Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Ujian Kecil
Sore itu, langit Arvandor mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga yang perlahan memudar di balik barisan atap dan pepohonan. Cahaya matahari turun miring, menyapu area pelatihan luar dengan nuansa hangat yang menenangkan, meski suasana di dalamnya justru terasa lebih hidup dari biasanya. Kabar tentang pertarungan kecil yang terjadi sehari sebelumnya menyebar tanpa hambatan, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, membawa rasa penasaran yang sulit ditahan oleh para murid.
Nama Alverion Dastan kembali terdengar di antara percakapan mereka, kali ini tidak lagi disertai tawa yang terang-terangan meremehkan. Nada yang muncul lebih bercampur, antara ragu, penasaran, dan sedikit kehati-hatian yang sebelumnya tidak pernah ada. Perubahan itu halus, tetapi cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikan dengan saksama.
Alverion berdiri di salah satu sudut arena, mengenakan pakaian sederhana yang masih menyimpan bekas perjalanan dan latihan. Ia tidak berusaha menonjolkan diri, tetapi keberadaannya hari itu seperti menarik perhatian tanpa perlu usaha. Sorot matanya lebih tenang, tidak lagi gelisah seperti beberapa waktu lalu, dan setiap gerakannya terasa lebih terarah.
Beberapa murid berdiri berkelompok tidak jauh darinya, berbicara pelan sambil sesekali melirik.
“Katanya dia menang kemarin.”
“Hanya kebetulan mungkin.”
“Atau lawannya terlalu lemah.”
Bisikan itu tidak berusaha disembunyikan sepenuhnya, namun juga tidak cukup keras untuk disebut tantangan terbuka. Alverion menangkapnya, tetapi tidak memberi reaksi, seolah kata-kata itu tidak lagi memiliki bobot yang sama seperti dulu.
Ia memutar pergelangan tangannya perlahan, merasakan aliran energi yang kini lebih mudah dipanggil. Sensasinya tidak lagi kacau atau tersendat, melainkan mengalir mengikuti kendali pikirannya, meski masih belum sepenuhnya stabil. Ia memahami batasnya dengan cukup jelas, dan kesadaran itu justru membuatnya lebih berhati-hati dalam mengatur setiap gerakan.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah berlawanan, diikuti perubahan suasana yang perlahan terasa di sekitarnya. Percakapan yang tadinya menyebar mulai mereda, digantikan perhatian yang terpusat pada satu arah. Seorang pemuda tinggi dengan rambut cokelat gelap berjalan masuk ke area itu, diiringi dua orang yang tampak mengikuti tanpa banyak bicara.
Rhevan Calder.
Namanya cukup dikenal di kalangan murid luar, bukan karena status tertinggi, tetapi karena kemampuannya yang konsisten membuat orang lain enggan mencari masalah. Tatapannya langsung mengarah pada Alverion, seolah ia memang datang dengan tujuan yang sudah jelas sejak awal.
Ia berhenti beberapa langkah di depan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak maksudnya.
“Jadi ini orangnya.”
Alverion mengangkat pandangannya tanpa tergesa, menatap Rhevan dengan ekspresi datar yang tidak memberi banyak celah untuk dibaca. Ia tidak terlihat terintimidasi, tetapi juga tidak menunjukkan sikap menantang.
Rhevan menyilangkan tangan di dada, mengamati dari ujung kepala hingga kaki.
“Aku dengar kamu menang kemarin. Lumayan juga, untuk seseorang yang katanya sudah hancur.”
Beberapa murid mulai mendekat, membentuk lingkaran yang semakin rapat. Suasana yang tadinya biasa berubah menjadi lebih fokus, seolah mereka semua tahu bahwa sesuatu akan terjadi.
Alverion menghela napas pelan sebelum menjawab.
“Apa yang kamu inginkan?”
Rhevan tersenyum lebih lebar, lalu mengambil pedang kayu dari rak terdekat tanpa mengalihkan pandangannya.
“Sederhana. Aku ingin lihat apakah itu kebetulan, atau kamu memang berubah.”
Ia melempar pedang itu ke arah Alverion tanpa peringatan.
Alverion menangkapnya dengan satu tangan, gerakannya cepat dan mantap, cukup untuk membuat beberapa orang yang memperhatikan saling berpandangan. Genggamannya stabil, dan ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan beratnya.
Di dalam dirinya, kesadaran muncul dengan jelas bahwa lawan di depannya tidak bisa dianggap sama seperti sebelumnya. Tidak ada ruang untuk kesalahan yang terlalu besar, dan tidak ada jaminan ia bisa keluar dengan mudah.
Ia melangkah maju ke tengah arena, menempatkan dirinya pada posisi yang lebih terbuka. Rhevan mengikuti dengan santai, memutar pedang kayunya seolah ini hanya hiburan ringan baginya.
“Jangan terlalu cepat kalah. Aku ingin sedikit hiburan.”
Tawa kecil terdengar dari beberapa sisi, tetapi tidak sekeras sebelumnya. Ada keraguan yang mulai menyelinap di antara mereka.
Alverion tidak menjawab, ia hanya menyesuaikan posisi kakinya dan menurunkan pusat gravitasi tubuhnya. Napasnya diatur dengan perlahan, sementara aliran energi di dalam tubuhnya mulai bergerak mengikuti ritme yang ia bangun sendiri.
Tanpa aba-aba, Rhevan bergerak lebih dulu. Serangannya cepat dan langsung mengarah ke bahu, memanfaatkan jarak yang masih belum sepenuhnya stabil.
Alverion mengangkat pedangnya untuk menangkis, dan benturan pertama terasa jauh lebih berat dari yang ia alami sebelumnya. Getaran menjalar hingga ke pergelangan tangannya, memaksanya mundur setengah langkah untuk menjaga keseimbangan.
Rhevan tersenyum tipis, jelas menangkap reaksi itu.
“Sudah terlihat batasnya.”
Serangan berikutnya datang tanpa jeda, bertubi-tubi dan semakin menekan. Alverion bertahan, menangkis dan menghindar semampunya, tetapi setiap benturan perlahan menguras tenaganya. Tubuhnya dipaksa bergerak terus, tanpa banyak kesempatan untuk membalas.
Suara penonton mulai muncul lagi, kali ini dengan keyakinan yang lebih besar.
“Dia terdesak.”
“Memang beda level.”
Alverion melompat mundur, menciptakan jarak sejenak. Dadanya naik turun lebih cepat, tetapi pikirannya tetap terjaga. Ia menyadari bahwa jika terus bertahan seperti ini, kekalahan hanya tinggal menunggu waktu.
Rhevan tidak memberi kesempatan untuk mengatur ulang terlalu lama. Ia maju lagi, lebih agresif, mencoba menutup semua celah yang mungkin digunakan Alverion untuk bangkit.
Alverion memutar tubuhnya, menghindari satu serangan dan mencoba membalas, tetapi gerakannya masih terbaca. Rhevan menangkis dengan mudah, lalu mendorong balik dengan tekanan yang membuat Alverion kehilangan keseimbangan sesaat.
Pedangnya hampir terlepas, dan sorakan kecil terdengar dari sekitar.
Rhevan tertawa ringan.
“Ini kemampuan barumu?”
Alverion tidak menjawab, tetapi kali ini ia tidak langsung mundur. Tatapannya berubah sedikit lebih fokus, memperhatikan setiap gerakan lawannya dengan lebih teliti.
Ia mengatur napas kembali, memaksa aliran energi di dalam tubuhnya bergerak lebih dalam. Sensasinya belum sepenuhnya nyaman, namun cukup untuk memberinya sedikit ruang.
Rhevan menyerang lagi.
Alverion bergerak.
Ia tidak hanya menangkis, tetapi mulai membaca ritme. Serangan pertama dihindari dengan langkah kecil, serangan kedua ditangkis dengan sudut berbeda yang mengurangi tekanan, dan saat serangan ketiga datang, ia memilih untuk tidak menunggu.
Ia membalas.
Ayunan cepat ke arah perut memaksa Rhevan mundur sedikit, cukup untuk menciptakan celah singkat. Penonton yang tadi yakin mulai terdiam, memperhatikan perubahan kecil itu.
Alverion maju, menjaga tekanan meski gerakannya belum sepenuhnya rapi. Ia masih memiliki celah, tetapi tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali lawan.
Benturan kembali terjadi, kayu beradu dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Rhevan mulai serius, senyumnya memudar digantikan fokus yang lebih tajam.
“Menarik.”
Ia meningkatkan kecepatan dan kekuatan serangan, mencoba kembali mengambil kendali penuh. Alverion kembali kesulitan, beberapa ayunan hampir mengenainya, dan satu di antaranya berhasil menyentuh lengannya.
Rasa nyeri menjalar cepat, membuat genggamannya melemah sesaat, tetapi ia tidak melepaskan pedangnya. Ia mundur perlahan, satu langkah demi satu langkah, hingga punggungnya hampir menyentuh batas arena.
Penonton menahan napas, menunggu akhir yang terlihat semakin dekat.
Rhevan mengangkat pedangnya tinggi, bersiap mengakhiri.
Alverion melihat itu dengan jelas, dan dalam jeda singkat yang tersisa, ia membuat keputusan yang tidak sepenuhnya aman.
Alih-alih mundur, ia melangkah maju.
Gerakannya cepat dan langsung, memotong jarak yang sebelumnya ia jaga. Rhevan sempat terkejut, tetapi serangannya tetap turun dengan tenaga penuh.
Alverion memiringkan tubuhnya, membiarkan serangan itu mengenai sisi bahunya, bukan titik yang lebih berbahaya. Rasa sakit muncul seketika, tetapi ia menahannya, memaksa tubuhnya tetap bergerak.
Dengan jarak yang sangat dekat, ia menggerakkan pedangnya dalam ayunan pendek yang tidak membutuhkan ruang besar.
Ujung pedang kayunya menyentuh dada Rhevan.
Semua berhenti dalam satu momen yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
Rhevan menatap ujung pedang itu, lalu mengangkat pandangannya perlahan. Ekspresinya berubah, tidak lagi santai, tetapi juga tidak menunjukkan kemarahan.
Alverion berdiri di depannya dengan napas berat, bahunya sedikit gemetar akibat luka, tetapi tangannya tetap stabil. Ia tidak mendorong lebih jauh, hanya mempertahankan posisi yang cukup untuk menunjukkan hasilnya.
Suara bisikan mulai kembali terdengar.
“Dia menang.”
“Tipis sekali.”
Rhevan menghembuskan napas, lalu tertawa pendek.
“Gila.”
Ia mundur satu langkah, menurunkan pedangnya.
“Baiklah. Aku kalah.”
Pengakuan itu diucapkan tanpa paksaan, cukup jelas untuk didengar oleh semua yang ada di sana. Lingkaran penonton mulai pecah, tetapi suasana yang tersisa berbeda dari sebelumnya.
Alverion menurunkan pedangnya, merasakan kelelahan yang mulai mengambil alih tubuhnya. Energi di dalamnya hampir habis, dan luka di bahunya mulai terasa lebih jelas, tetapi ia tetap menjaga posturnya.
Rhevan menatapnya beberapa saat sebelum berbalik.
“Kamu benar-benar berubah, Alverion.”
Ia berjalan pergi tanpa menunggu jawaban, diikuti oleh dua orang yang datang bersamanya.
Alverion berdiri sendiri di tengah arena, memandangi pedang kayu di tangannya sebelum akhirnya mengembalikannya ke tempat semula. Napasnya perlahan kembali stabil, meski tubuhnya masih terasa berat.
Ia tidak merasa menang dengan mudah, dan ia tahu itu. Namun hasil itu cukup untuk menunjukkan bahwa langkah yang ia ambil tidak sia-sia.
Setelah beberapa saat, ia berjalan keluar dari arena dengan langkah yang lebih mantap, meski tidak sepenuhnya ringan. Beberapa tatapan mengikuti dari belakang, tetapi ia tidak menoleh.
Di kejauhan, di bawah bayangan pohon yang sama, Selena Arclight masih berdiri memperhatikannya. Tatapannya lebih lama dari sebelumnya, seolah mencoba menyusun potongan yang belum sepenuhnya ia pahami.
Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi tidak lagi sekadar rasa penasaran. Ada ketertarikan yang mulai terbentuk, disertai pemikiran yang tidak sederhana.
“Perubahan seperti itu tidak datang begitu saja,” gumamnya pelan.
Ia berbalik perlahan, melangkah pergi dengan ritme yang tenang. Namun pikirannya tetap tertinggal pada sosok yang baru saja meninggalkan arena, dan rasa ingin tahu itu tidak lagi bisa diabaikan begitu saja.