NovelToon NovelToon
Pengasuh Sang Pewaris (Dia Tahu Segalanya)

Pengasuh Sang Pewaris (Dia Tahu Segalanya)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Ibu susu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: FR Nursy

Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.

Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.

Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.

Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?

Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?


Happy reading 💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Kesedihan Belum Usai

Deg.

Perkataan itu menggantung di dada Raznalira, sangat menyesakkan dadanya. Tidak ada jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Dia hanya terduduk lemah sambil memandang struk dan amplop pemberian wanita asing itu. Hatinya remuk, seolah dia sudah menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan menukarkannya dengan uang.

Air mata Raznalira kembali menetes, merenungi apa yang sudah ia lakukan hari ini. Apakah itu suatu kesalahan?

"Ya Rob....apa aku ini ibu yang kejam, sampai tega menyerahkan anakku begitu saja pada orang asing?" rasa bersalahnya kembali menyentil hatinya.

Seiring dengan rasa bersalahnya, dia menyadari jika tanpa wanita itu, jasad bayinya mungkin masih tertahan di rumah sakit.

Jika wanita itu tidak datang, kemungkinan besar bayinya tidak bisa diambil karena biaya rumah sakit belum dilunasi, tidak bisa dimakamkan dengan layak. Hal itu lebih menyakitkan hatinya.

"Maafkan Ibu, Nak. Tidak ada niat untuk menjual jasadmu. Ibu hanya ingin kamu dimakamkan secara layak itu saja," ujar Razna lirih sambil menghapus air mata dengan ujung hijabnya.

Keesokan harinya, Raznalira diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan sudah pulih. Dia mengurus kepulangannya sendiri, berusaha menjadi wanita mandiri. Harapannya menjadi seorang ibu tetap ia sandang tanpa ada bayi dalam pelukannya.

Raznalira bersiap meninggalkan rumah sakit tanpa dijemput suaminya. Hatinya masih terluka karena selama persalinan, suami yang dulu ia perjuangkan tidak ada di sampingnya.

"Bahkan sampai kepulangan pun, kamu tidak menjemputku Mas," lirihnya dalam hati.

Razna menghela nafasnya secara perlahan, memindai ruang perawatan yang telah memberinya harapan sekaligus kedukaan yang mendalam.

Langkah Razna terasa berat ketika berada diambang pintu ruang perawatan. Tangannya menggenggam tas kecil yang berisi baju kotor. Dia harus meninggalkan kenangan pahit yang masih tersisa di dalam ruangan tersebut.

Sesekali ia menoleh ke dalam ruangan, mengingat terakhir kali memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Entah apa yang akan ia katakan kepada suami dan mertuanya kalau bayi yang diharapkan sudah tidak ada.

Hijab yang dikenakan Razna berkibar lembut tertiup angin sore, menyapu wajah cantiknya. Dengan percaya diri dan semangat baru, dia harus memberanikan diri untuk berhadapan langsung dengan suaminya. Dia benar-benar perlu menyiapkan segala pertanyaan tentang bayinya yang sudah meninggal.

"Ya Allah, aku lupa menanyakan nama wanita itu..."

Razna tertegun. Dia tidak menyangka dirinya bisa begitu ceroboh hingga tidak mengetahui secara jelas nama orang yang telah menolongnya kemarin. Seharusnya Razna tidak begitu saja menyerahkan bayinya pada wanita itu tanpa ikut terlibat dalam proses pemakamannya. Kini, terlalu banyak hal yang Razna sesali.

Tidak banyak pertimbangan, Razna segera menghentikan angkot yang melintas di depan halte rumah sakit. Dengan langkah ragu namun pasti, Raznalira memutuskan untuk pergi ke TPU Griya Indah sore itu juga.

Langit jingga berpelangi, angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah. Seolah alam pun ikut merasakan kesedihannya.

Dengan bantuan petugas penjaga makam, ia melangkah menyusuri deretan nisan sambil mencari nama yang disebutkan wanita asing itu.

Petugas yang berjalan di sampingnya kemudian menunjuk ke arah makam yang masih baru.

“Di sana, Bu. Baru kemarin dimakamkan. Kemarin itu ada 2 orang yang meninggal. Satu bayi yang satu lagi seorang ibu, katanya sih si ibu baru melahirkan," jelas petugas memberi informasi.

"Terima kasih Pak," ucap Razna mengangguk.

Jantungnya berdegup kencang saat melihat dua pusara yang masih baru berdampingan. Bibirnya bergetar. Wajahnya terasa panas, kakinya terasa berat untuk melangkah. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk menghampirinya.

Kakinya berhenti tepat di sebuah makam kecil dengan tanah yang masih merah. Sebuah nisan sederhana tertancap, bertuliskan 'Alira Ayunda'

Air mata Raznalira langsung tumpah tanpa kompromi. Kakinya lemas. Ia berlutut di samping makam tersebut, tangannya gemetar menyentuh tanah yang masih basah.

“Alira sayang...” bisiknya lirih.

Razna tergugu di depan pusara. Tangisnya pecah dengan sendirinya.

“Ibu datang. Maafkan Ibu, sayang. Maafkan Ibu yang tidak bisa menjagamu. Maafkan Ibu yang tidak bisa hadir saat kau dimakamkan. Ibu tahu ibu salah." Bibirnya bergetar.

Dia menunduk, dahinya hampir menyentuh tanah basah itu. Tangannya menyisir gundukan tanah basah.

“Ibu terlalu egois. Ibu begitu lemah. Ibu tidak punya apa-apa sampai harus menyerahkanmu kepada orang lain. Maafkan Ibu, Sayang.”

Semilir angin berhembus pelan, seolah mengusap kesedihannya yang tak pernah usai. Dia terdiam saat menyadari sesuatu, jemarinya menyentuh taburan bunga segar yang tersusun rapi diatas pusara. Di sisi nisan, terdapat botol kecil berisi air, seakan belum lama ini seseorang telah datang ke sana.

Raznalira mengangkat wajahnya, memindai sekeliling. Namun tak ada siapa pun di sana.

“Apakah wanita asing itu yang...?” gumamnya menggantung.

Perlahan, hatinya sedikit menghangat. Setidaknya masih ada orang yang peduli terhadapnya. Peduli terhadap bayinya. Dirinya semakin yakin bahwa wanita asing itu mulai menepati janjinya.

Beberapa menit kemudian datang seorang laki-laki berpakaian jas hitam menghampiri makam yang berada tepat di samping pusara Alira. Di tangannya tergenggam seikat bunga mawar yang masih segar.

Lelaki itu melangkah pelan, matanya menatap pusara dengan kesedihan. Wajahnya begitu teduh, namun tidak bisa disembunyikan, wajah itu menyimpan gurat kedukaan yang mendalam.

Raznalira menghapus air matanya dengan cepat. Dia berusaha untuk menenangkan diri, berusaha menyimpan kesedihannya. Tubuhnya sedikit bergeser, memberi ruang pada lelaki itu tanpa benar-benar menjauh dari tempat tersebut.

Tanpa mengeluarkan suara, lelaki itu berlutut di depan pusara istrinya. Dengan hati-hati, dia menaburkan bunga mawar di atas tanah yang masih terlihat merah. Gerakannya pelan, tatapannya sendu tertuju pada nisan yang tersemat nama Ayundia Adisti.

“Maaf aku datang terlambat. Bahkan saat kau sedang meregang nyawa, aku tidak ada di sampingmu. Tapi makasih ya, kamu sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Kata ibumu, jagoan kecil kita sangat mirip denganku. Dialah pewaris satu-satunya, darah daging kita. Sekali lagi aku minta maaf, sayang," lirihnya, nyaris tak terdengar.

Razna menunduk. Entah mengapa, hatinya ikut bergetar mendengar ucapan lelaki itu. Kejadiannya terasa begitu mirip dengan apa yang ia alami. Hanya saja wanita itu tidak tertolong. Razna memejamkan matanya, hatinya perih seolah ikut merasakan luka yang ditinggalkan seorang suami yang tak sempat berada di sisi istrinya.

"Kenapa sih seorang yang bernama suami tega meninggalkan istrinya berjuang sendiri saat melahirkan. Bahkan disaat detik-detik terakhirnya, seorang yang bernama suami tidak ada di sampingnya. Segitu pentingkah dunia pekerjaan sampai tidak sempat untuk menjenguk istri?" gumam Razna pelan.

Lelaki itu kemudian menarik napas panjang. Memindai sekitar yang hanya ada dia dan wanita yang belum ia kenal. Giginya bergemeletuk, rahangnya mengeras, seraya mengepalkan tangannya. Menatap tajam wanita satu-satunya yang ada di sana.

Lantas haruskah lelaki itu marah karena ucapan Razna yang begitu menohok?

1
Yuningsih Nining
👎mampooosh loe danara, bukti ada noh, mental mu mungkin langsung down kena tuh fakta, cardihlgan nya masih loe pk hahah serasa puas, iih dosa sebener nya ya ini sy begini tp kesel sm si danara
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Lahh niatan buruk mu ituhh nara
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
nahhh kembalikan aja dia.. fiadisitu kan sebagai tantenya firza bukan ibunya
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Nahh .. kecerobohan yg akan mengungkapkan kebenaran...
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pembohong, rasakan akibatnya 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
akhirnya ada bukti akurat 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tuh dengerin 😔
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
mampus luuu Danara semoga Rendra bisa membuka kebusukan adik iparnya sendiri yang membuat Finza jatuh dari atas tempat tidur biar sekalian diusir keluar dari rumah bahaya kali ada Danara didekat Finza bisa bisa dia lakukan aksi lanjutan 🤔
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
Rendra kau kau kan orang berada mumpung Danara ada di RS suruh orang pasang cctv di kamar Finza atau ditiap ruangan biar kau lihat sendiri kelakuan Danara 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Razna kebenaran pasti akan terungkap 😔
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Dasar Nara.. mulut mu kudu di lskbann.... SE enak yaaa bilang kyak gtu..
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...
Yuningsih Nining
Rendra gercep. lah pasang CCTV tersembunyi disekitaran kmr debay mu finza diam²Gak Razna bi surti aplg danara tau , biar ada kejelasan dari bertigaan itu mn yang bener, buat km jg ada tenang mungkin gas was?
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
Danara ini berbahaya keknya agak sakit jiwanya Razna harus waspada karena pasti masih akan ada rencana busuk lainnya yang akan dilakukannya 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
rencanamu gagal total 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu memang tidak tau diri,udah numpang belagu kayak nyonya besar 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😤
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
sabarr raz .. kebenaran pasti akan terungkap.. tetap jaga hati mu..
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
alangkah lebih baiknya kalo dipasang cctv dalam kamar Finza tanpa sepengetahuan siapakah biar Rendra tahu sendiri kebusukan kelicikan adik iparnya yang berusaha naik ranjang buat gantiin kakaknya 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ngaku" 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!