Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bima melaju cepat di jalan raya. Bima masih ingat mobil yang mengejarnya saat ini adalah salah satu mobil yang menabraknya sehingga membuat dia dan Dinda mengalami kecelakaan.
Mobil sport itu dengan cepat mampu mengejar motor Bima. Mobil itu juga hampir menyerempet motor Bima. Dinda berpegangan erat ke pinggang Bima.
Dari jendela mobil, Wira menyuruh Bima menepi.
Bima terus saja melaju sampai Bima melihat di depan sana ada motor patroli polisi yang parkir di depan warung makan. Bima berhenti di depan warung dan berteriak minta tolong.
Wira dan Baim turun dari mobil. Wira langsung menarik tangan Dinda agar turun dari motor. Tapi sangat disayangkan, dua orang petugas polisi keluar dari warung makan.
Bima dengan cepat meminta pertolongan kepada petugas polisi. Bima bilang mereka ingin menculik Dinda. Kedua petugas polisi melihat Dinda yang ketakutan dan juga meminta tolong kepada mereka berdua. Petugas polisi menahan Wira dan Baim.
Wira dan Baim menyangkal tuduhan Bima. Wira meyakinkan petugas polisi, dia adalah keluarga Dinda. Dia ingin membawa Dinda pulang ke rumah.
Saat itu juga, Dinda tidak mengakui Wira sebagai keluarganya. Wira berniat untuk menyingkirkannya. Petugas polisi Ingin mereka menjelaskan semuanya di kantor polisi.
Mereka semua akhirnya ke kantor polisi. Dinda memberikan kesaksian bahwa Wira telah memukul dan membekapnya. Bima juga memberikan surat hasil pemeriksaan Dinda di rumah sakit. Memang di sana ada keterangan dari dokter, Dinda mendapatkan kekerasan fisik.
Polisi juga melihat kondisi mental pada Dinda. Dia terlihat sangat ketakutan. Dinda tidak berani menatap lawan bicaranya. Dinda selalu menundukkan kepala. Apalagi saat Wira menatap ke arahnya.
Setelah melihat surat keterangan rumah sakit dan mendengarkan rekaman telepon dari Bima, petugas kepolisian mengambil keputusan. Wira dan Baim sore itu harus bermalam di kantor polisi.
Bima dan Dinda diperbolehkan pulang. Sepanjang perjalanan Dinda hanya diam. Bima juga menyadari, Dinda sedikit berubah.
Bima mengantarkan Dinda ke rumah pak Latif. Sama seperti sebelumnya, sesampainya di rumah, Dinda hanya diam. Pak Latif, Bu Sekar, Rama dan Dita kaget saat melihat di kepala Dinda ada perban.
Dinda menangis dan memeluk Bu Sekar. Bima cerita semuanya kepada keluarga pak Latif. Rama begitu emosi dan ingin pergi ke kantor polisi untuk menemui Wira. Pak Latif sama seperti Rama.
Akhirnya Bima kembali lagi ke kantor polisi bersama pak Latif dan Rama. Tapi, apa yang terjadi. Wira dan Baim sudah dibebaskan dari kantor polisi. Mereka bebas karena jaminan.
Pak Latif dan Rama hampir mengamuk di kantor polisi. Mereka tidak terima orang yang sudah melakukan kekerasan terhadap keluarganya dibiarkan bebas.
Bima baru menyadari satu hal, Wira dan Baim bukan orang biasa. Mereka dilindungi orang yang berkuasa. Bima sangat mengerti perasaan pak Latif dan Rama. Bima mengajak mereka meninggalkan kantor polisi.
Pak Latif dan Rama sangat-sangat kecewa. Pak Latif akan mengejar yang namanya Wira dan Baim bagaimanapun caranya.
...----------------...
Sejak kejadian hari itu, Dinda tidak berani keluar rumah. Dinda juga tidak masuk sekolah. Pak Latif pergi ke sekolah menemui wali kelas Dinda dan menceritakan alasan kenapa Dinda tidak bisa masuk sekolah.
Dinda mengalami trauma. Dinda masih mengingat semua yang Wira katakan. Dinda sama sekali tidak menyangka, dia orang yang sangat jahat. Dinda telah menyakiti keluarga yang selama ini memberikannya tempat tinggal.
Semua itu salahnya. Wira benar, seandainya Dinda di posisi Wira, Dinda pasti akan marah. Wira sakit hati dan melampiaskan kekesalannya pada Dinda. Dinda yang menyebabkan kedua orang tuanya sakit.
Ingatan Wira yang memukul dan membekap mulutnya terus muncul. Itu yang menyebabkan Dinda menjadi was-was keluar rumah. Dinda takut Wira akan mencari dan membawanya pulang. Entah apa yang akan dilakukan Wira terhadapnya.
Pak Latif dan keluarganya sangat perhatian dan sayang kepada Dinda. Mereka terus mencari cara untuk menyembuhkan rasa trauma Dinda. Salah satunya adalah mereka akan pindah dari kota Goldie.
...----------------...
Setelah melihat kondisi Dinda yang tidak ada kemajuan, pak Latif akhirnya memutuskan membawa keluarganya ke kota Jade. Secara kebetulan Bima juga pindah ke kota Jade karena dokter Ardalan dipindahtugaskan ke rumah sakit kota Jade.
Dinda tidak pernah tahu ternyata keluarga angkatnya adalah salah satu orang kaya di kota Jade. Pak Latif yang Dinda kenal sebelumnya adalah keluarga yang sederhana ternyata mempunyai rumah besar di kota Jade.
Pak Latif tanpa sepengetahuan Dinda juga mempunyai bisnis keluarga dan kantor pusatnya berada di kota Jade. Menurut cerita dari Rama, pak Latif sengaja tinggal di kota Goldie karena bosan dengan hidup mewah.
Pak Latif mendidik Rama dan Dita untuk hidup sederhana dan mandiri. Di kota Goldie, Rama dan Dita tanpa malu berjualan di pinggir pantai. Bukannya mereka tidak punya uang tapi mereka ingin menghasilkan uang dengan usaha mereka sendiri.
Pak Latif diam-diam menggunakan koneksinya di kota Jade untuk mencari informasi tentang Wira dan Baim. Dalam waktu tidak terlalu lama, pak Latif menerima informasi.
Wira diketahui adalah anak dari Damin dan Mira. Sekarang mereka membuka usaha kecil-kecilan di bidang kuliner secara online. Catatan Damin dan Mira bersih.
Berbeda dengan Wira, ditemukan catatan Wira pernah masuk penjara karena terbukti mengkonsumsi obat terlarang. Tapi tidak berlangsung lama, Wira dibebaskan dengan jaminan.
Pak Latif mendengar cerita dari Rama, sebelum terjadinya kecelakaan, Bima bertemu dengan Dinda di depan kafe yang ada di kota Agate. Menurut informasi yang di dapat pak Latif, kafe itu milik pengusaha muda yang tidak bisa diselidiki siapa namanya.
Pak Latif curiga, jangan-jangan Dinda pada saat itu dijebak. Mungkin saja Dinda dijadikan tersangka dalam kasus obat terlarang oleh seseorang. Dinda berhasil kabur bersama Bima tapi malang mereka mengalami kecelakaan.
Pak Latif akan terus menyelidiki Wira dan Baim. Pak Latif juga menugaskan beberapa orang untuk mengikuti Dinda pada saat dia keluar rumah.
...----------------...
Dinda secara rutin pergi ke psikiater untuk mengobati rasa traumanya atas saran dan rujukan dari Dokter Ardalan. Selama seminggu tinggal di kota Jade, Dinda mengalami perubahan.
Dinda kembali ceria seperti dulu. Dinda mulai membuka diri untuk bertemu dengan orang lain. Walaupun masih tidak ingin berinteraksi setidaknya Dinda tidak takut lagi.
Kali ini Dinda pergi ke psikiater sendiri. Pak Latif dan Bu Sekar bekerja di kantor, Rama dan Dita pergi ke sekolah. Dinda masih belum kepikiran untuk kembali ke sekolah.
Dinda sudah menjalani terapinya. Dinda memutuskan pulang ke rumah. Sebelum pulang, Dinda ingin melihat-lihat kota Jade. Selama ini Dinda banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Dinda dengan motor matiknya berkeliling sebentar sambil menghapal nama jalan. Dinda banyak menemukan jajanan kuliner di pinggir jalan.
Dinda turun dari motor dan mampir ke salah satu lapak yang berjualan cireng. Dinda mengurungkan niatnya untuk membeli karena lapak itu dipenuhi dengan pelanggan.
Dari kejauhan, sekelompok cowok sedang memperhatikan Dinda. Dia begitu tertarik pada Dinda. Dia kemudian mengajak teman-temannya untuk melakukan taruhan. Siapa yang bisa membuat Dinda jatuh cinta akan mendapatkan hadiah.
Teman-temannya sepakat. Mereka memberikan kesempatan kepada cowok itu untuk mendekati Dinda.
Cowok itu dengan percaya diri mendekati Dinda. Dia sengaja menyenggol pundak Dinda. Dinda kaget sambil memegangi pundaknya yang sedikit sakit.
Dinda dan cowok itu saling berpandangan. Cowok itu membuka lebar kedua matanya. Cowok itu memegang pundak Dinda dan berkata.
"Rani! Kamu Rani kan!"
Dinda mendorong dada cowok itu dan bergegas naik ke motornya. Dengan cepat Dinda melajukan motornya ke jalan raya. Cowok itu tidak ingin kehilangan Dinda, dia berlari mengambil motornya dan mengejar Dinda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...