NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 6 - PANGGILAN HUTAN

...Kadang yang paling menakutkan bukanlah apa yang mengejarmu......

......melainkan apa yang memilih untuk membiarkanmu pergi....

...⚙⚙⚙...

Langkah mereka cepat. Bram berjalan di barisan paling depan. Di tangan kirinya, ia mencengkeram kepala Nightclaw Stalker. Cairan hitam pekat, kental dan berbau amis, menetes perlahan dari leher monster itu, meninggalkan jejak bercak gelap di atas tanah yang tertutup daun busuk.

Di belakangnya, Rogan melangkah dengan bahu sedikit condong, dengan crossbow mekanisnya yang masih siaga. Tangan lainnya menggenggam potongan lengan Nightclaw, cakar-cakarnya yang melengkung tampak tajam meski telah terpisah dari tubuhnya.

Liora mengikuti di posisi paling belakang. Di tangannya, seekor burung hutan kecil terikat rapi, jauh berbeda dengan trophy mengerikan yang dibawa kedua rekannya.

Bram melirik ke belakang sekali, sebelum akhirnya berhenti dan menoleh sepenuhnya dengan alis berkerut dalam. “...Liora,” ucapnya, suaranya rendah namun penuh keheranan. “Apa itu?”

Liora mengangkat burung di tangannya tanpa mengubah ekspresi datarnya. “Makan pagi.”

Rogan menoleh sekilas. “Kau serius?”

“Serius.” Liora mengangguk kecil. “Aku tidak mau besok bangun dengan perut kosong hanya karena kalian sibuk hampir mati di hutan.“

Bram mematung sejenak, menatap kepala monster di tangannya, lalu beralih pada burung kecil di tangan Liora. “Kita baru saja hampir dimakan kawanan Nightclaw.”

“Dan sekarang kita pulang dengan makanan,” balas Liora datar. “Menurutku itu efisien.”

Bram menghela napas panjang. “Aku bawa bukti ancaman.”

Rogan mengangkat kepalanya sedikit. “Aku juga.”

Keduanya menatap Liora.

Liora menatap balik tanpa rasa bersalah.

“...Aku bawa sarapan.”

Rogan menangkupkan tangan di wajahnya sejenak, antara ingin tertawa atau mengumpat. “Aku tidak tahu harus bangga dengan ketenanganmu atau khawatir dengan kewarasanmu.”

“Dua-duanya,” jawab Liora ringan sembari melangkah melewati mereka.

Bram menggeleng pelan, sudut bibirnya sempat tertarik tipis sebelum ia kembali memasang wajah seriusnya sebagai penjaga senior. Mereka melanjutkan perjalanan, namun kali ini suasana berubah menjadi lebih berat.

Hutan di sekitar mereka terasa berubah. Kabut masih menggantung di antara batang-batang pohon, tapi kini terasa lebih tebal, lebih diam. Tidak ada suara serangga. Tidak ada gesekan daun.

Liora menoleh ke belakang, matanya menyapu kegelapan di antara pepohonan. Kekosongan itu justru membuatnya tidak tenang.

“Kita tidak seharusnya pergi begitu saja,” ucapnya dengan nada yang lebih serius.

Bram tidak memperlambat langkahnya. “Kita tidak pergi. Kita mundur.”

“Bagiku itu hal yang sama.”

“Tidak,” tegas Bram, suaranya membelah keheningan. “Jika desa ini terkejut oleh serangan tanpa peringatan, itu adalah kegagalan kita. Kita membawa informasi, Liora. Itu senjata yang lebih berharga daripada berdiri di sana sampai lelah.”

Rogan mengangkat crossbow-nya sedikit lebih tinggi, jemarinya tetap berada di dekat tuas pengunci. “Kalau kita mati di sana,” katanya tenang, “kita tidak membantu siapa pun.”

Liora menghela napas panjang, merasakan dinginnya udara malam. “Aku hanya tidak suka berhadapan dengan sesuatu yang tidak kupahami sepenuhnya.”

“Kita akan tahu,” jawab Bram. “Dengan cara yang tidak membunuh kita lebih dulu.”

Sunyi kembali menjajah perjalanan mereka. Tiga langkah dengan ritme berbeda, namun menuju satu arah yang sama. Di kejauhan, cahaya pucat dari luar batas hutan mulai menembus lapisan kabut. Udara terasa bergeser, menjadi sedikit lebih hangat dan berbau asap cerobong desa yang samar.

Desa Brakenford menyambut mereka dengan kehangatan yang terasa asing. Lampu-lampu minyak menyala di sepanjang jalan. Suara percakapan warga terdengar samar. Anak-anak masih berlarian di antara rumah kayu, tertawa tanpa beban.

Langkah Bram tidak berhenti. Namun beberapa orang mulai menoleh. Seorang pria tua yang sedang menutup warungnya terdiam saat melihat apa yang Bram bawa. Seorang ibu menarik anaknya sedikit lebih dekat. Anak kecil yang sedang bermain berhenti, menatap dengan mata lebar.

Rogan bisa merasakan perubahan itu. Aura yang mereka bawa masuk tidak cocok dengan desa yang damai ini.

Seorang penjaga di dekat gerbang melihat Bram. Tubuhnya langsung menegang. “Bram?”

Bram tidak menjawab. Ia terus berjalan lurus. Menuju satu tempat, kantor kepala desa.

Pintu kayu besar itu terbuka tanpa perlu diketuk. Di dalam, suasana langsung berubah. Lebih dingin dan lebih sunyi menyelimuti seluruh ruangan.

Seorang pria berdiri di tengah ruangan. Tubuhnya besar dan tegap. Wajahnya keras seperti batu yang sudah terlalu sering menghadapi badai.

Garrick.

Ia tidak bertanya kenapa mereka datang. Tidak juga menegur. Matanya langsung jatuh pada kepala Nightclaw di tangan Bram. Lalu ke tangan Rogan. Terakhir, tatapan dingin itu mendarat pada Liora. Garrick terdiam sejenak. Fokusnya terpaku pada seekor burung hutan kecil yang terikat rapi di tangan putrinya.

“Hai Ayah,” Liora memecah dinginnya suasana.

“...Menarik.” ucap Garrick pelan.

Bram tidak membuang waktu. “Kawanan Nightclaw muncul di wilayah dekat desa.”

Rogan langsung menambahkan, suaranya lebih cepat namun tetap terkendali. “Jumlahnya tidak normal. Pola berburu mereka terorganisir. Mereka tidak langsung menyerang, mereka mengepung.”

Garrick tidak menyela. Ia hanya mendengar.

Liora melangkah satu langkah ke depan. “Ada sesuatu di dalam hutan...” suaranya rendah. “...yang membuat mereka mundur.”

Hening seketika menyergap ruangan itu. Cahaya lampu minyak yang bergetar memantulkan bayangan raksasa Garrick di dinding kayu.

“Kalau mereka mundur...” ucap Garrick pelan, suaranya berat. Matanya terangkat, menatap nyala api yang bergoyang. “...berarti kita sudah terlambat.”

Ruangan itu seketika terasa lebih berat. Tanpa berkata lagi, Garrick berbalik dengan gerakan sigap. “Bangunkan semua penjaga. Siapkan gerbang. Aktifkan semua mekanisme pertahanan buatan Eldric.”

Seorang penjaga langsung melesat keluar. Garrick menoleh sedikit, memberikan instruksi terakhir. “Semua warga yang mampu, kumpulkan di dalam perimeter. Kita tidak ambil risiko.”

Ia berhenti sebentar, lalu melirik ke arah mereka bertiga yang masih bersimbah darah monster. “Kalian sudah cukup untuk hari ini.”

Tatapannya berhenti di Bram, mengamati tombak mekanik yang masih ia genggam. “Kau sudah melakukan tugasmu.”

Beralih ke Rogan yang masih siaga dengan crossbow-nya. “Laporanmu jelas.”

Lalu terakhir ke Liora. Ia menatap putrinya sedikit lebih lama, mencari tanda kelelahan di balik mata hijau zamrudnya. “Dan kau... masih hidup.”

Liora tidak menjawab, namun jemarinya mengencang pada pegangan Valkyra. Garrick mengangguk kecil. “Kalian beristirahatlah.”

Tidak ada pilihan dalam nada itu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang bergeming.

Bram tetap berdiri kokoh, rahangnya mengeras. “Kami masih bisa bertarung,” ucapnya datar.

Rogan tidak membantah, ia hanya menggeser sedikit posisi kakinya, memastikan keseimbangan crossbow mekanisnya tetap terjaga. “Aku masih punya cukup panah,” tambahnya pelan.

Liora tetap diam, namun cara ia berdiri dengan senjata yang belum dilepas sudah cukup menjadi jawaban.

Garrick memperhatikan mereka satu per satu. Perlahan, ia menghela napas panjang. “Bukan soal bisa atau tidak.”

Ia melangkah melewati mereka, bahunya yang lebar nyaris menyentuh kusen pintu. Pintu kayu besar itu berderit berat saat ia mendorongnya terbuka. Udara malam Pegunungan Kharvendal langsung menerobos masuk, membawa hawa dingin yang menusuk.

Garrick berdiri di ambang pintu, ia menatap ke arah hutan utara, bukan sekadar melihat, tapi sedang mendengarkan getaran halus yang merambat dari kejauhan, mencari jejak langkah yang mungkin sedang bergerak menuju mereka.

Lama. Ia berdiri di sana terlalu lama dalam keheningan yang mencekam.

Bram sedikit mengernyit. “Paman...?”

Garrick tidak menoleh. “Belum,” ucapnya pelan.

“Apa?” tanya Rogan.

“Belum saatnya mereka menyerang.” Kalimat itu membuat udara terasa semakin berat.

Liora menyipitkan mata. “Mereka sudah sampai dekat desa.”

“Ya,” jawab Garrick.

“Lalu kenapa menunggu?”

Angin berhembus pelan dari arah hutan, membawa sesuatu. Bukan suara, bukan bau, melainkan sebuah rasa, sesuatu yang terasa salah.

Garrick akhirnya berbicara lagi. “Karena mereka tidak datang untuk berburu.” Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang, namun dampaknya terasa jauh lebih berat daripada bentakan sekalipun.

Rogan langsung menegang di tempat. “Lalu, untuk apa?”

Garrick sedikit memiringkan kepala. Matanya bergerak pelan ke sekeliling. “Mereka dipanggil.”

Suasana kembali sunyi. Bahkan suara napas sendiri terasa terlalu keras untuk didengar. Liora melangkah maju selangkah lebih dekat. “Dipanggil oleh apa?”

Garrick tidak segera memberikan jawaban. Ia bergerak perlahan, bukan menuju hutan seperti yang diperkirakan semua orang, melainkan berputar sedikit hingga tubuhnya menghadap ke sisi lain desa, ke arah utara, tepat di mana lokasi tambang berada.

Matanya menyipit tipis saat menatap kejauhan, seolah berusaha menembus batas jarak dan deretan bukit batu yang memisahkan pemukiman itu dengan area tambang yang gelap.

“Sesuatu di sana,” ucapnya akhirnya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. “Sesuatu yang lebih tua dari semua ini.”

Tidak ada yang menyanggah. Ucapan itu tidak terdengar seperti sekadar dugaan atau rasa takut, melainkan sebuah kesimpulan yang sudah pasti.

Liora mengerutkan kening dalam-dalam. “Tambang itu masih aktif. Para penambang masih bekerja di sana setiap hari.”

Garrick tidak langsung menjawab. “Justru itu yang membuatnya berbahaya,” ucapnya akhirnya pelan.

Rogan mengernyit. “Berbahaya bagaimana? Tambang itu terbuka. Tidak ada lorong bawah tanah yang bisa menyembunyikan sesuatu sebesar itu.”

Garrick menggeleng tipis. “Yang kau lihat hanya permukaannya.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat udara terasa lebih berat. “Tambang itu digali terlalu dalam... dan terlalu lama.”

Liora tetap menatap ke arah bukit batu di kejauhan, tempat tambang itu berada. Kali ini ia tidak sekadar melihat. Ia merasakannya, seperti sesuatu yang hidup. “...itu bukan sekadar panggilan,” bisiknya.

Bram langsung menoleh. “Apa maksudmu?”

Liora tidak langsung menjawab. Matanya menyipit, mencoba menangkap sesuatu yang tidak bisa dilihat. “...lebih seperti tarikan,” lanjutnya pelan. “Seolah-olah semua makhluk di hutan ini ditarik ke satu titik.”

Rogan menghela napas pendek. “Makhluk buas tidak bergerak seperti itu tanpa sebab.”

“Benar,” sahut Garrick. Kali ini ia menatap lurus ke arah tambang. Tatapan itu bukan lagi penuh dugaan, melainkan kepastian. “...karena itu bukan sekadar makhluk liar.”

Angin berhenti sejenak, seolah dunia ikut menahan napas. Garrick melanjutkan, lebih pelan, “yang berdiri di tengah tambang itu bukan sekadar alat.”

Liora hanya menatap, tanpa berkedip. “Astraeus?” Nama itu jatuh pelan. Namun dampaknya jauh lebih berat daripada raungan di hutan tadi.

Bram membeku.

Rogan tidak bergerak.

“Raksasa tambang buatan Eldric,” lanjut Garrick.

“Mesin yang disembunyikan, yang seharusnya hanya digunakan untuk menggali bukan untuk bangun sendiri.”

“Titan... Gear?” tanya Bram.

Rogan menelan ludah. “Itu... cuma cerita lama.”

“Tidak,” potong Garrick. “Aku pernah melihatnya.”

Kalimat itu membuat semua bantahan mati sebelum sempat muncul.

Bram mempererat genggamannya pada tombak. “Kalau benda seperti itu benar-benar aktif...”

“Ia belum aktif sepenuhnya,” kata Garrick cepat. Namun nada suaranya tidak membawa kelegaan.

Justru sebaliknya. “Ia menunggu sesuatu, atau mungkin... seseorang.”

Liora refleks merespon. “Arven?”

Garrick tersenyum tipis hampir tidak terlihat, tapi wajahnya masih menampakkan raut serius.

Rogan sedikit mengangkat dagunya. “Dan kalau itu benar-benar bangun?”

Garrick diam sejenak. Tatapannya tidak lepas dari tambang. “...kalau itu bangun,” ucapnya pelan,

“yang kita hadapi bukan lagi kawanan monster.”

Ia berhenti sebentar. Angin kembali berhembus namun kali ini terasa lebih dingin. “...tapi sesuatu yang bisa memanggil seluruh hutan untuk datang kepadanya.”

Angin berhenti. Tidak ada lagi suara dedaunan, tidak ada bunyi langkah kaki, bahkan suara napas pun terasa jelas karena hanya milik mereka yang terdengar.

Lalu sesuatu bergetar. Bukan tanah yang berguncang. Bukan udara yang berdesir. Tapi sesuatu yang berasal dari tempat yang jauh lebih dalam dari itu.

Garrick diam di tempat, tubuhnya tak bergerak sedikit pun, namun matanya perlahan menyipit rapat. “Sudah mulai,” gumamnya pelan.

“Mulai apa?” tanya Bram cepat, suaranya terdengar lebih tajam dari biasanya.

Tidak ada jawaban.

Jauh ke arah tambang, sebuah cahaya biru redup menyala sekejap. Letaknya sangat jauh, namun terlihat dengan jelas oleh mata mereka. Hanya berlangsung satu detik sebelum akhirnya padam kembali dalam kegelapan. Namun waktu sesingkat itu sudah cukup membuat detak jantung semua orang berpacu dengan cara yang tidak wajar.

Rogan menahan napasnya. “Kalian lihat itu...?”

Tak ada yang perlu menjawab. Karena semuanya sudah menyaksikannya sendiri.

Liora tidak berkedip sama sekali sejak cahaya itu muncul. Pandangannya terkunci kuat pada titik tempat cahaya itu tadi terlihat. Sesuatu sedang bangun. Bergerak dari tidur panjangnya dengan sangat lambat.

Yang membuatnya merinding sekujur tubuh, rasa itu seolah datang langsung menuju ke sini. Dan lebih dari itu ia seperti mencari seseorang di antara banyaknya penduduk Brakenford.

Liora mempererat genggamannya pada gagang Valkyra yang dipegangnya. Malam ini ia sama sekali tidak punya keinginan untuk masuk ke dalam hutan yang gelap. Namun di sisi lain, ia juga tidak lagi merasa yakin bahwa desa tempat mereka berdiri ini masih cukup aman untuk dijadikan tempat berlindung.

Garrick akhirnya memutar tubuhnya menghadap mereka. Suaranya tetap datar seperti biasa, namun kali ini ada beban yang jauh lebih berat di setiap katanya.

“Besok,” katanya, “kita tidak lagi bicara soal 'jika'.” Ia menatap satu per satu wajah mereka, memastikan setiap kata sampai jelas ke dalam pikiran masing-masing. “...kita akan melihat apa yang benar-benar kita hadapi.”

“Dan apa yang benar-benar harus kita lindungi,” sambut Liora pelan.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Raihan
bagus cerita kak


bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
Alia Chans
lanjut👈
Almeera
hadir kak 🌹🌹
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!