NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama sebagai Istri

Pagi pertama sebagai istri Gus Haris terasa aneh dan asing bagi Raina.

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui jendela kamar kecil mereka. Burung-burung berkicau di pohon mangga belakang rumah. Raina terbangun dengan mata masih berat karena hampir tidak tidur semalaman. Ia menoleh pelan ke sebelahnya.

Gus Haris sudah tidak ada di kasur. Hanya bantalnya yang masih rapi, seolah ia berusaha tidak mengganggu Raina sedikit pun.

Raina duduk di tepi kasur, gamis pengantinnya sudah diganti dengan gamis rumah sederhana yang disiapkan Bu Nyai. Ia memandang sekeliling kamar — meja kecil, lemari kayu, sajadah hijau yang terlipat rapi di sudut, dan foto pernikahan kecil yang sudah digantung di dinding.

“Gue… beneran udah nikah,” bisiknya pelan, suaranya masih penuh ketidakpercayaan.

Ia bangkit dan keluar kamar. Aroma masakan dari dapur kecil langsung menyambutnya. Gus Haris berdiri di depan kompor, memakai koko putih sederhana dan sarung. Ia sedang mengaduk sesuatu di wajan dengan gerakan pelan dan telaten.

“Pagi, Raina,” sapa Gus Haris tanpa menoleh, suaranya lembut seperti biasa.

“Aku buat sarapan. Duduk dulu, sebentar lagi matang.”

Raina berdiri di ambang dapur, tangannya memegang ujung gamisnya. Ia merasa canggung sekali. Kemarin malam mereka tidur di kasur yang sama dengan jarak lebar, dan sekarang Gus Haris sudah bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan seperti suami biasa.

“Lo… masak?” tanya Raina pelan, suaranya masih kaku.

Gus Haris tersenyum tipis sambil menoleh. Wajah tampannya terlihat segar di pagi hari.

“Iya. Aku biasa masak sendiri. Hari ini aku buat telur dadar dan bubur ayam sederhana. Kamu suka pedas nggak?”

Raina mengangguk kecil.

“Suka… agak pedas.”

Mereka sarapan berdua di meja kecil ruang makan. Gus Haris menyendokkan bubur ke mangkuk Raina dengan telaten, lalu menambahkan sambal sesuai permintaannya. Raina makan pelan, sesekali melirik suaminya yang duduk di depannya.

Suasana hening, tapi tidak tegang. Hanya suara sendok dan angin pagi yang masuk melalui jendela.

“Gimana tidurnya semalam?” tanya Gus Haris pelan, tidak memaksa.

Raina menunduk ke mangkuknya.

“Biasa aja… nggak terlalu nyenyak.”

Gus Haris mengangguk mengerti.

“Wajar. Ini masih awal. Kita punya banyak waktu untuk saling terbiasa.”

Raina menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bertanya banyak hal, tapi lidahnya terasa berat. Akhirnya ia hanya berkata pelan:

“Lo nggak keberatan tidur di kasur yang sama… meski kita masih jauh?”

Gus Haris meletakkan sendoknya pelan dan menatap Raina dengan mata yang penuh kesabaran.

“Aku tidak keberatan. Yang penting kamu merasa aman. Kalau kamu masih ingin jarak, aku mengerti. Aku tidak akan mendekat kalau kamu belum siap.”

Raina merasa dadanya hangat lagi. Kata-kata itu terlalu lembut untuk didengar oleh seorang gadis bandel seperti dirinya.

Setelah sarapan, Gus Haris membersihkan meja sementara Raina duduk di teras kecil rumah mereka. Lila datang berkunjung tak lama kemudian, membawa sekeranjang buah dari dapur umum.

“Mbak Raina! Selamat ya… sekarang resmi jadi istri Gus Haris!” kata Lila dengan suara riang sambil memeluk Raina pelan.

Raina tersenyum kecil, senyum yang masih malu-malu.

“Masih aneh banget, Lila. Kemarin gue masih preman kecil di Surabaya, sekarang… gue udah punya suami ustadz.”

Lila tertawa.

“Tapi Mbak kelihatan lebih tenang hari ini. Gus Haris baik kan?”

Raina mengangguk pelan.

“Dia… terlalu baik. Kadang gue ngerasa nggak pantas.”

Mereka duduk di teras sambil mengobrol ringan. Lila bercerita tentang kehidupan santri yang sehari-hari, tentang gosip kecil di asrama, dan tentang bagaimana santri lain mulai membicarakan Raina dengan nada yang lebih lembut setelah melihat ia mulai mencoba beradaptasi.

Siang harinya, Gus Haris mengajak Raina jalan-jalan kecil di sekitar pesantren. Mereka berjalan pelan di jalan setapak yang rindang, melewati masjid, asrama, dan kebun belakang.

“Di sini biasanya aku mengajar santri laki-laki sore hari,” kata Gus Haris sambil menunjuk sebuah ruang belajar kecil.

“Kalau kamu mau, suatu hari nanti kamu bisa ikut mengajar santriwati yang lebih kecil. Kamu punya energi yang lincah, pasti cocok.”

Raina menoleh dengan alis terangkat.

“Gue? Mengajar? Gue aja masih belajar jadi santri yang baik.”

Gus Haris tersenyum.

“Tidak harus langsung mengajar ilmu agama. Kamu bisa berbagi cerita tentang kehidupan di luar pesantren, tentang bagaimana menjaga diri di kota besar. Itu juga ilmu yang berharga.”

Raina diam, tapi kata-kata itu tertanam di hatinya.

Sore harinya, hujan ringan turun lagi. Raina dan Gus Haris kembali ke rumah kecil mereka. Raina duduk di ruang tamu sambil memandang hujan di luar jendela. Gus Haris duduk di kursi seberangnya, membaca kitab dengan suara pelan.

Suara Gus Haris yang membaca kitab terdengar tenang dan merdu. Raina diam-diam mendengarkan. Ia merasa ada ketenangan yang aneh setiap kali mendengar suara suaminya.

“Haris…” panggil Raina pelan.

Gus Haris menutup kitabnya dan menatap Raina.

“Ya?”

Raina ragu sebentar, lalu bertanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Lo… kapan mulai suka sama gue? Maksud gue… kita dijodohkan sejak kecil, tapi lo beneran mau nikah sama gue yang bandel ini?”

Gus Haris diam sejenak, lalu tersenyum lembut.

“Aku mulai memperhatikan kamu sejak pertama kali orang tua kita cerita tentang dirimu. Mereka bilang kamu gadis yang penuh semangat, lincah, dan tidak mau diatur. Aku penasaran. Lalu saat kamu datang ke pesantren… aku melihat sendiri semangat itu. Di balik sikap bandelmu, aku melihat hati yang kuat. Aku percaya hati yang kuat bisa menjadi hati yang baik kalau diberi kasih sayang yang tepat.”

Raina merasa pipinya panas. Ia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung gamisnya.

“Lo terlalu percaya sama gue…”

“Aku tidak hanya percaya,” balas Gus Haris pelan.

“Aku berdoa setiap hari agar Allah melunakkan hati kita berdua.”

Malam harinya, mereka kembali tidur di kasur yang sama. Kali ini jaraknya sedikit lebih dekat daripada malam sebelumnya. Raina memeluk bantalnya, tapi ia tidak lagi memeluk jaket Gus Haris.

Ia mendengar napas suaminya yang teratur di sebelahnya.

“Haris…” panggilnya lagi pelan di kegelapan.

“Ya, Raina?”

“Terima kasih… buat semuanya hari ini.”

Gus Haris tersenyum di kegelapan.

“Sama-sama, istriku.”

Kata “istriku” itu terdengar lembut dan hangat di telinga Raina. Ia merasa dadanya berdebar pelan.

Pagi pertama sebagai istri berlalu dengan cara yang sederhana — sarapan bersama, jalan-jalan kecil, obrolan pelan, dan kehadiran yang tenang.

Raina belum sepenuhnya jatuh cinta.

Tapi ia mulai merasa bahwa hidup bersama Gus Haris mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan.

Dan di balik semua keraguan itu, benih kelembutan mulai tumbuh lebih kuat di hatinya.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!