NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Hari yang Tidak Berjalan Sesuai Rencana”

Nayla Annaya adalah seorang perempuan berusia 24 tahun yang belum pernah menjalin hubungan sejak lahir, bahasa gaulnya JOMBLO. Ia tidak benar-benar merasa sedih akan hal itu, meskipun sesekali rasa kesepian datang menghampiri. Namun, menurutnya, memiliki pasangan bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan. Ia sering melihat hubungan orang lain yang penuh emosi, pertengkaran, dan perdebatan kecil yang melelahkan. Hal-hal seperti itu bukanlah sesuatu yang ia inginkan.

Karena itu, Nayla memilih untuk sendiri. Ia ingin fokus pada dirinya sendiri, menikmati hidup dengan caranya sendiri tanpa tekanan dari hubungan yang rumit. Setidaknya, itulah rencana awalnya.

Sayangnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Keluarganya justru terus mendesaknya untuk segera menikah. Tekanan itu perlahan membuat Nayla merasa terpojok, seolah-olah ia tidak memiliki pilihan lain. Ia merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang belum siap ia jalani, sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya sendiri.

Hari ini, Nayla mencoba melupakan semua itu. Ia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan niat menghabiskan waktu bersama teman-temannya, berharap suasana ramai bisa sedikit mengalihkan pikirannya.

Namun, sepertinya hari ini bukan hari yang berpihak padanya.

Hari ini terasa seperti hari yang cukup sial.

“Akhirnya kita bisa berkumpul lagi setelah sekian lama,” ucap Nayla sambil tersenyum kepada teman-temannya.

Karen, Mirna, dan Caca membalas senyumnya dengan antusias.

“Yay, kita liburan! Aku sudah siap untuk berbelanja dan menikmati makanan enak!” seru salah satu dari mereka.

Mereka berempat telah berteman sejak kelas 2 SMK hingga sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka jarang memiliki kesempatan untuk berkumpul karena kesibukan masing-masing.

Karen Sulaiman kini sibuk mengurus usaha restoran milik orang tuanya. Ayahnya telah meninggal dunia sejak Karen masih berada di semester awal perkuliahan, dan pertengahan tahun lalu ibunya jatuh sakit. Keadaan tersebut membuat Karen harus mengambil alih tanggung jawab atas restoran tersebut. Sebagai anak tunggal, ia tidak memiliki pilihan lain, terlebih orang tuanya dulu harus menunggu selama 14 tahun pernikahan sebelum akhirnya ibunya bisa hamil.

Berbeda dengan Karen, Mirna Sari telah menjalani kehidupan berkeluarga. Ia menikah pada usia 19 tahun, sesuatu yang sebenarnya sudah dapat ditebak sejak masa SMK karena kedekatannya dengan sang pasangan saat itu. Kini, Mirna memiliki seorang anak laki-laki yang hampir berusia empat tahun. Untuk hari ini, ia dapat berkumpul bersama teman-temannya karena anaknya dititipkan kepada ibunya. Mirna juga kini tinggal di kota yang berbeda karena mengikuti suaminya.

Sementara itu, Caca Ayu Ningsih tengah menempuh pendidikan spesialis di bidang kandungan. Dunia kedokteran yang ia jalani memang tidak sepenuhnya dipahami oleh Nayla. Caca dikenal sebagai sosok yang pendiam, bahkan lebih pendiam dibandingkan Nayla. Namun, di antara mereka, Caca adalah yang paling unggul dalam hal akademik. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana kedokterannya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,97.

Di antara mereka semua, hanya Nayla yang masih sendiri.

Kembali ke situasi saat ini, Nayla dan teman-temannya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Mereka menikmati suasana sambil mengobrol tentang berbagai hal yang menyenangkan. Nayla bahkan sengaja tidak membalas pesan dari keluarganya. Ia ingin fokus menikmati waktu bersama teman-temannya tanpa gangguan.

Namun, suasana tenang itu ternyata tidak berlangsung lama.

Setelah selesai makan dan puas mengobrol, mereka memutuskan untuk berkeliling dan berbelanja. Semuanya berjalan biasa saja, sampai tiba-tiba perhatian mereka tertuju pada sebuah kerumunan.

Aduh, ada apa itu?” Mirna menoleh ke arah kerumunan orang.

“Tidak tahu, tapi sepertinya ada keributan,” jawab Karen.

Mereka pun mendekat.

Di tengah kerumunan, terlihat seorang anak laki-laki berlari ke sana kemari sambil berteriak. Ia tampak marah dan mulai melempar mainan dari rak yang ada di sekitarnya.

“Aku bosan! Aku bosan! Aku ingin sendiri, jangan ikuti aku!” teriak anak itu dengan emosi.

Nayla hanya bisa terdiam melihat kejadian tersebut. Anak itu benar-benar membuat kekacauan.

Keributan itu semakin menarik perhatian banyak orang. Beberapa di antaranya mencoba menenangkan si anak.

“Ayo, adik kecil, jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh, lho,” ujar seorang wanita sambil berusaha mengejarnya.

“Tidak! Jangan kejar aku! Aku tidak mau main denganmu! Aku ingin sendiri!” balas anak itu sambil terus berlari.

Seorang pria lain mencoba cara berbeda.

“Ayo, sini. Om kasih permen,” katanya sambil mengeluarkan permen dari kantongnya.

Namun, usaha itu justru membuat anak tersebut semakin kesal. Wajahnya memerah, napasnya memburu, dan teriakannya semakin keras. Ia terus berlari tanpa arah, membuat orang-orang di sekitarnya kewalahan.

Sementara itu, tanpa diduga, teman-teman Nayla malah ikut terlibat dalam situasi tersebut.

Mirna, jangan ikut campur. Ayo kita pergi saja,” ucap Nayla, mencoba menahan temannya.

Namun, Mirna dan Karen seolah tidak mendengar. Mereka tetap mendekati anak kecil itu dengan antusias. Nayla hanya bisa menghela napas. Ia sudah tahu, keduanya memang sangat menyukai anak kecil.

“Ayo, adik kecil! Kamu mau main dengan kami? Lihat ini, kakak punya mainan bagus, lho,” kata Mirna sambil mengeluarkan sebuah mainan pesawat dari tasnya. “Sebenarnya ini untuk anak kakak, tapi kakak kasih untuk kamu,” tambahnya sambil tersenyum.

Karen ikut menimpali, “Ayo, jangan lari-larian. Sini, kita main bersama.”

Melihat tingkah kedua temannya yang sengaja melembutkan suara, Nayla dan Caca hanya bisa saling berpandangan lalu menggeleng pelan. Jelas sekali anak itu sudah cukup besar untuk mengerti, bukan bayi lagi.

Kejadiannya berlangsung begitu cepat.

Jika dipikir-pikir, anak itu sebenarnya masih bisa menghindar. Namun, saat itu Nayla sedang tidak memperhatikan dengan baik karena fokus pada ponselnya.

Duk!

“Aaah!” Nayla terkejut sambil memegang keningnya. Rasa sakit langsung menjalar, dan saat ia menyentuhnya, tangannya terkena darah.

Keningnya berdarah.

Suasana yang sebelumnya bising mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. Mirna dan Karen langsung berlari menghampiri, sementara Caca dengan sigap mengeluarkan peralatan dari kotak P3K yang selalu ia bawa.

Namun, Nayla justru berdiri dan berjalan cepat menghampiri anak itu.

Hey, bocah sialan!” teriaknya, emosi.

“Lihat ini! Apa yang kamu lakukan? Ini sakit, tahu! Kamu tidak lihat ini berdarah? Kalau main jangan sembarangan lempar-lempar! Itu berbahaya!”

Alih-alih takut, anak itu justru menatap Nayla dengan berani. Kedua tangannya bersedekap di dada, wajahnya menunjukkan ekspresi menantang.

Ia bahkan mengejek.

“Huh, nye-nye-nye,” ucapnya sambil menyeringai.

Nayla semakin tersulut emosi.

Sudah salah, malah menantang? Kamu tidak tahu diri, ya! Berani sekali kamu—”

“Nayla, cukup!” Mirna langsung menghentikannya.

Karen dan Caca segera menarik Nayla menjauh dari tempat itu. Nayla masih berusaha memberontak, emosinya belum mereda.

“Tidak! Dia tadi—”

Ucapannya terhenti saat Mirna menutup mulutnya agar tidak semakin memperkeruh suasana. Setelah mereka berada cukup jauh, Mirna akhirnya melepaskan tangannya.

“Apa sih, Mirna! Anak itu malah menantangku!” keluh Nayla, masih kesal.

Mereka terus menarik Nayla hingga cukup jauh dari kerumunan, lalu berhenti. Caca segera membersihkan luka di kening Nayla dengan tenang menggunakan kain kasa dari kotak P3K miliknya—sesuatu yang memang selalu ia bawa ke mana pun.

“Nay, bisa tenang tidak? Aku bersihkan dulu lukanya. Tolong diam sebentar,” ujar Caca dengan nada tegas.

Nada suara itu cukup membuat Nayla terdiam. Di antara mereka, jika Caca sudah berbicara seperti itu, tidak ada yang berani membantah.

“Dia tidak sengaja,” lanjut Caca.

Tidak sengaja?” Nayla mendengus pelan. “Tidak sengaja bisa sampai bikin aku berdarah begini?”

Ia masih bersungut-sungut, meskipun akhirnya membiarkan Caca menyelesaikan perawatan lukanya. Setelah perban terpasang rapi di keningnya, Nayla menarik napas panjang.

Namun, belum sempat emosinya benar-benar mereda, pandangannya tertuju pada beberapa orang yang berjalan mendekat ke arah mereka.

Sepertinya, itu adalah para pengasuh anak tadi.

Dan melihat cara mereka mendekat, tampaknya akan ada urusan yang belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!