Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI GELAP KAMAR MERAH
Malamm di Kota Valerion tidak pernah benar-benar tidur, begitu pula dengan The Velvet Rose. Musik bas dari aula bawah berdentum rendah, getarannya merayap naik menembus lantai marmer hingga ke lantai tiga, seolah menjadi latar suara bagi penderitaan yang tersembunyi di balik pintu-pintu kayunya.
Kirana duduk mematung di tepi ranjang kamar 303. Malam ini, atmosfer kelab terasa berbeda. Udara di sekitarnya terasa lebih berat dan mencekik. Di atas meja rias, sebotol minyak aromaterapi lavender yang baru saja diletakkan oleh Mbak Lastri menguapkan wewangian menenangkan, namun bagi Kirana, bau itu justru mempertegas kecemasan yang sedang menggerogoti dadanya.
Setengah jam yang lalu, Mami Rosa masuk ke kamarnya dengan senyum yang tidak pernah gagal membuat bulu kuduk Kirana meremang. Wanita itu membawa sebuah gaun sutra berwarna putih salju—sebuah kontras yang sengaja diciptakan untuk memuaskan fantasi tamu khusus malam ini.
"Malam ini, kamu akan melayani Tuan Robert," bisik Mami Rosa sembari mengelus rambut Kirana yang telah ditata rapi. "Dia adalah pemilik jaringan kasino terbesar di Distrik Amethyst. Uangnya tidak berseri, Kirana. Tapi... dia punya selera yang agak 'berbeda'. Aku tahu kamu gadis yang kuat dan pintar. Tahan sedikit egomu, penuhi keinginannya, dan bonus malam ini bisa menyamai pendapatanmu selama dua bulan."
Kata-kata Mami Rosa masih terngiang di telinga Kirana. Selera yang berbeda. Di tempat seperti The Velvet Rose, frasa itu memiliki makna tunggal yang mengerikan: rasa sakit. Kirana telah mendengar bisikan-bisikan ketakutan dari para wanita senior di dapur belakang tentang Tuan Robert. Pria itu adalah monster yang tidak mencari kehangatan, melainkan kepuasan dari jeritan dan air mata korbannya.
Kirana menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun putih salju itu membuatnya tampak seperti merpati yang suci, siap untuk dikorbankan di atas altar kegelapan Valerion. Jemarinya yang dingin menyentuh laci meja rias, di mana lembaran resi pos kuning dan tumpukan uang tipsnya disimpan.
"Dua juta... utang sebenarnya hanya dua juta," bisik Kirana pada dirinya sendiri, mengulang kalimat yang ia dengar dari balik pintu kerja Mami Rosa tempo hari. Kalimat itu kini menjadi mantra kekuatannya. "Saya butuh uang itu. Saya butuh semua kepingan rupiah dari bajingan-bajingan kota ini untuk menghancurkan sangkar ini. Jika rasa sakit adalah harganya, maka saya akan membayarnya lunas."
KLIK.
Suara kunci pintu yang berputar membuat Kirana seketika menegakkan punggungnya. Pintu terbuka perlahan, dan seorang pria melangkah masuk dengan langkah yang sangat tenang—terlalu tenang untuk ukuran pria yang datang ke kelab malam.
Tuan Robert bertubuh tinggi kurus dengan setelan jas hitam yang terpotong sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun. Wajahnya pucat dengan tulang pipi yang menonjol, dan sepasang matanya yang berwarna kelabu menatap Kirana dengan pandangan yang kosong, dingin, dan tanpa emosi manusiawi. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah tas jinjing kulit kecil berwarna hitam yang dikunci dengan sandi kuningan.
Pria itu tidak menyapa. Ia menutup pintu, menguncinya dengan perlahan, lalu meletakkan tas kulitnya di atas meja marmer. Dengan gerakan yang sangat metodis, ia membuka jas hitamnya, melipatnya dengan rapi, dan menyampirkan benda itu di sandaran kursi meja rias.
"Nama yang bagus. Kirana," suara Robert terdengar datar, hampir menyerupai bisikan yang menggema di dalam kamar yang sunyi. Ia membuka kancing manset kemeja putihnya dan menggulungnya hingga sebatas siku. "Rosa bilang kamu mawar baru yang paling patuh di sini. Mari kita buktikan apakah uang yang kubayar sebanding dengan reputasimu."
Kirana berdiri dari tepi ranjang, memaksakan sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang mulai menegang. "Suatu kehormatan bisa menemani Anda, Tuan Robert," cicitnya, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Robert tidak membalas senyuman itu. Ia berjalan mendekati meja, menekan tombol kombinasi pada tas kulitnya hingga terdengar bunyi KLIK yang tajam. Saat tutup tas itu terbuka, lampu kristal kamar memantulkan kilatan dari benda-benda di dalamnya: seutas tali tambang sutra tipis, beberapa pasang borgol kulit berlapis kain beludru hitam, dan sebuah cambuk pendek dengan ujung jumbai kulit yang halus namun mematikan.
Darah Kirana seketika terasa mandek mengalir. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Insting liarnya berteriak untuk berlari menuju pintu, memukul jeruji, atau melompat keluar jendela. Namun, akal sehatnya mencengkeram erat kesadarannya. Jika kamu lari, Mami Rosa akan menghentikan kiriman uang ke desa. Ibu akan mati tanpa obat. Danu akan putus sekolah.
"Sini," perintah Robert singkat, menunjuk ke arah ranjang tanpa menoleh.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ia melangkah maju dengan keanggunan yang dipaksakan, menyerahkan dirinya pada takdir kelam yang telah menanti di atas ranjang sutra putih itu.
Dua jam berikutnya adalah potongan waktu dari neraka dunia yang paling jahanam bagi Kirana.
Tuan Robert tidak mengonsumsi alkohol; ia sepenuhnya sadar saat melakukan aksinya, dan itulah yang membuat setiap tindakannya terasa jauh lebih kejam. Pria itu mengikat kedua pergelangan tangan Kirana ke tiang ranjang kayu jati menggunakan tali sutra hitam. Ikatannya tidak sampai melukai kulit, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakan tubuh Kirana sepenuhnya.
"Jangan menahan suaramu, Kirana," bisik Robert di dekat wajah Kirana, matanya yang kelabu kini berkilat oleh kepuasan yang gila. "Aku membayar mahal bukan untuk melihat patung lilin. Aku ingin mendengar suaramu."
PLAK!
Ujung cambuk pendek itu menghantam pundak kiri Kirana yang terekspos oleh potongan gaun putihnya. Rasa perih yang luar biasa langsung menjalar, membakar permukaan kulitnya hingga meninggalkan bilur merah yang kontras di atas kulitnya yang putih bersih. Kirana memekik kesakitan, air matanya seketika tumpah tanpa bisa dibendung.
Namun, di tengah rasa sakit yang mendera, Kirana menolak untuk kehilangan kendali atas pikirannya. Setiap kali rasa perih dari cambukan atau cengkeraman kasar Robert menghantam tubuhnya, Kirana mengunci pandangannya pada langit-langit kamar gantung kristal. Di dalam benaknya, ia memisahkan jiwa dan raganya. Ia membiarkan raganya menjadi pelampiasan kegilaan pria di atasnya, sementara jiwanya melayang jauh ke desanya yang damai.
“Satu cambukan... berarti sepuluh botol obat Ibu,” batin Kirana menjerit di sela-sela isak tangisnya yang sengaja ia keraskan untuk memuaskan Robert. “Satu hantaman lagi... berarti biaya sekolah Danu untuk satu semester. Biarkan saja... biarkan tubuh ini hancur, asal mereka hidup.”
Robert tampaknya terangsang oleh kombinasi antara air mata Kirana dan ketahanan luar biasa yang ditunjukkan oleh gadis desa itu. Pria itu terus melancarkan aksinya dengan berbagai fantasi kelamnya yang menjijikkan, mengubah gaun putih salju itu menjadi robekan kain yang ternoda oleh keringat mual dan tetesan darah tipis dari bilur-bilur kulit Kirana.
Setiap menit terasa seperti satu abad penyiksaan yang tiada akhir bagi Kirana. Namun, di balik tangisannya, sepasang mata Kirana yang menatap temaramnya kamar menyimpan sesuatu yang tidak disadari oleh Robert: sebuah kalkulator mental yang terus menghitung jumlah pundi-pundi rupiah yang sedang ia kumpulkan dari setiap rasa sakit ini.
Menjelang pukul empat subuh, kegilaan itu akhirnya mereda. Tuan Robert berdiri dengan napas yang teratur, merapikan kembali pakaiannya di depan cermin tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Ia mengambil sebotol air mineral, meminumnya sedikit, lalu menatap Kirana yang terkapar tak berdaya di atas ranjang dengan tangan yang masih terikat.
Robert berjalan mendekati meja rias, membuka tas kulitnya, lalu mengeluarkan tiga ikat tebal uang kertas bernominal seratus ribu rupiah—total tiga puluh juta rupiah, sebuah angka yang luar biasa besar untuk sekali servis di The Velvet Rose. Ia melemparkan tumpukan uang itu ke atas ranjang, tepat di samping tubuh Kirana yang gemetar karena kedinginan dan rasa sakit.
"Kamu adalah wanita terbaik yang pernah kupunya di kelab ini, Kirana," kata Robert datar sembari memakai kembali jas hitamnya. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya dan memotong tali sutra yang mengikat tangan Kirana dengan sekali gerakan. "Kamu tahu cara memuaskan tamumu tanpa kehilangan akal. Bulan depan, aku akan membookingmu untuk satu malam penuh."
Pria itu berbalik, mengambil tas kulitnya, lalu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu kamar tertutup dengan bunyi dentuman lembut yang menandakan penderitaan malam itu telah usai.
Begitu pintu terkunci, Kirana perlahan menarik tangannya yang mati rasa. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit di punggung, pundak, dan paha kirinya yang dipenuhi bilur memar keunguan. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia merangkak di atas kasur, mengumpulkan tiga ikat uang kertas yang berserakan di sekitarnya.
Ia memeluk tumpukan uang merah itu di dadanya yang kembang kempis karena tangis yang kini meledak tanpa suara. Air matanya membasahi lembaran uang kertas tersebut.
Rasa sakitnya luar biasa, jiwanya terasa kotor dan hancur berkeping-keping. Namun saat melihat tumpukan uang di dekapannya, sebuah senyuman getir yang sangat dingin perlahan terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Tiga puluh juta rupiah dalam satu malam. Mami Rosa mungkin akan mengambil setengahnya untuk potongan utang fiktif, namun sisa bagiannya masih sangat besar—cukup untuk mempercepat rencana pelariannya dari neraka ini.
"Cambuk saya sesuka kalian... siksa saya sesuka kalian," bisik Kirana ke arah pintu yang tertutup, suaranya parau dan sarat akan dendam yang sedalam samudra. "Setiap rasa sakit yang saya terima malam ini, akan saya kembalikan dalam bentuk kehancuran bagi kalian semua di Valerion."
Dengan tubuh yang terseok-seok dan darah tipis yang mengering di pundaknya, Kirana menyeret langkahnya menuju kamar mandi, siap membasuh puing-puing tubuhnya demi menghadapi malam pertempuran berikutnya di sangkar derita itu.