sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
...
..
Bunyi smart lock yang berdenting pendek terasa seperti lonceng kematian di telinga Rea. Begitu pintu apartemen tertutup, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap. Suasana di dalam ruangan mewah itu terasa lebih dingin dari suhu AC yang menyala. Tidak ada suara TV, tidak ada deru mesin gim, bahkan tidak ada aroma mie instan yang biasanya menjadi jembatan percakapan mereka.
Rea melepaskan sepatu ketsnya dengan gerakan mekanis. Matanya tertuju pada sofa ruang tengah. Di sana, Axelle sedang duduk menyandar, kepalanya menengadah menatap langit-langit yang putih polos. Lampu ruangan sengaja dipadamkan, hanya menyisakan kerlip lampu kota Bandung yang menyusup dari balik jendela besar.
Wajah Axelle... Rea belum pernah melihatnya sedatar itu. Dingin. mungkin terkubur di bawah tumpukan dokumen kerja Daddy-nya. Rea tahu ekspresi itu. Itu adalah ekspresi seseorang yang sedang dicekik oleh kenyataan—kenyataan bahwa di dunia yang seluas ini, dia benar-benar sendirian. karena mereka sama.
Rea tidak menyapa. Lidahnya terasa kelu, terikat oleh aturan yang selama belasan tahun menuntutnya untuk selalu tampil sempurna, tegar, dan tanpa cela. Bagi Papa, emosi adalah kelemahan. Menunjukkan empati adalah tanda bahwa pertahananmu goyah. Rea berjalan melewati Axelle menuju kamarnya, langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai marmer.
"huff.. " entah keberapa kali helaan nafas berat keluar dari mulut nya
Di dalam kamar mandi, Rea membiarkan pancuran shower air hangat mengguyur tubuhnya. Uap air memenuhi ruangan, tapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suara gemericik air.
“Gue ketangkap polisi karena gue butuh pelarian, Rea!”
“Karena di apartemen ada lo yang kaku kayak robot!”
Kata-kata Axelle di GOR tadi sore terus berputar layaknya kaset rusak di kepala Rea. Setiap kalimat terasa seperti tamparan yang menguliti harga dirinya sebagai Ketua OSIS. Rea memejamkan mata rapat-rapat, tangannya meremas pinggiran wastafel sampai buku jarinya memutih.
Dia lelah. Rea sangat lelah dengan otaknya sendiri yang selalu memaksanya untuk bertindak sesuai protokol. Dia lelah harus selalu menjadi 'anak emas' yang tidak boleh salah. Dan malam ini, dia menyadari sesuatu yang menyakitkan: dia dan Axelle sebenarnya adalah dua orang yang sama. Mereka adalah dua anak yang dipaksa dewasa oleh ambisi orang tua. Bedanya, Rea memilih untuk menjadi pelayan aturan, sementara Axelle memilih untuk menjadi penghancur aturan.
Porsi kesepian mereka sama besarnya. Rea kesepian di tengah tumpukan piala dan pujian palsu, sedangkan Axelle kesepian di tengah kemewahan dan label berandalannya.
Rea keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang. Rambutnya masih basah, namun dia tidak peduli. Dia keluar dari kamar dan. melirik Cowok itu bahkan tidak menoleh saat Rea berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang sangat canggung.
Rea berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung axelle dari kejauhan. dia merasakan dingin nya pertahanan axelle, mungkin saja laki laki itu tadi kelepasan emosi sehingga dia tak tau harus berinteraksi dengan rea
Rea melangkah pelan mendekati sofa. Langkahnya ragu,
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, otak dan hati rea tidak singkron, dan entah setan apa yang merasukinya
Tanpa sepatah kata pun, Rea berdiri di belakang sofa. Dia membungkuk sedikit, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Axelle dari belakang. Dia memeluk cowok itu erat, menyandarkan dagunya di bahu Axelle yang terasa kaku.
Axelle tersentak. Tubuhnya membeku seketika. Napasnya tertahan. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Rea, aroma sabun bayinya yang menenangkan, dan helai rambut Rea yang masih basah mengenai pipinya.
"Re..." suara Axelle serak, hampir tak terdengar.
"Diem, Xel. Sebentar aja," bisik Rea. Suaranya bergetar,
Rea semakin mempererat pelukannya. Dia seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menambal lubang besar di hati Axelle. Dia ingin memberi tahu Axelle bahwa malam ini, dia tidak sendirian. karena mereka sama, biarkan untuk sesaat seperti ini dulu
Axelle perlahan melepaskan pegangannya pada sandaran sofa. Tangannya yang besar gemetar saat menyentuh lengan Rea, axelle merasa menemukan tempat pulang, kehangatan yang telah lama hilang kini kembali lagi. dia tersadar Rea adalah orang pertama yang berhasil menarik nya dari lembah yang namanya kesepian
Di bawah remang cahaya lampu kota, dua jiwa yang selama ini berperang kini membisu dalam hangatnya pelukan
Keheningan itu pecah saat Axelle tiba-tiba bergerak. Bukan untuk melepaskan pelukan, tapi justru untuk mencengkeram pergelangan tangan Rea yang melingkar di lehernya. Tenaganya tidak kasar, tapi sangat dominan—sebuah peringatan.
"Lo udah berani masuk terlalu jauh, Xavandra," suara Axelle rendah, bergetar di tenggorokan.
Sebelum Rea sempat mencerna kalimat itu, Axelle menarik tangan Rea dengan satu sentakan cepat. Tubuh Rea limbung ke depan, melewati sandaran sofa, dan dalam hitungan detik, Axelle sudah memutar tubuhnya. Dia menarik Rea hingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuannya, terkurung di antara kedua lengan kekar Axelle yang kini mencengkeram pinggangnya erat.
"X-xel... apa-apaan..." Rea terengah, matanya membola di balik kacamata yang sedikit miring. Jantungnya yang tadi berdegup karena haru, kini meledak karena adrenalin.
Axelle menatap Rea dengan intensitas yang mengerikan. axelle tersenyum miring tampak jelas di ruangan temaram itu. "Lo yang mulai, Re. Lo udah berani usik kenyamanan gue.. Sekarang, jangan salahin gue kalau gue nggak mau ngelepasin lo."
"Gue cuma... gue cuma mau lo nggak sendirian," bisik Rea, suaranya menciut saat wajah Axelle mengikis jarak. Aroma maskulin bercampur dinginnya malam dari tubuh Axelle langsung membekukan logika Rea. bukan ini yang rea maksud, dia menjadi linglung dan apa apaan situasi seperti ini?
"Itu kesalahan terbesar lo," gumam Axelle tepat di depan bibir Rea. "Karena lo udah berani ikut campur xavandra! "
"eh?" loh.. perasaan suasananya gak seperti ini, dan rea lupa satu hal, axelle tetap lah axelle yang semaunya, dalam kebingungan rea gadis itu tersentak saat—
CUP.
Axelle tidak memberi ruang untuk bernapas. Dia menyambar bibir Rea dengan gerakan refleks yang penuh tuntutan. Bukan ciuman lembut yang menenangkan, tapi ciuman yang haus seperti orang yang sesak mencari oksigen
Rea mematung, tangannya refleks mencengkeram pundak Axelle. Dunianya yang selama ini teratur, penuh angka, dan diatur oleh Papa, hancur seketika hanya dalam satu lumatan. Dia ingin mendorong, tapi tubuhnya justru mengkhianati otaknya sendiri. Rea justru membalas, mengikuti ritme napas Axelle yang memburu.
Di tengah remang apartemen, hukuman itu berubah menjadi pengakuan tanpa kata. Axelle memeluk pinggang Rea semakin erat, seolah ingin menyatukan dua jiwa yang sama-sama kesepian itu ke dalam satu detak jantung yang gila.,
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁