NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Tamu Tak Diundang

Hari Senin pagi, Ratu akhirnya pamit pulang ke rumah utama. Suasana rumah yang sempat ramai dan hangat selama dua hari terakhir kembali hening dan dingin seperti sedia kala. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Entah itu hanya perasaan Kirana saja, atau memang kenyataannya, tembok tinggi di antara mereka terasa tidak setebal dulu.

Arga berangkat kerja seperti biasa. Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Kirana yang sedang berdiri di dekat pintu mengantarnya.

"Aku berangkat," ucapnya singkat.

"Hati-hati, Arga," jawab Kirana dengan senyum tipis, senyum yang tulus dan tidak dipaksa.

Arga mengangguk, lalu masuk ke mobil. Saat mobil melaju, pria itu menyandarkan kepalanya di kursi, tangan memijat pelipisnya. 'Gila, kenapa wajah wanita itu terus terbayang di kepalaku?' gerutunya dalam hati, berusaha menepis perasaan aneh yang mulai tumbuh.

Siang harinya, Kirana menghabiskan waktu dengan berkebun di halaman belakang. Ia merasa tenang saat berinteraksi dengan tanaman. Bi Sumi sibuk membersihkan rumah, sehingga Kirana merasa sendirian dan damai.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Sekitar pukul tiga sore, bel rumah berbunyi nyaring.

"Non, ada tamu!" seru Bi Sumi dari lobi depan dengan nada bingung.

Kirana segera berjalan ke ruang tamu. "Siapa, Bi?"

"Saya tidak tahu, Non. Beliau bilang teman Tuan Arga," jawab Bi Sumi.

Kirana mengerjap, lalu menata kerudungnya agar rapi. Ia berjalan mendekat, dan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri di ruang tamu.

Wanita itu sangat cantik, dengan gaya berpakaian yang sangat modis, seksi, dan terlihat mahal sekali. Rambutnya panjang tergerai, riasan wajahnya sempurna, dan ia membawa tas tangan bermerek yang sangat terkenal. Wanita itu terlihat seperti bintang film atau model kelas atas.

"Kamu..." wanita itu menatap Kirana dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sangat tajam dan sedikit meremehkan. "Kamu pasti Kirana, kan? Istri barunya Arga?"

Suaranya terdengar manja namun ada nada ketus di dalamnya. Kirana merasa tidak nyaman, namun ia tetap bersikap sopan.

"Iya, saya Kirana. Silakan duduk, Mbak. Siapa yang bisa saya bantu?"

Wanita itu tidak langsung duduk. Ia berjalan mondar-mandir mengelilingi ruang tamu, matanya mengamati setiap sudut rumah itu seolah sedang memeriksa wilayah kekuasaannya sendiri.

"Aku Natasha. Teman dekatnya Arga. Bahkan bisa dibilang... lebih dari teman," kata wanita itu dengan bangga, sambil tersenyum menyeringai melihat reaksi Kirana.

Jantung Kirana berdegup kencang. Lebih dari teman? Jadi ini wanita yang sering disebut dalam masa lalu Arga? Atau mungkin wanita yang sedang dekat dengan Arga sekarang?

"Oh... silakan duduk, Mbak Natasha," jawab Kirana berusaha tetap tenang, meski tangannya gemetar di balik roknya.

Mereka akhirnya duduk berhadapan. Natasha duduk dengan sikap yang sangat percaya diri, kaki disilangkan, sementara Kirana duduk dengan tertib dan sopan.

"Jujur ya, aku kaget banget tahu Arga nikah. Apalagi sama wanita sepertimu," ucap Natasha langsung tanpa basa-basi, matanya menatap tajam. "Kamu terlihat polos, sederhana, dan... biasa saja. Bukan tipe Arga sama sekali."

Kata-kata itu menusuk hati Kirana seperti jarum. Namun ia menelan rasa sakit itu.

"Mungkin selera Arga berubah," jawab Kirana pelan namun tegas.

Natasha tertawa kecil, suara tawanya terdengar sinis. "Berubah? Jangan bermimpi tinggi-tinggi, Sayang. Arga itu tidak pernah mencintai siapa pun kecuali dirinya sendiri. Pernikahan kalian ini pasti karena perintah orang tua atau karena bisnis kan? Aku tahu persis."

Kirana terdiam. Tidak bisa menyangkal karena memang itulah kenyataannya.

Melihat Kirana diam, Natasha semakin berani. Ia mendekatkan tubuhnya, berbisik pelan.

"Dengar ya, aku kasih tahu rahasia. Selama ini aku yang selalu ada di samping Arga. Aku yang menemaninya saat dia sedih, saat dia senang, saat dia butuh teman bicara. Rumah ini, bahkan kamar tidur di lantai bawah itu... aku juga sering masuk ke sana."

Natasha menyentuh meja dengan jarinya yang panjang bercat merah menyala. "Arga menikahimu hanya untuk formalitas. Untuk menutupi mulut orang-orang dan menyenangkan hati ibunya. Tapi hati dan tubuhnya... itu tetap milikku. Mengerti?"

Air mata mulai menggenang di mata Kirana. Rasanya perih sekali mendengar pengakuan itu. Jadi selama ini Arga memang punya wanita lain? Dan wanita itu bahkan berani datang ke rumahnya untuk menegaskan posisinya?

"Kalau Mbak Natasha datang hanya untuk mengatakan ini, sepertinya tidak perlu," jawab Kirana berusaha tegar, suaranya sedikit bergetar. "Saya tahu posisi saya di sini. Saya tidak pernah merebut apa pun yang bukan hak saya."

"Bagus kalau kamu sadar," Natasha tersenyum puas. "Jadi, jangan berharap lebih. Jangan coba-coba mengatur hidup Arga. Dan kalau suatu saat aku datang dan ingin bertemu Arga, kamu harus izinkan. Kita bisa berbagi, kan?"

Tepat saat itu, suara pintu utama terbuka.

"Aku pulang."

Suara berat dan familiar itu terdengar. Arga pulang lebih awal dari biasanya.

Seketika suasana berubah. Natasha langsung mengubah ekspresinya menjadi sangat manis dan ceria. Ia berdiri dan berlari kecil menyambut Arga.

"Sayang! Kamu pulang!" serunya dengan nada yang sangat berbeda, lalu berusaha memeluk lengan Arga.

Arga terkejut melihat kedatangan wanita itu. Wajahnya langsung berubah dingin dan kaku. Ia dengan halus namun tegas menepis tangan Natasha.

"Natasha? Ngapain kamu di sini?" tanya Arga dengan nada tidak senang.

"Aku kangen, dong. Aku mau ketemu kamu," jawab Natasha manja, tidak peduli dengan penolakan Arga. "Lagipula aku juga mau kenalan sama istri kamu nih. Tadi kita sudah ngobrol asik lho."

Arga menoleh cepat ke arah Kirana yang masih duduk di sofa. Wajah istrinya itu pucat, matanya merah dan berkaca-kaca, namun berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan mereka. Jantung Arga seakan berhenti berdetak sesaat. Ia tahu persis apa yang terjadi. Pasti Natasha sudah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Kirana.

Rasa marah tiba-tiba meledak di dada Arga. Bukan marah pada Kirana, tapi marah pada Natasha yang berani datang ke rumahnya dan mengganggu istrinya.

"Natasha," panggil Arga dengan suara rendah yang mengintimidasi. Tatapannya tajam menusuk. "Kamu pulang sekarang."

Natasha terlihat kaget. "Hah? Kenapa, Sayang? Aku baru saja datang nih. Kita kan mau ngobrol..."

"Aku bilang pulang!" bentak Arga keras, membuat Natasha dan Bi Sumi yang mengintip dari dapur sama-sama tersentak kaget. "Ini rumahku. Dan ini bukan tempat buat kamu seenaknya datang dan mengatur apa pun. Apalagi bicara sembarangan sama istriku!"

"Tapi... Arga..." Natasha mulai panik, wajahnya pucat. Ia tidak menyangka Arga akan membela wanita polos itu di hadapannya.

"Keluar!" tunjuk Arga ke arah pintu. "Dan jangan pernah kamu injakkan kaki ke rumah ini lagi tanpa izin dariku. Mengerti?!"

Natasha gemetar menahan marah dan malu. Ia menatap Kirana dengan tatapan penuh kebencian, seolah menyalahkan Kirana atas semua ini. Lalu dengan langkah berat, ia berbalik dan berjalan keluar rumah sambil membanting pintu keras-keras.

Hening.

Hanya tersisa suara napas Arga yang memburu karena emosi, dan Kirana yang masih mematung dengan air mata yang akhirnya jatuh menetes di pipinya.

Arga menoleh perlahan ke arah Kirana. Ia melihat wanita itu menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Hati Arga terasa diremas rasa bersalah yang sangat besar.

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Kirana.

"Kirana..." panggilnya pelan.

Kirana tidak menjawab. Ia buru-buru berdiri ingin pergi menjauh, ingin lari ke kamar dan mengunci diri agar tidak melihat wajah pria itu lagi. Rasanya sakit sekali mengetahui bahwa wanita sebaik Natasha ada di hidup Arga.

"Tunggu!" Arga menangkap pergelangan tangan Kirana, mencegahnya pergi.

"Lepaskan, Arga! Aku mau ke kamar!" seru Kirana berusaha melepaskan tangannya, suaranya pecah karena tangis. "Biarkan aku sendiri!"

"Tidak!" Arga justru menarik tangan itu lebih kuat, hingga tubuh Kirana terbawa dan terpaku di hadapannya. "Dengar aku dulu! Jangan pergi!"

"Apa lagi yang mau dibicarakan?!" Kirana akhirnya mendongak, menatap Arga dengan mata yang basah dan merah. "Sudah jelas kan? Dia wanita yang kamu sayang! Dia yang selalu ada buat kamu! Kenapa kamu nikah sama aku kalau hatimu sama dia?! Sakit, Arga! Sangat sakit!"

Teriakan itu keluar begitu saja. Pertama kalinya Kirana meledak dan menunjukkan emosinya di depan Arga.

Arga terpaku. Ia melihat betapa hancurnya wajah istrinya. Rasa bersalah itu semakin menggunung.

"Dia bukan siapa-siapa, Kirana," jawab Arga lembut, sangat lembut, berbeda dengan nada galak tadi pada Natasha. Matanya menatap dalam ke mata Kirana. "Natasha itu masa lalu. Dan dia tidak berarti apa-apa buatku sekarang."

"Boong! Dia bilang dia lebih dari teman! Dia bilang kamu miliknya!" tangis Kirana semakin keras.

"Dan kamu percaya omongannya?" Arga menghela napas panjang, lalu perlahan, dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangannya dan mengusap air mata di pipi halus itu menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu hangat dan lembut.

"Kirana... dengarkan aku baik-baik," ucap Arga pelan, tatapannya serius dan tulus. "Aku tidak menyangkal kalau dulu aku dekat sama dia. Tapi itu dulu. Sekarang... aku sudah menikah. Dan kamu adalah istriku. Satu-satunya wanita yang sah dan berhak ada di sini, di rumah ini, dan di hatiku."

Kalimat terakhir itu membuat tangisan Kirana terhenti sejenak. Ia menatap Arga tak percaya.

"Benarkah...?" bisiknya ragu.

"Ya," Arga mengangguk mantap. "Maafkan aku. Maaf karena kamu harus mendengar hal menyakitkan itu. Maaf karena aku tidak bisa menjagamu lebih baik dari tadi. Tapi percayalah, posisimu tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk Natasha."

Untuk pertama kalinya, Arga Wijaya meminta maaf dengan tulus. Dan untuk pertama kalinya juga, ia menyentuh wajah wanita itu dengan penuh kasih sayang, bukan karena paksaan atau karena sedang bermimpi.

Di ruang tamu yang hening itu, di antara sisa-sisa kemarahan dan air mata, benih-benih kepercayaan itu mulai tumbuh kembali, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!