Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Terakhir dan Pilihan yang Pahit
Hari berikutnya, pagi sekali.
Daniel sudah berada di kantornya, menyusun berkas-berkas penting di mejanya. Di depannya ada satu folder tebal dengan label merah: "Laporan Evaluasi Kinerja Arsenia Valen".
“Sudah siap semua, Pak Daniel?” tanya asistennya dengan suara cemas.
“Semua sudah siap. Investor akan datang dalam satu jam. Kali ini, Arsenia tidak akan punya jalan untuk kabur,” ujar Daniel dengan tatapan yang tegas.
Di dalam folder itu bukan hanya data proyek yang dianggap salah keputusan Arsenia, tapi juga catatan rahasia tentang pertemuan-pertemuannya dengan Raka – foto-foto yang diambil secara diam-diam, catatan waktu dan tempat, bahkan dugaan bahwa keputusan ekspansi yang dibatalkan terkait dengan kepentingan pribadi Arsenia terhadap komunitas di wilayah barat, tempat Raka sering bekerja.
Di warung kecil yang biasa mereka tempati.
Raka sudah datang lebih awal, tapi kali ini dia tidak duduk santai seperti biasanya. Dia melihat ke sekeliling dengan cemas, seolah sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.
Ketika mobil hitam Arsenia muncul di kejauhan, Raka langsung berdiri dan berjalan cepat meninggalkan warung. Dia menyembunyikan diri di balik sebuah gerobak buah yang sedang berjualan.
Arsenia keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling. Tapi warung itu kosong. Tidak ada tanda Raka.
“Raka?” dia memanggil perlahan, tapi tidak ada jawaban.
Dia mendekati penjaga warung. “Pak, kan biasanya ada pria yang selalu duduk di sini? Raka?”
“Dia datang tadi, tapi bilang kalau tidak akan datang lagi untuk sementara waktu. Katanya supaya tidak ada masalah lagi buat Anda, Nona,” jawab penjaga warung dengan nada menyakitkan hati.
Arsenia merasa dada nya terasa sesak. Dia tahu Raka melakukan ini karena dia peduli. Tapi itu justru membuat dia lebih menentukan untuk melindunginya.
Di ruang rapat utama Valen Group.
Investor-investor penting sudah berkumpul. Di depan mereka ada layar proyektor yang menampilkan semua data yang telah disiapkan Daniel.
Arsenia masuk dengan langkah yang mantap, meskipun hatinya masih terganggu karena tidak menemukan Raka.
“Mari kita mulai,” ujar salah satu investor dengan nada yang dingin. “Kami telah menerima laporan yang mengkhawatirkan tentang kepemimpinan Anda, Nona Arsenia.”
Daniel segera mengambil alih. “Seperti yang bisa Anda lihat, keputusan untuk membatalkan ekspansi ke wilayah barat tidak berdasarkan data yang objektif. Malah terkait dengan hubungan pribadi Anda dengan seorang pria bernama Raka, yang bekerja di komunitas lokal sana.”
Foto-foto Arsenia dan Raka berbicara di warung muncul di layar. Semua mata tertuju padanya.
“Selain itu, beberapa mitra bisnis telah melaporkan bahwa Anda lebih fokus pada urusan pribadi daripada perkembangan perusahaan. Ini sangat merugikan kepentingan kita semua,” lanjut Daniel dengan suara yang penuh keyakinan.
Arsenia berdiri, tatapannya tetap tegas. “Saya tidak pernah mengambil keputusan yang merugikan perusahaan. Ekspansi ke wilayah itu memang memiliki risiko sosial yang tinggi, dan saya punya data untuk membuktikannya. Sedangkan hubungan saya dengan Raka tidak ada hubungannya dengan keputusan bisnis saya.”
“Namun reputasi perusahaan sudah mulai tercoreng, Nona,” ujar seorang investor lagi. “Jika Anda tidak bisa membuktikan bahwa keputusan Anda benar, atau jika Anda tidak bersedia menjauh dari pria itu… kami mungkin harus mempertimbangkan untuk mengganti kepemimpinan di divisi Anda.”
Daniel tersenyum diam-diam. Ini adalah kartu terakhirnya – memaksa Arsenia untuk memilih antara perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah, atau Raka yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.
Sore hari, di tepi sungai tempat Raka sering bersantai.
Arsenia menemukan Raka di sana, duduk menghadap sungai. Dia mendekatinya dengan hati-hati.
“Kenapa kamu menghindari saya?” tanya Arsenia dengan suara lembut.
Raka tidak menoleh. “Karena saya tidak mau menjadi alasan Anda kehilangan segalanya. Saya sudah melihat berita di media sosial kecil tentang masalah di perusahaan Anda. Semua karena saya.”
“Itu bukan kesalahanmu!” seru Arsenia. “Daniel yang melakukan ini, bukan kamu.”
“Tapi kalau saya tidak ada di hidup Anda, semua ini tidak akan terjadi. Anda punya dunia yang besar, Nona. Saya cuma orang biasa yang tidak bisa memberi apa-apa untuk Anda.”
Arsenia duduk di sebelahnya. “Kamu sudah memberi saya sesuatu yang lebih berharga dari semua kekayaan dan jabatan di dunia ini, Raka. Kamu menunjukkan padaku arti hidup yang sebenarnya – tentang peduli pada orang lain, tentang merasa cukup dengan apa yang kita punya.”
Dia mengambil tangannya dengan lembut. “Saya siap mengorbankan segalanya untuk melindungi kamu. Bahkan jika itu berarti harus meninggalkan perusahaan ini.”
Raka akhirnya menoleh, matanya sudah berkaca-kaca. “Tapi itu adalah hidup Anda yang sudah Anda bangun selama bertahun-tahun.”
“ Hidup saya baru mulai berarti sejak saya bertemu denganmu,” ujar Arsenia dengan tegas. “Jadi jangan pernah lagi berpikir bahwa kamu tidak berharga. Karena bagi saya, kamu lebih berharga dari segalanya.”
Di kejauhan, Daniel melihat mereka dari dalam mobilnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi marah dan kecewa. Tapi dia juga menyadari bahwa dia telah kalah. Arsenia sudah memilih, dan dia akan melakukan apa saja untuk melindungi pilihan itu.
Malam hari.
Arsenia sedang menyusun surat pengunduran diri dari perusahaan ketika pintu kantornya terbuka. Bos utama perusahaan masuk dengan wajah yang serius.
“Nona Arsenia, saya sudah melihat semua data yang kamu berikan tentang wilayah barat. Kamu benar – risiko sosialnya terlalu besar. Dan setelah saya teliti lebih jauh, ternyata Daniel telah memanipulasi beberapa laporan untuk merugikanmu.”
Arsenia terkejut. “Pak?”
“Kita akan melakukan penyelidikan resmi terhadap Daniel. Sedangkan untukmu… kita perlu orang yang peduli pada lebih dari sekadar keuntungan di perusahaan ini. Tetaplah di sini, dan bantu kita mengembangkan perusahaan dengan cara yang benar – dengan memperhatikan kepentingan semua pihak.”
Arsenia merasa lega. Tapi dia juga tahu bahwa masalah belum selesai sepenuhnya. Daniel tidak akan berhenti begitu saja, dan dia harus tetap waspada untuk melindungi Raka.
Di rumah Raka.
Ponselnya berdering dari Arsenia.
“Hello?”
“Kamu masih mau bertemu denganku besok?” tanya Arsenia dengan suara yang penuh harapan.
Raka tersenyum untuk pertama kalinya hari ini. “Tentu saja, Nona. Saya akan tunggu di warung itu seperti biasa.”
“Jangan panggil saya Nona lagi ya,” ujar Arsenia dengan suara yang lebih ringan. “Panggil saja Arsenia.”