NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

​"Iya, iya, hak paten," sahut Shafira sambil mencubit gemas dagu putrinya. "Makanya, karena tangki cintamu sudah penuh dari rumah ini, kamu punya cukup banyak untuk dibagikan ke sana. Anggap saja kamu sedang melakukan 'operasi' pada masa lalumu sendiri, Dokter Marsha."

​Marsha mendengus, namun pelukannya pada Erlan semakin erat. "Operasi itu biasanya pakai bius, Mi. Yang ini... rasanya sakitnya terasa nyata tanpa bius.”

​Keesokan paginya, suasana di lobi rumah sakit terasa lebih tegang dari biasanya bagi Marsha. Ia membawa tas kecil berisi pakaian ganti, sesuatu yang tidak biasanya ia bawa kecuali jika ia sedang ada jadwal double shift, langkah kakinya melambat saat mendekati koridor ruang tunggu itu.

​Mereka ada di sana. Tetap di tempat yang sama.

​Andreas Halvard berdiri lebih dulu saat melihat Marsha datang. Ia tidak memakai jas formal hari ini, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan yang nyata di wajahnya. Di sampingnya, Valerina tampak duduk dengan tangan yang saling bertautan, tampak sangat cemas.

​Marsha berhenti tepat di depan Andreas. Untuk pertama kalinya, ia tidak memalingkan wajah. Ia menatap langsung ke dalam mata pria yang menurut Erlan telah mengerahkan sekelompok mafia demi dirinya. Di mata itu, Marsha tidak melihat kekuasaan atau kekayaan, ia hanya melihat seorang ayah yang hancur sekaligus penuh syukur.

​"Aku..." Marsha berdehem, mencoba menguasai suaranya yang mendadak tercekat. "...Aku akan menginap di rumahmu malam ini."

​Keheningan seketika menyelimuti lorong itu.

​Valerina menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung merembes keluar, tubuh Andreas menegang sejenak, seolah ia baru saja mendengar sebuah keajaiban yang tidak berani ia impikan.

​"Satu malam," sambung Marsha cepat, suaranya kembali dingin namun sedikit bergetar. "Jangan berpikir ini adalah permintaan maaf atau pengakuan. Aku hanya ingin tahu seberapa besar 'rumah' yang kalian banggakan itu."

​Andreas tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, bibirnya gemetar. "Terima kasih, Marsha... Kamarmu... kamarmu tidak pernah kami ubah. Semuanya masih di sana.”

​Marsha melirik Valerina sekilas. Level kebencian itu masih ada, berdenyut di angka sembilan, membuat dadanya sesak. Namun, saat ia kembali menatap Andreas, ia teringat pelukan Erlan semalam.

​Jika pria ini berjuang sebegitu kerasnya mencariku, setidaknya aku harus tahu seperti apa rupa masa laluku sebelum dinding ini dibangun.

​"Selesaikan urusan kalian di sini," ucap Marsha profesional sambil kembali melangkah menuju ruang dokter. "Temui aku di lobi saat jam shift-ku selesai sore nanti."

​Sepanjang hari itu, Marsha bekerja dengan pikiran yang terbelah, antara pasien yang harus ia selamatkan dan potongan puzzle aslinya yang menunggu di sebuah rumah besar yang dulu ia sebut rumah.

Xabiru dan Valerina melihat senyuman itu muncul dari ayahnya selama 20 tahun, bahkan ayahnya tidak pernah tersenyum mereka ayah yang dingin ayah yang terluka, mengetahuinya putri kecilnya yang ia lindungi dan jaga dibuang oleh istrinya sendiri. Kecewa itu semakin dalam.

____

​Sore itu, mobil mewah keluarga Halvard membelah jalanan kota. Di dalam kabin yang sunyi, Marsha duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela. Andreas duduk di sampingnya, menjaga jarak dengan sangat hormat, namun Marsha bisa merasakan nafas ayahnya yang tidak teratur ada ketegangan luar biasa di sana.

​"Kita sampai," ucap Andreas lirih saat mobil memasuki gerbang sebuah kediaman megah.

​Saat pintu terbuka, Marsha tidak melihat rumah mewah itu sebagai istana. Baginya, ini adalah wilayah asing. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam lobi, ia merasakan tatapan Xabiru dan Valerina yang berdiri tak jauh dari sana.

​Xabiru menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. Selama dua dekade, ayahnya adalah pria yang dingin, sosok yang seolah terbuat dari batu dan luka yang tidak pernah sembuh. Tapi hari ini? Andreas tampak seperti pria yang baru saja menemukan kembali nyawanya, ada binar di matanya yang selama ini mati

​"Kamarmu... di lantai atas, Marsha. Mari, biar papah tunjukkan," Andreas menawarkan diri dengan nada yang hampir seperti memohon.

​Marsha mengikuti langkah ayahnya dalam diam. Saat pintu kayu besar di ujung lorong dibuka, Marsha seketika terpaku di ambang pintu.

​Nafasnya tertahan.

​Ini bukan kamar di London. Ini adalah kamar yang ada di dalam ingatan samar-samarnya di Indonesia. Warna dindingnya, letak jendela yang menghadap ke arah yang sama, bahkan jenis kelambu tempat tidurnya. Andreas telah merenovasi ruang ini dengan presisi yang gila semuanya dibuat identik agar Marsha tidak merasa asing. ​"papah mencoba mengingat setiap detailnya," suara Andreas terdengar serak. "Papah ingin saat kamu kembali, kamu tidak merasa kehilangan rumahmu.”

​Marsha melangkah masuk, jemarinya menyentuh permukaan meja belajar kayu yang terasa sangat akrab di bawah kulitnya. Di sudut ruangan, ada sebuah boneka tua yang sudah sedikit pudar warnanya, namun bersih tanpa debu.

​"Kenapa?" tanya Marsha tanpa menoleh. "Kenapa papah" Ia terhenti, lidahnya kelu saat tak sengaja menyebut panggilan itu. "Kenapa Anda melakukan ini semua?"

​Andreas mendekat satu langkah, namun berhenti tepat sebelum ia dianggap melanggar batas. "Karena sejak malam itu... sejak ibumu membuangmu, satu-satunya misiku di dunia ini adalah memastikan bahwa saat kamu pulang, kamu menemukan dunia yang sama dengan dunia yang kamu tinggalkan. Papah tidak ingin kamu merasa ditinggalkan olehku, Marsha.”

​Di luar kamar, Valerina berdiri mematung di balik tembok lorong. Ia mendengar setiap kata itu. Rasa bersalahnya menghantam seperti ombak besar. Ia melihat bagaimana Andreas, pria yang selama dua puluh tahun mengabaikan kebahagiaannya sendiri karena dendam dan luka, kini bisa tersenyum hanya karena melihat Marsha menyentuh meja belajar itu.

​Marsha membalikkan badan, matanya berkaca-kaca menatap replika masa kecilnya. "Ini bukan rumah sewa, kan?"

​"Bagi mereka, mungkin ya," jawab Andreas sambil menatap Marsha dengan kasih sayang yang meluap. "Tapi di ruangan ini, ini adalah duniamu. Dan aku adalah penjaganya yang telah gagal selama dua puluh tahun. Bolehkah papah menjagamu, setidaknya untuk malam ini saja?”

____

Keadaan di dalam rumah itu terasa semakin mencekam sekaligus mengharukan. Marsha berdiri di tengah kamar yang merupakan replika masa lalunya, menyadari bahwa setiap sudut ruangan ini adalah monumen penyesalan Andreas.

​Namun, kenyataan tentang Valerina tetap menjadi duri yang paling tajam. Valerina bukan sekadar kakak; dia adalah emas di mata Selena, sementara Marsha hanyalah debu yang harus dibuang. Fakta bahwa ibunya kini mendekam di penjara adalah satu-satunya keadilan yang tersisa, namun melihat Valerina tetap "diutamakan" selama bertahun-tahun membuat rasa benci di dada Marsha tetap berada di level sembilan.

​Di dapur, suasana menjadi sangat tidak biasa. Andreas Halvard pria yang bisa menggerakkan dunia bawah untuk mencari putrinya, kini sedang sibuk di balik konter dapur. Ia telah menggulung lengan kemeja hitamnya, memperlihatkan otot lengan yang kokoh namun tangannya bergerak dengan ketelitian yang luar biasa saat mengiris daging ayam.

​Ia tidak membiarkan koki rumah menyentuh masakan malam ini. Ia ingin aroma bumbu kacang yang sedang ia sangrai memenuhi setiap sudut rumah. Aroma itu adalah kode rahasia antara dia dan Marsha kecil.

​Marsha turun ke lantai bawah, langkahnya terhenti di ambang pintu dapur. Ia terpaku melihat pemandangan itu. Ayah kandungnya, sang penguasa yang dingin, kini berlumuran bumbu kacang. ​"Sate ayam?" suara Marsha terdengar datar, namun ada getaran halus di sana.

​Andreas menoleh, sebuah senyuman tipis yang tulus senyuman yang tak pernah dilihat Xabiru atau Valerina selama puluhan tahun muncul di wajahnya. "Bumbu kacangnya harus kental, seperti yang dulu sering kamu minta sebelum tidur. Ingat?"

​Marsha tidak menjawab. Ia justru beralih menatap Valerina yang berdiri di sudut ruang makan, tampak serba salah. Valerina, si anak emas. Si kakak yang selalu mendapatkan pelukan ibu saat Marsha dibuang ke tempat sampah takdir.

​"Kenapa dia masih di sini?" tanya Marsha tiba-tiba, suaranya sedingin es. Matanya tertuju pada Valerina, tapi pertanyaannya untuk Andreas.

​Andreas menghentikan gerakannya sejenak. Ia meletakkan pisau, lalu menatap Marsha dengan tatapan yang dalam. "Valerina dia sedang cuti, beberapa hari lagi kakakmu akan kembali ke indonesia untuk mengurus butik milik ibunya”

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!