NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak pernah dianggap

“Brum!”

Motor Xavero berhenti di minimarket yang berada di pinggir jalan. Ia turun dengan raut wajah lelah. Tanpa banyak gerakan, ia masuk ke dalam minimarket, langsung mengambil minuman dingin, lalu segera membayarnya.

Xavero duduk di kursi yang biasa disediakan minimarket. Rasa lelah masih jelas terpancar di wajahnya. Seharian bekerja sudah cukup menguras tenaganya, ditambah setiap kali pulang, ia harus menerima tatapan sinis dari orang-orang di rumah.

Xavero menatap langit.

“Ibu… Bapak… Xavero harus bagaimana?” ucapnya dalam hati.

Angin malam berhembus pelan, menyentuh wajah Xavero yang masih dipenuhi lelah. Lampu-lampu jalan berderet redup, seolah ikut meredam hiruk pikuk pikirannya.

Ia meneguk minuman di tangannya, dinginnya hanya sebentar meredakan sesak di dada.

Tatapannya masih terarah ke langit.

“Kalau kalian masih ada…” gumamnya lirih dalam hati, “mungkin aku nggak akan sejauh ini tersesat.”

Xavero tersenyum tipis, tapi pahit.

Bayangan masa lalu perlahan muncul, rumah kecil yang sederhana, tawa hangat, dan dua sosok yang selalu mendukungnya tanpa syarat.

Berbeda dengan sekarang.

Di tempat yang seharusnya jadi rumah… ia justru merasa asing.

Ia menunduk, menatap botol minumannya.

“Harus bertahan sampai kapan?” bisiknya pelan.

Setelah merasa sedikit tenang, Xavero bangkit dari duduknya dan kembali ke motornya. Ia mulai mengendarainya, lalu perlahan meninggalkan minimarket.

Di pertengahan jalan, motor Xavero melambat hingga akhirnya berhenti saat lampu merah menyala.

Ia menahan rem, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.

Saat ia menoleh ke kaca spion, matanya menyipit. Ia melihat seseorang di dalam mobil yang berada di belakangnya.

“Liora,” gumamnya saat menyadari istrinya berada di dalam mobil hitam itu, bersama seorang pria yang terlihat begitu akrab.

Tangannya mengepal, melihat istrinya bersama pria lain dengan kedekatan seperti itu. Di dalam mobil, Liora tampak tertawa lepas, tidak seperti saat bersamanya, ketika ia hanya memandangnya dengan sinis.

Lampu berubah hijau.

Klakson dari kendaraan di belakang langsung bersahutan, memaksa Xavero kembali ke kenyataan.

Ia terdiam sepersekian detik, menatap pantulan di kaca spion itu sekali lagi.

Lalu…

Gas motor ditarik pelan.

Xavero melaju ke depan, meninggalkan persimpangan dan pemandangan yang barusan menusuk dadanya.

Namun kali ini, rahangnya mengeras.

Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.

°°

“Dari mana kamu?”

Baru saja Liora memasuki kamar, ia sudah disambut dengan ucapan dingin dari suaminya. Namun, seperti biasa, Liora tidak merasa takut padanya.

“Bukan urusan kamu,” jawab Liora ketus, sambil menatap Xavero dengan sinis. Ia melangkah ke arah ranjang untuk menyimpan barang belanjaannya.

“Siapa laki-laki yang kamu temui hari ini?” ucap Xavero dengan nada dingin.

Liora yang tengah membersihkan make-up langsung menghentikan gerakannya, lalu menatap Xavero dengan tatapan sinis. “Itu teman aku.”

Xavero menatapnya tanpa berkedip, rahangnya masih mengeras.

“Teman?” ulangnya pelan, tapi ada tekanan di setiap katanya.

Liora berbalik sepenuhnya, menyilangkan tangan di dada. “Iya. Teman. Kenapa? Gak boleh?” balasnya menantang.

Beberapa detik hening.

Xavero melangkah mendekat satu langkah. Tidak cepat, tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit.

“Teman yang bikin kamu ketawa kayak gitu?” tanyanya lagi, suaranya tetap rendah… tapi jauh lebih dingin.

Liora tersenyum tipis, sinis.

“Setidaknya dia tahu bagaimana caranya bikin aku bahagia,” ucapnya santai. “Nggak kayak kamu.”

Kalimat itu menusuk tepat.

Xavero terdiam. Untuk sesaat, tidak ada yang keluar dari mulutnya.

Liora kembali membalikkan badan, melanjutkan membersihkan make-up seolah percakapan itu tidak penting.

“Kamu jangan terlalu berlebihan,” lanjutnya ringan. “Jangan sok jadi suami yang peduli. Dari awal juga kita nggak pernah benar-benar jadi pasangan.”

Xavero menatap punggungnya.

Tatapannya berubah.

Bukan lagi hanya sakit, tapi mulai dingin.

“Aku nggak peduli kamu anggap aku apa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, datar. “Tapi selama status kita masih suami istri…”

Liora berhenti.

“Aku tetap punya hak buat tahu.”

Liora perlahan menoleh. Tatapannya tajam, tapi kali ini ada sedikit rasa tidak nyaman yang terselip.

“Dan kamu juga punya kewajiban,” lanjut Xavero. “Setidaknya, jaga sikap.”

Beberapa detik yang terasa panjang.

Liora terkekeh pelan, tapi kali ini tawanya terdengar lebih tipis.

“Wah,” ucapnya sambil mengangkat alis. “Baru kali ini kamu berani ngomong kayak gitu.”

Ia melangkah mendekat, menatap Xavero tepat di depan wajahnya.

“Sayangnya…” bisiknya pelan, menusuk. “Aku gak pernah anggap kamu cukup penting buat aku jaga apa pun.”

Xavero tidak mundur.

“Liora, bisa tidak kamu menganggap aku itu suamimu?”

Liora melipat tangannya, menatap rendah Xavero. “Sayangnya tidak! Buat aku, kamu adalah kotoran yang merusak masa depanku.”

Tangan Xavero mulai terkepal. Ia menatap tajam Liora. “Aku tidak pernah merusak masa depan kamu! Kita menikah karena warga itu, ingat? Papa juga setuju,” ucapnya dengan nada tegas.

“Dan kamu juga harus ingat, Papa setuju karena demi nama baik Mahendra!” ucap Liora.

Xavero terdiam.

Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak.

“Nama baik…” ulangnya pelan, hampir seperti bergumam.

Liora mendengus, memalingkan wajah. “Jadi jangan pernah merasa kamu punya tempat di sini. Kamu cuma… kesalahan yang terpaksa kami tutupi.”

Kalimat itu jatuh tanpa ragu.

Dan kali ini, Xavero tidak langsung menunduk.

Ia menatap Liora lurus.

“Tapi sampai sekarang… aku tetap bertahan,” ucapnya pelan, suaranya lebih dalam dari sebelumnya. “Aku tetap berusaha jadi suami yang baik, walaupun kamu nggak pernah anggap aku ada.”

Liora terkekeh kecil. “Itu pilihan kamu. Bukan kewajibanku untuk menghargai.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!