NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak Diundang

Hari yang selama ini ditunggu Sulis akhirnya tiba,langit tampak mendung,udara terasa lembap setelah hujan semalam.Di dalam mobil, Sulis duduk di kursi belakang bersama Ibu Sumarni. Sementara Bapaknya Irwan mengemudi dengan wajah tegang sejak tadi.

Tak banyak percakapan selama perjalanan,masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.

Sulis menggenggam ponselnya erat,beberapa kali ia melihat pesan dari Bu Ratna yang memastikan bahwa Lastri masih berada di kost.

Dan yang lebih penting,Irwan baru saja datang sekitar satu jam lalu,artinya mereka tidak terlambat.

"Kalau nanti dia marah, Bapak yang bicara," ucap Bapaknya Irwan tiba-tiba.

Sulis mengangguk pelan.

"Iya, Pak."

Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki gang sempit tempat kost Lastri berada.

Jantung Sulis mulai berdegup semakin cepat.

Saat mereka turun dari mobil, suasana kost terlihat cukup sepi,beberapa penghuni sedang bekerja,sebagian kamar tertutup rapat,Bu Ratna yang sudah menunggu di depan rumahnya langsung menghampiri.

"Yang perempuan ada di dalam," bisiknya pelan.

Bapak mertua sulis mengangguk,rahangnya terlihat mengeras,lalu mereka berjalan menuju kamar paling belakang.Kamar yang sudah sangat dikenal Sulis meski ia belum pernah masuk ke dalamnya.

Sesampainya di depan pintu, Sulis mengetuk perlahan.

Tok.

Tok.

Tok.

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Kali ini sedikit lebih keras.

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam.

Pintu terbuka perlahan,dan wajah Lastri langsung berubah pucat.

"A-astagfirullah..."

Wanita itu membelalak.

Matanya bergantian melihat Sulis, Bapaknya Irwan, dan Ibu Sumarni,tubuhnya bahkan terlihat gemetar.

"Mbak Sulis..."

Suara Lastri nyaris tak terdengar,sementara Sulis hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Tidak ada teriakan,tidak ada tamparan,justru ketenangan Sulis membuat Lastri semakin panik.

"Kami boleh masuk?" tanya Orang tua Irwan dingin.

Lastri tak mampu menjawab.

Wanita itu mundur beberapa langkah memberi jalan,namun begitu mereka masuk, tangannya diam-diam meraih ponsel yang berada di atas meja,dengan jemari gemetar, ia mengetik pesan singkat.

Mas, cepat ke sini.

Ada Mbak Sulis dan orang tua Mas.

Pesan itu langsung terkirim.

Di dalam kamar, suasana terasa mencekam.

Bapak mertua Sulis tampak memperhatikan sekeliling,matanya berhenti pada sofa bed,kemudian pada rak-rak baru,karpet,pendingin ruangan,dan berbagai barang yang jelas bukan perlengkapan kost biasa.

Wajah pria tua itu semakin gelap.

"Kamar bagus juga."

Tak ada yang menjawab.

Ibu Sumarni justru mulai menitikkan air mata.

"Ini semua dari Irwan?" tanya Ayah Irwan.

Lastri menunduk,tak sanggup menjawab,keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

...****************...

Sementara itu di tempat lain, Irwan yang baru tiba di ruko hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca pesan dari Lastri,darah di wajahnya seolah menghilang,jantungnya langsung berdegup keras.

"Apa?"

Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali.

Tidak mungkin,bagaimana Sulis bisa tahu?

Dan kenapa orang tuanya ikut datang?

Tanpa berpikir panjang, Irwan langsung mengambil kunci mobil.

"Buru-buru amat, Mas?" tanya salah satu karyawan.

"Ada urusan!"

Ia bahkan tidak menjelaskan apa pun,mobil pikapnya melesat meninggalkan ruko dengan kecepatan tinggi,sepanjang perjalanan, pikirannya kacau.

Semua kemungkinan buruk bermunculan,bagaimana kalau Bapak melihat semuanya,bagaimana kalau Sulis sudah tahu sejak lama,tangannya mencengkeram kemudi semakin kuat,untuk pertama kalinya sejak hubungannya dengan Lastri dimulai, Irwan benar-benar merasa takut.

Hampir tiga puluh menit kemudian mobil pikap itu berhenti mendadak di depan kost,pintu terbuka kasar.Irwan turun dengan napas memburu,keringat membasahi dahinya meski cuaca tidak terlalu panas,Ia berlari menuju kamar Lastri.

Begitu sampai di depan pintu yang terbuka, langkahnya langsung terhenti,tampak di dalam ruangan kecil itu, Sulis duduk diam,Ibu Sumarni menangis,Bapaknya berdiri dengan wajah penuh kemarahan,dan Lastri menunduk ketakutan di sudut ruangan.

Suasana hening beberapa detik,tak seorang pun berbicara.

Sampai akhirnya Bapaknya Irwan melangkah maju,tatapannya tajam menusuk putranya sendiri.

"Jadi ini kerjaanmu selama ini?"

Kalimat itu membuat tubuh Irwan membeku di tempat.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa seluruh kebohongan yang dibangunnya selama berbulan-bulan akhirnya runtuh di depan mata keluarganya sendiri.

Keheningan yang menyelimuti kamar kost itu terasa begitu menyesakkan.Irwan masih berdiri di dekat pintu dengan napas memburu.Sementara Bapaknya berdiri beberapa langkah di depannya dengan tatapan tajam yang belum pernah dilihat Sulis sebelumnya.

Sejak kecil, Irwan memang sangat menghormati Bapaknya,bahkan bisa dibilang takut mengecewakan pria tua itu,Bapaknya dikenal keras, tegas, dan tidak pernah mentoleransi kebohongan.Ketika Irwan masih remaja, sekali saja berbohong, ia bisa mendapat nasihat berjam-jam.

Bukan dengan kekerasan,melainkan dengan rasa malu karena telah membuat Bapaknya kecewa,saat ini, rasa malu itu kembali menghantamnya jauh lebih keras.

"Bapak tanya sekali lagi."

Suara pria tua itu terdengar berat.

"Semua ini benar?"

Irwan menundukkan kepala.Ia tidak lagi berusaha mengelak,dan mencari alasan,sebab semua bukti ada di depan mata.

"Benar, Pak."

Jawaban itu membuat Ibu Sumarni menangis semakin keras.

Sementara Sulis hanya menatap lantai,entah kenapa setelah mendengar pengakuan itu, hatinya justru terasa kosong.

Orang tua Irwan menarik napas panjang,berusaha menahan kemarahannya.

"Lihat istrimu."

Irwan perlahan menoleh ke arah Sulis.

Wajah wanita itu terlihat pucat,matanya sembab,namun tetap berusaha tegar.

"Lihat dia baik-baik."

Suara Bapak mulai bergetar.

"Perempuan ini yang menemanimu dari nol."

Irwan diam.

"Dari saat kamu nggak punya apa-apa."

Diam.

"Saat usaha belum berhasil."

Diam.

"Saat hidupmu susah."

Kepala Irwan semakin menunduk,setiap kalimat terasa seperti pukulan yang menghantam dadanya.

Bapaknya tidak berteriak,tapi kata-katanya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

"Dan sekarang setelah hidupmu membaik, kamu balas seperti ini?"

Ruangan kembali hening,tak seorang pun berani menyela.

Kemudian Bapaknya Irwan mengalihkan pandangan kepada Lastri.

Wanita itu tampak pucat dan ketakutan.

"Bu Lastri."

Lastri langsung menegakkan tubuh.

"Iya Pak."

"Saya tidak mau memperpanjang masalah."

Lastri menggigit bibirnya.

"Tapi mulai hari ini semua harus selesai."

Kalimat itu membuat jantung Lastri berdebar.

"Pak..." bisik Irwan pelan.

Pria tua itu mengangkat tangan menghentikannya.

"Laki-laki yang punya istri dan anak tidak boleh hidup seperti ini."

Ia kemudian menatap Irwan lurus-lurus.

"Kamu pilih sekarang."

Ruangan terasa membeku.

Bahkan suara kipas angin pun seolah menghilang.

"Rumah tanggamu."

Atau...

Pria tua itu tidak melanjutkan kalimatnya,namun semua orang mengerti maksudnya.

Irwan menutup mata sesaat,dalam beberapa bulan terakhir, ia memang merasa nyaman bersama Lastri,merasa dihargai dan diperhatikan,namun jauh di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa Sulis dan anak-anaknya adalah keluarganya.

Mereka adalah hidup yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

Dito,Rara,dan Sulis,orang-orang yang selalu ada saat dirinya jatuh.

Perlahan Irwan membuka mata,lalu menjawab tanpa ragu.

"Saya pilih keluarga saya, Pak."

Lastri langsung menegang,wajahnya perlahan memucat,seolah baru saja mendengar vonis yang menghancurkan harapannya.

Sementara Bapak tetap menatap putranya.

"Yakin?"

Irwan mengangguk.

"Iya."

"Sulis dan anak-anak adalah keluarga saya."

Kalimat itu terdengar begitu mudah keluar dari mulutnya,namun justru membuat dada Lastri terasa sesak,karena dalam hitungan detik, semua yang selama ini ia harapkan runtuh begitu saja.

Ayah Irwan lalu meminta kertas dan pulpen dari Bu Ratna yang sedari tadi berdiri canggung di depan kamar.

Beberapa menit kemudian sebuah lembar pernyataan sederhana dibuat,isinya jelas,Irwan menyatakan akan mengakhiri hubungannya dengan Lastri,tidak akan lagi mengunjungi kost tersebut dan menjalin hubungan pribadi dengan Lastri,serta akan fokus memperbaiki rumah tangganya.

Bapak meminta Irwan menandatangani terlebih dahulu.

Tanpa banyak bicara, Irwan langsung mengambil pulpen,coretan tanda tangannya memenuhi bagian bawah kertas,seolah keputusan itu memang sudah dibuat dalam hatinya saat melihat ayahnya berdiri di ruangan tersebut.

Lastri memperhatikan semuanya dengan mata berkaca-kaca,setelah itu Bapak menatap Lastri.

"Saya tidak membenci Ibu."

Lastri menunduk.

"Tapi saya minta mulai hari ini jangan hubungi anak saya lagi."

Air mata akhirnya jatuh di pipi wanita itu.

"Iya Pak."

"Saya tidak mau keluarga ini hancur lebih jauh."

Lastri mengangguk pelan,tak mampu mengatakan apa pun,karena ia sadar, dalam pertarungan ini dirinya tidak pernah benar-benar memiliki tempat.

Sementara Sulis masih duduk diam,mendengarkan semuanya,melihat Irwan memilih dirinya dan anak-anak di depan semua orang,seharusnya ia merasa menang,dan merasa lega,namun entah kenapa, yang tersisa di dalam hatinya hanyalah luka.

Karena meskipun hari itu Irwan memilih keluarganya, kenyataan bahwa suaminya pernah mengkhianatinya tetap tidak bisa dihapus begitu saja,saat mereka meninggalkan kost sore itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa bahagia.Mereka hanya membawa harapan kecil,bahwa mungkin, setelah semua yang terjadi, rumah tangga yang retak itu masih bisa diselamatkan.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!