Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Melihat tidak ada pilihan Arga dan Putri hanya bisa berdoa dalam hati, dan berjalan paling depan tanpa yakin apakah jalan yang mereka ambil adalah jalan yang benar.
Sedangkan pak Bayu dan lainnya kembali membacakan ayat kursi dengan suara yang lantang, sebagai tameng untuk mengusir sosok pamali itu agar tidak datang.
Langkah demi langkah mereka lewati perjalanan pulang yang seharusnya terasa cepat, justru terasa begitu lama namun tidak ada yang berani mengeluh sedikitpun.
Langit mulai sore namun mereka masih berjalan lurus, seolah jalan yang mereka lewati itu tidak ada habisnya.
Arga yang sadar akan kejanggalan itu langsung meminta semua orang berhenti berjalan.
“Loh, kenapa kita harus berhenti? Ini loh Alfin dan bunga harus buru-buru di bawa ke rumah sakit. Mereka kekurangan darah banyak banget itu” seru salah satu murid yang rasa keputusan Arga itu tidak tepat.
Para warga langsung mengeluarkan penolakan terhadap keputusan yang diambil Arga, keputusan itu terlalu beresiko bisa bisa Alfin dan bunga mati jika harus ditunda tunda perjalanan balik ke kampung.
Pak Bayu yang mendengarkan ucapan para warga yang memang ada benarnya tapi di sisi lain dirinya tahu benar Arga pasti punya alasan yang kuat untuk apa yang ia katakan tadi.
Di tengah situasi yang tidak tahu arah pasti, pak Bayu melihat para murid mulai begitu panik melihat kondisi Alfin dan bunga semakin parah.
Telat sedikit saja harapan mereka hidup setipis kesabaran author. Eh salah …
Maksudnya harapan kedua nya bakal hidup sangat tipis.
Dihadapan oleh dua kemungkinan besar putri dan Bagas yang melihat itu benar-benar harus berpikir kritis.
“Udahlah mending kita terus jalan siapa tahu tar sampai ke kampung, jangan diam seperti ini” geram para warga mulai emosi dengan pak bayu yang tidak cepat cepat mengambil keputusan dalam situasi genting ini.
“Hidup dan mati seseorang benar-benar berada di ujung tanduk pak!” teriak salah satu warga yang benar benar sudah tidak bisa menahan emosi nya.
Pak Bayu yang terus didesak ia tidak bisa mengatakan apapun. Diri nya benar benar tidak bisa diam saja tapi mengambil salah satu keputusan tersebut benar-benar sulit.
Kondisi semakin mencekam putri yang tidak bisa mendengar seperti itu dada nya mulai terasa sesak, ia reflek memegangi lengannya Bagas.
Bagas reflek menoleh ke teman nya yang sudah mulai pucat. “Astaga putri, kamu kecapean”
Mendengar itu para warga semakin diliputi rasa cemas yang bercampur dengan emosi mereka semakin meluap luap.
“Kita … “
“Gak bisa berhenti!!, ini masalah nyawa Arga. Kami memang tidak suka dengan kedatangan mereka tapi membiarkan mereka mati disini itu tidak bisa dibenarkan. Kami hanya tidak suka bukan hilang akal!!” Teriak pak Sumi menyela ucapan arga.
Pak Didi adalah warga yang dari tadi berteriak keras menyuarakan isi hati nya.
Suasana langsung hening namun tetap mencekam seolah setiap tarikan nafas mereka terasa begitu berat.
Putri menatap itu dengan tatapan yang mulai sayu, ia tidak bisa membiarkan semua berakhir dengan air mata.
Diam diam putri menggenggam liontin hati pada kalung yang ia pakai. Sesekali ia melirik ke arah Alfin dan bunga yang nampak seperti mayat hidup.
‘bahkan jika aku harus koma setahun setelah ini,aku tidak akan menyesali keputusan ku. Maafkan ibu … aku tidak menepati janji ku waktu itu’ batin putri merasakan rasa sesak semakin sakit, seperti paru paru nya di remas-remas.
“Pak Bayu sebaiknya kita tetap jalan, hari sudah akan gelap dan sosok itu bisa saja menghalangi kita nantinya jika kita terus diam disini” ujar putri suaranya mulai serak.
Mendengar itu pak Bayu langsung mengangguk ia tidak mengerti kenapa, tapi ia rasa putri seolah tau keputusan yang tepat. Padahal putri hanya murid pendatang.
“Tapi sebelum jalan aku butuh kain hitam apapun itu” kata putri
Mendengar itu pak didi yang kebutuhan pake baju hitam polos langsung merobek sebagian baju nya, segera memberikan kepada putri.
Putri segera menutup matanya dengan kain tersebut, pak Bayu, Arga , Bagas serta yang lainnya hanya bisa melihat itu dengan tatapan bingung.
Namun mereka berharap apa yang dilakukan putri berhasil. Disaat semua orang kebingungan pak didi yang melihat itu hanya tersenyum kecil.
‘benar benar mengikuti jejak ayahnya dulu yah, terlalu hebat sampai ia memilih diam disaat yang lain berkoar-koar’ batin pak didi menahan senyuman nya agar tidak dianggap gila, tersenyum situasi yang tidak tepat.
“Biar aku … “
“Tidak perlu” putri dengan cepat memotong ucapan Bagas. Ia mengikat kuat kain itu sampai membuat nya tidak bisa melihat.
“Semuanya mohon berbaris memanjang ke belakang, pastikan saling berpegangan tangan dengan erat dan saat jalan jangan pernah melihat kebelakang”
Semua dengan kompak berbaris memanjang ke belakang, saling berpegangan erat satu sama lain.
Alfin dan bunga yang lemah hanya bisa digenggam oleh warga yang menggendong mereka di punggung nya.
“Sekali lagi ku ingatkan jangan menoleh ke belakang … kecuali jika kalian mau mati disini”
Perlahan putri melangkahkan kakinya diikuti semua orang dibelakang nya.
Langkah demi langkah mereka ambil, putri merapalkan sesuatu yang terdengar oleh semua nya.
“Dalam malam ku berjalan … berdoa pada mu yang kuasa, tidak tertandingi … tuntutan lah kami ke jalan kembali!!”
Teriak putri dengan keras, ia terus-menerus mengulangi kalimat tersebut.
Semua orang kebingungan, terutama bagas yang tidak pernah mendengar teriakannya putri.
Namun saat ini ia mendengar nya, suara nya keras hampir terlalu keras sampai membuat Bagas bergidik ketakutan karena ia merasa ada sesuatu tersembunyi di teriakan putri.
Tubuh putri mulai berjalan sempoyongan, melihat itu Bagas berinisiatif untuk membantu nya.
Tapi dengan cepat putri memberi isyarat dengan tangan nya tanpa menoleh agar tidak perlu membantu nya.
Suasana terasa seperti ruangan yang dipaksakan terjepit, angin berhembus kencang menumbangkan pohon pohon besar di samping mereka.
Namun anehnya pohon itu tidak menimpah mereka, padahal posisi mereka di pinggir jalan dekat pohon pohon itu berdiri.
Darah mulai mengalir dari penutup mata putri, rasa sakit yang tidak tertahankan mulai membuat mulut nya mengeluarkan darah dan mengotori setiap jalan yang ia lalu.
Arga yang melihat itu ia berpikir sejenak sampai ia ingat sesuatu seseorang yang dahulu juga melakukan hal sama seperti putri.
Dan benar saja tidak lama kemudian mereka akhirnya sampai di depan gardu masuk kampung, namun tidak ada yang berani bicara.
Semua terus berjalan tanpa henti, tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.
Bu nana dan Bu Windy yang memang sudah menunggu mereka dari tadi, melihat kedatangan mereka.
Dengan cepat membukakan pintu agar semuanya masuk kedalam, dan menutup rapat kembali pintu.
Dan Putri terjatuh ke lantai dengan darah mengalir dari penutup mata serta mulut nya.