NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Jalanan menuju perumahan Anggita siang itu mulai meredup hawa panasnya, tertutup bayangan pohon-pohon peneduh di sepanjang jalan sekunder. Anggita tampak sangat antusias, matanya tak lepas dari panel instrumen motor Ninja Sandi yang bergetar halus.

"Nanti di tikungan depan situ aja, San, gue coba motor lo. Biar sekalian gue adaptasi sama jalanan yang agak padat," usul Anggita sambil menunjuk persimpangan di depan.

Sandi melirik dari spion, lalu menggeleng tegas. "Nggak, Nggi. Nanti aja kalau lo sudah lancar, baru gue ajarin di jalanan umum. Sekarang mending di dalem perumahan lo dulu yang sepi. Bahaya kalau mesinnya mati di tengah jalan, bisa diseruduk angkot lo."

Anggita akhirnya mengangguk setuju. "Yaudah, kalau emang itu menurut lo lebih aman buat keselamatan gue."

Begitu sampai di gerbang kompleks perumahan Anggita—sebuah kawasan menengah ke atas yang asri meski tak se-mewah kompleks Saskia—Sandi menetralkan gigi motornya dan turun.

"San, matiin dulu aja. Gue mau belajar nyalain dari awal, sekalian pengen ngerasain mainin kick starter-nya," pinta Anggita penuh semangat.

Sandi mengangguk, memutar kunci kontak ke posisi off. "Dah, coba lo nyalain. Posisinya pas, terus lo genjot pedalnya."

Anggita menarik napas panjang, berdiri di samping motor, dan mencoba menginjak pedal besi itu. Genjotan pertama, mesin hanya terbatuk. Kedua, masih gagal. Pada percobaan ketiga, kaki Anggita terpeleset; pedal besi yang keras itu membal balik dengan kuat dan menghantam tulang keringnya.

"Aduh! Sshhh... gila, sakit banget!" Anggita meringis, wajahnya berkerut menahan nyeri. Di tulang keringnya langsung muncul bekas memar kemerahan.

Sandi dengan sigap berlutut di aspal, memeriksa kaki sahabatnya itu. Ia membuka tas ranselnya, merogoh botol kecil minyak tawon yang selalu ia bawa (persediaan kalau ia cidera saat kerja kasar), lalu mengoleskannya ke kaki Anggita yang mulai bengkak.

Sambil memijat pelan, Sandi terkekeh. "Gimana? Masih nafsu mau beli Ninja?"

"Gila lo, San... Sakitnya sampai ke ubun-ubun. Kapok gue nyalain manual," keluh Anggita masih meringis.

"Itu biar lo tahu, Nggi. Motor 2-tak kayak Ninja gue atau Satria-nya Vino itu emang 'galak' di kick starter. Apalagi Satria-nya Vino nggak ada starter tangannya sama sekali. Yaudah, sekarang lo nyalain pakai tombol elektrik aja daripada kaki lo patah," ujar Sandi sambil berdiri.

Anggita menekan tombol starter, dan suara merdu mesin Ninja kembali menderu. "Ayo, San, naik!"

Sandi menggeleng ragu. "Enggak deh, Nggi. Masih kebayang omongan 'ngaco' lo di SPBU tadi."

Anggita tertawa renyah, rasa sakit di kakinya sedikit teralihkan. "Udah, woles aja! Kalaupun lo 'ngaceng', palingan cuma gue yang ngerasa ada yang mengeras di punggung. Anggep aja itu sandaran tambahan!"

Tuk!

Sandi menjitak helm Anggita dengan gemas. "Bener-bener ya, lo semua sudah ketularan virus 'Oneng'. Tadi Vino, sekarang lo. Jangan bilang besok Andra ikutan jadi bego juga."

"Bisa jadi! Saskia itu bawa virus Oneng ke Kelompok Sableng kita," sahut Anggita sambil tertawa. "Ayo naik, anjing! Pegel kaki gue kalau berdiri terus gara-gara tulang kering beradu tadi."

Sandi menghela napas pasrah. "Iya, iya, gue naik."

Sandi duduk di jok belakang, posisinya agak condong ke depan sehingga dadanya sedikit bersentuhan dengan punggung Anggita. "Nah, dengerin. Tarik dulu tuas koplingnya sampai mentok. Kaki kiri lo injak ke depan buat masukin gigi satu. Terus lepas koplingnya pelan-pelan banget... rasain sampai motornya mulai gerak sendiri, baru lo tarik gasnya dikit-dikit."

Anggita mengikuti instruksi Sandi dengan sangat teliti. Motor bergerak halus tanpa sentakan. Senyum puas mengembang di wajah Anggita.

"Bagus. Sekarang tarik gas dikit lagi, terus lepas gasnya, tarik kopling, dan cungkil tuas giginya ke atas pake kaki kiri buat pindah ke gigi dua," lanjut Sandi.

Anggita berhasil lagi. Motor melaju lebih stabil.

"Terus gimana lagi, San?" tanya Anggita antusias.

"Sekarang lo sudah di gigi dua. Kalau mau naikin gigi tinggal cungkil ke atas, kalau mau turunin tinggal injak ke bawah. Sisanya mirip bawa motor bebek, lo bisa lepas penuh tuas koplingnya selama motor jalan," jelas Sandi.

Anggita mengangguk mantap. Dengan penuh percaya diri, ia membawa motor Ninja hijau itu menderu membelah jalanan perumahan yang sepi menuju rumahnya, dengan Sandi yang berjaga di belakang, siap siaga jika terjadi sesuatu.

Motor Ninja hijau itu akhirnya berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang rumah Anggita yang asri. Anggita memutar kunci kontak dan melepas helmnya, menampakkan wajah yang memerah karena antusias sekaligus bangga.

Sandi turun dari jok belakang, menatap sahabatnya itu dengan sisa rasa kagum. "Emang ya, gelar ranking satu itu emang beda kelas. Baru sekali diajarin langsung jago bawa motor kopling. Nggak ada mati mesin sama sekali," puji Sandi tulus.

Anggita terkekeh senang, matanya menyipit saat tersenyum. "Iya dong! Apalagi lo yang ngajarin, metodenya praktis banget, jadi gampang masuk ke otak gue. Emang lo mentor paling mumpuni, San."

Sandi menyandarkan motornya pada standar samping. "Wah, kalau gitu bahaya nih. Berarti besok-besok kalau gue ada niat mau nyalip posisi ranking satu lo, gue mending nggak usah ngajarin lo apa-apa lagi biar otak lo nggak makin encer."

Tawa renyah Anggita kembali pecah, suaranya memantul di tembok pagar rumahnya. "Jangan gitu dong! Kita itu sudah serasi begini, San. Gue nomor satu, lo nomor dua. Formasi abadi sejak kelas satu, kan?"

Sandi membantu Anggita menstabilkan motor saat gadis itu turun, lalu ia kembali berdiri tegak. "Lah, enak di elu dong kalau gitu ceritanya. Untung saja sistem beasiswa di sekolah kita sampai tiga besar. Coba kalau syaratnya harus ranking satu, lah... bisa-bisa gue nggak bisa sekolah lagi karena nggak sanggup bayar SPP."

Mendengar itu, senyum ceria di wajah Anggita perlahan luntur, berganti dengan tatapan yang sedikit sendu. Ia melangkah mendekat, jarinya menunjuk lembut ke arah dada Sandi. "San... kalau sampai hal itu beneran terjadi, gue rela kok turun posisi."

Sandi tertegun sejenak melihat kesungguhan di mata Anggita.

"Selama itu bisa bikin lo tetep sekolah, gue pasti bakal bantu lo, walaupun gue harus ngalah dan turun peringkat ke posisi dua," lanjut Anggita dengan suara rendah namun mantap.

Hati Sandi sedikit mencelos. Di balik sifat tomboi dan omongan "ngaco" Anggita, ternyata tersimpan kepedulian yang begitu dalam. Sandi tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk halus puncak kepala Anggita—sebuah gestur kasih sayang yang jarang ia tunjukkan.

"Iya, iya. Thank you ya kalau lo beneran mau bantuin gue sampai segitunya, Nggi. Gue hargai banget," ucap Sandi lembut. "Yaudah, gue langsung cabut sekarang ya."

"Nggak mau mampir dulu, San? Nyokap ada di dalem, tadi pagi kayaknya bikin camilan," tawar Anggita.

Sandi menggeleng pelan sambil kembali naik ke atas motornya. "Lain kali saja, Nggi. Gue mau bantu Nyokap dulu di rumah, mumpung hari ini pulang cepat, jadi banyak yang bisa dikerjain."

Anggita mengangguk paham, tahu betul betapa Sandi sangat menyayangi ibunya. "Yaudah. Makasih banyak ya, San, sudah dianterin sampai depan rumah dan diajarin naik motor juga."

Sandi menyalakan mesin motornya, deru 2-tak itu kembali mengisi udara. "Justru gue yang makasih sama lo, Nggi. Motor gue sekarang jadi berat banget gara-gara bensinnya lo isiin sampai full Pertamax."

Mereka berdua tertawa bersama untuk terakhir kalinya sebelum Sandi berpamitan dengan lambaian tangan singkat.

Sandi memacu motornya meninggalkan komplek perumahan Anggita. Di balik helmnya, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Ia menggelengkan kepala pelan, masih merasa tak percaya ada seorang sahabat seperti Anggita yang rela mengorbankan prestasinya hanya demi masa depannya. "Ada-ada saja lo, Nggi," gumamnya pelan di tengah terpaan angin sore.

Raungan knalpot Ninja Sandi perlahan meredup saat ia memasuki gang sempit di kawasan padat penduduk Jatinegara. Tak butuh waktu lama bagi Sandi untuk sampai di depan pintu kayu rumahnya yang sudah mulai lapuk. Ia melongok ke dalam, namun suasana sunyi—ibunya tidak ada di rumah.

Sandi segera melepas seragamnya, mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang dingin untuk meluruhkan penat, lalu berganti pakaian rumahan yang santai. Saat ia baru saja melangkah keluar untuk mencari keberadaan sang ibu, sosok wanita yang sangat ia cintai itu muncul dari kelokan gang sambil menjinjing kantong plastik ukuran jumbo yang terlihat berat.

"Sudah pulang, Nak? Kok cepat?" tanya Ibu Sandi sambil menyeka keringat di dahinya.

Sandi segera menghampiri, meraih tangan ibunya untuk disalim dengan takzim, lalu mengambil alih beban plastik jumbo tersebut. "Iya, Bu. Biasa, hari pertama masuk sekolah pasti pulang cepat, cuma perkenalan sama pembagian jadwal saja," jawab Sandi lembut sembari membimbing ibunya masuk.

Sesampainya di dalam, ibunya duduk di balai-balai kayu. "Kamu sudah makan, San?"

Sandi mengangguk mantap, mencoba meyakinkan ibunya. "Sudah, Bu. Tadi ditraktir Saskia di kantin," bohongnya. Ia sengaja tidak menceritakan bahwa ia hanya menghabiskan sisa ketoprak pedas karena Saskia tidak sanggup memakannya—baginya, yang penting ibunya tidak khawatir soal perutnya.

Ibu Sandi tampak terheran-heran, alisnya bertaut. "Loh, gimana cerita? Bukannya Saskia itu sekolah di SMP Bhayangkara? Kok bisa traktir kamu di sekolah?"

Sandi terkekeh melihat ekspresi bingung ibunya. "Sandi juga kaget, Bu. Ternyata dia pindah ke sekolah Sandi. Alasannya sih katanya biar bisa ketemu Sandi terus. Dia merasa nyaman dan aman kalau dekat Sandi, apalagi dia kan teledor banget orangnya, 'oneng'-nya nggak sembuh-sembuh."

Ibu Sandi menggelengkan kepala, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Ada-ada saja tingkah orang kaya ya. Padahal SMP Bhayangkara itu fasilitasnya nomor satu. Malah pindah ke SMP Pejuang Bangsa yang memang pendidikannya bagus, tapi fasilitasnya beda jauh."

"Entahlah, Bu. Dia cuma bilang begitu," sahut Sandi singkat.

Ibunya menatap Sandi dalam-dalam, sorot matanya penuh wejangan. "Ya sudah, kalau dia memang merasa nyaman dan aman sama kamu, jangan kamu khianati kepercayaannya itu ya, San. Jaga dia baik-baik."

Sandi memberikan hormat jenaka. "Siap, Ibuku yang cantik! Ibu sendiri sudah makan belum?"

"Pagi tadi cuma makan ketan sama gemblong pemberian tetangga. Siang ini belum sempat makan. Kenapa memangnya?" tanya ibunya balik.

Sandi tersenyum lebar. "Tadi uang buat beli bensin Sandi nggak kepakai, Bu. Motor Sandi sudah diisikan full Pertamax sama Anggita. Dia nggak mau kalau Sandi cuma antar secara cuma-cuma, jadi dia paksa isiin bensin sampai pinggang Sandi dicubit nih, Bu. Lihat deh, membekas banget," keluh Sandi sambil menunjukkan memar kecil bekas cubitan maut Anggita.

Ibu Sandi tertawa renyah melihat tingkah laku sahabat-sahabat anaknya itu. "Anggita yang tomboi itu ya, San?"

"Ho-oh, Bu. Gayanya saja tomboi, tapi galaknya benar-benar khas cewek," gerutu Sandi yang memancing tawa ibunya lagi. "Tadi Sandi mau keluar niatnya cari Ibu, tapi karena sudah ketemu, Sandi mau belikan Ibu makan. Ibu mau makan apa?"

"Gado-gado saja kali ya, San? Biar bisa kita makan berdua pakai nasi supaya lebih kenyang," jawab ibunya sederhana.

Sandi mengangguk mantap. "Siap, Bu. Sandi berangkat beli gado-gado Betawi dulu ya."

Ibu Sandi mengangguk dan masuk ke dalam untuk beristirahat sejenak, sementara Sandi kembali melangkah keluar menuju warung gado-gado langganan di ujung gang. Di hatinya, ia merasa bersyukur; meski hidup mereka sederhana, perhatian dari teman-temannya hari ini setidaknya bisa membuat meja makan mereka sedikit lebih istimewa siang ini.

Langkah kaki Sandi membawa sandal jepitnya menapak di atas aspal kampung yang retak-retak, menuju sebuah kedai sederhana di sudut gang yang aroma bumbu kacang sangrainya sudah tercium dari jarak sepuluh meter. Kedai Gado-Gado Mpok Suryani. Tempat ini bukan sekadar warung makan bagi Sandi; ini adalah kapsul waktu. Dulu, almarhum ayahnya sering mengajaknya ke sini saat Sandi masih setinggi meja warung, duduk di bangku kayu panjang sambil mendengarkan banyolan khas Betawi dari sang pemilik.

"Assalamualaikum, Bu Sur?" sapa Sandi pelan saat berdiri di depan etalase kaca yang berisi tumpukan kol, tauge, dan tahu kuning.

Seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bukan dan celemek merah yang sudah memudar warnanya menoleh. Matanya yang tajam di balik kerutan usia seketika berbinar. "Eh, Ya Allah! Si ganteng Herman datang! Ada apa, Tong? Tumben bener siang-siang begini sudah nampung muka di mari?" serunya dengan logat Betawi yang kental, menyebut nama ayah Sandi karena wajah mereka memang bak pinang dibelah dua.

Sandi tersenyum tipis, merasa hangat dipanggil dengan nama ayahnya. "Mau beli gado-gado, Bu."

"Pedes nggak? Kayak omongan tetangga sebelah atau pedes sedep?" canda Mpok Suryani sambil tangannya mulai meraih ulekan batu yang besar.

Sandi mengangguk mantap. "Iya, pedes, Bu. Tapi nggak usah pakai lontong ya. Gado-gadonya saja, mau dimakan pakai nasi di rumah bareng Ibu."

Mpok Suryani mengangguk paham. Ia mulai memasukkan cabai rawit, sesendok garam, dan bongkahan gula merah ke atas cobek. "Iya, nanti gue banyakin sayurannya, tahunya gue tambahin dua biar lo bisa makan puas sama emak lo. Biar sehat badan lo, jangan cungkring begini."

"Makasih ya, Bu. Jadi merepotkan," ujar Sandi terkekeh.

"Alah! Buat anaknya almarhum Herman apa sih yang enggak? Bapak lo itu dari umuran kayak lo sudah langganan gado-gado keluarga gue. Dia pelanggan setia paling anteng di mari. Nggak pernah rewel, kalau makan nggak pernah sisa sebutir kacang pun," kenang Mpok Suryani sembari mengulek bumbu dengan bertenaga. Bunyi ulekan yang beradu dengan cobek batu menciptakan irama yang akrab di telinga Sandi.

Sandi tersenyum getir namun bangga. "Iya, Bu. Makasih banget Ibu masih ingat terus sama Bapak."

Mpok Suryani menghentikan ulekannya sejenak, menatap Sandi dengan penuh selidik namun sayang. "Sekolah lo gimana, Tong? Masih lancar kan di SMP situ?"

"Alhamdulillah masih bisa lanjut, Bu. Kemarin masih dapet beasiswa karena masih bisa bertahan di peringkat dua," jawab Sandi dengan nada rendah, merendah namun tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

Mpok Suryani tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang masih rapi. "Emang nggak beda jauh lo sama si Herman. Dia dulu tuh pinter banget di kelas. Gue saja yang kakak kelasnya, kalau mau ujian sering minta ajarin mulu sama dia. Otaknya encer kayak santan meres sendiri."

Sandi tersenyum, membayangkan sosok ayahnya di masa muda. "Iya, Bu. Ibu juga sering cerita begitu di rumah. Katanya gara-gara pinter itulah Ibu jatuh cinta sama Bapak."

Mpok Suryani tertawa renyah, tawanya yang khas itu memecah kesunyian siang di gang tersebut. "Lo tahu nggak? Bapak lo itu pinter, tapi kalau urusan kenalan sama cewek, aduh... takutnya minta ampun! Kaku kayak kanebo kering! Itu kalau bukan gue yang bantuin dia kenalan sama ibu lo, tarik ulur sana-sini, beh... nggak tahu deh gimana nasib cintanya. Alhamdulillah bapak lo mau gue bujuk buat lebih berani sedikit, walaupun sempet gue tarik kupingnya. Yah, akhirnya mereka nikah dan lahir deh elo yang mirip banget begini."

Sandi tertawa lepas, sesuatu yang jarang ia lakukan di sekolah. "Lah, baru tahu Sandi, Bu! Kirain Bapak jago kalau urusan begitu."

"Mana mungkin bapak emak lo cerita tentang malu-malu kucing begitu ke anaknya? Gengsi dong!" Mpok Suryani tertawa lagi sembari membungkus gado-gado itu dengan daun pisang dan kertas cokelat, lalu memasukkannya ke dalam plastik.

Sandi merogoh saku celananya, hendak mengambil uang yang tidak jadi beli bensin karena Anggita sudah membelikannya. "Itu jadi berapa, Bu?"

Mpok Suryani mengibaskan tangannya di udara. "Sudah, bawa saja. Nggak usah bayar."

Sandi tertegun, tangannya tertahan di saku. "Loh, jangan gitu, Bu. Ibu kan jualan, capek nguleknya. Sandi ada kok uangnya."

Mpok Suryani mendekat, keluar dari balik meja dagangannya. Ia menepuk-nepuk kedua bahu Sandi dengan tangan yang masih beraroma bumbu kacang. "San, lo itu sudah gue anggap keponakan sendiri, eh... cucu kali ya? Ah, pokoknya keluarga dah! Sekarang bawa saja. Makan yang banyak sama emak lo, terus belajar yang rajin biar bisa buat keluarga lo bangga. Jangan bikin orang tua lo sedih kalau lo jadi anak yang gagal. Paham? Lo itu harapan satu-satunya emak lo."

Tenggorokan Sandi mendadak terasa tercekat. Kata-kata Mpok Suryani menghujam tepat ke jantungnya, mengingatkannya pada beban dan tanggung jawab besar yang ia pikul di pundak mudanya. Ia mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena haru. "Pasti, Bu. Sandi pasti bisa buat Ibu bangga, dan buat Ibu Sur bangga juga karena sudah sering bantu Sandi. Makasih ya, Bu. Makasih banyak."

Mpok Suryani tersenyum tulus, mengelus rambut Sandi dengan kasih sayang seorang nenek. Ia menatap ke langit sejenak, seolah bicara pada kawan lamanya. "Harusnya lo lihat anak lo sekarang, Man... Anak lo sudah gede, santun, dan pinter kayak lo."

Sandi menunduk dalam, meraih tangan Mpok Suryani yang kasar karena kerja keras, lalu menyalimnya dengan takzim. "Sandi pamit ya, Bu. Makasih banyak sekali lagi. Assalamualaikum."

"Walikumsalam, iya, hati-hati ya, San! Salam buat emak lo!" seru Mpok Suryani melepas keberangkatan Sandi.

Sandi meninggalkan kedai itu dengan langkah yang lebih ringan. Di tangannya, bungkusan gado-gado itu terasa hangat, namun di hatinya, ada api semangat yang berkobar lebih panas dari cabai gado-gado Mpok Suryani. Ia berjanji dalam hati, setiap suapan nasi dan gado-gado ini harus menjadi tenaga untuknya berjuang lebih keras lagi esok hari.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!