Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dua minggu berlalu sejak Arka memutuskan hubungan dengan Sari. Dua minggu yang dia habiskan bukan untuk meratapi masa lalu, tapi untuk bergerak maju dengan kecepatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Pinjaman bank akhirnya cair di hari kesebelas. Nilainya lebih rendah dari yang dia harapkan, sekitar enam puluh persen dari total aset yang dia jaminkan. Tapi itu masih cukup untuk memulai.
Arka tidak membuang waktu. Di hari yang sama, dia mentransfer separuh uang itu ke rekening sekuritas yang baru saja dia buka. Ingatan tentang pergerakan saham di awal tahun 2026 masih segar di kepalanya. Dia tahu persis kapan harus membeli, kapan harus menjual, dan kapan harus keluar sebelum pasar ambruk.
Dia tidak perlu menjadi miliarder. Dia hanya perlu cukup. Cukup untuk membeli tanah, cukup untuk membangun bunker, cukup untuk menimbun persediaan yang akan membuatnya bertahan.
Dua minggu itu juga dia gunakan untuk mencari kontraktor.
Bukan kontraktor biasa. Arka butuh orang yang bisa membangun struktur bawah tanah dengan spesifikasi yang tidak biasa. Dinding baja setebal empat meter. Sistem ventilasi mandiri. Pintu hidrolik. Kaca anti peluru. Spesifikasi yang akan membuat kebanyakan kontraktor mengernyitkan dahi.
Dia menemukannya di pinggiran Jakarta. Sebuah perusahaan konstruksi kecil yang dikelola oleh seorang pria paruh baya bernama Hadi. Dari luar, kantornya tampak biasa saja. Dinding cat putih mulai mengelupas, meja resepsionis hanya berupa meja kayu tua, dan satu-satunya komputer di ruangan itu terlihat seperti barang antik. Tapi di dinding belakang kantor, tergambar denah-denah bangunan yang rumit. Bunker. Gudang bawah tanah. Struktur anti gempa.
Arka tidak datang dengan proposal tertulis. Dia datang dengan sketsa kasar yang dia gambar sendiri di buku tulis, dan daftar spesifikasi yang dia tulis di kertas folio.
Hadi menerimanya dengan tatapan aneh. “Mas mau bangun apa sebenarnya? Ini sketsanya kayak... bunker perang.”
“Bunker,” jawab Arka singkat.
“Bunker?” Hadi mengangkat alis. “Di tengah Jakarta? Buat apa?”
“Antisipasi.”
Hadi tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia sudah sering mendapat klien dengan permintaan aneh. Atau mungkin dia hanya tidak peduli selama bayaran cukup.
“Ini tidak murah, Mas. Baja setebal empat meter, kaca anti peluru, pintu hidrolik... itu semua impor. Biayanya bisa mencapai dua puluh miliar, belum termasuk tenaga kerja dan material pendukung.”
Arka sudah memperhitungkan. “Saya punya dana. Tapi saya butuh ini selesai sebelum Juni.”
Hadi mengerjap. “Sekarang Desember. Waktunya hanya enam bulan. Itu tidak realistis.”
“Saya akan bayar dua kali lipat untuk tenaga kerja lembur.”
Hadi terdiam. Matanya menatap Arka dengan seksama, seperti mencoba membaca sesuatu di balik wajah muda yang tenang di hadapannya.
“Mas ini... ada di bisnis apa sebenarnya?”
“Cuma orang biasa,” jawab Arka. “Yang ingin punya tempat aman.”
Hadi menghela napas. Dia mengambil sketsa Arka, membaliknya, mulai membuat catatan-catatan kecil di pinggir kertas.
“Saya akan hitung dulu. Pekan depan saya kasih tahu.”
Arka mengangguk. “Saya tunggu.”
Di luar kantor Hadi, langit mendung. Arka berdiri sejenak di trotoar, menatap gedung-gedung di sekitarnya. Di sini, di pinggiran Jakarta, orang-orang masih sibuk dengan kehidupannya. Warung kopi masih ramai. Anak-anak masih bermain bola di lapangan kecil. Seorang ibu-ibu mendorong gerobak bakso dengan peluit panjang yang khas.
Semua masih normal. Semua masih tidak tahu.
Arka menarik napas. Udara sore mulai terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaannya.
Ponsel di saku celananya bergetar. Bukan Sari. Nomor itu sudah dia blokir dua minggu lalu. Sekarang yang muncul adalah panggilan dari nomor tidak dikenal.
Dia mengangkat.
“Mas Arka?” suara di seberang terdengar parau.
“Iya.”
“Saya dari sekuritas. Ada yang mau saya sampaikan soal transaksi saham Mas kemarin.”
Arka mencondongkan tubuh. “Ada masalah?”
“Bukan masalah, Mas. Tapi transaksi Mas cukup besar. Kami hanya ingin memastikan tidak ada indikasi... aktivitas ilegal.”
Arka tersenyum kecil. “Saya cuma ikut tren pasar.”
“Baik, Mas. Kami hanya berkewajiban menanyakan. Terima kasih.”
Panggilan berakhir. Arka memandangi ponselnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke saku.
Mereka mulai curiga. Tapi tidak masalah. Dalam tiga bulan, tidak ada yang akan peduli dengan transaksi saham.
Dua hari kemudian, Hadi menelepon.
“Mas Arka, saya sudah hitung. Dua puluh tiga miliar untuk struktur bawah tanah. Belum termasuk bangunan di atasnya.”
Arka sudah memperkirakan. “Hotel tiga lantai di atasnya. Desain sederhana, tidak mencolok. Saya tambah tiga miliar.”
Hadi bersiul pelan. “Total dua puluh enam miliar. Mas benar-benar punya uang sebanyak itu?”
“Saya akan punya,” jawab Arka. “Yang penting, Mas Hadi bisa kerjakan tepat waktu?”
“Bisa. Tapi saya harus tahu, Mas ini sebenarnya takut apa? Bom? Perang? Kenapa butuh bunker canggih begini?”
Arka tidak menjawab. Dia hanya berkata, “Saya akan transfer uang muka minggu depan. Tolong siapkan tim.”
Sebelum Hadi sempat bertanya lagi, Arka menutup telepon.
Malam itu, Arka duduk di balkon kos-kosan seperti biasa. Kopi hitam di tangan, langit Jakarta yang gelap di hadapannya. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ponsel di sampingnya terus bergetar. Bukan dari Sari. Dari Hadi. Dari sekuritas. Dari bank.
Semua ingin tahu. Semua mulai bertanya.
Arka mematikan ponsel.
Dia menyesap kopinya yang sudah dingin, menatap langit yang tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu kota masih berkelap-kelip. Suara klakson masih terdengar dari kejauhan. Dunia masih berjalan.
Tapi di dalam dadanya, dia sudah merasakan perubahan. Sesuatu yang tidak bisa dilihat mata, tapi bisa dirasakan. Udara yang sedikit lebih dingin dari biasanya. Angin yang sedikit lebih kencang.
Itu sudah mulai.
Dia membuka ponsel lagi, mengabaikan puluhan notifikasi yang menumpuk. Dia membuka aplikasi berita.
“Penurunan suhu ekstrem melanda Eropa Utara. Norwegia dan Swedia laporkan suhu terendah dalam satu abad.”
“Ilmuwan NASA: Aktivitas matahari terus menurun, krisis global tak terhindarkan.”
“Pemerintah Indonesia bentuk tim khusus antisipasi perubahan iklim.”
Arka membaca semua berita itu dengan tenang. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak awal.
Sekarang tinggal menunggu.
Ponsel bergetar lagi. Kali ini dari nomor yang tidak dia kenali.
Dia mengangkat.
“Mas Arka?” suara Hadi di seberang, terdengar sedikit tergesa.
“Iya.”
“Saya sudah bicara dengan tim. Mereka bisa mulai minggu depan. Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
Hadi diam sebentar, seperti mempertimbangkan kata-kata. “Mereka minta tahu. Bunker ini sebenarnya untuk apa.”
Arka menutup mata. “Untuk bertahan hidup.”
“Bertahan hidup dari apa?”
“Dari yang akan datang,” jawab Arka pelan.
Diam di seberang. Lalu Hadi berkata, “Saya tidak mengerti, Mas.”
“Tidak apa-apa. Nanti juga semua akan mengerti.”
Arka menutup telepon.
Dia berdiri dari kursi, berjalan ke tepi balkon, menatap kota yang terbentang di hadapannya. Jakarta. Kota yang dalam enam bulan lagi akan membeku. Kota yang akan berubah menjadi kuburan raksasa.
Tapi tidak untuknya.
Arka tersenyum kecil. Senyum yang dingin. Senyum yang sudah melihat kematian dan tidak takut untuk menghadapinya lagi.
Biarkan mereka bertanya. Biarkan mereka curiga. Aku sudah punya apa yang aku butuhkan.
Dia masuk ke kamar, menutup pintu balkon, dan mematikan lampu.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁