NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi itu, ketenangan di apartemen mewah Thomas hancur berantakan. Arunika baru saja selesai mandi dan masih mengenakan piyama beruang kutub favoritnya, sementara Thomas sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas di meja makan. Tiba-tiba, suara gedoran keras menghantam pintu depan.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Thomas! Buka pintunya! Mama tahu kamu di dalam!"

Mendengar suara melengking yang sangat ia kenal, Thomas tersedak kopinya. Arunika yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk langsung mematung. Wajahnya pucat pasi.

"M-Mas... itu suara Mami kamu? Sama... Mama aku?!" bisik Arunika dengan nada horor.

Thomas segera berdiri, merapikan kaosnya. "Tetap di belakangku. Jangan bicara kalau tidak perlu."

Begitu pintu dibuka, dua sosok wanita paruh baya dengan gaya sosialita yang elegan langsung menerjang masuk. Mama Arunika dan Mama Thomas berdiri dengan berkacak pinggang, napas mereka memburu. Mata mereka menyisir seluruh sudut ruangan, hingga akhirnya tertuju pada sosok Arunika yang berdiri gemetar di dekat lorong kamar.

"Loh... Nika?! Kok kamu di sini?!" pekik Mama Arunika dengan mata melotot. "Katanya kamu tinggal di mess kantor? Kenapa pagi-pagi begini kamu ada di apartemen Thomas, pakai piyama pula?!"

"Emm.. i.. itu Ma... anu..." Arunika tergagap, otaknya mendadak blank. Ia menatap Thomas dengan tatapan minta tolong yang sangat jelas.

Mama Thomas—yang akrab disapa Mami—melangkah maju ke arah putranya, wajahnya terlihat sangat marah namun juga kecewa. "Thomas! Bisa kamu jelaskan maksudnya apa? Kok kalian living together begini? Kamu pikir ini luar negeri, hah?! Kita ini punya adat, punya agama!"

"Mi, tenang dulu. Thomas bisa jelaskan—"

"Jelaskan apa lagi?!" potong Mami cepat. "Mami memang pengen kamu cepat nikah, tapi bukan berarti kamu bisa bawa anak orang tinggal serumah sebelum sah! Kalau Tante kamu tahu, atau kalau tetangga di kompleks tahu, mau ditaruh di mana muka kita?"

Thomas menarik napas panjang, ia melangkah mendekat dan merangkul bahu Arunika yang masih mematung. "Thomas bawa Arunika ke sini karena ingin menjaganya. Fasilitas kantor sedang tidak kondusif, dan Thomas pikir akan lebih mudah mengawasi kegiatannya karena dia asisten pribadi Thomas."

"Menjaga atau mengambil kesempatan?!" sahut Mama Arunika, wajahnya memerah. "Nika, kamu ini perempuan! Kenapa kamu mau saja diajak begini?"

"Ma, Mas Thomas nggak ngapa-ngapain Nika kok! Sumpah! Kami beda kamar!" bela Arunika dengan suara mencicit.

Mami Thomas menghela napas panjang, ia bertukar pandang dengan Mama Arunika. Kesepakatan dalam diam sepertinya terjadi di antara kedua ibu-ibu itu.

"Pokoknya tidak ada tapi-tapian lagi!" tegas Mami. "Kalian harus dipingit! Pernikahan kalian tinggal 5 hari lagi, dan mulai detik ini, Arunika harus pulang ke rumah rumah Mama-nya. Tidak boleh ada kontak, tidak boleh ada temu-temu di kantor!"

"Tapi Mi, urusan pekerjaan—"

"Pekerjaan bisa dikerjakan orang lain, Thomas! Kamu punya Ardi, kan?" seru Mami. "Ayo Jeng, bawa Arunika pulang sekarang juga. Biar saya yang urus anak keras kepala ini."

Mama Arunika langsung menarik tangan putrinya. "Ayo Nika, kemasi barang-barangmu sekarang! Jangan sampai ada yang tertinggal."

Arunika hanya bisa pasrah. Sambil berjalan menuju kamar untuk mengemas koper, ia sempat melirik Thomas dengan wajah sedih. Thomas juga hanya bisa diam, ia tahu jika ibunya sudah mengeluarkan titah 'pingit', maka tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa membantahnya.

Sepuluh menit kemudian, Arunika sudah siap dengan kopernya. Suasana apartemen yang tadinya hangat kini terasa tegang.

"Dan Thomas, dengar Mami baik-baik," ujar Mami sambil menunjuk hidung putranya. "Soal gaun dan jas, kamu tidak usah pusing lagi. Mama sama Jeng sudah menyiapkan semuanya dari desainer pilihan kami. Sudah beres, tinggal fitting terakhir nanti."

"Mami, Thomas sudah pesan di—"

"Batalkan!" potong Mami mutlak. "Pilihan Mami lebih bagus. Kamu sekarang cuma perlu fokus pada satu hal: siapkan keuangan kamu, urus penyewaan hotel, dan pastikan Wedding Organizer tidak ada yang meleset. Biar Mami dan Mama Nika yang urus printilan lainnya."

Thomas memijat pangkal hidungnya. Ia merasa otoritasnya sebagai CEO hancur berkeping-keping di depan kedua wanita ini. "Baiklah, Mi. Thomas akan urus sisanya."

Saat Arunika akan ditarik keluar dari pintu, Thomas sempat menahan langkah mereka sebentar. Ia mendekat ke arah Arunika, mengabaikan tatapan tajam kedua ibu mereka.

"Hanya lima hari, kan?" bisik Thomas sambil menatap mata Arunika dalam-dalam.

Arunika mengangguk pelan. "Iya, Mas. Lima hari aja kok."

"Jangan rindu padaku," goda Thomas tipis, sebuah upaya untuk mencairkan suasana.

"Ih, siapa juga yang rindu!" sahut Arunika ketus, namun pipinya merona merah.

Mama Arunika berdehem keras. "Ehem! Sudah, ayo jalan!"

Pintu apartemen tertutup dengan suara dentum yang cukup keras. Thomas kini berdiri sendirian di ruang tamu yang mendadak terasa sangat luas dan sepi. Ia menatap cangkir kopi Arunika yang masih tersisa separuh di atas meja.

"Lima hari tanpa dia?" gumam Thomas. Ia meraih ponselnya dan membuka kontak 'Gorgeous wife 💙'.

Thomas: Baru sepuluh menit kamu pergi, tapi apartemen ini rasanya seperti kuburan.

Thomas: Jaga dirimu di rumah. Kalau Marsel datang, jangan dibukakan pintu.

Tak lama, balasan masuk.

Gorgeous wife 💙: Ciyee... ada yang kangen ya?

Gorgeous wife 💙: Tenang aja Mas CEO, aku bakal aman sama Mama. Fokus aja bayar tagihan hotelnya ya! Hahaha.

Thomas tersenyum miring. Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan menuju balkon. Menatap jalanan Jakarta, ia menyadari bahwa lima hari ke depan akan menjadi waktu terlama dalam hidupnya. Namun, ia juga tahu, setelah lima hari itu berakhir, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka—bahkan kedua ibu mereka sekalipun.

"Lima hari lagi," bisik Thomas pada angin pagi. "Dan kamu akan benar-benar menjadi Nyonya Adiputra secara sah."

***

3 hari kemudian...

Langit Jakarta berubah warna menjadi oranye keunguan saat Thomas berdiri di balkon kamarnya di rumah utama keluarga Adiputra. Sudah tiga hari sejak penggerebekan di apartemen, dan selama tiga hari itu pula, Thomas merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia sengaja pulang ke rumah orang tuanya, bukan karena rindu pada suasana rumah, melainkan karena dari balkon ini, ia bisa melihat langsung ke jendela kamar Arunika yang berada tepat di sebelah.

Rumah mereka hanya dibatasi oleh pagar beton rendah dan deretan pohon pucuk merah. Thomas menyesap kopinya, matanya terpaku pada gorden berwarna krem di seberang sana yang sesekali tertiup angin.

"Cuma gordennya yang kelihatan, tapi kenapa kamu tetap betah berdiri di sini sampai kopinya dingin?"

Suara berat itu membuat Thomas menoleh. Papa—Pak Adiputra—melangkah masuk ke balkon, mengenakan kaos santai dan sarung, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di kantor. Pria tua itu berdiri di samping putranya, ikut menatap ke arah rumah tetangga.

Thomas berdeham, mencoba bersikap acuh tak acuh. "Hanya sedang mencari udara segar, Pa. Apartemen terlalu sumpek belakangan ini."

Papa terkekeh, suara tawa yang sarat akan pengalaman hidup. Ia mengeluarkan korek api dan menyulut rokoknya perlahan. "Sumpek karena AC-nya mati, atau sumpek karena nggak ada suara berisik anak itu?"

Thomas terdiam. Ia tahu ia tidak bisa membohongi ayahnya.

"Kamu serius sama Nika?" tanya Papa tiba-tiba. Suaranya tidak lagi bernada menggoda, melainkan dalam dan penuh selidik.

"Serius, Pa," jawab Thomas tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jendela kamar Arunika.

Papa mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Thomas, Papa tahu kamu. Kamu itu anak yang paling sulit ditebak. Kamu selalu punya rencana cadangan untuk segala hal dalam bisnis. Tapi pernikahan bukan bisnis. Menikah itu seperti menyerahkan lehermu pada seseorang dan berharap dia tidak akan menarik pedangnya."

"Aku tahu, Pa."

"Papa juga tahu soal Marsel," lanjut Papa, membuat Thomas sedikit tersentak. "Papa nggak buta. Papa lihat bagaimana mata Arunika dulu selalu mencari adikmu di setiap acara keluarga. Dan Papa juga lihat bagaimana mata kamu selalu mengikuti Arunika dari kejauhan sejak kalian masih remaja."

Thomas mengepalkan tangannya di pagar balkon. Jadi, selama ini Papa tahu?

"Papa hanya ingin memastikan," ujar Papa lagi, menoleh ke arah Thomas. "Kamu menikahi dia karena kamu benar-benar menginginkannya sebagai teman hidup, atau kamu hanya ingin memenangkan sebuah kompetisi melawan adikmu sendiri? Karena kalau ini soal kompetisi, kamu sedang menghancurkan hidup dua orang sekaligus."

Thomas menarik napas panjang, menatap papanya dengan tatapan yang paling jujur yang pernah ia miliki. "Pa, kalau ini soal kompetisi, aku sudah melakukannya sepuluh tahun yang lalu. Aku punya banyak kesempatan untuk menjatuhkan Marsel di depan Nika, tapi aku nggak melakukannya karena aku mau Nika memilih atas kemauannya sendiri."

Thomas menjeda sejenak, suaranya sedikit merendah. "Tapi melihat dia terus-menerus disakiti oleh Marsel... aku nggak bisa diam lagi. Aku ingin dia melihat bahwa ada pria yang bisa menjadikannya prioritas utama tanpa perlu dia minta. Dan pria itu adalah aku."

Papa mengangguk-angguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. "Lalu bagaimana dengan Arunika? Dia sudah tahu perasaanmu yang sebenarnya? Atau dia masih menganggap ini hanya 'jalan keluar' dari rasa malunya?"

Thomas tersenyum kecut. "Dia masih menganggap ini akting yang sangat bagus, Pa. Dia terlalu polos untuk sadar kalau semua fasilitas, semua perhatian, dan semua panggilan itu datang dari sini," Thomas menyentuh dadanya sendiri.

"Itu PR kamu, Tom," Papa menepuk bahu Thomas dengan kuat. "Pernikahan yang dimulai dengan 'alasan' itu berat. Kamu harus lebih sabar daripada biasanya. Apalagi menghadapi anak seaktif Nika. Dia itu seperti kembang api, indah tapi meledak-ledak. Kalau kamu terlalu kaku, dia bisa redup."

"Aku akan belajar, Pa. Aku sudah masakin dia omelet dan semur, dan dia bilang itu enak."

Papa tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan putranya. "CEO Adiputra Group masak semur daging? Wah, kalau direksi kamu tahu, harga saham kita bisa naik karena sentimen positif 'bos idaman'."

Di tengah tawa mereka, jendela kamar di seberang tiba-tiba terbuka. Arunika muncul di sana, mengenakan kaos santai dan bando telinga kelinci untuk menahan rambutnya. Gadis itu tampak sedang menjemur sehelai handuk kecil di balkonnya sendiri.

Thomas otomatis berdiri tegak, matanya tidak bisa beralih.

Arunika menyadari kehadiran dua pria di balkon sebelah. Ia mematung sesaat, lalu melambai dengan heboh sambil memberikan senyum lebarnya yang khas.

"MAS THOMAS! OM ADIPUTRA! HALOOO!" teriaknya dari seberang.

Papa tertawa sambil melambai balik. "Tuh, disapa sama calon istri. Balas, jangan kayak patung!"

Thomas mengangkat tangannya sedikit, memberikan lambaian kaku namun matanya memancarkan kehangatan yang luar biasa. "Masuk, Arunika! Angin malam nggak bagus buat kamu!" teriak Thomas balik.

"Dikit lagi Mas! Aku baru selesai maskeran pake skincare dari kartu Mas! Glowing kan?!" sahut Arunika sambil menunjuk wajahnya yang memang tampak bersinar tertimpa lampu balkon.

Thomas hanya bisa menggelengkan kepala, namun senyum miringnya tidak bisa hilang.

"Lihat itu, Tom," ujar Papa sambil mematikan rokoknya. "Gadis seperti dia itu yang bisa bikin rumah ini jadi 'rumah', bukan cuma bangunan besar yang dingin. Jaga dia baik-baik. Kalau sampai kamu bikin dia nangis, Papa sendiri yang bakal seret kamu keluar dari perusahaan."

"Nggak akan, Pa. Thomas janji."

"Satu lagi," Papa berbalik hendak masuk ke dalam. "Marsel tadi sore datang ke Papa. Dia minta pertunangannya dengan Aletta ditunda. Sepertinya dia mulai sadar apa yang hilang dari hidupnya."

Thomas menegang. "Lalu Papa bilang apa?"

"Papa bilang, 'kereta sudah berangkat, dan tiketnya sudah dibeli oleh kakakmu'. Jangan beri dia celah, Thomas. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai dengan jantan."

Thomas mengangguk mantap. "Terima kasih, Pa."

Setelah Papa masuk, Thomas kembali menatap ke seberang. Arunika sudah masuk ke kamarnya, namun lampu kamarnya masih menyala. Thomas merogoh ponselnya, mengetik sebuah pesan.

Thomas: Tidurlah. Jangan kebanyakan main hp. Ingat, wajahmu harus sempurna untuk hari Sabtu nanti.

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

Gorgeous wife 💙: Siap, Mas CEO yang hobi ngatur! Mas juga tidur, jangan ngintipin kamar aku terus dari balkon. Aku tahu aku cantik, tapi tahan dulu kangennya ya! Hehe.

Thomas terkekeh pelan. Ia melirik jendela kamar Arunika sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga hari, Thomas bisa tidur dengan nyenyak. Ia tahu, meskipun rintangan di depannya—termasuk adiknya sendiri—masih ada, ia memiliki restu penuh dari sang ayah dan janji yang akan ia tepati seumur hidupnya.

Dua hari lagi. Hanya tinggal dua hari lagi sampai nama Arunika Nirmala berubah menjadi Arunika Adiputra di atas dokumen negara yang sah. Dan Thomas sudah tidak sabar untuk memulai hari pertamanya sebagai pria paling beruntung di dunia.

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!