkan dinding ini tahu siapa yang memilikimu."

"Om... aku mau..." lirih Gadis terbata-bata, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan.

"Bukan Om..." Langit menggeleng pelan, menatap manik mata itu dalam. "Langit... sayang, panggil aku, Langit."

Dan saat keduanya akhirnya mencapai puncak kenikmatan, menyatu dalam detik-detik penuh kebahagiaan, senyum puas terukir jelas di wajah Langit.

Rasanya... masih sama. Sempurna.

Meskipun ini adalah kali pertama mereka melakukannya dengan penuh kesadaran dan cinta, namun insting kuat yang dimiliki pria itu berkata jelas. Gadis adalah wanita yang suci, murni, dan belum pernah disentuh oleh siapa pun selain dirinya. Perasaan itu membuat Langit semakin mencintai dan merasa memiliki gadis itu seutuhnya.

***

Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, menerangi ruangan yang luas itu dengan lembut.

Perlahan kelopak mata Gadis bergetar, membuka perlahan menatap langit-langit kamar yang asing namun terasa begitu nyaman. Kepalanya masih sedikit pening, tubuhnya terasa lemas namun dipenuhi rasa hangat yang aneh.

Saat ia memalingkan wajah, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.

Di sana, tepat di hadapannya, Langit sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu menatapnya dengan senyuman paling manis yang pernah Gadis lihat. Senyuman yang hangat, lembut, dan penuh cinta, membuat pagi itu terasa semakin indah.

"Pagi, Cantik..." sapaan lembut itu lolos dari bibir tipis pria itu.

Gadis sontak teringat kejadian semalam. Wajahnya seketika memerah padam bak kepiting rebus. Dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang berkedip malu-malu.

"Pagi..." jawabnya lirih, suaranya terdengar sedikit serak akibat kelelahan semalam.

Langit terkekeh pelan melihat tingkah gadisnya yang menggemaskan. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut panjang yang berantakan itu dengan penuh kasih sayang.

"Gimana rasanya? Badan sakit?" tanya Langit perhatian, matanya tak lepas menatap wajah yang kini resmi menjadi miliknya sepenuhnya.

Gadis mengangguk kecil lalu menggeleng, masih belum berani menatap tajam. "Cuma... lemas dikit, Om..."

Namun, mendengar panggilan itu, kening Langit langsung berkerut dalam. Wajahnya menunjukkan ekspresi tak terima yang jelas.

"Hah? Masih Om?" gerutunya ketus.

Tanpa memberi waktu bagi Gadis untuk bereaksi, Langit dengan cepat mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat namun hangat tepat di bibir gadis itu.

Cup!

Gadis tersentak kaget, matanya membesar sempurna. Jantungnya seakan melejit lagi, padahal baru saja tenang.

"Udah dibilangin kan semalam?" bisik Langit di dekat wajahnya dengan nada menggoda namun tegas. "Panggil namaku, Langit. Atau Sayang, atau Apapun terserah kamu... tapi jangan 'Om' lagi. Rasanya kayak digamparin sama ponakan sendiri tau nggak sih?"

Gadis terkikik kecil, rasa malunya perlahan hilang digantikan rasa gemas yang meluap-luap. Ia memberanikan diri menatap manik mata hitam itu dalam-dalam.

"Iya... iya, Langit," ucapnya manis, menekankan setiap suku kata.

Mendengar namanya disebut begitu lembut dari bibir mungil itu, senyum Langit kembali mengembang lebar, menampakkan lesung pipi yang membuat Gadis kembali terpana dibuatnya.

"Nah... gitu dong. Baru enak didengarnya," puji Langit puas, lalu kembali menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. "Sekarang, tidur lagi ya. Istirahat dulu,"

Akhir kata So sweet

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!